“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Mamas Ganteng
Jordi dan Pak Nurdin melihat sapi yang ingin dibeli Jordi. Sedangkan Ryu berdiri di gerbang kandang, menahan pusing dan mual.
"Jordi," seru Ryu sambil menutup hidungnya. "Cepetan!"
"Iya, Bos. Bentar," sahut Jordi. "Lagi milih nih."
"Gak usah milih. Tanya aja yang harganya mahal pasti bagus." Suara Ryu jelas terdengar tidak sabar.
"Iya, iya... sabar dikit napa," balas Jordi ringan. "Kan bukan cuma nego harga sama milih doang, Bos."
"Itu Nak Ryu kayaknya gak tahan bau kandangnya, deh," ujar Pak Nurdin.
Ia menatap Ryu yang menunduk sambil menumpukan satu tangan di tiang gerbang yang terbuat dari kayu gelondongan.
"Maklum saja, Pak," sahut Jordi. "Bos saya sensitif sama bau. Tapi demi istri tercinta, rela ikut beli hewan ternak meski harus... ya begitulah." Jordi tertawa kecil.
Pak Nurdin ikut tertawa. "Ya sudah. Kalau gitu ACC ya. Bapak mau bilang sama bos Bapak."
"Iya, Pak," sahut Jordi tersenyum ramah. "Kalau begitu saya pamit, Pak. Terima kasih banyak."
"Sama-sama," sahut Pak Nurdin.
Dengan langkah lebar, Jordi meninggalkan kandang. Jelas ia khawatir melihat kondisi Ryu.
Sedangkan Pak Nurdin, wajahnya penuh senyuman. "Rezeki nomplok ini. Mending bersih-bersih dulu biar sapinya sehat dan laris manis."
-
Sementara itu, Jordi akhirnya tiba di gerbang kandang. Ryu masih berdiri di sana, wajahnya hampir kehilangan warna.
"Sudah beres, Bos. Harga diri dan gengsi Bos gak bakal nyungsep, malah bakal melambung tinggi," ujar Jordi dengan dagu terangkat.
Jelas pemuda itu merasa puas setelah mendapat kambing dan sapi yang gemuk-gemuk.
"Ayo, kita balik, Bos," ajaknya dengan nada ringan.
Tapi--
"Hueek... hueek..."
Ryu yang tak bisa menahan gejolak di lambungnya akhirnya muntah. Ia membungkuk, mengeluarkan isi perutnya.
"Eh, eh... Bos." Jordi langsung mendekat.
Satu tangan pemuda itu memegang lengan Ryu agar tidak jatuh. Satunya lagi mengusap punggungnya.
"Astaga, Bos. Sampai segininya." Jordi menggeleng-gelengkan kepala, tak menyangka Ryu sampai muntah-muntah.
"Berisik," sergah Ryu dingin. "Ini semua gara-gara kamu."
Ryu menyeka mulutnya dengan tisu.
"Lah, ini 'kan demi Bos juga," sanggah Jordi. "Setelah ini nama Bos bakal terkenal dan dikenang di kampung ini sebagai suami dan menantu idaman. Teladan."
Ryu mendengus. Meski perutnya masih mual, kepalanya terasa berat, dan tubuhnya terasa lemas karena muntah, ia tetap melangkah meninggalkan area kandang itu.
Dari kejauhan, Agus menatap kedua pemuda itu. "Ngapain mereka ke sana?"
Agus mengalihkan pandangannya ke arah kandang sapi, lalu tanpa pikir panjang ia pergi ke sana.
"Pak! Pak Nurdin!" serunya setelah tiba di kandang sapi.
Tak lama kemudian Pak Nurdin muncul dengan sepatu boat dan sarung tangan karet.
"Eh, Nak Agus. Ada apa ya, Nak?" tanyanya sedikit heran dengan kedatangan Agus.
"Itu tadi...dua orang dari kota, ngapain mereka ke sini, Pak?" tanyanya yang tak bisa menahan rasa penasaran.
"Oh, suaminya Seroja?" sahut Pak Nurdin tenang. "Dia beli sapi lima ekor buat acara tahlilan nenek Winarsih."
Tanpa sadar tangan pemuda itu terkepal. Ia enggan mengucapkan nama Ryu, apalagi menyebutnya sebagai suami Seroja. Tapi saat orang lain mengatakan "suaminya Seroja" dadanya terasa panas.
Pak Nurdin menepuk pelan pundak Agus. "Sudah, Nak. Lupakan saja Seroja. Dia sudah ada yang punya."
Agus tersenyum samar. Pahit. Ia teringat bagaimana selama ini ia selalu datang membantu nenek Winarsih, berharap suatu hari bisa lebih dekat dengan Seroja.
Namun nyatanya usahanya sia-sia belaka.
"Aku permisi, Pak," ujar Agus akhirnya.
Pak Nurdin hanya mengangguk kecil. Ia menatap punggung Agus yang makin menjauh.
"Dari wajah, penampilan, dan kekayaan, jelas sudah kalah. Apalagi statusnya sudah jadi istri orang."
Pak Nurdin menggeleng pelan. "Ben pungkasane ora kuciwa, kudu ngerti kapan wektune ngarep lan kapan wektune kudu mandeg."
Ia berbalik kembali masuk ke kandang sambil bersenandung...
"Arepa gedhene roso tresnoku... Sak jerome atiku dinggo sliramu. Yen udu sing dikarepke... Sanes sing dipingini... Durung sempet duweni Pun kon ngikhlaske ...
Nyatane sak singkat-singkate ceritane ...Ngelalekne tetep ora gampang...."
-
Sementara itu, Ryu yang baru beberapa meter melangkah dari gerbang kandang--
"Akh!"
"Bos!"
Ryu yang kondisinya tidak fit karena aroma ternak dan kandang jadi kurang fokus hingga tergelincir di jalan yang berlubang. Beruntung refleks Jordi cepat dan sempat menyambar tangan Ryu.
"Bos, gak apa-apa?" tanya Jordi cepat, jelas khawatir.
"Jordi..." Rahang Ryu menegang samar. "Kayaknya kakiku terkilir."
"Apa?!" Jordi langsung menunduk melihat kaki Ryu.
Sepatu dan celana bagian bawah majikannya itu kotor oleh lumpur. Ia berjongkok memeriksa kaki Ryu.
"Waduh, kayaknya beneran terkilir ini, Bos," katanya saat melihat pergelangan kaki Ryu memerah.
"Bisa jalan gak, Bos?" tanyanya sambil berdiri.
"Masih bisa," sahut Ryu.
Jordi memapah Ryu, memastikan pria itu tidak tergelincir lagi, apalagi sampai terjatuh.
Ryu terus melangkah meski harus menahan nyeri. Namun, tiba-tiba Jordi membuang napas kasar.
"Bos, kalau begini caranya, lebaran haji kita baru nyampe rumah Seroja. Udah, aku gendong aja."
Tanpa menunggu lama, Jordi langsung berjongkok di depan Ryu.
Tapi Ryu malah terdiam. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana tatapan semua orang kalau dirinya pulang digendong Jordi. Apalagi kalau Seroja melihatnya.
"Aku bisa jalan sendiri," ucap Ryu datar.
Ia berusaha melanjutkan langkahnya meski tertatih menahan mual, pusing, dan nyeri sekaligus.
"Astaga... benar-benar kepala batu," dumel Jordi yang akhirnya berdiri.
Ia menatap majikannya yang bersikeras tak mau digendong.
"Bos," katanya akhirnya. "Jangan karena malu, kaki Bos tambah cedera. Memaksakan kaki Bos berjalan bakal memperparah kondisi Bos, tahu. Bos pilih malu sebentar atau mau sakit berhari-hari?"
Ryu masih keras kepala. Namun, tak bertahan lama saat matanya tak sengaja melihat kotoran sapi tak jauh darinya. Aromanya lumayan membuat perutnya kembali terasa seperti diaduk-aduk.
Ryu buru-buru memalingkan wajahnya. Dan--
"Hueek!"
Jordi berdecak. "Makanya, jadi orang jangan ngeyel, Bos."
Jordi hampir bergerak menghampiri Ryu, namun dua tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Jordi dari belakang.
"Mamas ganteng..."
Jordi membeku.
"ASTAGA!"
Ryu menoleh lambat dan seketika terdiam.
Jordi langsung menepis tangan yang mulai bergerak nakal naik ke dadanya.
"Lepas!"
Ia berbalik dengan rahang mengeras, dan melihat wanita di depannya menyeringai lebar sambil memainkan kepangan rambutnya.
"Mamas mau dibawa ke pelaminan sekarang atau habis magrib?" Wanita itu mengedipkan matanya nakal dengan senyum menggoda.
Jordi langsung merinding. "Ondel-ondel. Jangan mendekat!"
Ryu menelan ludah kasar, tiba-tiba firasat buruk menyerangnya. Ia buru-buru melanjutkan langkahnya meski kakinya makin nyeri.
"Mamas ganteng, peluk Imah..." Wanita itu mendekat cepat. "Ayo kita bikin anak di semak belukar. Pasti seru deh."
Wanita itu menerjang ke arah Jordi. Tapi Jordi sudah mengambil langkah seribu.
"Wanita gila!" umpatnya panik.
"Mamas ganteng tungguin Imah!" teriaknya yang terjatuh.
"JORDI!" teriak Ryu panik.
"Maaf, Bos! Insting bertahan hidup!"
Dan Jordi benar-benar kabur karena mode survival.
Namun drama belum usai. Imah berdiri, matanya bergeser ke Ryu.
"Mamas..."
Imah pindah target ke pemuda itu. Tanpa aba-aba ia memeluk Ryu dari belakang sama seperti Jordi tadi.
"Lepas!"
Ryu yang sulit bergerak makin panik.
"Mamas dingin banget. Imah suka..."
"Jordi! Balik sekarang juga!"
...🔸🔸🔸...
..."Memaksakan diri mengejar sesuatu yang bukan takdir kita hanya akan mendatangkan luka. Cinta memang butuh perjuangan, namun juga butuh keikhlasan untuk tahu batas."...
..."Tidak semua yang datang terlambat kalah karena cinta. Kadang mereka kalah hanya karena takdir sudah memilih lebih dulu."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat ya, Kak Nana... Up Bab Baru-nya Kak 🙏🙏🙏
Ponsel Ryu berdering - Jordi yang menghubungi. Ryu menerima telepon di balkon.
Mereka membicarakan bisnis. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon Ryu bisa melihat Seroja yang tersenyum ketika sedang berbincang dalam sambungan telepon. Ryu cemburu.
Selesai membahas soal pekerjaan, Ryu tanya pada Jordi. Pria yang bertemu istrinya di restoran tadi siang itu siapa.
Jordi sebut nama pria itu Evan.
Nama yang di lihat tadi Tony. Ryu jadi berpikir - ada berapa banyak pria di sekitar Seroja.
Pikirannya melayang pada tiga nama - Agus, Evan, dan Tony.
Ini baru sehari menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Ya harus menjaga privasi masing-masing terlebih dahulu.
Nah kan - pertanda tidak atau belum boleh menyentuh barang pribadi istrinya. Jari Ryu tinggal beberapa sentu dari ponsel - pintu kamar mandi terbuka. Seroja terlihat muncul.
Aku tau! tapi aku harus menemui Clara itu, untuk memutuskannya! 😁😁😁