Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keheningan di dalam penthouse terasa mencekam setelah panggilan telepon dengan Zayed berakhir. Anindya duduk di tepi ranjang, jemarinya masih bergetar hebat.
Bayangan Kenzo yang tertawa di tengah kerumunan Dubai Mall seolah terus menghantuinya. Ia merasa seolah-olah udara di Dubai yang tadinya terasa segar, kini mulai terkontaminasi oleh kehadiran pria itu.
Di belahan kota yang lain, tepatnya di sebuah kantor dengan dinding kaca yang menghadap ke arah pelabuhan Jebel Ali, Zayed Al-Maktoum tidak sedang bersantai. Di depannya, tiga layar monitor besar menampilkan rekaman CCTV dari area Downtown Dubai.
"Perbesar bagian ini," perintah Zayed dingin.
Layar menunjukkan sosok Kenzo yang sedang berjalan bersama Valerie. Wajah Kenzo terpampang jelas, tajam, licik, dan penuh obsesi. Zayed memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu dengan tatapan predator yang telah menemukan mangsanya.
"Namanya Kenzo Praditya. Dia masuk menggunakan visa turis dengan sponsor dari wanita di sampingnya, Valerie. Mereka menginap di Burj Al Arab," lapor kepala keamanan Zayed, seorang mantan agen intelijen bernama Omar.
Zayed menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mahal. Senyum tipis namun mengerikan tersungging di bibirnya.
"Dia pikir dia bisa membawa kegilaannya ke tanahku? Dia salah besar. Perketat penjagaan di penthouse Dian. Gunakan tim alfa. Pastikan Elang tidak keluar dari perimeter tanpa sepuluh pengawal yang menyamar."
"Lalu, apa rencana Anda terhadap pria ini, Tuan?" tanya Omar.
Zayed mengambil sebuah cerutu, namun tidak menyalakannya. "Kenzo sangat mencintai kekuasaan dan kebebasan. Mari kita ambil keduanya. Dubai punya hukum yang sangat ketat terhadap barang-barang terlarang. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi debu di penjara Al-Awir."
Zayed memberikan instruksi singkat namun mematikan. "Atur agar salah satu pelayan di hotel mereka meletakkan bingkisan kecil di jas cadangannya atau di saku celananya saat dia sedang makan malam. Pastikan barang itu cukup untuk membuatnya membusuk di sana selama bertahun-tahun. Dan Omar... lakukan dengan rapi."
Namun, Anindya yang masih diliputi kecemasan, meraih ponselnya kembali. Hanya ada satu orang yang bisa ia percayai sepenuhnya mengenai situasi di Jakarta, yaitu Bimo.
Panggilan tersambung pada nada ketiga. "Bimo? Ini aku."
"Anin? Ada apa? Suaramu terdengar sangat panik," sahut Bimo dari seberang sana. Suara bising jalanan Jakarta terdengar di latar belakang.
"Bimo, Kenzo ada di Dubai. Aku melihatnya dengan mataku sendiri di mal satu jam yang lalu," ucap Anindya dengan suara tertahan.
Hening sejenak di ujung telepon. Bimo terdengar sangat terkejut. "Apa?! Itu tidak mungkin, Anin. Rekening pribadinya masih diblokir total oleh ayahnya. Dia seharusnya tidak punya akses untuk terbang ke luar negeri, apalagi ke Dubai!"
"Dia bersama seorang wanita. Cantik, modis, pirang kecokelatan..." lanjut Anindya.
"Wanita?" Bimo mendesis. "Brengsek! Dia pasti Valerie... Valerie adalah putri dari keluarga pemilik kontraktor terbesar di Jakarta. Dia mantan kekasih Kenzo yang dulu dicampakkannya begitu saja. Rupanya Kenzo kembali menjilat ludahnya sendiri. Dia pasti memanipulasi Valerie untuk membiayai perjalanannya dan menyewa detektif."
Anindya memejamkan mata, memijat keningnya. "Jadi dia benar-benar menggunakan wanita lain untuk mengejarku. Bimo, aku takut dia akan melakukan hal nekat."
"Dengar, Anin. Kau punya Zayed di sana. Gunakan perlindungannya. Aku akan mencoba menghubungi ayah Kenzo di London. Jika orang tua itu tahu putranya menggunakan uang keluarga lain untuk melakukan kegilaan ini, dia akan menghabisi Kenzo sendiri. Tetaplah aman, Anin. Jangan keluar rumah."
"Terima kasih, Bimo. Tolong cari tahu lebih banyak tentang pergerakan mereka di Jakarta."
~~
Keesokan paginya, suasana di penthouse sedikit lebih santai, meskipun Anindya tahu ada pengawal bersenjata yang kini berjaga di setiap sudut tersembunyi. Zayed datang lebih awal, kali ini ia tidak membawa koki, melainkan sebuah kotak besar berisi kostum pahlawan super untuk Elang.
"Paman Zayed!" Elang berlari menghampiri Zayed, memeluk kaki pria itu.
"Hai, Jagoan. Paman dengar kemarin ada orang jahat yang membuat ibumu takut? Tenang saja, Paman sudah mengirim robot unta rahasia untuk menangkapnya," ucap Zayed sembari menggendong Elang.
Anindya mendekat, mencoba tersenyum meskipun hatinya masih berdegup kencang. "Robot unta rahasia? Kau benar-benar pandai mengarang cerita, Zayed."
Zayed menatap Anindya, memberikan isyarat lewat matanya bahwa semuanya terkendali. "Terkadang kebenaran harus dibungkus dengan dongeng agar anak kecil tidak merasa takut, Dian. Elang, coba pakai kostum ini. Kau harus jadi pelindung ibu hari ini, oke?"
"Oke!" Elang berlari ke kamarnya dengan penuh semangat.
Saat Elang pergi, wajah Zayed berubah serius. Ia mendekati Anindya, memegang kedua pundaknya. "Semuanya sudah siap. Malam ini, Kenzo akan merayakan keberhasilannya sampai di Dubai di sebuah restoran mewah. Tapi, dia tidak akan pernah sampai ke makanan penutupnya."
Anindya menatap mata cokelat gelap Zayed. "Apa yang kau lakukan, Zayed?"
"Hanya sedikit pembersihan, Dian. Aku tidak suka ada kotoran yang mencoba masuk ke rumahku. Besok pagi, kau akan membaca berita tentang seorang turis Indonesia yang tertangkap membawa barang terlarang di saku jasnya. Dia akan segera dipindahkan ke penjara gurun yang paling kejam. Tidak ada pengacara, tidak ada Valerie, dan tidak ada pengampunan."
Anindya merasa haru sekaligus ngeri. Ia baru menyadari betapa kuatnya pria yang kini menjadi pelindungnya. "Zayed... terima kasih."
"Jangan berterima kasih, aku melakukan ini semua untuk melindungimu dan Elang."
~~
Di sebuah restoran mewah yang menghadap The Palm, Kenzo duduk dengan angkuh. Ia mengenakan jas biru tua yang sangat mahal. Di depannya, Valerie tampak cantik namun mulai merasa bosan dengan sikap Kenzo yang terus-menerus menatap ponselnya.
"Ken, kau bahkan tidak menyentuh minumanmu. Apa yang kau cari di ponsel itu?" tanya Valerie kesal.
"Diamlah, Lerie. Aku sedang menunggu kabar penting," bentak Kenzo tanpa menoleh.
Tiba-tiba, empat pria berpakaian seragam polisi Dubai masuk ke dalam restoran dengan langkah tegap. Pengunjung restoran terdiam. Para polisi itu langsung menuju meja Kenzo.
"Tuan Kenzo Praditya?" tanya salah satu petugas dengan nada dingin.
Kenzo mendongak, wajahnya menunjukkan kebingungan sekaligus kemarahan. "Iya, ada apa?"
"Kami memiliki laporan tentang aktivitas ilegal. Mohon berdiri untuk pemeriksaan," perintah petugas itu.
Kenzo tertawa meremehkan. "Ilegal? Ini pasti salah paham! Aku turis VIP di sini!"
Namun, saat petugas itu menggeledah saku jas Kenzo, ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil berisi serbuk putih yang sangat dilarang di Dubai. Mata Kenzo membelalak. Jantungnya hampir copot.
"Apa itu?! Itu bukan milikku! Ada yang menjebakku!" teriak Kenzo histeris.
Valerie menjerit ketakutan, menutup mulutnya dengan tangan. "Ken? Apa yang kau lakukan?!"
"Lerie, bantu aku! Ini jebakan!" raung Kenzo saat tangannya mulai diborgol dengan kasar.
Petugas itu tidak mendengarkan. Mereka menyeret Kenzo keluar dari restoran di depan mata semua orang kaya Dubai. Kenzo meronta-ronta, wajahnya yang tadi angkuh kini berubah menjadi penuh ketakutan yang menjijikkan.
Dari kejauhan, di dalam sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap, Zayed dan Anindya menyaksikan adegan itu. Anindya melihat pria yang selama ini menjadi momok menakutkan baginya kini diseret seperti binatang.
"Sudah berakhir, Dian," bisik Zayed lembut, menggenggam tangan Anindya.
Anindya menyandarkan kepalanya di bahu Zayed. Air mata haru jatuh di pipinya. Arlan benar, masa depannya bukan hanya uang, tapi juga keberanian untuk membebaskan diri. Dan di samping Zayed, Anindya tahu bahwa maut yang dikirim Kenzo justru menjemput tuannya sendiri.
Dubai tetap gemerlap, namun bagi Kenzo, malam itu adalah awal dari kegelapan abadi di sel gurun yang tidak akan pernah melepaskannya.
...----------------...
To Be Continue ....
**Hay para pembaca setia 'Turun Ranjang' karya ini sudah mencapai bab 20 nya yaa...**
**Miss Ra mohon dukungan kalian semua agar bisa masuk bab 20 terbaiknya, miss Ra sudah menyiapkan hadiah buat kalian yang selalu setia membaca karya miss ra di akhir bulan Mei...**
**Siapkan diri kalian untuk mendapat kejutan hadiah dari Miss Ra di akhir bulan Mei nanti yaa...**
**Oke, selamat membaca semuanya, semoga suka dengan ceritanya, iloveu sekebon buat kalian semua... 😘**
**See You**.