NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Berita tentang pernikahan gus Kafka sudah menyebar seantero pesantren. Banyak yang patah hati saat mendengar bahwa gus idaman mereka akan menikah. Asya dan Rara berjalan beriringan keluar masjid setelah mengikuti kajian malam rutin.

'Yah patah hati deh gus Kafka mau nikah'

'Denger-denger sih calonnya itu ning dari pesantren luar kota'

'Memang pantaslah orang mereka aja sepadan'

'Kita yang hanya pecahan rengginang bisa apa'

Telinga Asya memanas mendengar celetukan beberapa santriwati. Asya hanya menampilkan wajah datarnya saja. Rara melirik sahabatnya yang bisa dikatakan tidak baik itu. Rara tau pasti hati sahabatnya iyu sangat terluka.

"Assalamualaikum," salam seseorang menghentikan langkah keduanya

"Waalaikumsalam," jawab Asya dan Rara

"Asya, boleh saya bicara sebentar?," tanya orang itu yang ternyata adalah gus Kafka

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Gus, semuanya sudah selesai," jawab Asya dingin

"Saya tau saya salah. Tapi tolong ijinkan saya menjelaskan semuanya," ucap gus Kafka lirih

"Baiklah, tapi Rara harus ikut agar tidak timbul fitnah," ucap Asya

"Iya saya setuju," ucap gus Kafka

Di sinilah mereka bertiga sekarang. Di samping masjid yang sudah mulai sepi. Hening. Gus Kafka sama sekali belum membuka suaranya. Asya menghela nafasnya.

"Sudah mulai malam, Gus. Besok juga ada acara wisuda jadi tolong dipersingkat saja," ucap Asya mengawali pembicaraan

"Mengenai perjodohan itu. Saya sudah berusaha menolak tapi abi tidak mau mendengarkan penjelasan saya sama sekali," ucap gus Kafka yang sedari tadi diam

"Saya yang salah karena sudah terlalu dalam membuka hati untukmu Gus dan pada akhirnya takdir Allah menyakitkan," ucap Asya lirih

"Saya baru dikasih tau tentang perjodohan itu malam hari sebelum paginya berangkat ke Bandung. Saya sudah berusaha menyangkal keputusan itu. Tapi orang tua saya tidak ingin dibantah sama sekali apalagi abi kekeh dengan keputusannya," ucap gus Kafka

"Selamat ya, Gus sebentar lagi akan menikah. Dan kita akan menjadi saudara ipar. Dijaga baik-baik ya kakak saya," ucap Asya sambil tersenyum tipis

Rara tertegun mendengar penuturan Asya. Sedangkan gus Kafka merasakan tenggorokannya seakan tercekat.

'Saudara ipar? Apakah kakak perempuan Asya? Gus Kafka akan menikah dengan saudara kandungnya Asya?' batin Rara terkejut

"Gus Kafka tau nggak? Kenapa hubungan kita persis seperti waqaf kafi?," ucap Asya sambil tersenyum

"Kenapa?," tanya gus Kafka pelan

"Karena yang berhenti akan lebih baik daripada dilanjutkan," jawab Asya sambil tersenyum kecut

Gus Kafka tersentak melihat Asya yang mengeluarkan air mata tapi masih tetap bisa tersenyum. Rara hanya diam saja menyaksikan keduanya tanpa mau ikut campur dengan masalah mereka. Biarlah mereka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

"Maafkan saya, Asya," ucap gus Kafka lirih

"Gus Kafka nggak perlu minta maaf sama Asya. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun diantara kita. Lebih baik sekarang kita kembali seperti awal sebagai dua insan yang tak pernah saling mengenal," ucap Asya sambil tersenyum

"Jangan berbicara seperti itu, Asya," ucap gus Kafka lirih

"Apa Gus tau dongeng tentang awan dan hujan?," tanya Asya

"Tidak," jawab gus Kafka pelan

"Bolehkah saya menceritakannya?," tanya Asya

"Silahkan," ucap gus Kafka lirih

"INI KISAH CINTA AWAN DAN HUJAN," ucap Asya memulai cerita

“Hujan, tolong jangan pergi...” Kata Awan..

“Awan..., ada waktunya melepaskan itu lebih baik. Aku tidak sanggup melihatmu menanggung beban di dadamu hanya karena tidak ingin aku pergi.”..Kata Hujan

“Tapi aku masih mampu...” Kata Awan..

Hujan tersenyum sambil berkata “Ya, mungkin kau masih mampu. Tapi sampai bila kau akan mampu bertahan?..”

Awan terdiam....

“Aku harus patuh pada perintah Tuhan. Dan kau pun harus akur pada takdirNya. Dia tahu betapa beratnya kau menanggung beban, karena itu Dia perintahkan aku untuk turun ke bumi membasahi hamparan ciptaanNya yang Maha Agung menyejukkan tanah-tanah gersang yang lebih memerlukan aku daripada kau perlukan aku.” Kata Hujan...

Di Dada Awan semakin sedih, kesedihan itu membuatkan jiwa Awan terlalu mendung...

“Wahai Awan..Sungguh, kadang-kadang melepaskan itu lebih baik walaupun saat itu terasa begitu berat sekali. Tapi, Allah kan ada? Mengapa kau bersedih?” Kata Hujan pada Awan...Hujan sesak menahan perasaan....

“Pergilah kau Hujan. Aku rela demi Tuhanku dan Tuhanmu Hanya demi Tuhanku aku ridha..Terima kasih Hujan. Mendengar kata-katamu, aku lebih mengenal siapa diriku.” Kata Awan....

“Allahuuuuuu Rabbiiiiiiiiiiiiiii Selamat tinggal wahai Awan. Doakan aku bermanfaat untuk mereka yang lain... Allahuakbar!!!!!!!!” Jerit Hujan bersama guruh berdentum kuat...

Air mata Awan jatuh tanpa henti-henti karena tersadar kembali lalu insaf karena selama ini cintanya pada Hujan melebihi cinta pada Ilahi.

Hujan pun turun bersama air mata. Sakit. Saat melepaskan. Tapi Allah lebih tahu segalanya. Perasaan ini hanya sementara. Mungkin Langit tidak akan mengerti akan kesakitan Awan dan Hujan. Langit hanya menyaksikan. Tapi belum tentu Langit itu faham pengorbanan.

Awan, Hujan menghadiahkan mu Pelangi. Kamu lihat bukan? Subhanallah...

"Saya bagaikan awan Gus, yang harus mengikhlaskan hujan meskipun terasa berat. Di sini, mungkin saya yang salah karena terlalu mencintai hamba-Nya hingga melupakan siapa yang sepatutnya dicintai terlebih dahulu," ucap Asya tertawa sumbang

Rara menatap sendu ke arah sahabatnya. Asya yang terlihat menahan rasa sakit yang begitu dalam. Kesedihan yang tak diperlihatkan kepada semua orang

"Seperti hujan yang harus patuh pada perintah Allah begitu pun juga gus Kafka yang harus patuh terhadap perintah orang tua," tambah Asya lirih

"Tapi-," ucapan gus Kafka terpotong

"Apalagi yang bisa kita lakukan Gus selain mengikhlaskan semuanya. Mungkin memang seperti ini takdir kita. Sebagai manusia, kita hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana akhirnya," ucap Asya menyela ucapan gus Kafka

"Tapi saya hanya mencintai kamu, Asya," ucap gus Kafka lirih

"Iya Gus saya tau itu. Tapi takdir telah memintamu menikah dengan kak Anisa bukan diriku. Kita memang saling mencintai Gus tapi ternyata semesta tidak merestui cinta kita. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh," ucap Asya sambil tersenyum kecut dan mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh

"Jadi, mulai saat ini cobalah untuk menerima semuanya dan lupakan saya. Lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Terima kak Anisa dengan baik dan tolong sayangi dia," tambah Asya lirih

Hening. Ketiga orang itu sama-sama dalam pikiran masing-masing. Asya melihat jam di pergelangan tangannya. Asya menghela nafasnya.

"Ya sudah Gus, kami pamit dulu. Hari sudah semakin larut dan besok juga ada acara wisuda," ucap Asya lagi sambil tersenyum

"Kami pamit ya Gus. Assalamualaikum," pamit Rara

"Waalaikumsalam," jawab gus Kafka lirih

Asya berjalan beriringan dengan Rara menuju asrama. Gus Kafka menatap kepergian keduanya dengan sendu. Kemudian ia pun menuju ke ndalem.

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!