NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

​Matahari perak masih menggantung tegak di atas langit Convergence City, namun cahayanya yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam. Kabut belerang yang terbawa angin dari pesisir Barat mulai menyelimuti kaki-kaki kokoh Benua Celestia yang kini menapak di bumi. Udara terasa dingin, bukan karena salju, melainkan karena getaran magis dari jutaan makhluk tanpa kulit yang sedang mengasah taring mereka di dasar samudra.

​Di dalam Katedral Aether yang sebagian atapnya telah runtuh, sebuah pemandangan yang setahun lalu dianggap sebagai kemustahilan mutlak kini sedang terjadi.

​Sebuah meja bundar besar dari batu obsidian diletakkan di tengah aula. Di sekelilingnya, duduk orang-orang yang seharusnya saling membunuh. Archbishop Metatron, dengan jubah putihnya yang tak lagi berkilau. Captain Jaina, mewakili sisa-sisa ksatria Solaria. Ratu Elara dari Veridian, yang tubuhnya masih menyisakan garis-garis hitam akibat kutukan Void masa lalu; dan di ujung meja, Liora Ashveil.

​Namun, atmosfer ruangan itu mendadak membeku ketika sebuah langkah kaki yang berat bergema dari koridor luar.

​Kael Ravenhart melangkah masuk. Penampilannya membuat beberapa penjaga di pintu refleks memegang hulu pedang mereka. Beberapa helai rambut hitamnya telah memutih seputih perak, kontras dengan zirah kain hitamnya yang masih menyerap cahaya sekitar. Di tangan kirinya, keenam garis Sigil tidak lagi menyala ungu, melainkan berdenyut kelabu—warna dari kelelahan magis setelah pertempurannya melawan Malphas.

​Di belakangnya, melangkah sesosok makhluk yang membuat Ratu Elara langsung berdiri dengan tangan gemetar. Vorgas. Sang Jenderal Void yang sebelumnya telah mengeras menjadi patung batu kini berjalan kembali, langkahnya meninggalkan jejak abu hitam di lantai marmer katedral.

​"Kau membawa monster itu ke dalam ruang suci ini, Kael?" suara Elara bergetar antara amarah dan trauma. "Dia yang membakar Yggra!"

​Kael tidak menatap Elara. Ia menarik sebuah kursi batu di ujung meja yang berlawanan, lalu duduk dengan tenang. Vorgas berdiri tegak di belakangnya seperti patung hidup yang patuh.

​"Jika kau ingin membahas siapa yang membakar apa, Elara, kita akan berada di ruangan ini sampai Legiun Abisal mencerna tulang-tulang kita," ucap Kael, suaranya parau namun memotong seluruh kepanikan di aula. "Vorgas ada di sini karena pasukannya adalah satu-satunya hal yang bisa menahan garis pantai saat ini. Suka atau tidak, bayangan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa membusuk oleh asam Abisal."

​Liora mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Elara kembali duduk. "Kael benar. Pesisir Barat sudah jatuh. Laporan dari pengawas fajar menyatakan bahwa Onyx Bay telah berubah menjadi genangan lendir hitam. Makhluk-makhluk itu tidak hanya membunuh, mereka menghapus esensi tanah."

​"Bagaimana kita bisa melawan sesuatu yang tidak mempan terhadap sihir?" tanya Jaina, wajahnya frustrasi. "Para ksatria Radiant mencoba menggunakan api suci, tapi makhluk-makhluk itu justru menyerapnya dan tumbuh dua kali lebih besar."

​Kael meletakkan gulungan perkamen yang ia temukan di pantai Barat ke atas meja. Peta kuno itu terbuka, memancarkan aura dingin yang membuat lilin-lilin di dalam katedral bergoyang.

​"Mereka tidak menyerap sihir," Kael menjelaskan sambil menunjuk ke sebuah titik di tengah samudra yang diberi tanda salib hitam—The Deepest Trench. "Mereka menyerap polaritas. Dunia kita dibangun di atas dualitas. Cahaya dan Kegelapan. Sihir kalian murni cahaya, sihir kunoku murni kegelapan. Bagi Legiun Abisal, kedua hal itu adalah makanan. Mereka adalah anti-materi. Mereka memakan perbedaan itu untuk membatalkan keberadaan kita."

​Metatron menyipitkan matanya yang tua. "Lalu bagaimana kau bisa mengalahkan Malphas, Kael? Kabar burung mengatakan kau menghancurkannya dengan cahaya putih yang aneh."

​Kael melirik Liora sesaat sebelum menjawab. "Aku tidak menggunakan cahaya atau kegelapan. Aku menggabungkan keduanya. Celestial Void. Ketika dua energi ekstrem dipaksa menyatu dalam satu titik, mereka tidak lagi menjadi makanan bagi Abisal. Mereka menjadi racun yang merusak struktur kehidupan mereka."

​Ruangan itu hening. Konsep menggabungkan sihir suci Celestia dengan energi kehampaan Void adalah inovasi terbesar dalam sejarah Archeon. Itu seperti meminta air dan minyak untuk melahirkan api.

​"Itu mustahil," gumam Metatron sambil menggelengkan kepala. "Tubuh manusia tidak akan kuat menahan gesekan dua energi itu. Kau mungkin selamat sekali, Kael, tapi tubuhmu sudah mulai hancur. Lihat rambutmu."

​"Maka dari itu kita tidak akan melakukannya secara individual," potong Liora. Ia berdiri, menatap seluruh pemimpin faksi. "Kael adalah wadah Void. Aku... berkat matahari perak ini, masih memiliki sisa-sisa koneksi dengan esensi fajar. Kita akan membangun sebuah jaringan magis. Jaringan yang menggunakan seluruh sisa mana di dunia ini—baik itu sihir alam Veridian, sihir mekanis Ironfist, maupun sisa sihir suci Solaria."

​Liora menggambar garis di atas peta kuno milik Kael. "Kita akan membagi pasukan menjadi dua sayap. Sayap Eclipse yang dipimpin oleh Vorgas dan ksatria bayangan akan bertugas sebagai garda depan, menahan laju para Ravager di pantai. Mereka tidak akan menyerang untuk membunuh, melainkan untuk mengikat dan mengulur waktu."

​"Dan sayap satunya?" tanya Jaina.

​"Sayap Radiant yang dipimpin olehku dan Jaina. Kami akan berada di garis belakang, menyalurkan energi suci langsung ke tubuh Kael melalui ritual menara transmisi yang dulu digunakan Celestia. Kael akan menjadi ujung tombaknya. Dia yang akan membawa energi gabungan itu turun ke Deepest Trench dan menutup gerbangnya dari dalam."

​Ratu Elara menatap Kael dengan tatapan menyelidiki. "Kau bersedia melakukan ini? Menjadi wadah dari energi yang bisa meledakkan jiwamu kapan saja? Untuk orang-orang yang setahun lalu kau jajah?"

​Kael berdiri dari kursinya. Jubah hitamnya berkibar saat ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Barat, tempat pilar hitam Abisal terus tumbuh mencakar langit perak.

​"Aku tidak melakukan ini untuk kalian," ucap Kael tanpa berbalik. "Aku melakukan ini karena aku menolak membiarkan dunia ini hancur oleh sesuatu yang bukan tanganku sendiri. Archeon adalah milikku untuk kujaga... atau kuhancurkan jika aku bosan. Tapi aku tidak akan membiarkan parasit dari bawah tanah mengambilnya dariku."

​Meskipun kata-katanya terdengar egois dan penuh keangkuhan seorang diktator, orang-orang di ruangan itu tahu bahwa di balik topeng kegelapan itu, Kael Ravenhart sedang menawarkan nyawanya sebagai benteng terakhir.

​Malam sebelum pawai akbar menuju Barat dimulai, Convergence City dipenuhi oleh suara pandai besi dan doa-doa. Ksatria Solaria yang dulunya mengenakan jubah putih kini membantu prajurit bayangan Vorgas melumuri senjata mereka dengan minyak obsidian. Tidak ada lagi kasta. Ketakutan akan ketiadaan telah menghapus kesombongan mereka.

​Kael berdiri di puncak menara lonceng katedral, menatap dunia yang sunyi.

​"Kau tahu ini adalah bunuh diri, Kael," Umbra muncul, bergelantungan terbalik di langit-langit menara seperti kelelawar hitam raksasa. "Jaringan yang dibuat Liora itu... jika satu saja penyihir di garis belakang kehilangan fokus atau merasa ragu, keseimbangan energinya akan hancur di dalam dadamu. Kau akan meledak menjadi kembang api."

​"Aku tahu," jawab Kael dingin.

​"Lalu kenapa kau tidak mengambil saja seluruh mana mereka secara paksa seperti dulu? Lahap Ratu Elara, lahap Metatron, jadilah Dewa Kegelapan sejati! Dengan kekuatan itu, kau bisa menghancurkan Abisal sendirian tanpa perlu mempercayai manusia-manusia lemah ini!"

​Kael berbalik, menatap Umbra dengan mata manusianya yang tajam. "Karena kekuatan yang lahir dari paksaan memiliki batas, Umbra. Aku telah mempelajari itu dari Garis Ketujuh. Genesis tidak lahir dari kelaparan, ia lahir dari kepasrahan yang tulus. Jika aku menjadi monster lagi, aku tidak akan bisa menutup gerbang itu. Aku hanya akan menjadi pintu baru bagi mereka."

​Umbra mendesis marah, sosoknya mengabur dan kembali masuk ke dalam bayangan kaki Kael. "Kau telah menjadi lemah, pemuda Eldravale. Dan kelemahan itu akan membunuhmu."

​"Kita lihat saja nanti," bisik Kael.

​Keesokan paginya, di bawah langit yang mulai tertutup awan kelabu tebal, aliansi terbesar—dan mungkin terakhir—dalam sejarah Archeon bergerak.

​Sepuluh ribu prajurit bayangan berjalan di barisan depan tanpa mengeluarkan suara, seperti ombak hitam yang bergerak di atas tanah. Di samping mereka, lima ribu ksatria Solaria dengan zirah yang telah dicat hitam agar tidak memantulkan cahaya terlalu mencolok, berjalan dengan langkah berirama. Di langit, naga-naga tulang dari Veridian terbang rendah, membawa tangki-tangki berisi getah Yggra yang telah dimurnikan untuk membasuh asam Abisal.

​Kael dan Liora berjalan di barisan paling tengah, menunggangi dua kuda hitam yang disediakan oleh sisa-sisa militer Ironfist.

​"Kau siap?" tanya Liora, melirik ke arah Kael yang tangannya terus menggenggam hulu pedang kunonya.

​Kael menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala Barat yang kini berguncang oleh suara gemuruh guntur hitam. "Aku terlahir di dalam kegelapan, Liora. Bagiku, ini hanyalah hari biasa. Tapi kau... pastikan barisan belakangmu tidak goyah. Sifat sihirmu adalah apa yang menjagaku tetap waras di dalam sana."

​Liora tersenyum, sebuah senyuman kecil yang membawa kehangatan matahari lama ke dalam dada Kael. "Aku bersamamu, Kael. Sampai akhir dari realitas ini."

​Saat barisan terdepan aliansi menginjakkan kaki di perbatasan tanah yang membusuk di pesisir Barat, bumi di bawah mereka mendadak berguncang hebat. Dari dalam tanah, ribuan tangan tanpa kulit keluar, menyambut kedatangan mereka dengan pekikan yang mematikan.

​Perang demi eksistensi Archeon telah resmi dimulai. Dan di atas mereka, matahari perak bersinar redup, seolah menahan napas menyaksikan apakah fajar esok hari masih akan ada untuk dunia ini.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!