Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Deburan ombak yang makin kencang seolah menjadi latar suara bagi langkah kaki Xena yang terburu-buru masuk ke dalam vila.
Ia segera menuju kamar mandi utama, memutar keran air hangat dan menuangkan aroma terapi lavender ke dalam bathtub.
Uap air yang mengepul mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan.
Tak lama kemudian, Prabu masuk dengan langkah berat dan wajah yang masih terlihat bersalah namun tertutup ego yang tinggi.
"Masuklah ke dalam bathtub, Pra. Air hangat akan membantu otot-ototmu rileks setelah lari tadi," ucap Xena tanpa menatap mata suaminya.
Prabu membuka kaosnya yang basah kuyup oleh keringat, lalu menatap Xena yang masih berdiri di sana, menyiapkan handuk bersih.
"Kamu juga di sini?" tanya Prabu dengan nada menyelidik.
Xena menganggukkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin berdebat.
Ia melangkah mendekat saat Prabu sudah menyandarkan tubuhnya di dalam air hangat.
Dengan lembut, jari-jari lentur Xena mulai memijat tengkuk, punggung, hingga kulit kepala Prabu.
Prabu memejamkan mata, menikmati sentuhan itu meski hatinya terus menolak.
"Sampai kapan pun aku tidak akan tergoda sama kamu, Xena," gumam Prabu tiba-tiba, suaranya parau namun penuh penekanan.
Tangan Xena terhenti sejenak, namun ia segera melanjutkan pijatannya.
"Kenapa kamu begitu yakin, Pra?"
"Karena hatiku sudah penuh. Tidak ada ruang lagi," sahut Prabu ketus. Ia membuka matanya dan menoleh sedikit ke arah Xena yang berada di belakangnya.
"Jika sampai aku tergoda, aku akan berlari sepuluh putaran di pantai ini dan berteriak sekeras mungkin bahwa aku mencintaimu. Tapi itu tidak akan pernah terjadi."
Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibir Xena.
Tantangan itu terdengar seperti musik di telinganya.
"Deal," ucap Xena singkat namun mantap.
Ia menghentikan pijatannya dan meletakkan handuk besar di atas meja rias.
"Sekarang pakai handukmu dan ini obatmu, minum sebelum kamu makan. Jangan sampai terlewat."
Xena melangkah menuju pintu, berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar.
"Aku tunggu di ruang makan. Jangan terlalu lama, nanti airnya dingin."
Begitu pintu tertutup, Xena bersandar di dinding luar kamar mandi.
Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu ini adalah taruhan yang berbahaya, tapi ia juga tahu bahwa di balik dinding es yang dibangun Prabu, ada retakan kecil yang mulai muncul.
Sepuluh putaran dan sebuah pengakuan cinta; Xena akan memastikan hari itu benar-benar datang.
Di dapur, Xena bergerak cekatan menyiapkan sarapan.
Aroma susu kedelai hangat yang baru saja ia buat sendiri menguar, bersanding dengan semangkuk oatmeal buah segar di atas meja.
Meskipun tubuhnya terasa lemas dan matanya sedikit sembab, ia tetap ingin memberikan yang terbaik untuk pemulihan fisik Prabu.
Tepat saat ia hendak menuangkan susu ke gelas, ponselnya bergetar.
Ia melihat Dwi sahabatnya yang sedang menghubunginya.
Xena mengaktifkan fitur video call dan menyandarkan ponselnya di rak bumbu.
"Halo, Dwi," sapa Xena dengan suara yang diusahakan tetap ceria.
Namun, Dwi yang berada di seberang sana langsung mengerutkan kening begitu melihat wajah Xena di layar.
"Pucat sekali kamu, Xen. Kamu sakit?"
Xena memaksakan senyum kecil sambil terus mengaduk susunya.
"Aku hanya kelelahan, Dwi. Banyak yang harus diurus di sini."
"Jangan bohongi aku. Aku tahu kamu sedang menghadapi 'pasien' yang paling keras kepala sedunia itu," suara Dwi meninggi karena khawatir.
"Xen, duniaku tidak akan kiamat kalau kamu menyerah sekarang. Tinggalkan saja lelaki itu, Xen. Dia hanya akan menghancurkanmu sebelum kamu sempat menyembuhkannya."
Xena tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar getir namun penuh keyakinan.
"Aku tidak bisa, Dwi. Kamu tahu kan, aku bukan tipe orang yang berhenti di tengah jalan."
Di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Prabu berdiri terpaku.
Ia baru saja hendak masuk untuk mengambil air minum ketika langkahnya terhenti mendengar suara tawa Xena.
Tangannya yang memegang gagang pintu mengeras.
Ia mendengar setiap kata yang diucapkan teman Xena—tentang betapa hancurnya kondisi Xena dan saran untuk meninggalkannya. Namun, jawaban Xena—tawa kecil yang seolah meremehkan rasa sakitnya sendiri demi tetap tinggal di sisinya—membuat dada Prabu terasa sesak.
Prabu terdiam di balik pintu. Ada gejolak aneh yang menyerangnya; rasa bersalah yang selama ini ia tekan rapat-rapat mulai merembes keluar.
Ia menyadari bahwa wanita yang baru saja ia hina dan banding-bandingkan itu, sedang bertaruh nyawa dan perasaan melawan seluruh dunia yang menyuruhnya pergi.
Prabu batal masuk ke dapur. Ia memilih berbalik arah dengan langkah tanpa suara, membiarkan Xena menyelesaikan percakapannya, sementara hatinya mulai terusik oleh sebuah tanya: Sampai kapan Xena akan bertahan sebelum tawanya benar-benar hilang?
Ponsel Prabu yang sedang disita Xena tiba-tiba bergetar dan berdering nyaring di atas meja dapur. Xena melirik layarnya. Nama 'Yanuar' muncul di sana.
Yanuar adalah sahabat karib mereka berdua sejak masa SMA, sosok yang tahu betul bagaimana rumitnya sejarah antara Prabu, Tryas, dan Xena.
Xena menarik napas panjang, lalu berjalan menuju kamar Prabu.
Tok! tok!
"Pra, ada telepon dari Yanuar," ucap Xena saat pintu terbuka.
Ia menyodorkan ponsel itu dengan tangan tetap terjaga.
"Bicaralah. Tapi ingat, setelah selesai telepon, kamu berikan lagi ponselnya ke aku."
Prabu hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku.
Ia mengambil ponsel itu dan menempelkannya ke telinga.
"Ada apa, Yan?" tanya Prabu dingin.
"Kamu menikah dengan Xena? Yang benar saja, Pra!" suara Yanuar terdengar kaget sekaligus serius di seberang sana.
"Aku baru saja dari rumahmu dan ayahmu mengatakan semuanya. Aku hampir tidak percaya."
Prabu terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Ini bukan urusanmu."
"Dengarkan aku, Pra," potong Yanuar cepat.
"Jaga dia. Jaga Xena baik-baik. Aku tahu segalanya dari dulu. Aku yakin dia jauh lebih baik dan tulus daripada Tryas. Jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya karena kebodohanmu sendiri."
Rahang Prabu mengeras. Nama Tryas yang disebut sebagai perbandingan oleh sahabatnya sendiri terasa seperti duri yang menusuk telinganya.
"Yan, sudah dulu ya. Aku sedang tidak ingin berdebat," potong Prabu tajam.
Tanpa menunggu balasan dari Yanuar, Prabu langsung mematikan sambungan telepon itu.
Ia menatap ponsel di tangannya sejenak, meresapi kata-kata Yanuar yang seolah menggema di kepalanya.
Dengan gerakan lambat, ia melangkah keluar kamar dan memberikan kembali ponsel itu kepada Xena yang sudah menunggu di depan pintu.
"Ini," ucap Prabu singkat.
Xena menerima ponsel itu, matanya mencari sesuatu di wajah Prabu, namun pria itu segera memalingkan muka dan berjalan menuju meja makan tanpa berkata-kata lagi.
Suasana di antara mereka kini terasa jauh lebih berat, dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu yang baru saja dibangkitkan oleh telepon dari Yanuar.
Prabu menarik kursi di meja makan, matanya melirik ke arah piring Xena yang masih kosong dan gelas susu kedelai yang belum tersentuh.
Keheningan di antara mereka terasa berbeda setelah telepon dari Yanuar tadi—tidak lagi tajam, melainkan berat oleh sesuatu yang tak terucapkan.
"Kamu nggak makan?" tanya Prabu pelan, nada suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Xena yang sedang membereskan sisa potongan buah di konter dapur menggelengkan kepalanya.
Wajahnya memang masih terlihat pucat, sisa kelelahan setelah lari pagi dan tekanan batin semalam masih membekas jelas.
"Nanti saja. Perutku sedang tidak enak, mungkin karena udara pantai yang terlalu dingin tadi pagi," jawab Xena tanpa menoleh.
Prabu menghentikan gerakan sendoknya. Ia teringat percakapan Xena dengan Dwi di telepon tadi, tentang betapa pucat dan lelahnya istrinya itu.
Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk tidak membiarkan Xena terus seperti itu.
"Makanlah sedikit," ucap Prabu, kali ini dengan nada memerintah yang samar.
"Kamu itu dokter, selalu mengatur kesehatanku, tapi kamu sendiri nggak menjaga pola makan. Jangan sampai aku yang harus mengurusmu nanti."
Xena tertegun sejenak. Ia membalikkan badan, menatap Prabu yang kembali fokus pada piringnya seolah-olah baru saja tidak mengatakan hal yang perhatian.
Sebuah senyum tipis—kali ini tulus—terukir di wajah Xena.
Ejekan Prabu barusan, meski dibungkus dengan ketus, adalah bentuk kepedulian pertama yang ia terima sejak mereka tiba di sini.
"Iya, Pak Pilot," jawab Xena lembut.
Ia akhirnya mengambil piring kecil dan duduk di hadapan Prabu, menyendok sedikit buah dan roti gandum.
Suasana di ruang makan itu menjadi lebih tenang.
Tidak ada lagi teriakan atau sindiran tentang Tryas, hanya ada suara denting sendok dan suara angin laut yang masuk lewat celah pintu.
Untuk pertama kalinya, Xena merasa bahwa mungkin, sepuluh putaran lari dan pengakuan cinta itu tidaklah mustahil untuk dicapai.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣