Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 10
Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit dari kursinya. Gerakannya tenang, tapi justru itu yang terasa paling mengganggu, seolah pertanyaan-pertanyaan tadi tidak cukup penting untuk dijawab. Ia berjalan menjauh dari meja makan, langkahnya ringan, tidak terburu-buru, tapi juga tidak memberi kesempatan untuk dihentikan.
Ella mengikuti dengan pandangan. Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Arah langkah itu bukan ke kamar ayahnya. Melainkan ke kamar di ujung lorong. Kamar Sisil.
Pintu itu terbuka sebentar, lalu Bu Vero masuk ke dalam.
Ella membeku di tempatnya. Pikiran itu datang begitu saja, sederhana, tapi mengganggu berarti setelah menikah Bu Vero tidak tidur dengan ayahnya? Kenapa? Jika mereka baru menikah bukankah seharusnya mereka satu kamar? Atau pernikahan itu memang tidak pernah seperti yang terlihat?
Jantung Ella berdetak lebih pelan, tapi lebih berat. Potongan-potongan kecil itu mulai terasa saling terhubung, meski belum jelas bentuknya.
Sebelum pintu benar-benar tertutup, Bu Vero sempat menoleh sedikit ke arahnya. “Jangan lupa,” katanya singkat, nada suaranya kembali datar seperti sebelumnya, “bersihkan rumah. Mulai hari ini itu tanggung jawab kamu.” Lalu pintu tertutup.
Menyisakan Ella sendiri di meja makan. Karena tak lama Sesil menyusul ibunya.
Dengan piring yang belum disentuh. Dan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya. Ia tidak bergerak. Hanya duduk diam, menatap kosong ke arah lorong yang kini sunyi. Karena semakin ia mencoba memahami semakin jelas bahwa tidak ada satu pun hal di rumah ini yang benar-benar seperti yang terlihat.
***
Sejak pagi itu, posisi Ella di rumah berubah tanpa perlu diumumkan. Ia tidak lagi ditanya, tidak lagi diajak bicara, bahkan kehadirannya seperti tidak diperhitungkan. Bu Vero sibuk dengan urusannya sendiri, Sisil dengan caranya yang selalu mengawasi tanpa terlihat mengawasi, dan Ella tanpa sadar didorong ke satu peran yang membuatnya “tak terlihat”. Ia membersihkan rumah, menyapu lorong panjang, mengepel lantai yang dingin, merapikan ruang-ruang yang terlalu luas untuk dikerjakan sendiri. Dan justru di situlah ia mulai menyadari sesuatu: orang-orang mulai datang.
Bukan tamu biasa. Mereka tidak diperkenalkan. Tidak duduk di ruang tamu. Datang dan pergi dengan cepat. Kadang siang, kadang sore, bahkan menjelang malam.
Sepatu mereka tidak pernah benar-benar kotor, pakaian mereka rapi, tapi cara mereka bergerak tenang, efisien, dan langsung menuju titik tertentu tidak seperti orang yang sekadar berkunjung. Ella beberapa kali pura-pura sibuk di dekat tangga atau lorong, memperhatikan dari sudut mata. Bu Vero selalu menemui mereka, kadang dengan suara pelan, kadang dengan pintu yang langsung ditutup rapat.
Sisil? Selalu ada. Tidak banyak bicara, tapi jelas tahu. Dan di tengah semua itu, tidak ada satu pun yang peduli pada Ella.
Itu kesalahan mereka. Karena dari posisi itulah Ella mulai melihat.
Suatu siang, saat membersihkan ruang kerja ayahnya, ruangan yang sebelumnya sempat digeledah tapi kini dibiarkan kembali seperti biasa, Ella memperhatikan sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya. Sebuah map tipis, terselip di antara buku-buku yang terlihat biasa, tapi posisinya terlalu rapi. Seperti sengaja disembunyikan di tempat yang tampak terbuka.
Ia ragu sejenak. Lalu mengambilnya. Di dalamnya bukan dokumen keuangan seperti yang ia bayangkan. Melainkan lembaran-lembaran dengan simbol yang berulang.
Gambar kecil. Seperti bentuk lengkung mirip sepatu. Tapi tidak utuh. Terpotong. Terfragmentasi. Dan di bawah setiap simbol, ada angka dan kode yang tidak langsung bisa dimengerti.
Ella menahan napas. Ini bukan dokumen biasa. Ini bukan sesuatu yang kebetulan tertinggal. Ini disembunyikan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat saat ia membalik halaman berikutnya. Pola itu berulang, tapi dengan variasi. Seolah setiap simbol adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Jaringan. Sistem. Sesuatu yang saling terhubung.
Sepatu kaca. Pikirannya langsung terarah ke sana. Apa yang ia pegang mungkin bukan hanya petunjuk. Tapi bagian dari sesuatu yang jauh lebih kompleks. Tiba-tiba suara langkah. Dekat. Terlalu dekat. Ella membeku. Refleks, ia menutup map itu dan memasukkannya kembali ke tempat semula, tidak sempurna, tapi cukup cepat.
Pintu berderit. Sisil muncul di ambang pintu, bersandar santai seperti biasa, tapi matanya langsung mengarah ke Ella. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya ringan.
Ella menelan ludah, berusaha menjaga wajahnya tetap tenang. “Bersih-bersih.”
Sisil tidak langsung menjawab. Matanya menyapu ruangan. Lalu kembali ke Ella. Beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya. “Hmm,” katanya akhirnya, berjalan masuk beberapa langkah. “Rajin juga.”
Nada itu terdengar biasa. Tapi tidak terasa biasa. Ella memaksakan diri untuk tetap bergerak, mengambil kain, berpura-pura melanjutkan pekerjaan.
Sisil berdiri beberapa saat. Mengamati. Lalu berbalik pergi. Langkahnya menjauh. Pintu kembali terbuka. Dan tertutup. Ella baru benar-benar bernapas setelah itu. Tangannya sedikit gemetar. Terlambat sedikit saja ia bisa ketahuan.
Ia melirik kembali ke arah rak buku. Ke tempat map itu berada. Kini ia tahu satu hal dengan pasti ia tidak hanya hidup di rumah yang penuh rahasia. Ia hidup di tengah sesuatu yang sedang bergerak. Dan tanpa disadari oleh orang lain ia sudah mulai masuk terlalu jauh.
***
Ella menemukan Sisil di ruang tengah sore itu, duduk santai dengan ponsel di tangan, seolah tidak ada yang aneh terjadi di rumah mereka. Untuk beberapa detik, Ella hanya berdiri di ambang pintu, menimbang apakah ia harus membuka percakapan atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya sudah terlalu besar untuk ditahan.
“Aku mau tanya sesuatu,” katanya akhirnya.
Sisil tidak langsung menoleh. “Apa?” jawabnya singkat, matanya masih di layar.
Ella menarik napas pelan. “Kamu tahu hubungan Ayahku sama Bu Vero sebelumnya?”
Baru kali itu Sisil mengangkat kepala. Tatapannya langsung mengarah ke Ella, tajam tapi tenang. Ia tidak menjawab, hanya memperhatikan sejenak, seolah menilai maksud di balik pertanyaan itu. “Apa yang mau kamu tanyakan?” balasnya kemudian, nada suaranya datar, tidak benar-benar memberi jawaban.
Ella sedikit bergeser, mencoba tetap terlihat santai meski suasana terasa tidak nyaman. “Sebenarnya… aku cuma ingin kenal keluarga baruku,” katanya pelan. “Aku bingung harus tanya ke siapa. Ayahku…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “sudah nggak ada.”
Hening. Sisil menatapnya beberapa detik lebih lama. Ekspresinya tidak berubah. Tidak ada simpati yang jelas. Tidak juga penolakan. Hanya diam yang terasa disengaja.
“Kamu nggak pernah tahu apa-apa, ya?” katanya akhirnya.
Ella mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Sisil menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan kaki dengan santai. “Hubungan mereka nggak sesederhana yang kamu pikir.”
Kalimat itu membuat dada Ella menegang. “Jadi?” desaknya pelan.
Sisil tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti sebelumnya, ringan, tapi tidak pernah benar-benar hangat.
“Kamu yakin mau tahu?” tanyanya.