Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peliknya Rahasia dan Bayang-Bayang Obsesi
Sinar matahari sore yang menembus jendela kamar perawatan VVIP rumah sakit itu terasa jauh lebih hangat bagi Nara. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidak melihat ibunya terhubung dengan berbagai selang yang mengerikan. Ibu duduk bersandar pada bantal, wajahnya yang pucat mulai dihiasi semu merah meski tubuhnya masih terlihat sangat kurus.
"Minum lagi ya, Bu? Pelan-pelan saja," ujar Nara sambil mengarahkan sedotan ke bibir ibunya.
Bu Asih menyesap air putih itu sedikit, lalu tersenyum lemah. Matanya yang sayu menatap Nara dengan penuh kasih, sekaligus menyimpan rasa heran.
"Nara... Ibu masih merasa seperti mimpi. Rasanya baru kemarin Ibu pingsan di ruang tamu, lalu sekarang Ibu bangun di tempat sebagus ini. Kamu pasti bekerja sangat keras, Nak."
Nara meletakkan gelas di nakas, tangannya sedikit bergetar. Inilah saat yang paling ia takuti: menjelaskan realitas yang telah ia bengkokkan sedemikian rupa.
"Ibu tidak perlu memikirkan itu. Yang penting Ibu sudah sadar. Dokter bilang Ibu sangat kuat," jawab Nara, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Bu Asih menggenggam tangan Nara.
"Tapi Nara, biaya rumah sakit ini... dan tadi suster bilang setelah ini kita tidak pulang ke rumah lama kita? Kenapa? Apa ada masalah dengan rumah kita?"
Nara menarik napas panjang, menyiapkan skenario yang sudah ia susun di kepalanya berkali-kali bersama Bagas.
"Begini, Bu. Rumah kita yang lama itu... lingkungannya kurang baik untuk pemulihan Ibu. Terlalu bising, dan udaranya berdebu karena dekat proyek pembangunan itu, kan? Jadi, selama Ibu tidak sadar, Nara sudah mengemasi barang-barang kita."
"Lalu kita pindah ke mana? Uangnya dari mana, Nara?" tanya ibu beruntun.
"Nara dapat bonus besar dari tempat kerja baru Nara, Bu. Sekarang Nara bekerja di perusahaan besar sebagai asisten personal. Dan ada banyak undangan menari di acara-acara pentas seni dan atasan Nara sangat baik, dia memberikan pinjaman tanpa bunga agar Nara bisa mencari tempat yang lebih layak. Kita sekarang tinggal di kontrakan kecil tapi bersih, dan yang paling penting... jaraknya hanya sepuluh menit dari rumah sakit ini supaya Ibu mudah kalau harus kontrol atau kemoterapi."
Ibu terdiam sejenak, matanya menatap langit-langit ruangan.
"Begitu ya? Tapi rasanya mendadak sekali. Ibu bahkan belum sempat berpamitan dengan tetangga. Bagaimana dengan bu tias? Dia pasti mencari kita, kan? Dia kan sudah banyak membantu kita saat Ibu sakit awal-awal dulu."
Mendengar itu Nara diam sesaat, bu Tias adalah tetangga jauh mereka, orang yang memang sempat membantu mereka dahulu.
"Bu tias ... Ehmmm ...dia sudah tahu kita pindah, Bu. Tapi Nara bilang pada semua orang di lingkungan lama kalau kita pindah ke luar kota agar tidak ada yang mengganggu istirahat Ibu. Ibu tahu sendiri kan, Bu tias bawel terkadang dan sering lama kalau sudah bergosip dengan Ibu, jadi untuk sementara Ibu memang harus banyak istirahat dan tidak diganggu." Nara sedikit berkelakar untuk mengusir rasa gugupnya.
"Kamu benar," gumam ibu, meski nadanya terdengar ragu. "Tapi Ibu merasa ada yang aneh. Kenapa ponsel Ibu juga tidak ada? Ibu ingin bicara dengan teman-teman Ibu."
"Ponsel Ibu rusak saat Ibu jatuh tempo hari, nanti Nara belikan yang baru ya? Sekarang Ibu fokus sehat dulu. Jangan pikirkan hutang, jangan pikirkan rumah lama, dan jangan pikirkan siapa pun. Cukup ada Nara di sini."
Nara memeluk ibunya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu agar wanita itu tidak melihat air mata yang mulai menggenang. Ia berbohong demi kebaikan, pikirnya. Jika ibunya tahu bahwa rumah mereka hampir disita, bahwa ia hampir diperkosa oleh Romi karena hutang dan bahwa semua kemewahan ini adalah 'pemberian' dari seorang pria yang menjadikannya simpanan, jantung ibu mungkin akan berhenti berdetak saat itu juga.
Di sudut lain kota Jakarta, sebuah rumah sederhana di gang sempit menjadi saksi bisu amarah yang meledak-ledak. Suara piring pecah terdengar nyaring, disusul teriakan seorang wanita.
"Kamu gila, Romi! Benar-benar sudah gila!" teriak Sarah, istrinya, dengan wajah yang merah padam.
Romi tidak bergeming. Ia duduk di kursi kayu sambil menyesap rokoknya dalam-dalam, matanya menatap kosong ke arah dinding yang penuh dengan coretan anak mereka.
"Diam kamu, Sarah! Aku tidak butuh ocehanmu!" gertak Romi.
"Bagaimana aku bisa diam? Setiap hari yang kamu sebut cuma nama Nara, Nara, dan Nara! Dia sudah pergi! Dia sudah melunasi hutangnya lewat orang kaya itu dan dia menghilang! Itu artinya dia tidak mau berhubungan lagi dengan lelaki gila sepertimu!"
Romi berdiri, menggebrak meja hingga sisa kopi di gelasnya tumpah.
"Dia tidak pergi karena kemauannya sendiri! Dia pasti dibawa lari oleh laki-laki brengsek yang mengaku pengusaha itu. Nara itu milikku, Sarah! Harusnya dia jadi istri keduaku sebagai penebus hutang. Aku sudah mengincarnya sejak dia masih sekolah!"
Sarah tertawa sinis, tawa yang terdengar getir.
"Istri kedua? Kamu jelas sudah kalah telak dari lelaki kaya itu, sekarang kamu mau mencari perempuan yang jelas-jelas sudah berada di level yang tidak bisa kamu sentuh? Sadar, Romi! Orang yang melunasi hutangnya itu bukan orang sembarangan. Sekali kamu macam-macam, kamu bisa habis."
"Aku tidak takut!" raung Romi. "Aku sudah keliling ke semua rumah sakit di Jakarta Pusat, anehnya ibunya tidak ada lagi! Aku tahu ibunya masih sakit keras. Pasti dia ada di salah satu rumah sakit lain sekarang. Kalau aku tidak bisa menemukan rumahnya, aku akan menemukan ibunya. Begitu aku dapat ibunya, Nara akan berlutut memohon padaku lagi."
Romi mengambil jaket kulitnya dan melangkah keluar rumah tanpa memedulikan tangisan Sarah. Obsesinya terhadap Nara bukan lagi sekadar keinginan fisik, melainkan harga diri yang terluka. Baginya, Nara adalah trofi yang dirampas darinya tepat sebelum ia sempat menikmatinya.
Malam harinya, Bagas datang ke rumah sakit. Ia tidak masuk ke dalam kamar, melainkan menunggu Nara di taman kecil yang terletak di antara paviliun VVIP. Saat melihat Nara berjalan mendekat, ketegangan di bahu Bagas tampak sedikit mengendur.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Bagas saat Nara sudah berdiri di depannya.
"Sangat baik. Ibu sudah bisa makan bubur sendiri," jawab Nara. Ada binar kebahagiaan yang tulus di matanya, sesuatu yang membuat Bagas terpaku sejenak. "Terima kasih, Bagas. Tanpamu, aku mungkin sudah kehilangan Ibu."
Bagas memasukkan tangan ke saku celananya.
"Aku sudah menyiapkan unit apartemen kecil di dekat sini, seperti yang kita bicarakan. Semua perabotan sudah lengkap. Aku sudah mengatur agar ada perawat pribadi yang akan tinggal di sana untuk menjaga ibumu 24 jam. Kamu bisa bilang pada ibumu kalau perawat itu adalah fasilitas dari kantormu."
Nara menatap Bagas dengan pandangan tak percaya.
"Sejauh itu? Kamu melakukan semua ini hanya untuk menjagaku agar tetap bersamamu?"
Bagas melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Aroma maskulinnya langsung mengepung indra penciuman Nara.
"Aku melakukannya agar kamu tidak punya alasan untuk merasa cemas. Aku ingin saat kamu bersamaku, pikiranmu hanya ada padaku, bukan pada tagihan rumah sakit atau keamanan ibumu."
"Tapi Bagas... ibuku mulai curiga. Dia bertanya tentang rumah lama kami. Aku takjt nanti Romi berbuat ulah lagi."
Mendengar nama Romi, rahang Bagas mengeras.
"Si brengsek itu masih mencarimu. Orang-orangku melihatnya berkeliaran di sekitar lingkungan lamamu beberapa hari ini. Dia seperti anjing gila yang kehilangan jejak."
Nara gemetar. "Dia tidak akan menemukan kita, kan?"
Bagas meraih tangan Nara, menggenggamnya dengan jemari yang kokoh.
"Tidak akan. Selama kamu berada di bawah perlindunganku, dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu. Tapi Nara, kamu harus konsisten dengan ceritamu pada ibumu. Jangan pernah biarkan dia menghubungi siapa pun dari masa lalunya untuk sementara waktu."
"Aku tahu," bisik Nara. "Aku merasa seperti membangun istana dari pasir, Bagas. Indah, tapi aku takut gelombang sedikit saja akan menghancurkan semuanya. Aku membohongi satu-satunya orang yang paling aku sayangi di dunia ini."
Bagas menarik Nara ke dalam pelukannya. Di bawah remang lampu taman, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sempurna, padahal kenyataannya mereka sedang berdiri di atas tumpukan rahasia yang berbahaya.
"Terkadang kebohongan adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan seseorang dari kenyataan yang lebih kejam," ucap Bagas lirih di telinga Nara. "Biarkan aku yang menanggung dosanya. Kamu cukup tetap di sisiku."
Nara memejamkan mata, menghirup aroma Bagas yang menenangkan. Di satu sisi, ia merasa aman. Di sisi lain, ia merasa seperti sedang menggali lubang yang semakin dalam. Ia tahu bahwa Sinta akan segera kembali, ia tahu Romi masih mengintai di kegelapan, dan ia tahu bahwa cinta atau apa pun namanya ini antara dirinya dan Bagas adalah sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Bagas," panggil Nara pelan.
"Ya?"
"Jika suatu saat nanti semuanya terbongkar... jika ibuku tahu siapa kamu sebenarnya dan bagaimana cara aku mendapatkan uang untuk pengobatannya... apa yang akan kamu lakukan?"
Bagas melepaskan pelukannya, menatap mata Nara dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas.
"Aku akan memastikan bahwa saat hari itu tiba, aku sudah menjadi sangat berarti baginya, sehingga dia tidak punya pilihan selain memaafkan kita. Aku tidak pernah kalah dalam negosiasi, Nara. Termasuk negosiasi untuk mendapatkan restu."
Nara tersenyum pahit. Bagas selalu punya jawaban, selalu punya kendali. Namun di balik kendali itu, Nara menyadari satu hal, Bagas tidak hanya menginginkan raganya, pria itu menginginkan seluruh hidupnya. Dan yang paling menakutkan adalah, Nara mulai tidak keberatan untuk menyerahkannya.
Malam semakin larut saat mereka berjalan kembali menuju parkiran. Tanpa mereka sadari, di gerbang rumah sakit yang dijaga ketat itu, sebuah motor besar berhenti sejenak. Pengendaranya, seorang pria dengan jaket kulit, menatap tajam ke arah mobil mewah yang baru saja meluncur keluar.
"Aku tahu kamu ada di dalam sana, Nara," desis Romi sambil mengepulkan asap rokok.
"Sembunyilah sesukamu. Tapi bau harummu tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Kita akan segera bertemu."
Romi memacu motornya, menghilang di tengah kemacetan Jakarta, membawa serta dendam dan obsesi yang siap membakar kedamaian yang baru saja Nara bangun. Di dalam mobil, Nara mendadak merasa kedinginan, ia merapatkan jaketnya, tidak menyadari bahwa bayangan masa lalu kini sedang merayap mendekat, lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊