Nathan Dwi herlangga atau yang biasa dipanggil Nathan adalah anak dari sepasang suami istri Ibu Dewi dan Pak Rama yang tinggal di gubuk sederhana.Semenjak Nathan lahir tidak ada tanda-tanda menunjukan kalau dirinya punya mata batin.Namun seiring berjalan nya waktu Mata batin Nathan terbuka saat ia menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teluh
Semalam mereka sangat lega,bisa tidur nyenyak di rumah yang nyaman sekarang.Nathan pun sudah tidak kedinginan lagi jikalau musim hujan tiba,karena dinding rumah yang sekarang tidak bisa menembus angin kencang tidak seperti rumahnya dahulu yang dinding nya hanya terbuat dari pagar.
Hari ini Pak Rama juga akan pergi ke Notaris untuk mengganti surat kepemilikan tanah sawah-sawah nya.Baru pak Rama berniat akan mencari pegawai untuk membantu mengurus sawah-sawah miliknya nanti.
Bangun tidur pak Rama disambut oleh bau semerbak masakan istrinya yang sudah tertata rapi di meja.
"Wah rajin sekali istriku sudah masak sarapan untuk kita"puji Pak Rama kepada Dewi.
"makan dulu mas,pergi nya jangan buru-buru"ujar Dewi pelan.
Mereka memulai sarapan pertama kali di ruang makan,biasanya mereka hanya makan beralaskan tikar saja,sekarang mereka bisa duduk di kursi yang nyaman.
Jam menunjukan pukul 08 pagi.Pak Rama berpamitan dengan Dewi karena ada agenda yang harus di urus nya.
"mas pamit dulu ya, baik-baik di rumah sama Nathan"sambil mencium kening istrinya.
Pak Rama sudah pergi,kini tinggal Dewi berdua dengan buah hatinya.Sekarang Nathan makin nurut,karena usia nya sekarang yang menginjak 4 tahun.Sudah bisa diajak bicara jadi Dewi tidak merasa kesepian.
Sore telah tiba,Nathan ditemani oleh ibunya sedang bermain di halaman depan rumah.Menunggu Ayah Nathan yang tak kunjung pulang.Nathan menunjuk ke arah genteng rumah itu."Bu api Bu itu"Dia melihat api diatas genteng tapi ketika ibunya melihat ke atas genteng tidak ada apa-apa.Akhirnya Nathan dibopong masuk rumah oleh ibunya.
Hari menjelang magrib,Suaminya juga tak kunjung pulang.Rasa khawatir menyelimuti hati Dewi,dia hanya berdua dengan anaknya di rumah,apalagi tadi Nathan melihat api di atas genteng."apa mungkin itu santet "dalam hati kecil Dewi bertanya-tanya.Akhirnya Dewi memberanikan diri menonton televisi dengan suara yang kencang.
Tiba-tiba saja genteng rumahnya seperti ada yang melempari batu kerikil kecil."pyurrrrr"suaranya jelas sekali padahal Dewi menonton televisi dengan suara yang lumayan kencang.Nathan yang mendadak menangis dan tak kunjung berhenti.Dewi kebingungan dan selang beberapa menit suaminya pulang.
"Loh ada apa wi,kenapa Nathan nangis seperti itu"tanya pak Rama pelan.
Dewi menjelaskan kepada suaminya tentang hal yang di alami nya tadi.Pak Rama pun langsung membacakan ayat-ayat Al-Quran pada Nathan dan alhasil nangis nya pun berhenti.
"ah seperti ada yang tidak beres"ucap pak Rama dengan lantang.
"memang mas,tadi menjelang magrib Nathan juga melihat ada api di atas genteng"ujar Dewi cemas.
"baru saja kita mendirikan rumah,eh ada yang benci dengan kita"Pak Rama sangat kesal.
Dewi dan Suaminya duduk di depan televisi sambil meminum teh hangat untuk meredakan rasa cemas nya.Tiba-tiba terdengar suara auman harimau di atas genteng.
"kamu dengar itu mas ?"Tanya Dewi yang langsung memegang erat tangan suaminya.
"iya wi.Kita berdoa saja sebisanya"ucap pak Rama.
Nathan yang baru saja berhenti menangis,dia ikut berbicara pada ayah dan ibunya."tidak apa-apa ayah itu teman Nathan baik kok"Ujar Nathan sambil tersenyum.
Dewi pun menyadari kalau khodam pelindung milik Nathan sejak kecil itu masih ada.Dan dia menolong jika ada makhluk jahat yang ingin masuk ke rumah ini.Perasaan Dewi dan pak Rama pun menjadi Lega dan tidak cemas lagi.
Dewi mematikan televisi lalu mereka masuk ke kamar untuk tidur.Karena perasaan nya sudah lega.Orang yang mengirim teluh telah kalah di serang oleh khodam harimau milik Nathan.