Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa penasaran Raffa
“Saya gak seaneh itu.”
“Kamu tadi ngaku pacar saya di depan kakak saya.”
“…Oh iya juga.”
“Nah kan!”
Namun Raffa sama sekali tidak menyerah. Ia justru menyandarkan tubuh di pintu mobil sambil menatap Shintia penuh jahil.
“Kalau begitu… besok saya cari sendiri.”
Shintia langsung melotot.
“Kamu serem banget sih?!”
“Bukan serem. Gigih.”
“Itu obsesif namanya.”
Raffa terkekeh kecil. Entah kenapa setiap mendengar Shintia ngomel, suasana hatinya terasa jauh lebih ringan.
Sudah lama sekali ia tidak merasa senyaman ini dengan seseorang.
Biasanya perempuan-perempuan di sekitarnya selalu menjaga image, bicara lembut berlebihan, atau terlalu hati-hati di depannya karena status dan kekayaannya.
Tapi Shintia berbeda.
Gadis itu bahkan memarahinya tanpa takut sedikit pun.
Dan itu… membuat Raffa nyaman.
“Aku pulang dulu,” ujar Shintia sambil memakai helm. “Jangan ikutin aku.”
“Kalau kangen?”
“Kita baru kenal dua jam!”
“Cinta tidak melihat waktu.”
“Cinta lihat dompet listrik sama kuota juga.”
Raffa tertawa cukup keras mendengar jawaban spontan itu.
Shintia langsung menyalakan motor maticnya.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat menunjuk Raffa dengan wajah serius.
“Dan jangan ngaco lagi kalau ketemu kakakku.”
“Kalau ditanya lagi?”
“Bilang teman!”
“Teman hidup?”
“RAFFA!”
Pria itu kembali tertawa puas.
Akhirnya Shintia benar-benar pergi meninggalkan pom bensin sementara Raffa berdiri memandang motor gadis itu menjauh di tengah jalan raya.
Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Tatapannya berubah lebih tenang.
Lebih dalam.
Untuk beberapa saat, pria itu hanya diam sambil menatap langit sore yang mulai berubah jingga.
Lalu tanpa sadar jemarinya bergerak pelan menyentuh cincin hitam tipis di jari manisnya.
Cincin yang selama ini jarang diperhatikan orang.
Sorot matanya berubah samar.
Ada luka yang masih tinggal di sana.
Dulu… ia pernah sebahagia itu.
Pernah percaya bahwa hidupnya akan sempurna.
Namun semua berubah hanya beberapa jam setelah ijab kabul selesai dilaksanakan.
Istrinya meninggal karena komplikasi mendadak sebelum mereka benar-benar memulai hidup bersama.
Dan sejak hari itu, Raffa berubah.
Ia menjadi pria yang selalu terlihat santai, jahil, dan penuh tawa di luar… tapi sebenarnya takut kehilangan lagi.
Sangat takut.
Karena itu ia tidak pernah benar-benar membuka hati pada siapa pun setelah kejadian itu.
Sampai hari ini.
Sampai ia bertemu gadis cerewet bernama Shintia Almahira, gadis yang tiba-tiba membuatnya ingin mendekat dan anehnya membuatnya penasaran, bahkan setelah ia pikir Shintia mirip dengan almarhumah istrinya.
Raffa mengembuskan napas pelan lalu masuk kembali ke dalam mobil.
“Bahaya…” gumamnya lirih sambil tersenyum kecil. “Aku mulai suka."
***
Sementara itu…
Shintia masih mengomel sendiri sepanjang perjalanan pulang.
“Gila tuh orang.”
Ia menggeleng pelan di balik helm.
“Baru kenal udah bikin hidup orang ribet.”
Namun anehnya… Sudut bibir Shintia justru beberapa kali terangkat kecil saat mengingat tingkah Raffa.
Terutama saat pria itu dengan santainya mengaku sebagai pacarnya di depan Andreas.
“Ya Allah…” Shintia memukul pelan helmnya sendiri. “Kenapa malah kepikiran sih.”
Tak lama kemudian ia sampai di kompleks rumah Andreas.
Rumah dua lantai bernuansa modern itu terlihat tenang seperti biasa.
Begitu masuk halaman, Shintia langsung memarkir motor lalu berjalan masuk.
Dan benar saja... Andreas sudah duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen kerja. Tatapan pria itu langsung terangkat.
“Mana pacarmu?”
Shintia hampir tersedak ludah sendiri.
“KAK!”
“Apa?”
“Itu bukan pacar aku!”
Andreas menyandarkan tubuh santai.
“Tapi dia bilang begitu.”
“Dia ngasal!”
“Hmm.”
Shintia langsung duduk di sofa dengan wajah frustrasi.
“Dia tuh orang aneh yang baru aku kenal hari ini.”
“Baru kenal? Gak bohong kamu?”
“Iya!”
Andreas terdiam beberapa saat sambil memperhatikan wajah adiknya. Lalu pria itu justru tersenyum tipis.
“Berarti dia berani.”
“Hah?”
“Biasanya laki-laki takut sama kamu.”
Shintia melongo tidak percaya.
“Aku serem emangnya?”
“Lumayan.”
“KAK ANDREAS!”
Andreas akhirnya tertawa kecil. Sangat kecil. Tapi cukup membuat Shintia terdiam sesaat. Karena sudah lama sekali kakaknya jarang terlihat setenang itu.
Sejak kematian tunangannya, Andreas hampir tidak pernah benar-benar tertawa lagi. Dan kini hanya karena membahas Raffa, wajah dingin itu sedikit mencair.
“Dia bantu kamu dorong motor?” tanya Andreas kemudian.
“Iya.”
“Baik juga.”
“Baik apanya…” gumam Shintia pelan. “Mulutnya ngeselin.”
Andreas mengangguk kecil seolah memahami.
“Berarti cocok.”
“KAK!”
Belum sempat Shintia membalas lagi, suara bel rumah tiba-tiba terdengar.
Ting tong.
“Mama sama Ayah!” seru Shintia langsung bangkit.
Ia berlari kecil menuju pintu lalu membukanya cepat. Seorang wanita paruh baya langsung memeluknya hangat.
“Anak Mama…”
“Mamaaa…”
Di belakangnya, sang ayah ikut tersenyum sambil membawa beberapa tas besar. Andreas langsung berdiri menghampiri.
“Mama bawa apa banyak begitu?”
“Makanan,” jawab mamanya santai. “Shintia pasti kurus di sini.”
“Aku gak kurus, Ma.” jawab Shintia.
“Kurus di hati mungkin,” sahut ayahnya bercanda.
Mereka semua tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu terasa lebih hidup. Namun di tengah suasana hangat itu… Andreas sempat melirik adiknya diam-diam.
Entah kenapa, ia merasa hidup Shintia akan segera berubah. Dan anehnya… Perasaannya mengatakan bahwa semua itu ada hubungannya dengan pria bernama Raffa tadi.
***
Malam harinya, di apartemen mewah miliknya, Raffa masih duduk sendiri sambil memandangi layar laptop yang menampilkan data mahasiswa magang Hotel Permata. Namun fokusnya sama sekali bukan pekerjaan. Tatapannya justru berhenti pada satu nama.
Shintia Almahira.
Pria itu tersenyum tipis. Lalu tanpa sadar berbisik pelan, “Kamu harusnya jangan muncul dulu kalau akhirnya bikin aku penasaran begini…”
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nama asistennya muncul di layar.
“Pak, untuk kandidat magang besok...”
“Tunda dulu.”
“Hah?”
“Saya mau lihat seseorang daftar sendiri.”
Asistennya terdengar bingung. Namun Raffa hanya tersenyum kecil sambil menatap malam di balik jendela apartemennya.
Dan malam itu, Raffa sama sekali tidak berniat melupakan Shintia begitu saja.
“Besok dan lusa saya tidak ke hotel.”
“Baik, Pak. Ada meeting yang perlu dipindah?”
“Tidak usah. Bilang saja saya ada urusan pribadi.”
Asistennya langsung memahami.
Namun sebelum sambungan ditutup, pria itu kembali berbicara pelan.
“Pak… Mbak Sella tadi siang mencari Bapak lagi.”
Tatapan Raffa berubah datar.
“Abaikan saja.”
“Baik, Pak.”
Raffa tahu persis alasan wanita itu mendekatinya.
Sella memang cantik, pintar, dan ambisius. Tapi setiap tatapan wanita itu padanya selalu terasa kosong.
Bukan mencintainya. Melainkan menginginkan hidup mewah yang ia miliki. Dan Raffa paling muak dengan cinta semacam itu.
Berbeda dengan Shintia. Gadis itu bahkan tidak tertarik sedikit pun pada siapa dirinya. Bahkan tawaran Magang di Hotel mewah' Shintia nampak tak tertarik.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄