Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 7
"Fathur, mana Rumi?" suara Bu Sri terdengar saat mereka bersiap untuk pergi bekerja.
"Ada apa lagi Bu?" tanya Rumi keluar dari dalam rumah.
"Eh sombong sekali kamu, cuma jadi ba bu tukang cuci saja! Ibu ada arisan nanti sore. Cepat kamu ke rumah ibu dan masak. Sebelumnya kamu pergi ke pasar nih uangnya harus cukup untuk dua puluh porsi! Pilih bahan-bahan yang bagus! Pilih daging sapi dan sayur yang segar! Jangan beli yang layu!" Bu Sri memberikan uang dua ratus ribu dan juga daftar belanjaan.
Rumi menerimanya, namun dia menyerahkannya kepada sang suami yang baru saja ikut bergabung membuat Fathur bingung.
"Ini mas, kamu saja yang belanja dan ibu yang masak. Coba kamu bisa nggak uang dua ratus ribu di sulap untuk dua puluh porsi lengkap. Apalagi minta pakai daging sapi. Satu kilo daging sapi itu seratus lima puluh ribu kadang lebih. Belum bumbunya, Ibu kamu selalu menyuruh aku menjadi pesulap setiap ada acara di rumahnya. Dan kalau kamu tanya kemana sisa uang yang aku pegang? Jawabannya aku gunakan untuk menyulap itu! Maaf saya permisi berangkat kerja. Asti sudah menunggu. Assalamualaikum ..." Arumi segera pergi setelah mencium punggung tangan suaminya.
Sedangkan dua orang di depannya masih terlihat kaget dengan penjelasan Rumi. Apalagi Fathur, dia semakin di buat melongo dengan semua ucapan istrinya. Ternyata selama ini istrinya hanya diam saja dan tak mengatakan kepada dirinya. Kenapa dia sangat jahat kepada Rumi.
"Ada apa dengan istrimu itu Fathur? Dia nggak sedang kesurupan jin di tempat kerjanya kan? Ibu denger di toko roti itu banyak hantunya!" tanya Bu Sri yang semakin heran dengan kelakuan Rumi.
"Sepertinya begitu! Ini Bu uang sama catatannya, Fathur juga harus segera berangkat kerja takut kesiangan," Fatur pergi memberikan uang dan catatan belanjaan yang tadi di berikan istrinya.
"Iya sudah, sana kamu pergi kerja! Jangan sampai kamu malah kena sp gara-gara kelakuan istri kamu yang nggak tahu diri itu!" jawab Bu Tari.
Fathur segera pergi menggunakan sepeda motornya. Sedangkan Bu Sri juga terus menggerutu karena kesal kepada Rumi. Semenjak bekerja satu Minggu ini, menantunya itu benar-benar tak mau datang ke rumah dia. Bahakan sekarang rumahnnya seperti kapal pecah. Karena biasanya yang membereskan rumahnya tiga tahun terakhir adalah Rumi.
Sekarang ba bu gratisannya sedang mogok dan tak mau lagi mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia dan anak perempuannya memang sangat malas beres-beres dan seolah enggan walau mencuci gelas be kas minumnya sendiri.
"Emang berapa sih gaji jadi tukang cuci di toko roti? Palingan juga nggak lebih dari lima puluh ribu sehari! Gaji segitu aja sombong! Eh, tapi ini ... Fathur ... Fathur ... Astaga, aku lupa minta uang tambahan! Uang dua ratus ribu mana cukup ini! Belum lagi bumbu dapur semuanya naik! Astaga aku nyari uang kemana ini? Mana sisa segini nggak ada lagi!" Bu Sri mencoba mengejar moto Fathur, namun sudah terlalu jauh.
Saking fokusnya menggerutu sikap dan ucapan Rumi membuat dia lupa meminta uang tambahan kepada Fathur. Dia juga sadar jika uang dua ratus ribu tidak akan cukup untuk memasak dua puluh porsi lengkap bersama dengan daging sayur serta yang lainnya. Belum lagi camilan yang harus disiapkan saat jamuan. Akhinya dia kesal sendiri badan mengomel sepanjang jalan.
"Loh kok ngomel-ngomel Bu Sri? Ada apa?" tanya salah seorang ibu-ibu yang sedang nongkrong di warung sayur.
"Ini loh Bu, gimana saya nggak marah ya? Itu loh si Rumi, saya minta pergi ke pasar untuk belanja malah ngatain saya! Mentang-mentang dia sudah kerja di toko roti jadi semakin berani kepada mertuanya!" jawab Bu Sri mencoba mencari perhatian dan simpati dari ibu-ibu di sekitar rumah kontrakan Rumi.
"Loh nggak nyangka ya Rumi bisa begitu! Padahal dia terlihat sangat baik dan sopan ya?" jawab yang lain.
Melihat respon bagus dari ibu-ibu di sana membuat Bu Sri lupa harus ke pasar dan pada akhirnya lebih memilih menggosipkan Rumi. Tentunya dia mengatakan semua kebohongan tentang Rumi karena merasa kesal. Dia menyembunyikan senyum saat ibu-ibu di sana mencoba menenangkan dan mengatakan kalau dirinya mertua yang hebat karena memiliki menantu seperti Rumi.
Sedangkan Rumi tak ambil pusing jika mertuanya akan menjelekkan dia kepada suaminya tadi atas sikapnya yang bisa di bilai kasar atau keterlaluan. Selama ini dia sudah cukup dengan semuanya. Dia ingin memulai hidupnya yang baru. Bukan ingin menjadi istri dur-haka karena memilih bekerja. Namun karena dia sudah berada di titik lelah.
"Itu suami kamu Rum?" tanya Asti saat mereka pulang kerja dan melihat Fathur sudah menunggu di parkiran.
"Loh iya, tumben. Dia juga nggak bilang kalau mau jemput aku! Apa mungkin ibu yang minta untuk menjemput aku dan segera ke rumah dia?" jawab Rumi heran sekaligus curiga dengan yang di lakukan suaminya.
"Semoga saja bukan, dan dia datang memang ingin menjemput istri tercintanya!" kekeh Asti.
"Bisa aja kamu! Ya udah aku pulang duluan ya. Maaf kita nggak jadi pulang bareng!" pamit Rumi.
Dia berjalan mendekat ke arah suaminya. Fathur memang baru pertama kali menjemput Rumi.
"Loh tumben, Mas? Kamu juga nggak bilang kalau akan jemput aku!" tanya Rumi.
"Kita jalan-jalan, Dek ... Sudah lama kita nggak jalan-jalan kan? Hari ini juga mas kan gajian ... Kita sekalian makan di luar saja," jawab Fathur.
"Loh kok tumben, Mas? Katanya kita nggak boleh boros dan juga harus sangat menghemat uang. Karena gaji Mas sedikit. Dan juga harus di bagi kepada ibu. Kalau kita makan di luar sama saja dengan dua atau tiga kalau pengeluaran kita makan di rumah," jawab Rumi membuat hati Fathur tercubit.
Entah sudah berapa lama terakhir mereka makan di luar. Karena seingatnya mereka tak pernah lagi makan di luar setelah menikah. Karena mereka harus menghemat uang gaji Fathur.
"Tidak apa-apa, hari ini Mas dapat bonus. Sudah lama juga kita nggak makan di luar. Dan kamu harus makan banyak hari ini, agar badan kamu juga semakin berisi seperti saat kita sebelum menikah," jawab Fathur mengusap kepala istrinya.
Tu-buh Rumi memang terlihat lebih kurus dari sebelum menikah. Kulitnya yang dulu putih dan segar juga kini sudah tak dia lihat lagi. Ternyata menikah dengannya bukan membaut Rumi bahagia, tapi malam membuat istrinya menjadi kurus seperti itu. Dia juga merasa bersalah kepada Nenek Rumi. Karena sudah berjanji akan menjaga dan membahagiakan Rumi.
"Siapa Mas? Ibu?" tanya Rumi saat mereka baru saja turun di depan sebuah rumah makan. Fathur mengangguk.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/