Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Belajar pun dimulai.
"Mulai dari mana?" tanya Raka.
"Matematika dulu," jawab Nadia tegas.
Raka langsung mengeluh.
"Kenapa harus matematika…"
Salsa tertawa.
"Biar cepat selesai yang susah dulu!"
Mereka mulai berdiskusi. Kali ini suasananya berbeda. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang memaksa.
"Kayla, kamu ngerti bagian ini?" tanya Nadia.
Kayla menggeleng.
"Belum…"
"Yaudah, kita bahas bareng," kata Nadia.
Raka mencoba menjelaskan dengan cara sederhana.
"Bayangin aja kayak gini…"
Salsa ikut menambahkan.
"Iya, jadi langkahnya satu-satu."
Mereka saling membantu. Kalau satu orang tidak paham, yang lain menjelaskan. Kalau salah, diperbaiki bersama. Sesekali, suasana jadi santai.
"Aduh, otakku panas," kata Raka sambil tiduran.
"Makanya jangan kebanyakan ngeluh," kata Salsa sambil tertawa.
Kayla ikut tertawa.
Hari-hari berikutnya, mereka rutin belajar bersama. Kadang di rumah Kayla, kadang di rumah Nadia. Semakin dekat ujian, mereka semakin kompak. Kelompok belajar itu bukan hanya membantu mereka memahami pelajaran tapi juga membuat mereka saling menguatkan.
Hari-hari belajar bersama itu berlalu begitu cepat. Tawa, candaan, dan diskusi panjang yang dulu memenuhi sore mereka perlahan mulai berkurang. Bukan karena mereka menjauh, tapi karena semuanya mulai fokus pada satu hal yang sama ujian akhir yang semakin dekat. Di setiap pertemuan kelompok belajar, suasana mulai berubah. Yang dulu sering diselingi tawa kini lebih banyak diisi dengan keseriusan.
"Kayla, coba ulang lagi bagian ini," kata Nadia.
"Iya… bentar," jawab Kayla sambil membuka catatan.
Raka yang biasanya paling banyak bercanda pun mulai lebih diam. Salsa juga terlihat lebih fokus dari biasanya. Semua berubah. Bukan karena terpaksa, tapi karena mereka sadar waktu mereka sudah tidak banyak.
Suatu sore, setelah belajar bersama, mereka duduk diam. Tidak ada yang langsung bicara. Hanya suara angin sore yang terasa pelan.
"Besok udah mulai ya…" kata Salsa akhirnya.
Kayla mengangguk.
"Iya…"
Perasaan itu datang lagi. Tegang. Takut. Tapi juga siap. Raka berdiri dan meregangkan badannya.
"Apapun yang terjadi… kita sudah usaha," katanya.
Nadia tersenyum kecil.
"Dan kita gak sendiri."
Kayla menatap mereka satu per satu. Teman-teman yang sudah menemaninya berjuang. Dari awal yang sulit hingga titik ini. Ia tersenyum.
"Terima kasih ya…" kata Kayla
Keesokan paginya, hari yang ditunggu itu akhirnya tiba.
Hari ujian akhir.
Hari itu akhirnya tiba. Hari ujian akhir yang sesungguhnya.
Pagi itu, Kayla bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap seragamnya. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah penentuan.
"Kayla, sudah bangun?" panggil Mama dari luar.
"Iya, Ma…"
Suara Kayla terdengar pelan, tapi tegas. Di meja makan, suasana sedikit hening. Mama menyajikan sarapan.
"Makan yang cukup ya, biar kuat," kata Mama.
Kayla mengangguk. Ia mencoba makan, meskipun perutnya terasa tegang. Sebelum berangkat, Mama menggenggam tangan Kayla.
"Apapun hasilnya nanti… Mama tetap bangga."
Kayla menatap Mama.
Kalimat itu membuat hatinya sedikit tenang. Sesampainya di sekolah, suasana sudah ramai. Semua siswa datang lebih awal. Namun tidak seperti biasanya tidak banyak yang bercanda. Salsa melambaikan tangan dari kejauhan.
"Kayla!"
Kayla menghampiri.
"Gimana? Siap?" tanya Salsa.
Kayla menarik napas.
"Deg-degan banget…"
Raka datang dari belakang.
"Aku juga! Tadi hampir lupa sarapan," katanya.
Nadia tersenyum kecil.
"Tenang aja… kita sudah belajar."
Mereka berdiri melingkar. Seperti kebiasaan mereka sebelum belajar.
"Ayo, semangat!" kata Salsa.
"Kita pasti bisa," tambah Nadia.
Raka mengangkat tangan.
"Untuk kelompok belajar kita!"
Mereka semua tertawa kecil. Kayla ikut mengangkat tangan.
"Untuk usaha kita!"
Bel berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya. Meja disusun rapi, jarak antar siswa lebih jauh. Tidak boleh saling melihat. Tidak boleh berbicara.
Kayla duduk di tempatnya. Tangannya mulai dingin. Jantungnya berdegup cepat.
Guru masuk membawa lembar soal.
"Anak-anak, ini adalah ujian akhir kalian."
"Kerjakan dengan jujur dan tenang."
Kertas soal dibagikan.
Satu per satu. Hingga akhirnya sampai di meja Kayla.
Kayla menatap kertas itu. Diam. Beberapa detik terasa sangat lama.
Ia menarik napas dalam.
"Aku sudah sejauh ini…"
"Aku gak boleh menyerah sekarang."
Ia mulai membaca soal pertama. Soal itu tidak semudah yang ia harapkan. Namun juga tidak sepenuhnya sulit. Kayla mulai mengerjakan. Pelan, fokus, tidak terburu-buru.
Di sekelilingnya, hanya terdengar suara pensil. Semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Beberapa menit kemudian Kayla menemui soal yang membuatnya berhenti.
"Aduh… ini lagi…" gumamnya dalam hati.
Ia mulai panik.
Namun kali ini ia tidak langsung menyerah. Ia menutup matanya sebentar. Mengingat latihan bersama, ingat penjelasan Nadia, ingat cara Raka menjelaskan.
"Oh… aku ingat…"
Ia mulai menulis. Satu soal terlewati. Lalu soal berikutnya. Waktu terus berjalan.
"15 menit lagi!" kata guru.
Kayla mempercepat sedikit. Ia mengecek jawabannya. Memastikan tidak ada yang terlewat. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi hatinya lebih tenang.
"Baik, waktu habis. Kumpulkan."
Kayla meletakkan pensilnya. Ia menghela napas panjang. Selesai.
Saat keluar dari kelas, suasana langsung berubah.
"Aduh nomor 7 susah banget!" kata Raka.
"Iya! Aku sempat blank!" tambah Salsa.
Nadia tersenyum.
"Yang penting kita sudah berusaha."
Kayla hanya tersenyum.
Ia melihat teman-temannya.
"Kita berhasil ya… sampai di sini," katanya pelan.
Mereka saling pandang. Lalu tersenyum bersama. Hari itu bukan hanya tentang ujian tapi tentang perjalanan panjang mereka. Tentang usaha, tentang perubahan dan tentang keberanian. Dan untuk pertama kalinya Kayla tidak takut dengan hasil. Karena ia tahu ia sudah memberikan yang terbaik.
Namun… ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Hari-hari setelah ujian justru terasa lebih menegangkan.
Tidak ada lagi buku yang harus dibuka setiap sore, tidak ada lagi kelompok belajar, tidak ada lagi soal-soal yang harus dikerjakan.
Yang tersisa hanyalah menunggu.
Menunggu hasil.
Kayla duduk di kamarnya, memandangi buku-buku yang kini tertutup rapi.
"Kayla!" panggil Mama dari ruang tamu.
"Iya, Ma!"
"Minggu depan hasil ujian keluar ya," kata Mama.
Kayla terdiam.
"Iya…"
Perasaan yang dulu ia kira sudah hilang kini kembali muncul. Deg-degan. Takut. Ragu. Malam itu, Kayla tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia membolak-balikkan badan.
"Kalau hasilnya jelek gimana…?"
"Kalau aku tetap di bawah…?"
Ia memejamkan mata. Mencoba mengingat hari ujian. Ia ingat bagaimana ia hampir menyerah dan bagaimana ia akhirnya bertahan. Ia menarik napas pelan.
"Aku sudah melakukan yang terbaik…"
Pagi itu, sekolah terlihat berbeda. Balon-balon menghiasi gerbang. Panggung kecil sudah disiapkan di lapangan.
Kursi-kursi tersusun rapi. Namun di balik suasana meriah itu tersimpan rasa tegang di hati setiap siswa kelas 6.
Seluruh siswa datang dengan pakaian yang rapi dan bersih. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya soal penampilan tapi tentang perasaan.
"Kayla!" panggil Salsa sambil berlari kecil.
"Hai…" lanjut Salsa
"Ini hari kita…" kata Salsa dengan senyum campur gugup.
Kayla mengangguk.
"Iya… hari terakhir kita di sini."
Raka datang dengan wajah yang tidak bisa diam.
"Aku deg-degan banget sumpah," katanya.
Nadia hanya tersenyum kecil.
"Tenang… kita hadapi bareng-bareng."
Mereka duduk bersama di kursi yang sudah disediakan. Acara dimulai.