NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Rencana Baru di Puing Lama

​Seminggu telah berlalu sejak malam yang mencekik di lorong rumah sakit itu.

​Banyak hal yang berubah dalam tujuh hari terakhir, seolah semesta sedang melakukan bersih-bersih besar-besaran. Ayah Arka, Handoko Danadyaksa, akhirnya melewati masa kritis, meski kini pria tua itu harus menerima kenyataan pahit: ia akan menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda untuk menghadapi berbagai tuntutan hukum.

​Pak Hendra resmi ditahan kepolisian. Dan yang paling mengejutkan publik, PT Cipta Megah resmi dinyatakan pailit, lalu diambil alih oleh konsorsium investor baru yang kabarnya jauh lebih bersih dan pro-lingkungan.

​Dampaknya? Arka kini resmi menjadi pengangguran.

​Seluruh asetnya yang terikat dengan perusahaan—termasuk mobil mewah, apartemen penthouse, dan rekening utamanya—telah disita oleh negara untuk proses audit. Pria yang dulu bisa membeli apa saja hanya dengan satu jentikan jari itu, kini hanya memiliki tabungan pribadi darurat yang tidak seberapa dan beberapa koper berisi pakaian.

​Namun, sore ini, saat aku menatapnya... aku tidak melihat sosok pria yang hancur.

​Arka sedang berjongkok di lantai kedaiku, mengenakan kaus putih oblong yang sudah basah oleh keringat. Lengan kemejanya digulung, memamerkan otot-ototnya yang menegang saat ia mengamplas permukaan meja kayu tua peninggalan Nenek. Serbuk kayu berterbangan menempel di rambut dan peluhnya, tapi wajahnya memancarkan kedamaian yang belum pernah kulihat sebelumnya.

​Pria ini telah kehilangan seluruh kerajaannya, tapi ia justru terlihat seperti seseorang yang baru saja memenangkan dunia.

​"Jadi, apa rencana lo sekarang, Pak Mantan Direktur?" goda Revan, memecah kesunyian. Cowok berlesung pipi itu sedang duduk bersila di lantai sambil mengunyah gorengan, menemani kami melakukan renovasi ringan di dalam kedai.

​Arka menghentikan gosokan amplasnya. Ia menoleh, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya yang berdebu.

​"Gue udah bicara panjang lebar sama pengelola kawasan yang baru dari konsorsium," ucap Arka. Matanya berbinar penuh semangat. "Mereka setuju buat batalin total proyek mal raksasa itu. Gantinya, lahan ini bakal diubah jadi Urban Park dan pasar kreatif."

​Aku yang sedang menyusun cangkir di rak seketika menghentikan gerakanku. Aku berbalik menatap Arka dengan mata membulat. "Serius, Ka?! Taman kota? Itu... itu berita bagus banget!" seruku tak bisa menyembunyikan rasa lega yang luar biasa.

​"Dan..." Arka berdiri, menepuk-nepuk debu dari celana jeans-nya. Ia menatapku dengan raut wajah yang sedikit ragu namun penuh harap. "Mereka mau Kedai Kala Senja jadi ikon pusatnya. Tapi, gue punya ide lain, Nja. Gue nggak mau kedai lo cuma berdiri sendirian kayak monumen di tengah taman."

​Aku mengerutkan kening, berjalan mendekatinya. "Maksud lo gimana?"

​Arka menarik secarik kertas buram dari atas meja bar dan sebuah pensil. Dengan cepat, insting lamanya sebagai pengembang lahan bekerja. Ia mulai menggambar sketsa kasar.

​"Gue mau kita bikin Coffee Hub," jelas Arka, menunjuk sketsanya. "Kita nggak cuma jualan kopi lo. Kita ajak warung-warung kecil, pedagang kaki lima, dan tenant lokal yang dulu mau digusur sama perusahaan bokap gue, buat gabung jualan di sekeliling kedai ini. Kita bikin ekosistem ekonomi yang adil."

​Arka menatapku dan Revan bergantian. "Gue yang bakal urus manajemen dan perizinannya. Lo, Senja, yang jadi jangkar utamanya buat urus kualitas kopi dan komunitas. Dan lo, Van... gue butuh otak arsitek lo buat desain areanya supaya tetep berasa vintage, menyatu sama alam, tapi fasilitasnya modern."

​Revan langsung meletakkan gorengannya. Mata arsitek itu berbinar terang, seolah baru saja disuntikkan adrenalin murni. "Gila! Ini konsep yang keren banget, Bos! Kita bisa tunjukin ke Jakarta kalau bisnis properti itu nggak melulu soal nindas rakyat kecil!"

​Aku tertegun melihat sketsa itu. Mimpiku untuk melindungi warisan Nenek kini berkembang menjadi pelindung bagi banyak orang. Tapi, realita menyentil pikiranku.

​"Konsepnya luar biasa, Ka," ucapku pelan, menatap mata kelam Arka. "Tapi... modalnya dari mana? Buat bangun Hub sebesar ini pasti butuh dana yang nggak sedikit. Rekening lo kan lagi dibekukan."

​Arka tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu tenang dan membumi. Ia mengusap puncak kepalaku dengan tangannya yang bebas debu.

​"Gue bakal jual sisa koleksi jam tangan mewah dan beberapa barang branded gue yang masih terselamat di apartemen lama gue," jawab Arka tanpa beban sedikit pun. "Gue udah nggak butuh barang-barang pamer kayak gitu lagi, Nja."

​Ibu jari Arka mengusap pipiku lembut. "Gue lebih butuh ngebangun masa depan yang bisa gue banggain... di depan anak-anak kita nanti."

​Deg.

​Wajahku seketika memanas. Kata 'anak-anak kita' meluncur begitu saja dari bibirnya, terdengar sangat natural, namun sukses membuat perutku seolah dipenuhi kepakan sayap kupu-kupu. Harapan yang selama berbulan-bulan ini terasa mustahil, kini mulai terbentuk nyata dari sisa-sisa puing masa lalu kami.

​Namun, di tengah euforia dan rasa manis yang menyelimuti kedai sore itu, lonceng pintu tiba-tiba berbunyi pelan.

​Suasana hangat di dalam kedai mendadak kaku.

​Seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Jantungku sempat melonjak, bersiap untuk konfrontasi, tapi pemandangan di depanku membuatku terdiam.

​Itu Clara Beatrice.

​Tapi ini bukan Clara sang putri mahkota yang dulu datang menyebarkan aroma lavender dan merendahkanku. Penampilannya hari ini sangat... biasa. Ia tidak memakai gaun desainer atau tas Hermès. Ia hanya mengenakan kemeja katun hitam berlengan panjang dan celana kain sederhana. Riasan wajahnya sangat tipis, nyaris pucat. Matanya sembab, memancarkan rasa lelah yang sangat dalam.

​"Clara?" suara Arka berubah waspada. Ia secara refleks melangkah maju, memosisikan dirinya di depanku sebagai tameng.

​Clara menunduk, meremas tali tas kanvasnya. "Gue... gue ke sini bukan mau cari ribut, Arka."

​Perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya, menatapku melewati bahu Arka. Tidak ada lagi kilat arogansi di sana. Yang tersisa hanyalah rasa malu yang tertahan.

​"Gue mau minta maaf, Senja," ucap Clara pelan. Suaranya bergetar. "Gue sadar gue salah. Papa gue ikutan diseret KPK gara-gara kasus Om Handoko. Keluarga gue bener-bener hancur, dan... kerabat-kerabat gue dari circle sosialita pada ninggalin gue setelah harta kami disita."

​Aku menatap Clara lekat-lekat. Rasa marah yang dulu sempat mendidih setiap kali melihat wajahnya, perlahan luntur. Dulu ia adalah raksasa yang menakutkan, tapi hari ini, ia hanyalah seorang perempuan yang sedang memungut sisa-sisa harga dirinya yang runtuh.

​Aku melangkah maju dari balik punggung Arka. "Apa yang Mbak mau dari kami?" tanyaku tenang.

​Clara menelan ludah. "Gue... gue mau bantu."

​"Bantu?" Revan menyela dengan kening berkerut.

​"Iya," Clara mengangguk cepat. "Gue denger dari komunitas kalau kalian mau bikin Creative Hub. Gue punya keahlian dan gelar di bidang Public Relations sama hubungan internasional. Gue tahu, gue udah ngerusak reputasi kedai ini lewat buzzer dan medsos kemarin. Jadi... biarin gue yang benerin."

​Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Clara. "Gue bakal kerja buat kalian. Nggak usah digaji. Kasih gue tempat aja. Asal gue bisa dapet kesempatan buat ngebuktiin kalau gue bisa mulai hidup gue lagi dari nol... tanpa embel-embel nama keluarga gue."

​Keheningan menyelimuti kedai. Arka menoleh ke arahku, tidak mengatakan apa-apa. Pria itu memberikan keputusan sepenuhnya di tanganku, karena akulah yang paling banyak disakiti oleh perbuatan Clara di masa lalu.

​Aku menarik napas panjang. Pikiranku melayang pada petuah almarhumah Nenek yang selalu ia ucapkan saat mengajariku menyeduh kopi: 'Kopi itu pait, Nduk. Tapi anehnya, paitnya kopi itulah yang selalu bisa bikin banyak orang duduk semeja dan ngobrol.'

​Aku menatap Clara. Melihat penyesalan yang jujur di matanya, aku akhirnya mengangguk pelan.

​"Oke," jawabku tegas.

​Mata Clara melebar, tak percaya. "L-lo serius, Senja?"

​"Tapi ada satu syarat mutlak," lanjutku, menyilangkan tangan di dada. "Di sini, nggak ada posisi direktur PR atau manajer. Lo harus mulai dari bawah. Syaratnya: Mbak harus belajar nyuci gelas dan ngepel lantai kedai ini dulu. Nggak ada perlakuan istimewa buat siapa pun."

​Air mata Clara akhirnya jatuh melewati pipinya. Namun kali ini, ia tersenyum lega. Ia mengangguk cepat, menghapus air matanya dengan punggung tangannya—sebuah gestur yang jauh dari kata anggun, namun sangat manusiawi.

​"Makasih, Senja. Makasih banyak," isaknya pelan.

​Sore itu, di dalam kedaiku yang masih berantakan oleh debu serbuk gergaji, sebuah aliansi yang paling tak terduga akhirnya terbentuk. Luka dan permusuhan lama perlahan luruh, berganti menjadi pilar-pilar baru untuk membangun rumah bagi kami semua.

​Cinta yang tadinya diuji, disandera, dan hampir hancur lebur oleh keserakahan, kini telah mengeras, menjelma menjadi fondasi paling kuat di atas reruntuhan menara kaca.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!