"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Seorang Anak di Ambang Utang
Suara jangkrik di luar rumah kayu itu seolah tenggelam oleh debar jantung Naira yang tak keruan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu kuning temaram, sosok Tuan Tommy duduk dengan angkuh. Pria berusia 50 tahun itu menyandarkan tubuh tambunnya di kursi rotan, sambil sesekali mengembuskan asap rokoknya ke udara.
"Jadi gimana, Pak Tris? Utangmu itu sudah menumpuk hampir seratus juta. Kalau bulan ini nggak lunas, sawah itu terpaksa saya ambil," suara Tuan Tommy berat dan penuh penekanan. Matanya yang sipit menatap Naira dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan lapar.
Pak Sutrisno menunduk dalam, tangannya yang kasar karena mencangkul gemetar hebat. "Nyuwun sewu, Tuan... saya benar-benar belum punya uang sebanyak itu. Panen kemarin gagal total karena wereng."
Tuan Tommy terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gampang sebenarnya. Saya butuh istri keempat untuk menemani saya di hari tua. Naira ini ayu, eman-eman kalau cuma jadi anak desa. Kalau dia mau saya nikahi, utangmu saya anggap lunas. Bersih!"
"Mboten! Saya tidak setuju!" Pak Sutrisno mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Naira itu masih muda, Tuan. Saya tidak akan mengorbankan anak saya sendiri hanya demi uang!"
Naira yang berdiri di balik tirai dapur meremas ujung bajunya. Jantungnya serasa mau copot. Istri keempat? Yang benar saja, batinnya ketakutan.
Namun, di luar dugaan, Ibu Sulastri justru melangkah maju dari dapur sambil membawa nampan teh. Wajahnya yang biasanya layu kini tampak bersemangat.
"Lha mbok ya jangan kaku begitu, Pak!" sela Bu Sulastri sambil meletakkan teh di depan Tuan Tommy dengan gerakan yang dibuat-buat manis. "Naira, sini kamu, Nduk! Jangan sembunyi saja."
Naira melangkah ragu, kepalanya tertunduk. "Ada apa, Bu?"
"Ini lho, Tuan Tommy yang baik hati mau menolong keluarga kita. Kamu itu bakal jadi nyonya, Nduk. Nggak usah lagi panas-panasan di sawah atau bantu Ibu menjahit sampai malam. Hidupmu bakal mulia, bisa beli apa saja yang kamu mau," ucap ibunya dengan mata berbinar penuh ambisi. Bagi Bu Sulastri, kemiskinan adalah penjara, dan Tuan Tommy adalah kuncinya.
"Tapi Bu... Naira nggak mau. Naira masih ingin kuliah," bisik Naira lirih, air matanya mulai menggenang.
"Halah, kuliah buat apa? Ujung-ujungnya ya cari uang. Ini uang sudah ada di depan mata!" sergah ibunya tajam, seolah tak peduli pada kehancuran hati anaknya sendiri.
Tuan Tommy berdiri, mendekati Naira, lalu mencolek dagu gadis itu dengan kasar. Aroma parfumnya yang menyengat membuat Naira mual.
"Pikirkan baik-baik, Cah Ayu. Besok saya datang lagi bawa surat pelunasan utang... sekaligus mas kawin buat kamu."
Suasana di ruang tamu yang sempit itu seketika berubah mencekam. Tuan Tommy yang tadinya bicara pelan dengan nada merayu, tiba-tiba menggebrak meja kayu di depannya hingga cangkir teh pemberian Bu Sulastri terguncang hebat.
"Lha kok malah tawar-menawar! Kamu pikir utangmu itu recehan, Pak Tris?" bentak Tuan Tommy. Wajahnya yang kemerahan karena amarah tampak semakin menakutkan di bawah lampu temaram.
Pak Sutrisno tersentak, bahunya merosot. "Nyuwun sewu, Tuan... tapi Naira itu anak saya satu-satunya yang perempuan. Saya tidak tega kalau dia harus jadi istri keempat."
Tuan Tommy berdiri, menatap Pak Sutrisno dengan pandangan menghina. "Halah, tidak usah sok idealis! Kamu itu cuma petani miskin. Kamu mau bayar pakai apa? Pakai gabah busukmu itu?"
Ia kemudian beralih menatap Naira yang gemetar di sudut ruangan. Tatapannya tajam dan penuh ancaman. "Dengar ya, Cah Ayu. Saya kasih waktu satu bulan. Satu bulan saja! Kalau dalam waktu itu utang bapakmu tidak lunas, jangan salahkan saya kalau saya datang ke sini bukan lagi untuk melamar, tapi mengambil kamu secara paksa!"
"Tuan, tolong jangan begitu..." rengek Bu Sulastri mencoba menenangkan, namun Tuan Tommy sudah tidak peduli.
"Diam kamu! Urusi suamimu yang keras kepala itu!" Tuan Tommy memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang bertubuh besar dan berwajah sangar yang sejak tadi berjaga di depan pintu.
Dengan langkah kasar, Tuan Tommy melangkah keluar dari rumah reyot itu. Suara sepatu pantofelnya beradu dengan lantai tanah, meninggalkan debu yang beterbangan. Anak buahnya sempat memberikan tatapan mengancam kepada Pak Sutrisno sebelum akhirnya menyusul bos mereka masuk ke dalam mobil SUV hitam yang terparkir angkuh di depan halaman rumah yang ditumbuhi rumput liar.
Deru mesin mobil itu menjauh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam rumah.
Naira luruh ke lantai, tangisnya pecah. "Bapak... Ibu... Naira takut."
Pak Sutrisno segera memeluk putrinya, air matanya sendiri jatuh membasahi rambut Naira. "Maafkan Bapak, Nduk. Bapak tidak becus jaga kamu."
Namun, di sisi lain, Bu Sulastri justru berkacak pinggang. "Sudahlah, Pak! Jangan cengeng begitu. Satu bulan itu cepat. Daripada kita jadi gembel karena sawah disita, mending Naira menurut saja. Toh, Tuan Tommy itu kaya raya. Kita semua bakal senang!"
Naira mendongak, menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. Hatinya hancur berkeping-keping. Di saat ayahnya berusaha melindunginya, ibunya justru sudah siap menjualnya demi kemewahan semu.
(Naira duduk di ranjang kamarnya)
"Aku pernah membaca, bahwa 'lepaskanlah, maka besok lusa kamu akan menerima kabar baik yang tidak terduga.' Tapi Tuhan... bagaimana aku bisa melepaskan, jika yang terenggut dariku adalah kebebasanku sendiri?
Apakah ini yang dinamakan takdir? Kata orang, 'hidup ini adalah perjalanan panjang, dan tidak ada satu pun kejadian yang sia-sia.' Namun, melihat Ayah yang menunduk tak berdaya dan Ibu yang matanya buta oleh kilauan harta, aku merasa perjalanan ini hanya menuju sebuah jurang.
Aku ingin sekali percaya bahwa 'hati yang tulus akan selalu menemukan jalan pulang.' Tapi sekarang, ke mana aku harus pulang? Rumah yang seharusnya menjadi pelindung, kini menjelma menjadi pasar tempat aku ditawar dengan harga seratus juta. Sawah yang dulu hijau, kini menguning karena utang.
Apa salahnya menjadi anak desa? Apa salahnya memiliki mimpi untuk kuliah? Bukankah 'bekerja keras dan selalu berprasangka baik pada takdir' adalah kunci? Tapi malam ini, takdir terasa begitu kasar mencengkeram daguku dengan aroma parfum yang menyesakkan dada.
Tuan Tommy mengira dia bisa membeliku. Ibu mengira dia bisa menjual lukaku. Mereka lupa, bahwa 'ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu harga diri dan keteguhan hati.' Meski tubuhku mungkin terkurung di rumah mewah itu nanti, jiwaku akan tetap menjadi milik pematang sawah dan cita-cita yang belum tuntas.
Satu bulan. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah kebebasan, namun cukup lama untuk sebuah doa. Jika benar 'kesabaran itu tidak ada batasnya', maka biarkan aku menguji batasan itu sekarang. Karena aku tahu, pada akhirnya, 'hanya pohon yang akarnya kuat yang tetap tegak berdiri meski badai hebat menghantam