Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana di sudut taman siang itu terasa begitu sunyi, seolah-olah alam pun turut merasakan kesedihan yang melanda hati dua sahabat itu.
Di bawah naungan pohon rindang yang seharusnya menjadi tempat mereka tertawa dan bercanda, kini hanya terdengar suara tangis yang memilukan.
Tamara membenamkan wajahnya sedalam-dalamnya di bahu Aletta, seolah ingin menyembunyikan seluruh rasa sakit yang ia rasakan.
Air matanya mengalir deras, membasahi baju seragam Aletta, dan tubuhnya berguncang hebat seakan tidak lagi memiliki tenaga untuk berdiri tegak.
Aletta memeluk sahabatnya dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki agar Tamara tidak hancur sepenuhnya.
Ia mengusap punggung Tamara dengan lembut, jari-jarinya menyisir rambut panjang sahabatnya yang sedikit berantakan.
"Sudah, Tamara... jangan menangis terus yah. Gue ikut sakit melihat loh begini," bisik Aletta dengan suara lembut namun penuh perasaan.
"Tidak ada jalan keluarnya, Al... sungguh, gue sudah lelah sekali," ujar Tamara dengan suara yang terputus-putus karena isakan tangisnya.
"Loh gak tahu betapa beratnya rasanya setiap hari. Gue udah mencoba segala cara Al, gue....gue sudah berusaha mendekatinya Al, bahkan gue sudah berusaha nurunin harga diri gue buat deketin dia Al... tapi apa balasannya? Semakin gue berusaha mendekat, semakin dia menjauh".
"Semakin gue berbicara, semakin dia diam dan tidak peduli. Rasanya seperti gue berjuang sendirian di sini Al".
Mendengar perkataan Tamara, hati Aletta terasa seperti diremas-remas. Ia tahu betapa dalamnya perasaan Tamara kepada Dilan, dan betapa besar usaha yang telah dilakukan sahabatnya itu.
Dia ingin sekali menghibur, ingin sekali berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ia sadar bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang dirasakan Tamara.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka, Dilan berdiri diam di bawah pohon besar yang lain. Ia mendengar semua perkataan Tamara, dia melihat air mata yang mengalir di wajah gadis itu... namun dia tetap berdiri kaku, wajahnya terlihat sangat dingin dan tertutup.
Matanya menatap kosong ke depan, seolah-olah dia telah membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa sedih, seolah-olah ia benar-benar tidak peduli.
Aletta melihat ke arah Dilan, lalu perlahan melepaskan pelukannya pada Tamara. dia menyuruh Tamara menunggu sejenak, lalu berjalan mendekati Dilan dengan langkah yang mantap namun hati yang cemas.
"Dilan," panggil Aletta dengan suara yang cukup jelas saat ia berdiri tepat di hadapan pemuda itu.
"Loh lihat kan keadaan Tamara? Dia hancur, Dilan. Dia menangis karena ulah loh sendiri. Emangnya loh gak kasihan melihatnya begitu?"
Namun, Dilan tidak menjawab sepatah kata pun. dia bahkan tidak menatap wajah Aletta. Ketika Aletta berusaha menatap matanya, Dilan malah dengan cepat memalingkan wajahnya, seolah-olah melihat Aletta saja sudah menjadi hal yang tidak diinginkannya.
Hati Aletta terasa sakit, bingung, dan kecewa bercampur menjadi satu. dia kembali menghampiri Tamara membantunya berdiri, lalu merapikan sedikit pakaian dan rambut sahabatnya agar terlihat sedikit lebih baik.
Pelan-pelan, mereka berjalan beriringan menuju hotel tempat mereka menginap. Aletta memegang tangan Tamara erat-erat, seolah ingin memberikan kekuatan agar sahabatnya itu mampu melangkahkan kakinya.
Sesampainya di depan kamar mereka, terlihat Ruby yang sudah memakai baju tidur tengah berbaring di kasurnya sambil melakukan panggilan telepon bersama dengan anwar.
"Tamara... Loh kenapa kok bisa sampe kaya gini? Mata loh bengkak banget lagi... ada apa sebenarnya?" tanya Ruby memberikan banyak pertanyaan mengkhawatirkan sahabatnya.
Tanpa menunggu jawaban, Ruby langsung merentangkan tangannya dan memeluk Tamara dengan sangat erat, seolah ingin merasakan kesedihan yang Tamara rasakan.
"Gue cape Ruby... Gue lelah, gue..." kata Tamara terputus-putus, dan Ruby hanya mengangguk pelan sambil menahan air matanya sendiri. dia tidak menanyakan hal lain, karena dia sadar bahwa saat ini yang dibutuhkannya hanyalah ketenangan dan kasih sayang.
Aletta berdiri diam di sana. Hatinya terasa kosong dan bercampur aduk. dia merasa sedih melihat sahabatnya hancur, dia merasa bingung melihat sikap Dilan yang begitu aneh dan dingin, dan dia merasa lelah menanggung semua beban perasaan itu sendirian.
Hari terakhir dari perjalanan karyawisata mereka di Yogyakarta. Semula, perjalanan ini seharusnya menjadi momen yang penuh tawa, kenangan indah, dan kebersamaan yang menyenangkan. Namun, bagi Aletta, hari-hari di kota istimewa itu justru terasa begitu berat, panjang, dan menyakitkan.
Saat bus pariwisata yang membawa rombongan mereka melaju menjauh dari kota Yogyakarta menuju kota asal, hati Aletta terasa semakin sesak. dia duduk sendirian di kursi bagian belakang, menekuk lututnya dan membenamkan wajah di sana.
Sepanjang perjalanan pulang, dia tidak banyak bicara, bahkan nyaris tidak membuka mulutnya sama sekali. Matanya terlihat sayu dan bengkak, dia sengaja menghindari tatapan Dilan dan Tamara.
Di dalam hatinya, rasa bersalah itu terus menggerogoti jiwanya. dia merasa dirinya adalah penyebab dari segala kekacauan yang terjadi.
Bus itu akhirnya tiba di terminal kota mereka saat senja mulai turun, langit berubah warna menjadi merah kekuningan yang suram, seolah ikut merasakan kesedihan yang melanda hati Aletta.
Suasana di dalam bus mulai riuh, teman-teman sekelasnya sibuk membereskan barang-barang mereka, saling bercanda, dan bercerita seru tentang pengalaman mereka selama di sana. Namun keriuhan itu terasa begitu jauh dan asing bagi Aletta. Baginya, suasana itu terasa hening dan menyakitkan.
Perlahan, dia turun dari bus dengan langkah yang gontai dan berat. Matanya menyapu ke seluruh penjuru terminal yang ramai itu, mencari-cari sosok yang biasa dia harapkan ada di sana. dia berharap, setidaknya saat ini, Dilan akan ada di sana, menunggunya, dia berharap Tamara akan memanggil namanya dan berlari mendekat seperti biasa. Tapi kenyataannya berbeda.
Dilan tidak terlihat di mana pun. Entah sejak kapan, pemuda itu sudah turun dari bus, seolah menghilang begitu saja ke dalam keramaian terminal. dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Aletta, tidak menoleh ke belakang. dia benar-benar pergi tanpa mengatakan apa pun, seolah Aletta tidak pernah ada di dunianya.
Dan Tamara... Aletta melihatnya berdiri tidak jauh dari situ, Wajah Tamara terlihat lelah dan murung, matanya masih tampak sayu. Saat mata mereka tanpa sengaja bertemu, Aletta buru-buru memalingkan wajahnya dengan cepat.
Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut dan rasa bersalah yang meluap-luap. dia tidak sanggup menatap mata Tamara. Setiap kali melihat wajah sahabatnya itu, dia teringat betapa banyak air mata yang telah diteteskan Tamara karena masalah ini.
Di tengah kekalutan dan kesedihannya itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal memanggil namanya dengan lembut namun tegas.
"Aletta! Aletta, di sini!"
Aletta menoleh dan melihat kedua orang tuanya yang sedang berdiri tidak jauh dari sana, melambaikan tangan dan tersenyum ramah.
dia berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya, lalu langsung memeluk Puspa dengan sangat erat seolah dia menemukan tempat paling aman di dunia ini.
"sayang... Kenapa mata kamu bengkak begini? Kenapa wajah kamu pucat sekali?" bisik Puspa dengan suara lembut sambil membalas pelukan Aletta dan mengelus punggungnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Kamu kenapa, Nak? apa yang terjadi? Ceritakan sama ibu ya..."
Baskara juga mendekat, lalu menepuk bahu Aletta dengan lembut. Wajahnya tampak serius dan khawatir melihat anaknya yang biasanya ceria dan cerah kini berubah menjadi begitu rapuh dan sedih.
"Siapa yang bikin kamu sedih begini, Letta? Bilang sama ayah, ya," kata Baskara dengan nada bicara yang tenang namun tegas.
"Lihat kamu, kurus sekali, matamu sembab... Rasanya sakit hati melihatmu seperti ini. Kamu lelah sekali, ya?".
"Aku lelah, buk... Aku lelah sekali..." isak Aletta akhirnya dengan suara yang terputus-putus dan serak berat.
"Aku merasa bersalah pada Tamara dan Dilan."
Puspa mengusap air mata di pipi Aletta dengan lembut, lalu memegang wajah anaknya agar menatap ke arahnya.
"Dengar ibu ya, Letta... kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kamu sayang. Kalau ada hal yang tidak berjalan baik, itu bukan salahmu. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri seperti ini."
"Betul apa kata ibumu" sambung Baskara dengan nada yang tegas namun lembut.
"Kamu sudah berusaha semampu mu, dan itu sudah lebih dari cukup. Sekarang, lupakan semuanya dulu ya. Kita pulang."
Di sepanjang perjalanan pulang, Aletta hanya diam menatap ke luar jendela, melihat pemandangan jalanan yang berlalu-lalang, namun pikirannya melayang jauh kembali ke kejadian-kejadian yang menyakitkan itu.
Pikirannya terus berputar pada satu hal yang paling membuatnya takut dan cemas Sekolah.
Bagaimana dia menghadapinya besok di sekolah, kembali melihat wajah mereka berdua setiap hari? Bagaimana caranya ia bisa mengangkat kepala dan menatap Tamara dan Dilan lagi?
"Aku tidak mau masuk sekolah, buk..." gumam Aletta pelan, suaranya nyaris tidak terdengar namun terdengar jelas di dalam mobil yang hening itu. Air matanya kembali menetes tanpa suara.
"Aku tidak sanggup menghadapi mereka...."
Di kursi depan, Puspa dan Baskara saling berpandangan dengan wajah sedih dan khawatir. Mereka mengerti betapa beratnya beban yang sedang dipikul oleh anaknya.
"Kalau kamu belum sanggup, jangan dipaksakan dulu, Sayang..." kata Puspa dengan lembut dan pengertian."
Mendengar kata-kata itu, hati Aletta terasa sedikit lebih tenang meskipun rasa sakitnya belum hilang sepenuhnya. dia bersandar pada sandaran kursi, menutup matanya, dan berusaha menenangkan pikirannya yang kacau.
Keesokan paginya, cahaya matahari sudah cukup terang masuk melalui celah jendela kamar Aletta, namun gadis itu masih berbaring diam di atas tempat tidurnya. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang putih polos, namun pikirannya melayang jauh ke mana-mana.
dia mencoba duduk, namun rasanya pusing sekali dan seluruh badannya terasa nyeri serta lelah luar biasa. Bukan hanya lelah fisik, tapi lebih dari itu—lelah batin.
Puspa masuk ke dalam kamarnya Aletta membawanya sarapan " Bagaimana kondisi kamu sekarang udah baikan " Ucap Puspa menatap putrinya yang tengah duduk di meja belajarnya.
"Sudah buk" Ucap Aletta tersenyum walaupun dia tidak masuk sekolah tetapi dia tak lupa belajar mempersiapkan PKL yang sebenar lagi akan dilaksanakan.
"Sayang jangan terlalu di pikiran yah kamu, banyakin istirahat yah jangan terlalu setres nanti kamu sakit" Ucap Puspa menghampiri Aletta di meja belajarnya.
"Iya buk" Ucap Aletta mendengar kata-kata ibunya, hati Aletta terasa sedikit lebih lega. dia mengangguk dan tersenyum tipis, lalu kembali sibuk dengan Buku-bukunya.
tiba-tiba ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya berdering nyaring, memecah keheningan yang mencekam itu. Aletta menoleh perlahan, melihat nama penelepon yang tertera di layar ponselnya Jonathan.
"Halo..." sapanya pelan, suaranya terdengar sangat lemah, serak, dan berat.
Di seberang sana, suara Jonathan terdengar bersemangat seperti biasa, namun perlahan berubah menjadi nada cemas dan khawatir saat ia mendengar suara Aletta yang begitu berbeda dari biasanya.
"Halo, Aletta! kok suaramu terdengar aneh sekali? Lemah dan berat begitu. Kamu kenapa? Kamu sedang sakit atau ada apa?" tanya Jonathan bertubi-tubi dengan nada bicara yang ramah namun penuh perhatian.
"Aku... aku tidak papa kok, Jo. Aku cuma kecapean aja," jawab Aletta
"Yakin cuma kecapean aja" Ucap Jonathan memastikan lagi.
"Iya aku cuma kecapean aja Jo" Ucap Aletta
"kebetulan sekali aku sedang ada di rumah dan sementara libur sekolah dulu."
Jonathan berhenti sejenak, lalu suaranya terdengar lebih bersemangat dan meyakinkan saat dia melanjutkan ucapannya.
"Gimana kalau kita jalan-jalan sebentar saja? Nggak usah pergi jauh-jauh kok, kita cuma keliling kota, cari tempat yang sejuk dan tenang," bujuk Jonathan dengan nada yang lembut namun tegas, seolah ia tidak mau mendengar penolakan dari Aletta.
Aletta terdiam sejenak mendengar ajakan itu. Di satu sisi, dia merasa sangat malas dan takut untuk keluar rumah. Tapi di sisi lain, dia juga merasa sangat kesepian dan bosan.
"Tapi... Ibu mengizinkannya nggak ya? Aku kan sedang sakit, takutnya dia melarang aku keluar rumah," kata Aletta ragu-ragu.
"Tenang saja soal itu! Biar aku yang bicara sama ibu kamu nanti. Tunggu ya, aku segera ke sana sekarang, jangan kemana-mana dulu ya!" seru Jonathan antusias, lalu menutup teleponnya dengan cepat sebelum Aletta sempat menolak lagi.
Dengan semangat baru yang perlahan tumbuh di hatinya, Aletta mengangguk antusias. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mencuci muka, menyisir rambutnya dengan rapi, dan mengenakan pakaian yang nyaman namun sopan dan rapi.
Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Aletta mengintip dari balik jendela, dan segera pamit pada Puspa, lalu berjalan keluar rumah dengan langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Di sekolah, berita bahwa Aletta tidak masuk sekolah dan sedang sakit dengan cepat menyebar ke telinga semua orang. Bagi sebagian orang itu mungkin hal biasa, tapi bagi tiga orang ini—Dilan, Tamara, dan Ruby—berita itu terasa sangat berat dan mengkhawatirkan.
Sejak kembali dari karyawisata kemarin, hati Dilan terasa tidak tenang sama sekali. Bayangan wajah Aletta yang sedih, pucat, dan menghindarinya di terminal bus kemarin terus terbayang jelas di matanya.
Dia ingat betapa dia pergi begitu saja tanpa menyapa atau memastikan keadaan gadis itu, didorong oleh rasa bingung dan rasa bersalah yang luar biasa besarnya. Dia sadar, Dia telah bersikap sangat buruk dan menyakiti hati.
Dan saat mendengar kabar bahwa Aletta sakit dan tidak masuk sekolah hari ini, rasa bersalah itu menjadi berlipat ganda. Di dalam hatinya, dia merasa pasti bahwa sakitnya Aletta saat ini adalah karena ulahnya. Dia merasa dirinya adalah penyebab kesedihan dan penyakit gadis itu.
Karena itulah, sepanjang jam pelajaran di sekolah, pikiran Dilan tidak pernah fokus sedikit pun. Dia terus memikirkan Aletta, memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki semuanya.
Saat jam istirahat kedua tiba, Dilan memberanikan diri mendekati Tamara dan Ruby yang sedang duduk di bangku taman sekolah. Wajahnya tampak serius namun penuh kegelisahan.
"Tamara, Ruby..." panggilnya pelan, membuat kedua gadis itu menoleh kaget. Sejak kejadian di terminal kemarin, Dilan jarang bicara pada mereka, apalagi mendekati mereka duluan.
"Ada apa, Dilan?" tanya Ruby lembut, menyadari kesungguhan di wajah pemuda itu.
Dilan menarik napas panjang, menatap kedua sahabatnya itu bergantian dengan tatapan yang jujur dan menyesal.
"Kalian sudah dengar kan kalau Aletta nggak masuk sekolah karena sakit? Katanya dia demam dan lemas, nggak enak badan sekali," kata Dilan memulai pembicaraan dengan suara yang terdengar khawatir.
Mendengar ucapan Dilan yang begitu tulus dan penuh penyesalan itu, hati Tamara terasa tersentuh. Ia sendiri sebenarnya sudah ingin sekali menjenguk Aletta.
"Gue mau, Dilan. Gue mau ikut," jawab Tamara dengan cepat dan tegas, matanya berkaca-kaca.
Ruby mengangguk setuju dengan wajah yang lembut dan tersenyum haru. "Gue juga ikut. Gue juga khawatir sekali mendengar dia sakit. Kita harus menjenguknya, menghiburnya, dan memastikan dia cepat sembuh."
Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera pergi meninggalkan lingkungan sekolah. Dilan mengendarai sepeda motornya, kali ini dengan tenang dan hati-hati, karena Tamara duduk di belakangnya, sementara Ruby menyusul di belakang ojek online nya.
Akhirnya, mereka sampai di depan pagar rumah Aletta yang tampak asri dan tenang. Dilan mematikan mesin motornya, lalu ketiganya turun dan berdiri sejenak di depan pintu pagar.
Dilan melangkah maju sebagai yang terdepan, lalu menekan bel rumah dengan tangan yang sedikit gemetar. Suara bel berbunyi nyaring di dalam sana. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan tampaklah sosok Puspa yang muncul dengan senyum ramah seperti biasa.
"Selamat siang, Buk..." sapa Dilan dengan sopan dan lembut, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Kami dengar kabar kalau Aletta sedang sakit yah buk, sakit apa" Ucap Dilan
"Iya Dilan cuma letta nya lagi gak ada di rumah" Ucap Puspa setelah mempersilahkan mereka masuk dan duduk.
"Pergi ke mana Buk" Ucap Tamara kali ini dia yang bertanya.
"Dia pergi sama Jonathan" Ucap Puspa.
Tubuh Dilan mematung tangannya mengepal ada hawa panas di sekujur tubuhnya, dia kecewa dengan Aletta disaat sedang sakit dia malah keluyuran dengan laki-laki yang baru saja dia kenal.
"Kalau gitu saya permisi pamit yah Buk" Ucap dilan berpamitan tak lupa dia bersalaman dengan Puspa.
"Dilan tunggu" Ucap Tamara pergi mengejar dilan yang sedang menyalakan kendaraannya.
~back to continuous~