[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahaya? #03
Lingxi menyilangkan dua jarinya di depan bibir. Cahaya biru jernih mulai berpendar dari pergelangan tangannya, membentuk aliran air yang berputar cepat mengelilingi tubuhnya. Tanpa ragu, ia melesat maju. Langkah kakinya meninggalkan jejak air di atas tanah saat ia berlari menerjang ke arah Monster Roh Serigala Arwah Bertanduk Api.
Melihat mangsanya mendekat, sang Serigala Arwah tidak tinggal diam. Ia mengangkat cakar raksasanya yang diselimuti api hitam kemerahan. Saat cakar itu diayunkan di udara, muncul tebasan energi berwarna merah pekat beraroma darah segar yang begitu menyengat. Bau menyengat itu meledak di udara, menyerang indra penciuman Lingxi dengan paksa.
Lingxi terbatuk sembari menutup hidung dengan satu tangan. "Ugh ... bau ini! Sial, mataku ...!" celetuknya dengan perasaan dongkol.
Pandangan Lingxi seketika mengabur. Dunia di sekitarnya seolah berputar dan menjadi ganda. Di saat konsentrasinya terganggu, Serigala Arwah itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Monster itu menghilang di balik kabut dan tiba-tiba muncul tepat di belakang Lingxi, berdiri di antara sang gadis dan kubah pelindung Shen Zhengtian.
ROAAAAARRRR!!!
Raungan monster itu meledak dengan frekuensi tinggi, menciptakan gelombang kejut yang menghantam permukaan Perisai Absolut Naga Keabadian. Perisai biru itu bergetar hebat dan memunculkan retakan-retakan kecil di permukaannya.
Cakar tajam sang Serigala Arwah menyambar dari belakang, mengarah tepat ke punggung Lingxi dengan niat mencabik tubuhnya menjadi dua. Namun, sesaat sebelum kuku-kuku hitam itu menyentuh kulitnya, tubuh Lingxi tidak mengeluarkan darah.
"Teknik Pertama, Lilitan Air!" Lingxi langsung merapalkan teknik pertama.
Tubuh Lingxi perlahan menembus, berubah menjadi massa cair yang transparan. Alih-alih daging dan tulang, cakar monster itu hanya menembus aliran air yang dingin. Dalam hitungan detik, sosok Lingxi meluruh, meleleh ke permukaan tanah, dan menghilang sepenuhnya dari pandangan mata telanjang.
Sedangkan, Monster Roh Liar meraung kebingungan, menoleh ke kiri dan kanan dengan mata merahnya yang liar. Serigala itu menghantamkan cakarnya ke tanah dengan frustrasi, namun yang ia temukan hanyalah genangan air sisa teknik Lingxi. Ia kehilangan jejak mangsanya di tengah kabut yang ia ciptakan sendiri.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Hening mencekam kembali menyelimuti area itu selama beberapa detik. Hanya suara tetesan air dari daun pinus yang terdengar. Sang monster berputar-putar di tempat, mengendus udara dengan rakus. Sementara di sudut-sudut bayangan hutan, saat tubuh gadis itu meleleh menjadi air, Lingxi tidak sekadar menghilang. Ia bergerak dalam bentuk molekul air yang sangat halus, melesat masuk melalui lubang pernapasan sang Serigala Arwah saat monster itu sedang meraung kebingungan.
Di dalam lorong gelap tubuh monster itu, aliran air Lingxi bergerak seperti belut yang meluncur cepat. Ia menelusuri meridian energi yang dipenuhi api hitam, menerobos masuk hingga ke pusat rongga perut—tempat energi intinya berada.
"Aku tidak punya banyak waktu. Perisai Zhengtian mulai melemah ... aku harus menghancurkan sumber kekuatannya dari dalam!"
Begitu sampai di depan sebuah bola cahaya merah membara yang berdenyut—Dantian sang monster—Lingxi memanifestasikan wujudnya kembali dalam bentuk cair. Lingxi bergegas membentuk segel tangan di telapak tangannya. "Seni Pemisah Raga, Dua Jiwa Satu Aliran!"
SHUUT!!
Massa air itu membelah diri menjadi dua sosok identik. Sosok bayangan pertama segera meluncur, melilit Dantian yang panas itu seperti tentakel air yang dingin. Aliran Qi hitam yang sudah mencoba keluar dari Dantian tersebut seketika membeku dan terhenti. Sang Serigala Arwah di luar sana tiba-tiba mematung, matanya terbelalak karena aliran energinya terputus total secara mendadak.
Sosok Lingxi yang asli berdiri tegak di depan Dantian yang sudah terkunci itu. Cahaya perak mulai menyelimuti kedua kepalan tangannya, membentuk aura bulat menyerupai bulan purnama yang bersinar terang benderang, menerangi seluruh isi perut sang monster.
"Terimalah ini karena telah mengganggu perjalanan kami! Teknik Kedua, Delapan Belas Pukulan Penghancur Rembulan!"
BOOM! BOOM! BOOM!
Lingxi melancarkan rangkaian pukulan dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Setiap hantaman menciptakan gelombang kejut yang meretakkan permukaan Dantian. Pukulan Pertama, merobek lapisan pelindung inti. Pukulan Kesepuluh, menghancurkan keseimbangan energi. Pukulan Kedelapan Belas, pukulan yang menyatukan seluruh tenaga dalam Lingxi.
"HANCURLAH!!!"
Dantian tersebut meledak menjadi serpihan cahaya yang sia-sia. Di luar, Serigala Arwah Bertanduk Api itu memuntahkan darah hitam yang kental. Seluruh bulunya yang tadinya menyala kini meredup dan rontok. Ledakan cahaya perak menembus punggung monster itu, dan Lingxi melesat keluar dari sana dengan sangat elegan—mendarat dengan putaran tubuh yang sempurna di depan perisai Shen Zhengtian.
Monster roh seribu tahun itu mengeluarkan rintihan terakhir sebelum tubuh raksasanya ambruk, menimbulkan debu yang beterbangan. Napas Lingxi sedikit memburu, sementara cahaya kebiruan di tangannya perlahan memudar.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Lingxi berdiri sejenak, menenangkan aliran energinya yang masih bergejolak. Dengan lambaian tangan yang anggun, partikel cahaya biru safir dari Perisai Absolut Naga Keabadian terbang kembali ke telapak tangan Lingxi—menyatu ke dalam tubuhnya dalam sekali sedot. Begitu perisai menghilang, ia langsung berlari terburu-buru hingga hanfunya seringkali tersangkut semak-semak.
Lingxi berlutut di samping Shen Zhengtian, segera menempelkan jarinya ke ulu hati pemuda itu untuk memeriksa sirkulasi energinya.
Lingxi mengerutkan dahi, dengan ekspresi penuh keheranan. "Aneh, bagaimana bisa Dantian seorang kultivator hebat sepertinya menjadi kosong melompong dalam sekejap? Bahkan tidak ada sisa Qi sedikit pun yang tertinggal."
Ia menatap wajah Shen Zhengtian yang masih terlelap tenang. Lingxi menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, lupakan itu. Tempat ini masih berbahaya. Bau darah monster ini akan mengundang pemangsa lain."
Lingxi mencoba mengangkat bahu Shen Zhengtian, namun kepalanya justru terkulai lemas ke dadanya. Ia mencoba teknik menggendong di punggung, namun baru saja ia berdiri, lututnya gemetar hebat. Tubuh tinggi Shen Zhengtian yang tegap dan padat sama sekali tidak sebanding dengan postur Lingxi yang ramping nan mungil.
"B-berat sekali! Apa yang dia makan setiap hari?! Apa dia mengonsumsi gajah sebagai camilan?!" Napas Lingxi tersengal dengan wajah memerah karena mengejan.
Lingxi menatap jalan setapak yang masih menanjak jauh menuju puncak. Ia berdiri, berkacak pinggang sambil menatap tubuh Shen Zhengtian dengan tatapan jenaka sekaligus merasa bersalah. Ia meraih kedua pergelangan tangan Shen Zhengtian, lalu mulai menariknya.
"Maafkan aku, Dewa dan Dewi. Maafkan aku, Kakek Weijie. Maafkan aku, Zhengtian. Sekali ini saja."
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Biru cerah berganti menjadi jingga keunguan yang membakar cakrawala, hingga akhirnya kegelapan malam menyelimuti segalanya. Bintang-bintang mulai bermunculan, namun bagi Lingxi, keindahan itu adalah siksaan.
SREET ... SREET ... DUK!
Lingxi terlihat terengah-engah di setiap langkah. "Satu ... dua ... tarik! Satu ... dua ... tarik! Seharusnya kau bersyukur, setidaknya aku tidak meninggalkanmu untuk dimakan Monster Roh di sana tadi!" dumelnya.
Angin malam berdesir melalui dedaunan pohon rindang, menciptakan suara gemerisik yang menenangkan. Langkah Lingxi semakin berat. Napasnya pendek-pendek, dan keringat telah membuat beberapa helai rambut menempel di pipinya. Di depannya, sebuah pohon tua dengan dahan yang sangat rindang berdiri kokoh di pinggir jalan setapak.
"Cukup ... Aku tidak sanggup lagi. Jika aku menyeretnya satu meter lagi, tanganku akan lepas dari bahuku." Hela napas penuh lelah terdengar.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Lingxi menarik tubuh Shen Zhengtian ke area rumput yang datar di bawah pohon tersebut. Ia meletakkan tubuh pemuda itu dengan sedikit kasar karena kelelahan—suara kepala Shen Zhengtian yang bertemu dengan rumput tebal terdengar seperti debuman kecil.
Lingxi langsung terduduk lemas di sampingnya. Meski lelah, insting bertahan hidup Lingxi tetap tajam. Dengan gerakan jari yang lemas, ia mengumpulkan dahan kayu kering di sekitar menggunakan sisa energi spiritualnya. Setelah semua kayu kering terkumpul, kedua mata Lingxi memencar mencari batu.
Kedua batu ditemukan dan segera digesekkan secara bersamaan menciptakan percikan api kecil yang langsung melahap tumpukan kayu. Cahaya jingga dari api itu menari-nari, memantul di wajah Shen Zhengtian yang masih memejamkan mata.
Lingxi memeluk lututnya, menatap api yang berderak. Ia menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. Dalam keremangan cahaya api, garis wajah Shen Zhengtian tampak lebih lembut. "Kau tahu? Saat kau diam begini, kau terlihat ... sedikit lebih bisa ditoleransi. Karena tidak menyebalkan," katanya terang-terangan.
Ia terdiam sejenak, wajahnya berubah sedikit khawatir saat melihat dada Shen Zhengtian yang naik turun dengan sangat lambat. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bagaimana mungkin seorang jenius sepertimu bisa tumbang tanpa luka luar sedikit pun?" tanya Lingxi dengan wajah polosnya.
Ia mendengus pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke batang pohon yang kasar. Rasa kantuk mulai menyerangnya, namun ia tetap berusaha terjaga, sesekali melempar ranting kecil ke dalam api.
Pertama, dipertemukan bersama Monster Roh Liar, Serigala Arwah Bertanduk Api. Kedua, tidak bisa lanjut perjalanan. Ketiga, tidak bisa tidur. Keempat, harus menjagamu. Kelima, Qi terkuras cukup banyak.
"Huft ... hari ini, kenapa banyak kesialan yang menimpaku?" Lingxi duduk meringkuk, namun kini dengan tangan kanan menopang dagu. "Apa jangan-jangan ini karma, karena dulu aku banyak bertingkah na—"
GROOOAAAARRRR!!!
Raungan itu tidak sekeras Serigala Arwah sebelumnya, namun jauh lebih berat dan mengandung tekanan batin Soul Pressure yang kuat. Spontan, Lingxi melompat bangkit. Rasa kantuk dan lelah yang tadinya menggelayuti matanya hilang seketika, digantikan oleh pupil yang mengecil karena waspada. Ia segera berdiri di depan tubuh Shen Zhengtian. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencoba menembus kabut malam yang mulai menebal di bawah pohon rindang itu.
"Lagi? Benar-benar tidak memberiku waktu untuk bernapas ...?!"
Ia mengepalkan tinjunya. Hawa dingin yang keluar dari hutan itu terasa berbeda—ini bukan sekadar binatang buas biasa. Lingxi bisa merasakan sepasang mata tengah mengawasi mereka dari balik semak belukar yang hanya berjarak beberapa belas meter.
"Tunjukkan wujudmu! Jangan bersembunyi di balik bayang-bayang seperti pengecut!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/