Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Siapa Sebenarnya yang Dibully
"Hahahaha!" Eleanor tidak bisa menahan tawa saat melihat Jason kehilangan beberapa gigi depannya.
Eleanor tertawa semakin keras melihat penampilan Jason yang kini tampak ompong di bagian depan. Jason yang merasa sangat kesakitan dan dipermalukan, berusaha memberikan perintah kepada empat temannya.
"Bagaimana masih mau lanjut?", tantang Eleanor.
"Hayo!! Herang hiya!!!" teriak Jason dengan suara yang terdengar sangat aneh dan tidak jelas karena lubang di giginya membuat udara keluar saat ia berbicara. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar teman-temannya segera maju dan menyerang Eleanor secara bersamaan.
Ketika keempat teman Jason mencoba merangsek maju secara bersamaan, Eleanor berputar pada tumitnya. Ia menghindar dengan kemiringan tubuh yang presisi, menangkis pukulan dengan punggung tangannya, dan membalas dengan serangan pendek yang mengincar titik vital. Gerakannya sangat indah dan lincah, seolah-olah ia sedang melakukan koreografi tarian. Satu per satu anggota kelompok Jason tumbang.
Ada yang tersungkur menabrak deretan wastafel, ada pula yang terjatuh lemas di atas lantai marmer yang dingin. Anggota kelompok Jason yang masih tersisa dan masih sadar kini hanya bisa meringkuk trauma. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun, memilih untuk memejamkan mata dan berpura-pura pingsan daripada harus menerima hantaman berikutnya.
Jason, yang rahangnya sudah berdarah, mencoba bangkit dan menyerang dari arah belakang Eleanor. Namun, Eleanor seakan memiliki mata di punggungnya. Ia berbalik dan melayangkan tendangan rendah yang telak menghantam tulang kering Jason.
Krak!
Suara retakan yang mengerikan bergema di ruangan itu. Jason tidak sempat mengeluarkan teriakan karena rasa sakit yang luar biasa hebatnya langsung memutus kesadarannya. Ia roboh ke pojokan toilet seperti karung beras yang dijatuhkan.
Di luar pintu, kerumunan murid semakin memadat. Mereka bisa mendengar suara-suara erangan kesakitan dan benturan dari dalam, namun tak ada satu pun yang berani masuk. Saat itulah, Liam tiba di depan lokasi dengan napas tersengal. Wajahnya mengeras karena murka melihat para siswa hanya mengerumuni pintu toilet yang masih tertutup tanpa melakukan apa pun.
"Minggir semua!" bentak Liam dengan suara menggelegar.
Tanpa ragu, Liam mendobrak pintu toilet tersebut dengan keras. Ia sudah mengepalkan tinju, siap menghajar siapa pun yang berani menyentuh Eleanor. Namun, langkahnya terhenti seketika. Pemandangan di depannya jauh dari apa yang ia bayangkan.
Jason teronggok tak berdaya di sudut ruangan dengan mulut penuh darah dan gigi-gigi yang tanggal. Empat temannya yang lain berada dalam kondisi yang tak kalah mengenaskan.
Seorang siswa terduduk lunglai dengan kepala setengah masuk ke dalam lubang toilet di salah satu bilik. Di bilik lain, ada yang merintih dengan kedua tangan mengalami dislokasi. Satu siswa lainnya tergeletak tengkurap di lantai dengan luka robek di dahi.
Pemandangan terakhir adalah yang paling mengejutkan, Eleanor tengah menjambak rambut siswa kelima, menekan wajah pemuda itu ke dalam wastafel yang penuh dengan air. Siswa itu meronta-ronta, kakinya menendang udara, namun cengkeraman tangan Eleanor tidak tergoyahkan. Kekuatan Eleanor yang merupakan hasil dari penguasaan berbagai cabang bela diri di dunianya yang asli sama sekali tidak berkurang meski ia kini berada di tubuh orang lain.
"Eleanor...?", panggil Liam ragu-ragu.
Begitu Eleanor menyadari kehadiran Liam, ia segera melepaskan jambakannya. Tubuh siswa itu langsung merosot jatuh ke lantai, terbatuk-batuk mengeluarkan air. Eleanor kemudian mengambil beberapa lembar tisu, mengelap tangannya yang basah dengan tenang, lalu menoleh ke arah Liam dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah drastis. Ia memasang wajah polos, matanya tampak berkaca-kaca.
"Liam~ akhirnya kamu datang," ucap Eleanor dengan suara yang sedikit bergetar, seolah baru saja melewati maut. "Aku benar-benar takut. Tiba-tiba saja mereka mengepungku di sini. Mereka bahkan mengunci pintu supaya aku tidak bisa kabur."
Liam terpaku di tempatnya. "Takut?" gumamnya tak percaya.
Liam menatap sekeliling toilet sekali lagi memastikan apa yang dilihatnya tidak salah, semua orang terluka parah kecuali Eleanor. "Sepertinya mereka yang harusnya takut padamu..." pikir Liam dalam hati. "Orang-orang bodoh ini benar-benar salah pilih lawan. Siapa yang memberi mereka keberanian untuk mencoba menyentuh Eleanor, satu-satunya putri keluarga Sinclair sekaligus calon menantu keluarga Parker?"
Di sisi lain, Eleanor juga sibuk dengan pikirannya sendiri. "Haih, kenapa cepat sekali bantuan datang? Aku bahkan belum puas menghajar mereka semua. Sudahlah, aku yakin nanti akan ada kesempatan lain," batinnya kesal.
Liam mendekat dan memeriksa kondisi Eleanor. "Yang penting kamu baik-baik saja," katanya pelan.