Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul: Bab 3 Isi: muka. Tangannya megang kepala... [+ tempel semua cerita sampe
Pagi itu Bima memaksa senyum meski dadanya sesak.*
_(Dalam hati) Gw harus bangkit. Gw harus bisa berubah. Buat Fitri sama anak gw di kampung._
*Dia berangkat lagi mencari pekerjaan. Siapa tahu hari ini ada secercah harapan.*
*Di tempat yang dituju, Bima bertemu puluhan pelamar dari berbagai daerah. Di sanalah dia berkenalan dengan beberapa orang senasib.*
*"Halo, Bro. Gw Bima. Ngelamar juga?" sapa Bima sambil menjulurkan tangan.*
*Dika menjabatnya erat. "Iya, Bro. Lo juga?"*
*"Iya, gw juga. Yang ini temen lo juga, Bro?" Bima melirik ke dua orang di samping Dika.*
*Dika merangkul keduanya. "Iya, ini temen gw juga. Kenalin, ini Rian, dan ini Bayu."*
*Akhirnya mereka berkenalan. Suasana jadi cair.*
*"Mudah-mudahan rezeki di pihak kita ya?" ucap Bima.*
*"Aamiin," jawab Dika, Rian, dan Bayu serempak.*
*"Oh iya, lo semua udah berkeluarga?" tanya Bima iseng.*
*Dika mengangguk. "Iya, kita bertiga udah berkeluarga semua."*
*"Owalah, sama. Gw juga udah berkeluarga kok," balas Bima sambil nyengir.*
*Mereka menunggu giliran dipanggil satu per satu untuk interview. Waktu terasa lama, tapi akhirnya selesai juga.*
*Sore harinya, mereka berkumpul lagi di depan pabrik. Muka lecek semua.*
*"Hey, Bro. Gimana? Keterima?" tanya Bima nggak sabaran.*
*Dika langsung nyengir lebar. "Iya, keterima gw, Bim!" raut mukanya senang dan bersyukur banget.*
*"Lo gimana, Ri? Yu?" Bima menoleh ke dua temannya yang lain.*
*Rian ngepalin tangan ke atas. "Sama, gw juga keterima!"*
*Bayu ngikut. "Sama, gw juga keterima!"*
*"Alhamdulillah. Kita semua keterima!" Bima langsung ngajak salaman satu per satu. Lega banget rasanya.*
*Tapi senyum Bima langsung luntur. Dia baru inget satu masalah. Dompetnya tinggal 50 ribu. Kontrakan lama kejauhan, 2 jam dari sini.*
*"Tapi gimana nih, Bro? Kita harus cari kontrakan dulu. Lo tahu sendiri kan tempat kerjaan kita jauh. Ini di kawasan industri, Bro."*
*Dika nepuk jidat. "Iya bener juga lo, Bro. Gimana kalo kita cari bareng-bareng di sana?"*
*"Ok, kita setuju," sahut Rian dan Bayu.*
*Bima nyengir tipis. "Jangan lupa, kita cari yang murah."*
*"HAHAHA!" Mereka bertiga ngakak. "Itu pasti, Bro!" timpal Dika.*
*Akhirnya mereka berempat, tanpa kenal lelah, berangkat menuju lokasi kontrakan terdekat. Naik motor butut Bima. Knalpotnya ngebul, suaranya kayak traktor.*
*"Bro, kita udah sampe nih. Ayo kita keliling cari kontrakan," ajak Bima semangat.*
*"Ayo! Semangat! Kita cari!" sahut Dika, Rian, dan Bayu.*
*Nggak lama, Dika menunjuk ke sebuah deretan kontrakan. Catnya ngelotok, pagernya karatan. "Nemu juga kita akhirnya... Tapi gw merinding amat ya sama suasana tempatnya."*
*Rian bergidik. Angin sore tiba-tiba jadi dingin. "Iya, sama. Gw juga. Bulu kuduk gw merinding."*
*Bayu nyikut Rian. "Husst. Itu bapaknya. Jangan berisik lo pada. Nggak enak."*
*Bima maju dan menyapa bapak-bapak yang duduk di depan. "Permisi, Pak."*
*Si Bapak mendongak. Matanya sayu. "Iya, ada apa, Mas?"*
*"Di sini ada kontrakan kosong, Pak?"*
*"Iya, betul ada. Satu lagi tuh. Yang paling ujung sana. Yang terpisah dari kontrakan lainnya," jawab Si Bapak sambil nunjuk. Kontrakan itu paling gelap, ketutupan pohon bambu.*
*"Boleh kita ke sana, lihat-lihat dulu, Pak?"*
*"Ayo, mari. Silakan." Si Bapak jalan duluan. "Nah, ini kamarnya, Mas."*
*Begitu pintu dibuka, bau apek sama lembab langsung nyerang hidung. Temboknya jamuran, kasurnya tipis kayak kerupuk. Tapi harganya cuma 200 ribu sebulan.*
*Bima menoleh ke teman-temannya. "Gimana, Teman-teman? Mau kita ambil kamarnya?"*
*Dika, Rian, Bayu saling pandang. Di luar udah mau magrib. Duit pas-pasan. "Iya, boleh deh," jawab mereka ragu-ragu.*
*"Kapan mau nempatinnya?" tanya Si Bapak.*
*"Hari ini, Pak. Kita nempatinnya hari ini," jawab Bima mantap meski hatinya was-was."