NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kelopak Mata

Langkah kaki Aurelia terasa ringan saat ia kembali ke kamarnya, namun pikirannya masih dipenuhi oleh tanda tanya besar. Begitu ia menutup pintu kayu yang berat itu, ia mendapati Lady Elara sedang menatapnya dengan wajah penasaran. Aurelia tidak bisa lagi menahan buncah kebahagiaan di dadanya. Senyumnya merekah lebar, sesuatu yang sudah sangat lama tidak terlihat menghiasi wajah sang putri.

"Ada berita bagus, Kak Elara!" seru Aurelia sambil menghampiri kakak sepupunya itu.

Elara langsung bangkit dari kursinya, matanya berbinar melihat perubahan ekspresi Aurelia. "Berita bagus apa? Wajahmu tampak jauh lebih segar daripada tadi pagi saat kau pergi ke ruang Ayahanda."

"Ayah... Ayah mencabut perjanjian pernikahanku dengan Pangeran Theo! Aku bebas, Kak! Aku tidak perlu lagi memikirkan gaun pengantin atau kehidupan di Kerajaan Valeront yang kaku itu," ucap Aurelia dengan nada riang.

Elara menghela napas lega, ia menggenggam tangan Aurelia. "Baguslah kalau seperti itu. Akhirnya, kau tidak jadi dinikahkan secara paksa. Bebanmu sudah hilang satu, Aurelia."

Namun, perlahan senyum Aurelia memudar, digantikan oleh kerutan di kening. Ia mendudukkan diri di pinggir ranjang, menatap lantai dengan tatapan kosong. "Tapi aku heran Kak. Sangat heran."

"Heran apa lagi?" tanya Elara sambil duduk di sampingnya. "Bukannya ini hasil yang kamu inginkan selama ini? Apa yang harus diherankan dari sebuah kebebasan?"

Aurelia menoleh, menatap mata Elara dalam-dalam. "Aku heran karena Ayah tiba-tiba meminta maaf. Bukan hanya membatalkan perjanjian itu, tapi dia merendahkan suaranya dan mengakui kesalahannya di depanku. Ayah yang kukenal adalah orang yang paling anti mengakui kekalahan, apalagi meminta maaf. Emangnya apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak sadarkan diri kemarin?"

Elara terdiam sejenak. Ia tampak menimbang-nimbang apakah harus menceritakan apa yang ia lihat malam itu atau tidak. Akhirnya, dengan suara yang dipelankan, Elara mulai berbicara. "Aurelia... apakah Ayahanda benar-benar meminta maaf padamu? Itu sangat jarang—bahkan mungkin tidak pernah—beliau lakukan kepada siapapun."

"Benar, Kak. Itulah yang membuatku bingung," sahut Aurelia mendesak.

Elara menarik napas panjang. "Sebenarnya... selama kamu tidak sadarkan diri, suasana istana benar-benar kacau. Raja tidak seperti dirinya yang biasa. Ada satu malam, saat aku sedang menjagamu dan hampir tertidur, aku samar-samar melihat Raja masuk ke kamar ini sendirian."

Aurelia memiringkan kepalanya, mendengarkan dengan seksama.

"Beliau berdiri di sisi ranjangmu cukup lama," lanjut Elara. "Dan aku berani bersumpah, aku melihat air mata jatuh dari matanya. Beliau menangis saat melihatmu terbaring kaku. Aku tidak tahu apakah itu hanya halusinasiku karena terlalu lelah atau bukan, tapi yang jelas, kemarahan yang biasa terpancar dari wajahnya hilang seketika."

Mata Aurelia membelalak. "Ayah... menangis?"

"Bukan hanya itu," tambah Elara lagi. "Beliau benar-benar panik. Raja sendiri yang turun langsung ke hutan gelap itu untuk mencarimu saat prajurit lain kehilangan jejak. Dialah yang mengangkat tubuhmu dari dasar jurang dengan tangannya sendiri. Selama kamu kritis, beliau mengerahkan seluruh tabib istana tanpa sisa. Bahkan rumor yang kudengar di koridor belakang, Raja memberikan sekantong emas besar dan pasokan makanan melimpah kepada tabib yang berhasil membuatmu sadar. Tumben sekali Raja melakukan hal seroyal itu hanya demi satu nyawa."

Aurelia tertegun. Jantungnya berdegup kencang mendengar rentetan cerita itu. "Benarkah, Kak? Kau tidak salah dengar soal sekantong emas dan tangisan itu?"

"Aku tidak mungkin salah lihat, Aurelia. Raja benar-benar ketakutan kehilanganmu," tegas Elara.

---

Setelah Elara pamit keluar untuk memberinya ruang, Aurelia menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang tinggi, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar.

Dalam hatinya, sebuah kehangatan yang asing mulai merayap. Selama ini, Aurelia selalu menganggap ayahnya adalah seorang penguasa yang berhati batu, seseorang yang hanya mencintai takhta dan kemakmuran kerajaannya. Ia selalu merasa dirinya hanyalah sekadar pajangan atau alat pertukaran diplomatik.

*"Ternyata Ayah tidak se-dingin itu,"* bisiknya dalam hati. *"Apakah selama ini aku yang terlalu menutup mata? Ataukah Ayah yang terlalu pandai menyembunyikan cintanya di balik wajah kakunya itu?"*

Aurelia menyentuh keningnya sendiri, membayangkan tangan kasar ayahnya yang mungkin sempat mengusapnya di tengah malam saat ia tak sadar. Rasa benci dan pemberontakan yang sebelumnya berkobar hebat, kini perlahan meredup, berganti dengan rasa haru yang menyesakkan dada.

Ia menyadari bahwa meski ayahnya tidak bisa memberikan waktu untuk sekadar minum teh atau melihatnya berlatih pedang, sang Raja mencintainya dengan caranya yang kasar dan sunyi. Membatalkan pernikahan dengan Theo adalah bukti pengorbanan terbesar ayahnya; mengorbankan stabilitas politik demi kebahagiaan putri tunggalnya.

*"Ternyata dia benar-benar sayang padaku,"* batin Aurelia sambil memeluk bantalnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurelia tidak merasa seperti bidak catur yang kesepian. Ia merasa seperti seorang putri yang akhirnya ditemukan kembali oleh ayahnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!