Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Ketegangan
Sagara tiba lebih awal dari biasanya. Matahari bahkan belum benar-benar tenggelam ketika mobilnya masuk ke halaman Adinata Residence 3
Rumah itu selalu terlihat lebih tenang seperti biasanya.
Beberapa staf terlihat berlalu di area bawah, namun tidak banyak aktivitas.
Langkah Sagara langsung menuju lantai dua. Ia ingin memastikan sendiri hasil pemeriksaan Shafiya hari ini. Karena sampai sore, tidak ada laporan masuk. Tidak dari dokter Zulaika. Tidak juga dari Agam.
Dan itu cukup membuatnya memilih bertanya langsung.
Namun langkah Sagara berhenti tepat saat sampai di ruang duduk depan kamar itu.
Pintu kamar Shafiya terbuka.
Dan Agam keluar dari sana.
Sunyi jatuh singkat.
Agam yang lebih dulu menyadari keberadaan Sagara langsung berhenti melangkah.
Sementara tatapan Sagara turun sekilas pada pintu kamar yang masih belum tertutup sempurna.
Lalu kembali ke Agam.
"Kamu... masuk ke kamar ini, Gam?"
Pertanyaan itu hanya untuk memastikan apa yang ia lihat.
Ucapan Ravendra tadi di kantor masih tinggal. Mengusik pikiran. Namun kepercayaan pada Agam tetap tidak bergeser. Tapi apa yang ia lihat sekarang, sulit membuatnya bertahan dari apa yang ia yakini dari awal.
Agam maju setengah langkah.
"Sagara itu--"
Sagara langsung memotong.
"Aku sudah suruh kamu jaga batas. Dan ini lewat Gam." Nada itu berat
"Tadi dia kelelahan. Dan aku bantu ke kamar untuk istirahat." Agam menjelaskan faktual. Memang itu yang terjadi.
"Apa yang kalian lakukan di luar, sampai dia kelelahan." Tatapan Sagara tak beralih. Nadanya juga tak lagi datar, tapi tajam.
"Itu--" Agam memutus begitu saja. Ia sedang menimbang. Menerima penjelasan terlalu panjang, itu bukan karakter Sagara.
Tapi di titik ini ia cukup kesulitan mendapatkan kalimat yang tepat untuk dijelaskan...
Agam menghembuskan napas pelan.
“Dia banyak jalan hari ini.” Akhirnya itu yang keluar lebih dulu. “Belanja untuk pondoknya. Lalu sempat muntah lagi di perjalanan pulang.”
Tatapan Sagara berubah sedikit.
Namun emosi yang sempat naik itu belum cukup mereda.
“Kamu bisa lapor.”
“Aku pikir nona lebih butuh ditenangkan dulu daripada dijadikan laporan.”
Kalimat Agam itu keluar tanpa niat melawan. Tapi tetap terdengar menyentil.
Cukup keras malah.
Dan itu membuat rahang Sagara mengeras samar.
“Aku suaminya.”
Kalimat itu akhirnya keluar, saat Sagara mulai kehilangan ketenangan logisnya. Dan itu bukan hanya sekedar penegasan status. Itu reflek kepemilikan dan tanggung jawab.
“Aku tahu.” Agam menjawab cepat, tegas.
“Makanya aku tetap antar dia pulang ke sini.”
Sunyi jatuh beberapa detik.
Ketegangan itu terasa semakin sempit di ruang duduk tersebut.
Agam sendiri sadar arah pembicaraan ini mulai bergeser terlalu jauh. Dan itu tidak baik.
“Sagara.” Kali ini nada suaranya berubah lebih serius. “Aku tidak melewati batas yang kamu pikir.”
Namun Sagara justru tertawa pendek. Sangat tipis. Hampir seperti hembusan napas kasar.
“Masalahnya…” tatapannya lurus pada Agam. “Aku mulai tidak tahu batas yang sekarang kamu pakai.”
Agam diam.
Pintu kamar itu kembali terbuka perlahan.
Shafiya muncul dengan wajah yang masih pucat. Langkahnya pelan. Satu tangannya menahan sisi pintu sejenak sebelum benar-benar keluar.
Dan ketegangan di ruang duduk itu langsung terpotong.
Tatapan Sagara berpindah cepat ke arahnya.
Sementara Shafiya justru lebih dulu melihat Agam.
“Mas Agam… maaf ya."
Suaranya serak pelan.
Agam langsung mendekat setengah langkah. “Nona, kenapa keluar lagi? Istirahat saja.”
Namun Shafiya menggeleng kecil. Napasnya masih belum benar-benar stabil.
“Mas Agam jangan dimarahi…”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Jelas ditujukan untuk siapa. Dan jelas ia sedang membela siapa.
Dan suasana mendadak berubah jauh lebih sunyi karenanya.
Tatapan Sagara perlahan berpindah dari Shafiya ke Agam. Lalu kembali lagi.
Sementara Shafiya sendiri seperti baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
“Saya tidak marah.” Nada Sagara lebih rendah sekarang. Namun justru terdengar lebih berat.
Shafiya menunduk pelan.
“Tadi saya yang minta diantar masuk,” ucapnya lirih. “Karena saya pusing.”
Agam diam. Tidak ikut menyela lagi.
Dan kali ini Sagara benar-benar terlihat sedang menahan sesuatu dalam dirinya sendiri.
Karena sekarang yang paling mengganggunya bukan karena Agam masuk ke kamar Shafiya.
Tapi fakta bahwa dalam keadaan seperti ini… orang pertama yang justru dikhawatirkan Shafiya adalah Agam.
Sunyi yang jatuh sekarang terasa lebih dingin dan menusuk. Semua masih berdiri di tempatnya masing-masing. Dengan pondasi tersendiri atas sikap dan keputusan yang diambil.
Di antara mereka tidak ada yang benar-benar salah.
Sagara logis untuk marah.
Agam logis untuk membantu.
Dan Shafiya logis untuk merasa khawatir.
Jadi ketegangan yang terjadi di sana, terlihat sangat "Manusia". BUKAN DRAMA YANG DIPAKSAKAN.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering