NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangga Penekan Jiwa

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang penuh perhitungan.

Di sebuah penginapan kumuh di sudut paling gelap Kota Kaki Dewa, Shen Yuan duduk bersila di atas dipan kayu yang keras. Ia tidak memancarkan seberkas cahaya pun. Hawa murni dari Inti Emas Iblisnya telah ditekan hingga ke dasar lautan Dantian-nya, dikunci rapat-rapat oleh Sutra Penelan Surga sehingga tidak ada satu pun dewa fana yang mampu melacak keberadaannya.

Luka di kedua lututnya yang ia patahkan sendiri tiga hari lalu telah pulih tanpa bekas. Namun, untuk menyempurnakan penyamarannya, ia membalut lututnya dengan perban yang sengaja diolesi sedikit darah kotor, dan mengubah postur tubuhnya agar terlihat sedikit bungkuk dan kelelahan.

"Sudah waktunya," gumam Shen Yuan perlahan. Ia membuka matanya yang kini terlihat kusam, layaknya pengelana yang telah kehilangan ambisinya.

Ia melangkah keluar dari penginapan. Udara pagi di Kota Kaki Dewa sangat dingin, namun jalanan telah dipenuhi oleh lautan manusia yang bergerak menuju satu arah: Gerbang Pendakian Gunung Pilar Langit.

Hari ini adalah hari Ujian Pemilihan Murid Luar Kuil Dewa Perak, perhelatan akbar yang diadakan hanya sepuluh tahun sekali. Ratusan ribu pemuda dan pemudi dari seluruh penjuru Benua Pusat berkumpul, bermimpi untuk melangkah melewati gerbang surga dan menjadi bagian dari sekte raksasa tersebut.

Saat Shen Yuan tiba di pelataran raksasa di kaki gunung, pemandangan yang tersaji benar-benar menampar akal sehat siapa pun yang berasal dari alam bawah.

Lebih dari seratus ribu peserta berdiri berdesakan. Syarat paling rendah untuk mendaftar adalah berusia di bawah dua puluh tahun dan berada di Ranah Penempaan Raga Lapisan Keenam! Di Benua Awan Gelap, persyaratan ini cukup untuk menjadi jenius nomor satu di sebuah kota, namun di sini, itu hanyalah tiket masuk paling murah.

Shen Yuan menyusup ke tengah kerumunan, menekan auranya agar terlihat hanya berada di Lapisan Ketujuh. Jubah abu-abunya yang lusuh membuatnya terlihat seperti rakyat jelata yang mencoba mengadu nasib, sangat kontras dengan para peserta lain yang mengenakan sutra mewah dan dikawal oleh para pelayan.

Tenggg!

Suara lonceng perak yang sangat nyaring menggetarkan udara, seketika membungkam seratus ribu mulut di pelataran tersebut.

Dari atas awan, sebuah paviliun melayang turun. Di atasnya, berdiri puluhan ahli Inti Emas dalam balutan zirah perak. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang pemuda berambut perak dengan senyum meremehkan—Tuan Muda Bai Chen, keponakan dari Bai Luo, sang pembunuh ayah Shen Yuan.

"Lihatlah ke bawah, Penatua Wu," ucap Bai Chen dengan nada bosan, memutar cangkir arak di tangannya. "Seratus ribu semut berebut untuk memakan sisa-sisa makanan dari piring kita. Pemandangan yang sungguh menjijikkan."

Seorang pria tua berjubah perak di sampingnya, Penatua Wu—yang memancarkan hawa murni Inti Emas Tahap Akhir—tersenyum patuh. "Seperti kata Anda, Tuan Muda Bai Chen. Namun, dari seratus ribu semut ini, kita mungkin bisa memeras beberapa tetes darah yang berguna untuk tambang Batu Roh kita."

Penatua Wu maju selangkah ke tepi paviliun. Suaranya diperkuat oleh hawa murni, menggema layaknya sabda langit.

"Dengar baik-baik, kalian semua! Kuil Dewa Perak tidak menerima sampah! Ujian pertama adalah 'Tangga Penekan Jiwa'!" Penatua Wu menunjuk ke arah sebuah anak tangga raksasa yang terbuat dari batu giok putih, yang menjulang lurus menembus awan dan tak terlihat ujungnya.

"Anak tangga ini berjumlah sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan! Setiap seratus anak tangga, tekanan berat bumi dan tekanan jiwa akan meningkat dua kali lipat! Waktu kalian hanya sampai matahari terbenam. Siapa pun yang gagal mencapai anak tangga ke-tiga ribu, akan dinyatakan gugur! Mereka yang mencapai anak tangga ke-lima ribu akan diterima sebagai Murid Pelayan! Dan mereka yang mampu menembus anak tangga ke-tujuh ribu akan resmi menjadi Murid Luar! Mulai!"

Begitu kata "Mulai" diucapkan, pelataran itu meledak dalam kekacauan.

Seratus ribu peserta berlarian layaknya air bah, berdesak-desakan, saling sikut, bahkan ada yang saling menginjak untuk menjadi yang pertama menaiki tangga giok putih tersebut.

Shen Yuan tidak ikut berlari. Ia membiarkan ribuan orang melewatinya. Matanya yang tersembunyi di balik poni rambut yang berantakan menatap dingin ke arah Bai Chen di atas paviliun.

"Sabar, Bocah. Belum saatnya," bisik Leluhur Darah, merasakan gejolak niat membunuh di dalam Dantian Shen Yuan. "Jika kau melepaskan Inti Emas Iblismu sekarang, kau akan mati sebelum bisa menyentuh ujung jubahnya."

"Aku tahu," jawab Shen Yuan dalam batinnya. Ia menarik napas panjang, mengubah postur tubuhnya menjadi sedikit terbungkuk, lalu melangkah pelan menaiki anak tangga pertama.

Wuuuuung!

Begitu kakinya menyentuh batu giok putih itu, sebuah kekuatan tak kasat mata langsung membebani pundaknya. Bagi pendekar Lapisan Keenam, ini setara dengan menggendong batu seberat seratus kati. Namun, bagi Shen Yuan yang memiliki Tubuh Emas Gelap Penyempurnaan Tanpa Celah, tekanan ini bahkan lebih ringan daripada embusan angin.

Namun, ia tidak boleh terlihat santai.

Shen Yuan sengaja membuat napasnya sedikit terengah-engah. Ia melangkah satu demi satu, berbaur dengan kelompok peserta berlatar belakang rakyat jelata.

Seribu anak tangga pertama dilewati. Ribuan peserta mulai bertumbangan. Hidung mereka berdarah, otot kaki mereka robek tak mampu menahan beban. Tangisan dan ratapan minta tolong bergema di sepanjang jalur pualam, namun para pengawas dari Kuil Dewa Perak yang terbang di atas mereka hanya tertawa meremehkan.

Di anak tangga ke-dua ribu, tekanan berubah. Bukan hanya fisik yang ditekan, melainkan sebuah kekuatan ilusi mulai menusuk ke dalam pikiran, berusaha meruntuhkan tekad para peserta.

"Heh, tekanan jiwa tingkat rendah," cibir Leluhur Darah. "Bagi seseorang yang telah menelan Niat Pedang Perak dari ahli Lautan Qi sepertimu, ini hanyalah lelucon anak-anak."

Shen Yuan mengabaikan ilusi rasa sakit di kepalanya. Ia terus melangkah dengan irama yang teratur, pura-pura terhuyung-huyung, sambil membiarkan Sutra Penelan Surga berputar sangat pelan di telapak kakinya.

Tanpa ada yang menyadari, setiap kali kaki Shen Yuan menginjak batu giok putih itu, hawa murni iblisnya secara rahasia menyedot sedikit energi dari susunan aksara Tangga Penekan Jiwa. Ia memakan energi ujian itu sebagai camilan siang harinya!

Saat matahari mulai condong ke barat, Shen Yuan telah mencapai anak tangga ke-empat ribu delapan ratus. Jumlah peserta yang tersisa di sekitarnya kini kurang dari dua puluh ribu orang.

"Minggir, Gembel!"

Sebuah dorongan kasar mendarat di bahu Shen Yuan. Seorang pemuda berpakaian sutra merah, yang memancarkan aura Puncak Lapisan Kedelapan, mencoba menyalipnya dari belakang. Pemuda itu kelelahan dan matanya memerah karena tekanan jiwa, membuatnya menjadi beringas.

Melihat Shen Yuan menghalangi jalannya, pemuda sutra merah itu mendengus marah. "Jika kau tidak kuat lagi, menjatuh sajalah ke bawah! Jangan menghalangi jalan Tuan Muda ini!"

Pemuda itu mengayunkan tangannya yang berlapis hawa murni, berniat mendorong Shen Yuan hingga terguling jatuh dari tangga—sebuah tindakan yang pasti akan membunuh Shen Yuan jika ia benar-benar hanya rakyat jelata yang lemah.

Mata Shen Yuan menyipit. Ia tidak membalas dengan kekuatan. Di hadapan pengawasan para ahli Inti Emas di udara, ia harus bermain cerdik.

Saat tangan pemuda sutra merah itu hampir menyentuhnya, Shen Yuan berpura-pura tersandung karena kelelahan. Tubuhnya oleng ke samping tepat pada detik terakhir.

Wussshhh!

Dorongan kuat pemuda sutra merah itu mengenai ruang kosong. Kehilangan keseimbangan di bawah tekanan berat yang mencapai ribuan kati, tubuh pemuda arogan itu meluncur tak terkendali ke depan.

"Waaaaa!"

Pemuda sutra merah itu berteriak histeris, wajahnya menghantam anak tangga batu giok dengan keras. Gigi-giginya rontok, dan tubuhnya berguling mundur dengan cepat, menabrak belasan peserta lain di belakangnya, hingga akhirnya terlempar ke luar dari batas tangga pelindung dan jatuh bebas menuju dasar gunung.

Shen Yuan menahan tubuhnya dengan tangan di atas anak tangga, berpura-pura terengah-engah dan ketakutan melihat kejadian tersebut. Beberapa pengawas di udara hanya melirik sekilas, menganggapnya sebagai kecelakaan biasa di mana seorang peserta yang ceroboh kehilangan keseimbangannya. Tidak ada yang curiga pada pemuda berjubah kusam yang sedang "gemetar" tersebut.

"Bodoh," bisik Shen Yuan pelan, kembali bangkit dengan susah payah.

Dua jam kemudian, cahaya jingga senja mulai menyelimuti Gunung Pilar Langit.

"Waktu hampir habis!" teriak Penatua Wu dari udara.

Shen Yuan melihat ke depan. Garis batas anak tangga ke-tujuh ribu tinggal berjarak seratus anak tangga lagi. Garis itu adalah batas untuk menjadi Murid Luar, kedudukan yang memberinya jalan untuk memasuki area dalam sekte dan mencari keberadaan Bai Luo.

Di sekitarnya, ribuan peserta merangkak dengan jari-jari yang berdarah. Banyak yang pingsan dengan mata terbelalak karena jiwa mereka tak kuat menahan tekanan.

Shen Yuan memperlambat langkahnya. Ia harus terlihat seperti berada di batas kemampuannya. Keringat yang ia hasilkan dengan memanaskan darahnya sendiri bercucuran membasahi jubahnya. Langkahnya diseret, napasnya dibuat memburu seolah paru-parunya akan meledak.

Lima puluh anak tangga... Tiga puluh... Sepuluh...

Tenggg! Tenggg!

Suara lonceng kedua berbunyi, menandakan matahari telah sepenuhnya terbenam. Ujian pertama telah berakhir!

Tepat pada bunyi lonceng terakhir, tubuh Shen Yuan melewati garis batas anak tangga ke-tujuh ribu. Ia segera menjatuhkan dirinya ke depan, berpura-pura pingsan tengkurap di atas lantai giok, bergabung dengan ribuan peserta lain yang juga terkapar kehabisan tenaga.

Dari atas paviliun melayang, Bai Chen menatap ke bawah dengan raut wajah jijik.

"Hanya tiga ribu orang yang berhasil melewati batas Murid Luar. Benar-benar generasi sampah," cibir Bai Chen. Tatapannya sesekali menyapu kerumunan peserta yang terkapar, matanya sempat melewati tubuh pemuda berjubah abu-abu kusam yang tengkurap di barisan belakang, namun ia segera memalingkan wajahnya tanpa minat sedikit pun.

Bagi Bai Chen, sang Tuan Muda jenius, pemuda lusuh itu tidak lebih dari sekadar kerikil tak berarti. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pemuda pincang yang ia lukai di jalanan kota tiga hari yang lalu, kini telah merayap masuk ke dalam rumahnya.

Di lantai giok yang dingin, di balik helai-helai rambutnya yang berantakan, sudut bibir Shen Yuan perlahan melengkung membentuk senyuman iblis yang mengerikan.

Tahap pertama penyamaran telah berhasil. Serigala itu telah mengenakan bulu domba, dan kini ia resmi masuk ke dalam kandang para tiran.

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!