NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing

Sore itu memang berakhir, tetapi rasanya tidak benar-benar menutup apa pun yang sudah terjadi. Airel Virellia berjalan pulang dengan ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya, melewati trotoar yang sudah terlalu ia kenal, melewati deretan toko dan kendaraan yang datang dan pergi tanpa menarik perhatiannya. Dari luar, tidak ada yang berubah, tidak ada yang menunjukkan bahwa sesuatu baru saja mengguncang pikirannya. Namun di dalam dirinya, semuanya terasa bergeser pelan, seperti ada bagian yang tidak kembali ke tempat semula.

Langkahnya tetap teratur, tetapi pikirannya tertinggal jauh di belakang. Ia masih melihat halte itu, bangku yang ia duduki, dan sosok yang berdiri tidak jauh darinya. Momen ketika tatapan mereka bertemu terus berulang, tidak memudar seperti kenangan biasa. Justru semakin jelas, semakin terasa nyata setiap kali ia mencoba mengingatnya kembali.

Airel menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, mencoba merapikan sesuatu yang terasa tidak beraturan. Ia menunduk sedikit saat berjalan, membiarkan rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Di dalam kepalanya, ia terus mengulang satu kalimat yang terdengar paling masuk akal.

Itu cuma kebetulan.

Kalimat itu sederhana dan mudah diterima, seolah bisa menjelaskan semua yang ia rasakan. Ia mengulangnya lagi, mencoba menanamkan keyakinan yang sama seperti biasanya saat ia menenangkan diri. Ia bahkan mengangguk kecil, seolah membenarkan pikirannya sendiri agar tidak berlarut lebih jauh.

“Iya… cuma kebetulan,” gumamnya pelan.

Namun begitu langkahnya melambat dan tidak ada lagi distraksi di sekitarnya, bayangan itu kembali muncul dengan lebih jelas. Cara pria itu berhenti, cara matanya menangkap sesuatu, dan jeda singkat yang terasa terlalu lama untuk disebut kebetulan. Airel mengerutkan kening, tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung baju dengan lebih kuat.

Kalau itu memang kebetulan, kenapa rasanya seperti itu.

Pertanyaan itu muncul tanpa izin, mengikis perlahan keyakinan yang baru saja ia bangun. Ia mencoba menepisnya, mencoba mengalihkan perhatian pada hal lain, tetapi tidak ada yang cukup kuat untuk menutupnya. Perasaan itu tetap ada, bertahan, dan bahkan terasa semakin jelas setiap detik berlalu.

Airel memejamkan mata sejenak saat berhenti di depan rumahnya. Ia berdiri sedikit lebih lama dari biasanya, tidak langsung membuka pintu seperti rutinitas yang selalu ia lakukan. Ada jeda kecil yang terasa aneh, seperti ia masih menunggu sesuatu yang tidak ia pahami. Namun tidak ada apa-apa, hanya suara malam yang mulai mengambil alih suasana.

Ia akhirnya masuk, menjalani aktivitas malam seperti biasa tanpa banyak perubahan. Makan dengan tenang, menjawab pertanyaan seperlunya, lalu masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Semua terlihat normal, tidak ada yang berbeda dari luar. Namun begitu pintu kamar tertutup, ketenangan itu langsung runtuh.

Airel duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit condong ke depan. Ia menatap lantai tanpa fokus, membiarkan pikirannya kembali ke satu titik yang sama. Halte itu, sosok itu, dan perasaan yang terus mengikutinya sejak sore tadi. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang sudah kembali normal namun tidak benar-benar tenang.

“Aneh…” bisiknya pelan.

Ia berbaring perlahan, menatap langit-langit kamar yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Biasanya, di jam seperti ini, ia akan kembali memikirkan masa lalu, pada janji yang membuatnya terus datang ke tempat itu. Namun malam ini berbeda. Yang muncul bukan lagi bayangan lama, melainkan wajah seseorang yang baru saja ia lihat.

Wajah yang asing, tetapi terasa dekat dengan cara yang sulit dijelaskan.

Airel memejamkan mata, mencoba menghapusnya, mencoba kembali ke keadaan sebelumnya. Ia mengulang kalimat itu lagi, berusaha mempertahankan logika yang masih ia pegang.

Itu cuma kebetulan.

Ia mengatakannya berkali-kali di dalam hati, tetapi setiap pengulangan justru membuat kalimat itu kehilangan maknanya. Seolah kata-kata itu tidak lagi cukup kuat untuk menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan.

Sementara itu, di tempat lain, seseorang juga tidak benar-benar bisa melanjutkan malamnya dengan tenang.

Zev berjalan menyusuri jalan yang sama, langkahnya stabil dan terukur seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan dari cara ia bergerak, tidak ada tanda bahwa pikirannya terganggu. Namun di balik sikap itu, ada sesuatu yang mengusik, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Ia berhenti sejenak.

Hanya satu langkah.

Lalu menoleh ke belakang.

Gerakan itu terjadi tanpa ia rencanakan, seperti refleks yang muncul sebelum ia sempat berpikir. Tatapannya kembali ke arah halte itu, ke tempat yang baru saja ia lewati. Namun yang ia lihat hanya pemandangan biasa, orang-orang yang tidak ia kenal, dan suasana yang tidak berbeda dari jalan lainnya.

Zev mengerutkan kening pelan.

Ada sesuatu yang terasa tidak tepat.

Ia tidak tahu apa.

Ia tidak tahu kenapa.

Namun perasaan itu tetap ada, tipis tapi cukup mengganggu.

Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri, mencoba menganggap semuanya sebagai hal sepele. Mungkin hanya pikiran yang lelah, mungkin hanya perasaan sesaat yang tidak berarti. Ia kembali melangkah, berusaha melanjutkan tanpa memikirkan hal itu lagi.

Namun beberapa detik kemudian, ia menoleh lagi.

Kali ini lebih cepat, seolah ada dorongan yang tidak bisa ia kendalikan. Tatapannya kembali mencari sesuatu yang bahkan tidak ia pahami. Namun hasilnya tetap sama, tidak ada yang berubah, tidak ada yang menjelaskan apa yang ia rasakan.

“Apa sih…” gumamnya pelan.

Ia berdiri sedikit lebih lama sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Tidak ada alasan untuk berhenti, tidak ada alasan untuk terus memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya, tetapi kali ini ritmenya sedikit berbeda.

Tidak terlalu mencolok, namun cukup untuk ia sadari sendiri.

Kembali ke Airel, malam terus berjalan tanpa menunggu siapa pun. Ia masih terjaga di tempat tidur, menatap ke arah yang sama tanpa benar-benar melihat. Pikirannya terus berputar, mencoba menyusun potongan yang tidak lengkap, mencoba memahami sesuatu yang belum bisa ia pahami.

Ia mengangkat tangannya, menutup matanya perlahan, lalu mengingat kembali momen itu. Cara pria itu berhenti, cara tatapan mereka bertemu, dan bagaimana semuanya terasa berbeda dalam satu detik yang singkat.

Dan semakin ia mengingatnya, semakin jelas satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Perasaan itu bukan hanya miliknya.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang datang dari sisi lain.

Airel menarik napas dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya sebelum menghembuskannya perlahan. Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia membuka matanya, menatap langit-langit dengan pikiran yang tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia masih mengingat janji lama itu, masih menyimpan keyakinan yang selama ini ia pegang. Namun sekarang, ada sesuatu yang baru yang mulai masuk ke dalam ruang yang sama.

Sesuatu yang tidak ia rencanakan.

Sesuatu yang tidak ia tunggu.

Namun kini tidak bisa ia abaikan.

Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua orang yang tidak saling mengenal membawa perasaan yang serupa. Tidak besar, tidak jelas, tetapi cukup untuk mengganggu ketenangan yang selama ini mereka miliki. Dan tanpa mereka sadari, sesuatu yang selama ini berjalan sendiri-sendiri perlahan mulai bergerak ke arah yang sama, mendekat dengan cara yang tidak bisa dihentikan.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!