Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
##kembali lagi🤗
Hujan sore itu akhirnya reda, menyisakan udara dingin yang menyelimuti kampus. Tanah yang basah memantulkan cahaya lampu taman, menciptakan suasana yang tenang namun sedikit sendu.
Alya dan Arka masih berdiri di depan perpustakaan.
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.
Seolah tidak ingin merusak momen yang baru saja terasa hangat.
“Alya,” panggil Arka pelan.
Alya menoleh. “Iya, Pak?”
“Sudah malam. Aku antar kamu pulang.”
Alya sedikit ragu. Biasanya ia akan menolak secara halus. Tapi kali ini… ia tidak langsung menjawab. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Arka tersenyum tipis. “Ayo.”
Di sepanjang perjalanan, suasana mobil terasa berbeda. Tidak lagi canggung seperti beberapa hari sebelumnya.
Namun juga belum sepenuhnya kembali seperti dulu. Alya memandang ke luar jendela, melihat lampu jalan yang berjejer.
Sementara Arka sesekali meliriknya, seolah ingin memastikan sesuatu.
“Alya,” ucap Arka akhirnya, memecah keheningan.
“Hmm?”
“Kamu masih menjaga jarak?”
Pertanyaan itu langsung
Jujur...
Alya tersenyum kecil. “Sedikit.”
“Kenapa?”
Alya berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Karena aku nggak mau terlalu cepat merasa… lalu nanti kecewa sendiri.”
Arka mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Hening lagi.
Namun kali ini… terasa lebih ringan.
Sementara itu, di tempat lain Raka duduk sendirian di bangku taman kampus.
Tangannya memainkan ponsel, tapi pikirannya jelas tidak di sana.
Bayangan Alya dan Arka di perpustakaan tadi terus terulang di kepalanya. Ia menghela napas panjang.
“Kenapa sih…” gumamnya pelan.
Ia tahu Sejak awal Alya memang bukan miliknya. Namun melihatnya semakin dekat dengan Arka… tetap terasa berbeda.
Tidak menyenangkan...,
Dan untuk pertama kalinya…
Ia mulai jujur pada dirinya sendiri.
Bahwa perasaannya terhadap Alya…
bukan sekadar teman.
Keesokan harinya, suasana kembali normal.
Alya datang ke kampus seperti biasa. Namun kali ini, langkahnya sedikit lebih ringan. Ia tidak lagi sepenuhnya tenggelam dalam pikirannya.
Raka sudah menunggunya di depan kelas.
“Pagi, Ly,” sapanya.
Alya tersenyum. “Pagi.”
Raka memperhatikannya beberapa detik.
“Kamu kelihatan… beda.”
Alya mengerutkan kening. “Beda gimana?”
“Lebih tenang,” jawab Raka. “Kayak sudah menemukan sesuatu.”
Alya tersenyum kecil, tapi tidak menjawab.
Raka menunduk sejenak.
Lalu berkata
“Ly… aku boleh tanya sesuatu?”
Alya mengangguk.
“Kamu… serius sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam.
Ia tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mempertimbangkan jawabannya.
“Aku… nggak tahu,” ucapnya pelan.
Raka tersenyum tipis. “Atau kamu sudah tahu… tapi belum berani mengakuinya?”
Alya menatapnya.
Ada sesuatu dalam nada suara Raka hari ini yang berbeda.
Lebih dalam.....
Lebih personal....
“Kenapa kamu nanya begitu?” tanya Alya.
Raka menghela napas pelan.
“Karena aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena perasaan yang sama. Tapi karena ia tidak pernah menyangka… Raka akan mengatakan itu.
“Rak…”
“Aku tahu ini terlambat,” potong Raka cepat. “Dan aku juga tahu posisi aku dari awal.”
Ia tersenyum kecil, tapi ada luka di sana.
“Tapi aku nggak bisa terus pura-pura kalau semua ini biasa aja.”
Alya tidak tahu harus menjawab apa.
Semua terasa tiba-tiba.
“Maaf kalau ini bikin kamu nggak nyaman,” lanjut Raka. “Aku cuma… pengen kamu tahu.”
Hening.
Suasana di antara mereka berubah. Tidak lagi sesederhana sebelumnya. Di sisi lain, Arka berdiri di depan jendela ruang dosen.
Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh.
Ia merasakan perubahan pada Alya. Bukan menjauh sepenuhnya. Tapi juga belum sepenuhnya kembali dan itu membuatnya tidak tenang.
Seorang dosen lain sempat menyapanya, tapi Arka hanya menjawab singkat. Fokusnya tetap pada satu hal yaitu
Alya....
Dan bagaimana caranya agar ia tidak kehilangan kesempatan ini.
Sore hari, Alya kembali duduk di taman kampus tempat yang selalu menjadi saksi berbagai perasaannya. Namun kali ini, hatinya benar-benar penuh.
Tentang Arka.....
Tentang Raka....
Tentang dirinya sendiri....
“Alya.”
Suara itu membuatnya menoleh.
Arka.
Ia datang Seperti biasa Namun hari ini terasa berbeda.
“Aku boleh duduk?” tanyanya.
Alya mengangguk pelan.
Mereka duduk berdampingan diam beberapa saat.
lalu Arka berkata
“Kamu terlihat banyak pikiran.”
Alya tersenyum kecil. “Kelihatan ya?”
Arka mengangguk.
“Ada yang ingin kamu ceritakan?”
Alya ragu.
Sangat ragu, Namun entah kenapa ia merasa ingin jujur.
“Kalau ada dua orang… yang sama-sama baik,” ucapnya pelan, “tapi kita harus memilih satu… itu gimana?”
Arka sedikit terkejut.
Namun ia tetap tenang.
“Perasaanmu ke mereka sama?”
Alya menggeleng. “Nggak…”
“Lalu kenapa bingung?”
Alya menunduk.
“Karena yang satu… selalu ada sejak awal. Dan yang satu lagi… datang perlahan, tapi bikin semuanya berubah.”
Arka terdiam..Ia mengerti tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.
“Dan kamu tidak ingin menyakiti keduanya,” ucapnya.
Alya mengangguk pelan.
Hening.
Lama...
“Alya,” kata Arka akhirnya, “kamu tidak bisa menghindari itu.”
Alya menatapnya.
“Memilih berarti pasti ada yang terluka.”
Kalimat itu terasa berat tapi nyata.
Senja mulai turun. Langit berubah jingga.
Dan di antara keheningan itu…
Alya mulai sadar.
Bahwa apa pun yang ia pilih nanti akan mengubah segalanya.
maaf lancang🙏🙏🙏