NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Fania duduk di kursinya dalam diam. Tangannya masih menggenggam gelas, meski minumannya sudah hampir habis. Uap dingin dari es yang mencair perlahan membasahi permukaan kaca, namun Fania tidak benar-benar menyadarinya.

Percakapan di sekelilingnya masih berlangsung, tawa, candaan suara yang saling bersahutan. Namun pikirannya tidak di sana, terpecah. Tertarik pada satu titik yang sama sejak beberapa menit lalu. Wanita itu, caranya berbicara dengan Ronald dan cara Ronald menanggapinya. Terasa berbeda, halus hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan seksama.

Namun Fania memperhatikan, dan justru karena itu ia tidak bisa mengabaikannya.

“Masih sibuk, Ron?” tanya wanita itu santai, menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi. Panggilan yang berbeda dari kerabat lainnya, Fania terusik dengan panggilan itu.

Ronald mengangguk. “Seperti biasa.” Jawabannya pendek, seperti yang selalu ia lakukan. Namun tidak sepenuhnya dingin.

Wanita itu tersenyum kecil. “Kau tak pernah berubah.” Nada suaranya terlalu akrab. Seolah ia berbicara tentang sesuatu yang sudah lama ia kenal. Bukan sekedar kenal, tapi pernah dekat sepertinya.

Fania menggenggam gelas di tangannya sedikit lebih erat, terasa tekanan kecil di sana secara refleks. Namun wajahnya tetap tenang, terkontrol tak menunjukkan apa-apa.

“Aku dengar kau sering ke luar negeri,” lanjut wanita itu.

Ronald hanya mengangguk, tidak banyak penjelasan. Tidak perlu. Seolah wanita itu sudah mengerti tanpa harus dijelaskan panjang.

Fania melirik sekilas, perhatian kecil tanpa sadar. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia melakukan itu.

Wanita itu tertawa kecil. “Dulu juga begitu.”

Dulu, satu kata namun terasa seperti menarik sesuatu dari masa lalu ke dalam ruang yang sekarang. Kata itu mengendap dan mengganggu. Namun Fania mengalihkan pandangannya mencoba fokus ke hal lain.

Suara sendok yang beradu, lampu yang bergoyang pelan, apa saja. Namun gagal, pikirannya tetap kembali ke sana.

“Eh, kalian terlihat begitu dekat dulu,” celetuk salah satu sepupu, tanpa beban. Tanpa menyadari dampaknya.

Wanita itu tersenyum. “Lumayan.”

Jawaban sederhana, ringan seolah tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata. Terasa ada kejujuran, yang entah kenapa lebih mengganggu.

Sementara Ronald tidak menanggapi, tidak membenarkan tapi juga tidak menyangkal. Ronald hanya terlihat diam. Dan itu, lebih berbicara daripada sebuah kata-kata.

Fania menunduk sedikit, menyeruput minumannya terlalu cepat hampir terburu-buru. Seolah ingin mengalihkan perhatian. Namun perasaan itu tetap ada, mengganjal, mengganggu, tidak nyaman, tanpa nama yang jelas.

“Fan, kau baik-baik saja?” tanya salah satu dari mereka, memperhatikan perubahan kecil itu.

Fania langsung mengangguk. “Iya.” Jawaban cepat, dan terlalu cepat. Seolah sudah disiapkan.

Ronald meliriknya, sekilas. Namun cukup untuk menangkap sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya. Atau mungkin tidak ingin ia pahami sekarang.

Percakapan berlanjut, topik berpindah. Namun Fania semakin diam, ia tidak lagi mencoba ikut hanya mendengarkan dan memperhatikan setiap interaksi kecil. Setiap tatapan yang terlalu lama, setiap senyum yang terasa memiliki arti lain yang mungkin sebenarnya biasa saja. Namun tidak terasa biasa bagi dirinya.

“Ronald dulu terlalu sulit didekati,” ujar wanita itu sambil tertawa kecil, mengenang sesuatu yang tampaknya cukup jelas di ingatannya. Nada suaranya santai namun penuh kepastian. Seolah ia benar-benar tahu seperti apa Ronald di masa itu.

“Ya, tapi tampaknya kau berhasil,” sahut sepupu lainnya dengan nada menggoda.

Tawa kecil terdengar, ringan. Namun bagi Fania suara itu terasa berat. Berhasil? Apa maksudnya? Berhasil mendekat? Atau lebih dari itu? Ia mengangkat pandangannya perlahan, refleks seolah mencari jawaban.

Melihat ke arah Ronald, pria itu diam tidak bereaksi dan tidak pula mengoreksi. Tawa pun tidak Ronald tunjukkan, hanya diam. Dan itu cukup, cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Fania bergerak.

Ia mengalihkan pandangannya, cepat seolah tidak ingin melihat lebih jauh. Dadanya terasa sedikit sesak, namun ia tidak mengerti kenapa. Perasaan itu datang tanpa izin, tanpa penjelasan.

“Ah, itu dulu,” ujar wanita itu santai, seolah ingin menutup topik. Namun senyumnya, masih menyisakan sesuatu. Sesuatu yang belum benar-benar selesai.

Fania menarik napas pelan dan dalam. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengannya, tidak penting dan tidak perlu dipikirkan. Itu hanya masa lalu, sudah selesai. Seharusnya begitu.

Namun kenapa terasa seperti ini? Kenapa tubuhnya bereaksi seolah ada sesuatu yang terancam? Beberapa menit kemudian, Fania berdiri. Gerakannya tenang dan terukur.

“Aku ke dalam sebentar,” ujarnya pelan. Tidak menatap siapa pun secara khusus, dan tidak menunggu jawaban. Ia berjalan menjauh, langkahnya tetap stabil. Namun pikirannya berantakan.

Begitu sampai di dalam, suasana langsung berbeda. Lebih sepi dan dingin, jauh dari suara tawa dan percakapan. Fania berhenti, menarik napas dalam-dalam. Sekali, dua kali.

“Apa yang ku lakukan” gumamnya pelan. Hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri. Ia menyentuh dadanya, di sana perasaan itu masih ada. Rasa tidak nyaman, mengganggu seperti sesuatu yang belum selesai, padahal ia tidak tahu apa yang dimulai.

Namun ia tak bisa menamainya. Cemburu? Tidak mungkin, karena ia tak lagi mencintai suaminya. Dan itu terasa tidak masuk akal. Ia bahkan sedang menjaga jarak dari Ronald, tidak mengharapkan apa-apa, dan tidak menuntut apa-apa. Lalu kenapa reaksinya seperti ini? Fania menggeleng pelan.

“Hanya perasaanku” bisiknya, mencoba menyederhanakan sesuatu yang jelas tidak sederhana.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri namun tidak sepenuhnya berhasil. Karena jauh di dalam ada bagian kecil yang tahu. Bahwa ini bukan sekadar “aneh”.

***

Di luar, Ronald memperhatikan. Sejak Fania berdiri, sejak ia pergi tanpa banyak bicara. Ia melihat semuanya, tanpa komentar, tanpa reaksi berlebihan. Namun rahangnya mengeras sedikit, refleks. Hampir tidak terlihat, wanita di depannya masih berbicara.

Topiknya berubah, tawanya masih ada. Namun bagi Ronald suara itu mulai menjauh. Tidak lagi menjadi pusat perhatiannya.

“Ronald?”

Ia tersadar, seolah ditarik kembali. “Ya?”

Wanita itu menatapnya, lebih lama dari sebelumnya.

“Kau berubah.” Kalimat itu sederhana, namun nadanya tidak netral.

Ronald menatapnya datar, tanpa emosi yang jelas.

“Semua orang berubah.” Jawaban singkat, namun cukup untuk menciptakan jarak. Bukan jawaban yang membuka ruang justru sebaliknya.

Ia berdiri, gerakannya tegas. “Aku akan ke dalam.” Tanpa basa-basi, Ronald berjalan menjauh meninggalkan percakapan. Meninggalkan masa lalu yang sempat muncul kembali beberapa menit tadi. Mencari, tanpa benar-benar mengakuinya.

Di dalam, Fania masih berdiri menatap kosong ke arah jendela. Pantulan dirinya sendiri terlihat samar. Namun ia tidak benar-benar melihat, pikirannya masih penuh. Hingga langkah kaki terdengar mendekat, pelan namun pasti. Membuatnya menoleh, Ronald.

Tatapan mereka bertemu, beberapa detik. Hanya keheningan yang mengiringi mereka, tidak ada suara lain dan tidak ada gangguan. Hanya mereka.

“Ada apa?” tanya Ronald akhirnya, nada suaranya tetap tenang namun lebih rendah dan lebih serius.

Fania terdiam, pertanyaan itu sederhana. Namun jawabannya tidak. Ia tidak tahu harus menjawab apa atau mungkin ia tahu, namun tidak siap mengatakannya.

“Aku baik-baik saja,” ujarnya akhirnya, jawaban yang sama seperti sebelumnya. Namun kali ini lebih rapuh dan tidak meyakinkan.

Ronald menatapnya lebih dalam, mencoba membaca dan mencari sesuatu di balik jawaban itu.

Namun Fania mengalihkan pandangan, untuk menghindar. Seolah jika ia terus menatap, sesuatu akan terbongkar. Dan lagi, ia tidak mengakuinya.

Perasaan itu yang sebenarnya sudah mulai tumbuh kembali atau sudah mulai kembali ia sadar tak pernah hilang. Diam-diam, pelan namun pasti dan semakin sulit untuk diabaikan.

"Jika kau baik-baik saja, aku akan kembali bergabung bersama mereka" pamit Ronald berlalu meninggalkan Fania yang terlihat enggan berbicara dengannya.

NEXT …….

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!