Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32--Live Streaming Pemancing Musang Birahi Dan Buaya Betina
Naufal berdiri di depan meja *display* unggulan. Matanya tidak menatap produk, melainkan memandangi arus lalu lintas di depan toko. Di seberang sana, Bagas sedang menyalami seorang pria paruh baya yang baru saja keluar dari mobil dinas. Senyum Bagas begitu lebar.
[Ding!]
[Kemampuan 'Analisis Aktif]
[Status Pasar: 70% Pelanggan di toko sebrang adalah pengikut setia 'Gaya Lama' (Kepercayaan pada personalitas).]
[Kelemahan Target (Bagas): Bergantung sepenuhnya pada database lama. Tidak memiliki jangkauan ke audiens Gen Z yang baru masuk ke dunia kerja.]
"Siska," panggil Naufal tanpa menoleh. "Coba cek stok kita untuk seri *flagship* yang punya fitur 'Live Translate' dan 'AI Eraser' paling mutakhir. Saya butuh 50 unit *ready* hari ini."
Siska mengernyitkan dahi. "Fal, stok kita ada, tapi siapa yang mau beli sebanyak itu dalam sehari? Orang-orang lebih percaya sama 'Garansi Nama' Bagas di seberang."
"Orang tidak beli barang karena garansi nama saja, Sis. Mereka beli karena mereka tidak ingin merasa ketinggalan zaman," jawab Naufal dengan nada dingin yang penuh keyakinan.
Di jaman sekarang AI adalah segalanya, Bagas jelas jarang melakukan probing melalui itu dan jadi kelemaha dia
[DING!]
[MISI BARU TERPICU!]
[Lakukan live di media sosial untuk membantu meningkatkan penjualan, dapatkan transaksi minimal 2 unit dari live]
[Hadiah misi RP 120.000.000, Poin ketampanan +15, kemampuan live master anda aka jadi magnet semua orang.]
Naufal tersenyum. Jacpot baru saja dia berpikir untuk melakukan live, tapi dengan tambahan dari sistem dia makin semangat! 120 juta untuk sekali live lagi!
### Pukul 11.00 WIB
Naufal tidak menunggu pelanggan datang. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka akun sosial media milik dia yang kini memiliki ribuan pengikut organik, dan mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh sales konvensional seperti Bagas.
Ia melakukan *Live Streaming* langsung di toko.
Toko itu sepi bukan main, mendadak karena Naufal melakukan live semua orang menatapnya heran.
Manajer sana pun mendengus berpikir bahwa kelakuan Gen Z ada-ada saja, ia tidak sadar apa yang ingin dilakukan Naufal adalah untuk menarik audiens kesini.
"Selamat siang, warga Jogja. Bosan ditawari HP hanya karena mereknya terkenal?" Naufal berbicara ke arah kamera dengan sangat karismatik. Wajahnya yang setingkat artis papan atas langsung membuat penonton Live-nya melonjak dari puluhan menjadi ribuan dalam hitungan menit.
Wajah dia sekarang jadi makin tampan berkat kenaikan status dari sistem, hal ini jadi magnet tersendiri bagi para cewek-cewe.
"Hari ini, saya tidak jualan HP. Saya jualan 'materi'. Lihat ini."
Naufal mengambil salah satu hp display. "Jaman sekarang jaman serba canggih gays dengn bantuan AI.”
Naufal mulai menjelaskan berbagai cara penggunaan, dari cara pengunaan ai penghilang objek, ai penerjemah otomatis, dan lain-lain. Hal ini sontak membuat satu akun tertarik.
Nama akun Zaka
(Menarik? Sebutkan lokasi nak, saja ambil dua unit dengan hp fitur itu)
Naufal tersenyum. Penonton makin banyak juga. “Boleh kak ini ada di toko X di Blok ya kak, buruan! Sebelum habis!”
Namun beberapa orang beda lagi, ada satu yang nyantol lainnya nyantol karena hal lain. Alih-alih fokus ke penjelasan Naufal, orang-orang pada menulis komen mengatakan seberapa tampannya pemilik akun nama Naufal itu.
(Gila kakak ganteng banget)
(Aku gak butuh penjelasan dong! Aku butuh konta kakak!)
“Dengan senang hati cantik! Nomor saya .. syaratnya kudu beli barang gue dulu, tapi!”
Siska melihat live itu di sebrang display raut wajah cemberut, lalu menatap naufal secara langsung. Ini orang ngapain sih? Gabut juga ada batasnya kali.
Live streaming itu kian memanas. Naufal yang biasanya irit bicara, kini benar-benar menggunakan kemampuan bacot miliknya untuk membius ribuan penonton. Namun, ia tahu penonton tidak bisa hanya diberi "pemandangan indah"—mereka butuh interaksi yang membuat adrenalin naik.
"Aduh, pada minta nomor HP ya? Gimana kalau kita bikin kesepakatan?" Naufal mendekatkan wajahnya ke kamera, membuat kolom komentar bergerak secepat kilat. "Satu unit *flagship* hari ini, dapat satu kali kesempatan konsultasi privat bareng saya. Mau tanya soal spek? Boleh. Mau tanya soal masa depan? Saya usahakan."
(Kyaa boleh dong kak!)
(OTW KETOKO!)
(AKU MAU BUNGKUS KAKAKNYA AJA!)
Siska yang awalnya hanya menonton dari balik meja display kian gerah. Ia melihat Naufal terus-terusan menebar pesona ke kamera. Karena merasa toko ini tanggung jawabnya juga, ia berjalan menghampiri Naufal dengan niat ingin menegur agar dia kembali fokus bekerja.
"Naufal! Berhenti main-main, itu ada—"
Kalimat Siska terputus. Tanpa sengaja, ia masuk ke dalam *frame* kamera tepat di samping Naufal.
Seketika, kolom komentar yang tadinya penuh dengan emoticon hati untuk Naufal, mendadak berubah menjadi lautan komentar dari para "buaya darat" internet.
Para musang birahi menunjukan jati diri mereka!
(ANJRIT CANTIK BANGET!)
(WUIH! SIAPA ITU DI SEBELAH KAK NAUFAL? CANTIK BANGET!)
(Info IG mbaknya dong! Spek bidadari ini mah!)
(Kak Naufal, kalau beli HP dapet mbaknya juga nggak? Kalau iya, saya borong 10 unit!)
Siska tersentak, wajahnya memerah padam saat menyadari ribuan mata sedang menatapnya melalui layar ponsel Naufal.
Ia reflek ingin menghindar, tapi Naufal justru dengan sengaja merangkul bahu Siska sedikit agar tetap berada di dalam kamera.
"Nah, kenalin, ini Siska. Partner kerja paling galak,” ucap Naufal sambil terkekeh pelan.
"Gimana? Masa kalian mau kalah sama kecantikan Siska? Yang mau tanya-tanya spek ke Siska atau aku buruang gays, langsung datang ke gerai toko sekarang. Kita tunggu sampai jam 9 malam."
Siska yang awalnya cemberut, kini malah jadi salah tingkah karena ribuan pujian yang masuk. "Apaan sih, Fal! Jangan ditarik-tarik!" bisiknya ketus, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan senyum tipis yang terekam kamera.
“kamu juga ngapain sih live gak jelas gitu, gak ada faedahnya.” Ia menujuk pak manjaer yag melotot tajam ke arah mereka berdua, dan dia berbisik. “Lagian lihat, pak manajer sudah mengeluarkan auranya.”
Kombinasi antara ketampanan Naufal yang tenang dan kecantikan Siska yang malu-malu ternyata menjadi senjata mematikan.
“Gak ngefek? Kamu salah besar, jangan remehkan para musang birahi!”
[Ding!]
[Target Audience Terjangkau: 50.000+ Orang!]
[Efek: 'Magnet Visual Ganda' Aktif!]
Tak butuh waktu lama, suara deru motor dan mobil mulai terdengar memadati area parkir depan toko. Para pemuda yang tadinya hanya ingin "melihat bidadari" dan para gadis yang ingin "bertemu Kak Naufal" mulai berdatangan.
Toko yang tadinya sepi seperti kuburan, mendadak penuh sesak. Antrean mulai mengular, bukan hanya untuk bertanya, tapi banyak yang gengsi kalau cuma datang tanpa membawa pulang kantong belanjaan.
“Kak naufal kita datang!”
“Mana siska cantik milik kita semua!”
Selusin orang tiba-tiba datang, udah kayak perang COD an.
“Anjir beneran efektif!” Naufal malah yang paling terkejut, dia gak nyangka bakal ketampanan dia bakal berpengaruh ini!
“Kok malah lo yang paling terkejut!”
"Fal, itu... itu beneran mereka datang?" Siska melongo melihat gerombolan anak muda yang mulai masuk dan mencari sosok mereka.
"Gue bilang apa, Sis. Zaman sekarang, orang nggak butuh database lama. Mereka butuh alasan untuk datang," Naufal melirik ke arah seberang jalan.
Di sana, Bagas yang tadinya asyik menyalami pejabat dinas, kini menoleh dengan bingung. Ia melihat kerumunan massa yang luar biasa besar justru masuk ke toko lawa dia,, sementara tokonya sendiri perlahan mulai ditinggalkan oleh pelanggan retail.
Manajer toko yang tadi menganggap Naufal "anak kecil yang main-main", kini hampir menjatuhkan tabletnya melihat angka *Real-Time Visitor* yang meroket. Gen Z emang beda, ide mereka kadang bikin geleng-geleng kepala sendiri.
"Naufal... Siska... kalian berdua, cepat layani mereka! Jangan sampai ada yang lepas!" teriak Manajer dengan nada yang berubah 180 derajat menjadi penuh semangat.
Naufal menatap Siska sambil menaikkan satu alisnya. "Siap jualan bareng gue, Sis?"
Siska menghela napas, merapikan kemejanya, dan memasang wajah profesional terbaiknya. "Oke, kali ini gue akuin cara lo jenius. Ayo kita habisin stok hari ini!"
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN