menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 : buku misterius dan penghianatan abadi
Sinar matahari siang menerangi lorong-lorong tinggi di dalam perpustakaan besar Kingdom of Serenity. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit, berisi ribuan naskah kuno.
Raja Xavier sedang berdiri di antara deretan rak, jari-jarinya menyusuri punggung buku-buku tebal satu per satu. Wajahnya tampak serius dan fokus. Ia masih belum puas dengan informasi yang didapatnya tadi. Ia ingin tahu lebih dalam. Siapa Elara sebenarnya? Mengapa dia menjadi sedingin es?
Tiba-tiba...
"Baginda! Raja Xavier!"
Suara teriakan seorang penjaga istana terdengar dari kejauhan, memecah keheningan. Pria itu berlari kecil mendekati Xavier dengan napas terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Xavier santai namun tegas.
"Di depan gerbang utama istana, Baginda. Ada seorang kakek tua yang menunggu. Dia bilang... dia punya sesuatu yang sangat penting untuk diberikan pada Baginda. Dia tahu kalau Baginda sedang mencari tahu tentang..." penjaga itu berhenti sejenak, menunduk takut. "...tentang Ratu Kematian."
Mata Xavier berbinar. Tanpa menunggu lama, ia segera berjalan cepat menuju keluar.
🧙♂️ Tamu Misterius
Di depan gerbang istana yang megah, berdiri seorang kakek tua dengan pakaian compang-camping namun wajahnya terlihat damai. Ia memegang sebuah benda di tangannya.
Begitu Xavier muncul, kakek itu tersenyum tipis.
"Kau pasti Raja Kehidupan, bukan?" ucap kakek itu pelan, suaranya serak namun terdengar bijak. "Aku mendengar bisikan angin. Ada cahaya yang penasaran pada kegelapan. Kau ingin tahu tentang Elara, kan?"
Xavier mengangguk perlahan, mendekat. "Benar, Kek. Aku ingin tahu segalanya. Siapa dia sebenarnya?"
Kakek itu tidak menjawab pertanyaan, melainkan mengulurkan tangannya memberikan sebuah buku.
Buku itu tidak tebal seperti yang ditemukan anak kecil dulu, tapi terlihat sangat tua dan berharga. Sampulnya terbuat dari bahan yang lembut berwarna ungu gelap, dan di tengahnya, tertanam sebuah kristal kecil berwarna ungu yang berkilau lembut, seolah masih hidup.
"Bacalah ini..." kata kakek itu sambil menyerahkan buku itu. "Di sini tertulis kebenaran yang sudah lama terkubur. Tentang hati wanita itu yang dulunya hangat, sebelum dunia membuatnya membeku."
Xavier menerima buku itu dengan hati-hati. Rasanya hangat, berbeda dengan buku hitam sebelumnya.
"Terima kasih banyak, Kek. Terima kasih telah memberitahuku..."
Namun, saat Xavier baru saja selesai mengucapkan kalimat itu dan mengangkat wajahnya...
Kakek tua itu sudah tidak ada di sana.
Lenyap begitu saja seolah ditelan angin, tidak meninggalkan jejak kaki pun di atas tanah yang berdebu.
Xavier tertegun sejenak, lalu menunduk menatap buku di tangannya. "Jadi ini adalah takdir..." gumamnya pelan. Ia segera berbalik dan berlari kembali ke dalam istana, menuju perpustakaan yang sunyi.
📖 Kisah Pengkhianatan
Xavier duduk di sebuah meja kayu besar. Dengan tangan gemetar karena penasaran, ia perlahan membuka buku bersampul kristal ungu itu.
Halaman demi halaman dibuka. Tulisan di dalamnya indah, seolah baru ditulis kemarin sore. Dan apa yang dibaca Xavier membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Isi buku itu menceritakan:
Banyak yang mengira Ratu Elara terlahir sebagai monster tanpa hati. Banyak yang bilang dia tidak pernah tahu apa itu senyum atau kasih sayang. Tapi itu salah besar.
Dulu, ratusan tahun yang lalu, Elara masih muda. Kerajaannya tertutup, tapi sesekali ada orang luar yang bisa masuk karena tersesat atau karena keberanian mereka.
Ada sekelompok pejuang tangguh yang tak sengaja menemukan jalan masuk ke Obsidian Empire. Mereka terkejut menemukan seorang wanita muda yang tinggal sendirian di istana besar. Namun yang mengejutkan, wanita itu tidak menyerang mereka.
Elara, yang selama ribuan tahun hidup sepi tanpa teman, merasa sangat senang. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan orang lain. Dia berbagi makanan, berbagi cerita, dan memperlakukan mereka seperti saudara sendiri.
Mereka menghabiskan waktu bersama. Tertawa bersama. Elara yang dulu sangat ceria dan manja, menunjukkan sisi lembutnya pada mereka. Mereka berjanji akan selalu menjadi sahabat, tidak peduli apa pun yang terjadi.
Xavier berhenti membaca. Ia bisa membayangkan wajah Elara yang tersenyum. Gambarannya tentang ratu dingin itu mulai retak.
Dia juga pernah bahagia... batinnya.
Namun, cerita berubah kelam di halaman berikutnya.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu hari, salah satu dari mereka melihat Elara sedang menggunakan kekuatannya. Mereka melihat Kristal Umbralis yang bersinar di dalam tubuhnya. Mereka sadar, wanita yang selama ini mereka anggap teman adalah legenda yang mereka cari: Ratu Kematian.
*Rasa takut dan keserakahan menguasai hati mereka. Mereka lupa semua kebaikan Elara. Mereka lupa tawa mereka bersama. Yang ada di pikiran mereka hanyalah: Jika kita membunuhnya, kita akan menjadi pahlawan terhebat. Kita akan mendapatkan kekuatannya.
Di tengah malam, saat Elara sedang tertidur pulas karena mempercayai mereka, para sahabat itu mengangkat senjata mereka dan mencoba menikam jantung Elara.
Untungnya, insting Elara lebih cepat. Dia terbangun dan melihat mata tajam penuh kebencian dari orang-orang yang dia anggap keluarga.
"Kenapa...?" tanya Elara saat itu, dengan air mata berlinang.
Sejak hari itu, Elara berubah. Dia tidak lagi percaya pada siapa pun. Dia sadar bahwa dunia ini hanya menginginkan kekuatannya, atau ingin kepalanya. Tidak ada yang benar-benar ingin menjadi temannya.
Setelah insiden itu, ribuan orang datang berbondong-bondong. Pahlawan, ksatria, penyihir, semuanya datang dengan tujuan yang sama: Membunuh Ratu Elara dan merebut Kristal Umbralis.
Elara membunuh mereka semua demi pertahanan diri. Tapi setiap kali dia membunuh, sepotong hatinya mati. Hingga akhirnya... dia memutuskan untuk menutup hatinya rapat-rapat. Dia menjadi dingin, dia menjadi angkuh, dia berpura-pura jahat.
Bukan karena dia memang jahat. Tapi karena itu adalah satu-satunya cara agar dia tidak pernah lagi dikhianati, dan tidak pernah lagi merasakan sakit karena kehilangan.
💔 Hati yang Beku
Xavier menutup buku itu perlahan. Matanya basah.
Jadi begini ceritanya...
Elara bukan monster. Dia adalah wanita yang patah hati. Dia adalah orang yang pernah memberikan kepercayaan penuh, tapi justru ditusuk dari belakang. Dia menjadi dingin karena dia terluka terlalu dalam.
"Mereka... mereka benar-benar kejam..." bisik Xavier, tangannya mengepal kuat di atas meja. "Mereka mengambil kepolosanmu, Elara. Mereka mengambil senyummu..."
Rasa sayang di hati Xavier meledak menjadi seribu kali lipat. Jika tadi dia hanya penasaran, sekarang dia ingin sekali memeluk wanita itu dan menghapus semua rasa sakit di masa lalunya.
"Jangan khawatir..." bisik Xavier pada buku itu, seolah berbicara pada Elara yang jauh di sana. "Aku bukan seperti mereka. Aku tidak menginginkan kristalmu. Aku tidak menginginkan kekuatanmu."
"Aku hanya menginginkanmu, Elara. Aku ingin menjadi orang yang memperbaiki hatimu yang hancur. Aku janji... aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku akan mencintaimu melebihi rasa takutku sendiri."
Kristal ungu di sampul buku itu seolah merespons, bersinar sedikit lebih terang seolah tersenyum mendengar janji sang Raja.
Bersambung...