NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 12.

Evelyn masih berdiri di sisi ranjang.

Pakaian luar Alexander ada di tangannya, sementara pria itu sudah merebahkan tubuh dengan tenang.

“Apa kau akan berdiri semalaman?” suara Alexander terdengar pelan.

Evelyn menatap pria itu. “Yang Mulia membuatku bingung.”

Alexander membuka mata perlahan. “Tentang?”

“Di mana aku harus tidur.”

Senyum tipis muncul di bibir pria itu. “Ini kamar kita.”

Jawaban itu sederhana, namun membuat Evelyn terdiam.

Alexander menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang di sisi ranjang. “Tidurlah.”

Evelyn menarik nafas pelan, tapi menolak hanya akan membuat suasana semakin aneh. Lagipula, Alexander tidak terlihat berniat memaksanya.

Perlahan ia meletakkan pakaian raja, lalu berjalan ke sisi lain ranjang. Ia melepas lapisan luar pakaiannya, sebelum akhirnya naik dengan hati-hati dan berbaring di samping Alexander. Masih ada jarak di antara mereka, namun tetap saja itu terasa terlalu dekat.

Ruangan menjadi sunyi, hanya suara desiran angin malam dari balik jendela.

Evelyn memejamkan mata, mencoba tidur tapi sulit. Kesadarannya terlalu penuh pada keberadaan pria di sampingnya.

“Aku bisa mendengar pikiranmu,” ucap Alexander tiba-tiba.

Evelyn membuka mata. “Yang Mulia bahkan tidak melihat ke arahku.”

“Karena kau gelisah.”

Alexander memiringkan tubuh sedikit menghadap wanita itu, tatapannya tenang.

“Apa aku semenakutkan itu bagimu?”

Evelyn menggeleng pelan. “Bukan begitu.”

“Lalu?”

Hening beberapa saat.

“Aku hanya belum terbiasa,” jawab Evelyn jujur, ia mengatakan apa yang dia ingat dari pemilik asli tubuhnya. “Sejak pernikahan kita… Yang Mulia hanya beberapa kali datang ke kamar ini. Itu pun… hanya sekali Yang Mulia menyentuhku, tepat di malam pernikahan.”

Tatapan Alexander berubah sedikit, namun ia diam mendengarkan.

“Anda hanya pernah bermalam satu kali di malam pertama pernikahan. Setelah itu… Anda hanya datang dan tidak pernah tinggal.” Lanjut Evelyn.

Alexander menatap langit-langit sebentar sebelum kembali menatap Evelyn. “Aku tidak menyangka kau akan mengingat semuanya.”

“Sulit melupakan malam pernikahan sendiri, bukan?” Evelyn tersenyum kecil.

“Itu kesalahanku.” Alexander terdengar menyesal.

Kalimat itu keluar tanpa gengsi, tanpa nada seorang raja.

Evelyn sedikit terkejut mendengarnya, menurut ingatan dari pemilik tubuhnya, Alexander jarang mengakui sesuatu secara langsung.

“Kau berubah banyak,” kata Alexander pelan. “Dulu kau selalu berusaha menarik perhatianku.”

Tatapan Evelyn sedikit bergeser, karena itu memang bukan dirinya. Itu adalah... ratu sebelumnya, pemilik tubuhnya.

“Sekarang… kau justru terlihat tidak terlalu peduli padaku.”

Evelyn menatap raja dalam-dalam. “Karena aku yang sekarang... tidak suka memohon perhatian pada siapapun.”

Tatapan Alexander menggelap samar, bukan amarah tapi ketertarikan. “Jujur, aku lebih menyukaimu yang sekarang.“

Alexander mengangkat tangan perlahan, jemarinya menyentuh rambut Evelyn yang sedikit berantakan, lalu merapikannya ke belakang telinga. Gerakannya pelan, hampir hati-hati.

“Kau terlihat lebih hidup seperti ini, aku suka...” gumamnya rendah.

Jantung Evelyn berdetak sedikit lebih cepat, dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri. Ia menatap Alexander, pria itu tampak berbeda malam ini. Tidak se-formal dan sedingin biasanya.

“Apa Yang Mulia selalu seperti ini?” tanya Evelyn tiba-tiba.

Alexander mengangkat alis tipis. “Seperti apa?”

“Tenang… dan terlalu pandai membuat orang kehilangan fokus.”

Alexander tertawa kecil lagi. “Kalau begitu... berarti aku berhasil menggodamu, bukan?”

Tatapan mereka kembali bertemu, tidak ada yang menjauh. Lalu Alexander bergerak sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat Evelyn bisa merasakan hangat tubuhnya.

Namun pria itu tetap menjaga batas.

“Tidurlah, kau terlihat lelah..." bisiknya lirih.

Beberapa saat kemudian, saat Evelyn mulai memejamkan mata, ia merasakan sesuatu yang hangat di pinggangnya. Alexander menariknya perlahan ke dalam pelukan ringan, tidak terlalu erat. Seolah hanya memastikan, jika Evelyn tetap di sana.

Tubuh Evelyn sedikit menegang, namun anehnya ia tidak merasa terganggu.

“Aku bilang aku tidak akan memaksamu,” gumam Alexander pelan di dekat telinganya.

Evelyn meliriknya tipis. “Dan ini?”

Alexander tersenyum samar.

“Ini hanya caraku memastikan, ratuku tidak kabur lagi malam-malam.”

Evelyn tertawa kecil.

Kini... sejak malam pernikahan Raja Alexander dan Ratu Evelyn asli, kamar ratu tidak lagi terasa dingin dan kosong.

Pagi itu, datang lebih lambat dari biasanya. Atau mungkin, Evelyn hanya berharap malam itu lebih panjang. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, begitu terasa hangat.

Evelyn membuka mata perlahan, hal pertama yang ia sadari adalah pelukan di pinggangnya masih ada. Raja Alexander belum pergi, dan itu terasa aneh baginya. Karena di dunia asalnya, Evelyn bahkan belum pernah menikah dan masih menjalani hidup sendiri tanpa seorang kekasih.

Raja itu masih tidur di sampingnya, tanpa wajah dingin yang biasa ia tunjukkan di aula.

Tatapan Evelyn berhenti beberapa detik di wajah Alexander, lalu ia cepat-cepat berpaling.

“Kalau kau terus melihatku seperti itu…” suara rendah pria itu tiba-tiba terdengar. “Aku bisa salah paham.”

Evelyn langsung menoleh, Alexander ternyata sudah bangun sejak tadi. Mata pria itu masih setengah malas, namun jelas menikmati reaksinya.

“Yang Mulia pura-pura tidur?”

“Tidak.”

Alexander mendekat sedikit. “Awalnya benar-benar masih tidur.”

“Kalau para menteri tahu Anda bermalas-malasan di kamar ratu sampai pagi…” Evelyn menghela napas kecil. “Mereka akan panik. Dan Anda... masih sempat bercanda disini.”

Alexander tersenyum tipis, tatapannya jatuh pada wajah Evelyn yang masih tanpa riasan. Lalu tanpa sadar, ia mengangkat tangan dan menyentuh sudut rambut wanita itu. Gerakannya alami, seolah sudah terbiasa.

“Kau terlihat lebih cantik saat baru bangun tidur.”

Evelyn terdiam sepersekian detik, seketika ia memalingkan wajah. “Yang Mulia terlalu mudah mengatakan hal seperti itu.”

“Karena itu fakta.” Alexander justru terlihat santai.

Ketukan pintu tiba-tiba terdengar.

Tok. Tok. Tok.

“Yang Mulia Raja…” suara Bernard terdengar hati-hati dari luar. “…rapat pagi akan segera dimulai.”

Hening sesaat.

Alexander menutup mata pelan, jelas-jelas terganggu. Evelyn hampir tertawa melihat reaksinya.

“Aku mulai membenci rapat pagi,” gumam Alexander.

“Itu tanggung jawab Anda sebagai raja.”

“Aku tahu.”

Pria itu membuka mata lagi, lalu menatap Evelyn cukup lama. “Dan sekarang... aku tahu alasan orang malas meninggalkan tempat tidur.”

Wajah Evelyn langsung memanas samar, untung cahaya pagi tidak terlalu terang.

Alexander akhirnya bangun, namun sebelum benar-benar berdiri, ia mendekat dan mencium kening Evelyn singkat.

Sangat singkat, tapi cukup membuat wanita itu membeku.

“Aku akan kembali malam ini.” Raja menarik jubahnya lalu pergi dari kamar ratu begitu saja, meninggalkan Evelyn yang masih belum bergerak.

Evelyn menutup wajah dengan satu tangan. “Pria itu…”

Entah kenapa, semakin hari Alexander semakin sulit dibaca dan itu berbahaya. Karena Evelyn akan mulai terbiasa dengan keberadaannya.

Di sisi lain istana, suasana jauh berbeda. Sophia duduk diam di depan cermin, wajahnya cantik seperti biasa namun tatapan matanya dingin.

Pelayan di belakangnya gemetar.

“Kabar itu… benar?” tanya Sophia pelan.

“Y-ya, Nyonya.”

“Raja keluar dari paviliun ratu pagi ini.”

CRASH!

Kotak perhiasan jatuh ke lantai.

Sophia berdiri mendadak. “Semalaman?”

Pelayan itu menunduk ketakutan.

“Ya…”

Hening.

Kemarahan Sophia terasa memenuhi ruangan. Selama ini, raja Alexander tidak pernah bermalam di tempat siapa pun. Bahkan saat ia paling dimanjakan, raja tetap menjaga jarak. Namun sekarang, semuanya berubah karena Evelyn.

Tatapan Sophia perlahan berubah gelap.

“Aku sudah terlalu lama bersabar…” Tangannya mengepal. “Kalau dia terus hidup, aku akan kehilangan semuanya.”

Sementara itu, di aula rapat.

Para menteri mulai berdatangan.

Lord Vincent berdiri di tempat biasa, matanya sedikit menyipit saat melihat raja Alexander masuk. Raja terlihat… berbeda.

“Ada sesuatu yang bagus terjadi pagi ini, Yang Mulia?”

Salah satu menteri memberanikan diri melontarkan candaan ringan, setelah melihat wajah sang Raja yang tampak jauh lebih cerah dari biasanya.

Biasanya Alexander akan mengabaikan, namun kali ini ia justru duduk sambil tersenyum samar. “Mungkin.”

Jawaban singkat itu langsung membuat aula hening, para menteri saling melirik karena shock.

Lord Vincent menatap raja beberapa detik, lalu tanpa sadar ia teringat satu orang... Ratu. Dan sekarang ia benar-benar yakin, Ratu Evelyn sudah mulai mengubah kerajaan ini... termasuk Raja-nya.

*

*

*

Teman-teman, terima kasih sudah menyukai cerita ini 🤍

Karena ini bergenre fantasi wanita, mungkin akan ada beberapa alur atau tokoh yang terasa kurang sempurna. Semoga tetap bisa dimaklumi ... selama inti ceritanya masih tersampaikan dengan baik.

Terima kasih sudah terus membaca dan mendukung cerita ini 😘

1
Tiara Bella
waduh pinter bngt author ceritanya saling menyambung ya
Wanita Tangguh🧩🌠: Kurang tau kak, mungkin beberapa ada yg gk lanjut baca 🤭 pas beberapa bab gak sesuai ekspektasi mereka, jd gk lanjut baca. Gpp, nulis ini aku santai aja kak bt selingan karya Leya😁
total 3 replies
Surianto Tiwoel
wah,, pasti ibu suri yg bunuh,, ibunya Alexander
Miss Typo
Raja dan Ratu bikin perasaan campur aduk, harusnya formal aja eh romantis bgt lagi 🤣
Tiara Bella
so sweet bngt ya raja Alexander sm ratu Evelyn.....😍
Rita
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😅😅😅😅😅
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
😅😂😂😂😂😂
Rita
wah siap2 evelyn ngambek😅😂😂
Rita
waahhhh👍👍👍👍
Nyonya Gunawan
Kirain alex beneran koma..😄😄
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili
Rita
ceritanya bagus,seru,tegang g betele2
Rita
berani macam2 tunggu pembalasan ku😅😂pov evelyn
Rita
bangun̈in singa betina
Rita
ikut panik
Rita
waspada yg bs dilakukan plus bersiap
Rita
peka
Rita
waspada
Rita
tuh 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!