Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Api Unggun
Menelan Inti Tingkat Brutal mentah-mentah adalah tindakan yang akan ditertawakan oleh para kultivator jenius sebagai cara bunuh diri paling bodoh. Namun, bagi Zeng Niu, itu adalah satu-satunya jalan.
Begitu inti memancarkan cahaya ungu gelap itu meluncur melewati kerongkongannya, rasanya seperti menelan lelehan magma bercampur pecahan kaca. Perutnya meledak dengan gelombang Qi kacau yang sangat masif. Energi liar itu meronta, mengamuk mencari jalan keluar, merobek organ dalam dan meridiannya yang rapuh.
Zeng Niu menjatuhkan dirinya ke posisi lotus, menggigit erat bibirnya hingga darah menetes deras. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol, menghitam seperti disuntik racun mematikan.
Di kejauhan, Bao Tuo mengintip dari balik pohon bambu mati, wajahnya seputih kertas. "Dia gila... Dantiannya pasti meledak dalam tiga tarikan napas..." bisik si gendut sambil meremas jimat penolak sial di tangannya.
Namun, Zeng Niu tidak meledak.
Di dalam tubuh kurusnya, sebuah keajaiban yang lahir dari perhitungan nekat dan keberuntungan sedang terjadi. Sisa-sisa energi murni dari Pil Pengumpulan Qi yang ia telan sebelum pertarungan, yang sebelumnya gagal ia serap sepenuhnya karena sibuk bertarung, kini bangkit bereaksi.
Energi pil yang murni dan ortodoks bertabrakan langsung dengan Qi kacau dari inti monster. Tubuh Zeng Niu menjadi medan perang berdarah antara dua kekuatan ekstrem tersebut. Ledakan energi di dalam dirinya tak terhindarkan, namun alih-alih menghancurkan, tabrakan itu justru memecah kepadatan Qi liar kelelawar, memaksanya menyebar ke seluruh serat otot, darah, dan tulang Zeng Niu.
KRETAK!
Suara retakan tulang terdengar nyaring. Namun itu bukan suara kehancuran, melainkan penempaan. Tulang selangka dan bahu Zeng Niu yang hancur karena gigitan monster itu mulai menyatu dengan kecepatan kasat mata. Sel-selnya melahap energi raksasa itu untuk beregenerasi. Kulitnya mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru yang memiliki rona keabu-abuan pucat sekeras batu karang.
Penderitaan itu berlangsung dari sore hingga bulan darah menggantung di atas Hutan Kematian. Zeng Niu tidak berteriak sekalipun, meski napasnya mendesis seperti ular yang sedang berganti kulit.
Menjelang tengah malam, fluktuasi energi liar itu perlahan mereda. Uap hitam mengepul dari pori-pori Zeng Niu, membawa serta kotoran dan racun dari dalam tubuhnya.
Ia membuka mata perlahan. Sebuah kilatan cahaya ungu gelap berkelebat di pupilnya yang sedingin es sebelum menghilang. Ia mengepalkan tinjunya. Suara letupan udara terdengar dari sela jarinya. Kekuatannya telah berlipat ganda. Luka fatal di bahunya kini hanya menyisakan bekas luka berbentuk taring.
Tidak hanya ia berhasil menstabilkan tubuhnya, sisa energi masif dari Inti Tingkat Brutal dan Pil Pengumpulan Qi telah mendorong batas fananya secara paksa. Ia melompati Penempatan Tubuh Tahap 3, dan mendarat kokoh di Penempatan Tubuh Tahap 4. Kini, tulangnya memiliki kepadatan seperti besi hitam.
"S-Saudara Niu?"
Sebuah suara gemetar memecah keheningan. Bao Tuo merayap mendekat, memegang sebatang ranting patah seolah itu adalah pedang dewa. Matanya membelalak menatap aura Zeng Niu yang kini jauh lebih berat. "Kau... melompat dua tahap sekaligus?! Tubuhmu memancarkan tekanan... padahal kau bahkan belum mengumpulkan Qi di Dantian! M-Monster macam apa kau ini?!"
Zeng Niu menatapnya datar, lalu perutnya tiba-tiba berbunyi dengan suara gemuruh yang keras.
Pemecahan batas kultivasi tingkat rendah menguras habis kalori manusia. Di bawah ranah Golden Core (Inti Emas), seorang kultivator belum bisa mencapai Bigu (tanpa makan) dan tetap membutuhkan makanan, minuman, dan tidur seperti manusia fana. Terlebih bagi Zeng Niu yang menempuh jalur Penempatan Tubuh murni; tubuhnya membutuhkan bahan bakar yang nyata.
"Aku lapar," ucap Zeng Niu kering. "Dan kita butuh tempat tidur yang aman."
Bao Tuo menghela napas lega, ranting di tangannya terjatuh. Kenyataan bahwa Zeng Niu masih merasa lapar membuktikan pemuda dingin ini belum berubah menjadi Manusia Terkoyak. "Syukurlah! Insting bertahanku kebetulan menemukan sebuah gua kecil di dekat aliran sungai yang airnya belum tercemar parah. Ayo, Saudara Niu, serahkan urusan mencari makan malam pada ahlinya!"
Dua jam kemudian, di dalam sebuah gua batu yang tersembunyi di balik semak berduri.
Sebuah api unggun kecil menyala, memancarkan kehangatan yang mengusir hawa dingin Hutan Kematian. Di atasnya, seekor Rusa Bertanduk Tiga hewan mutasi tingkat sangat rendah namun dagingnya masih aman dimakan sedang dipanggang, meneteskan lemak lezat ke dalam api.
Zeng Niu duduk bersila, mengunyah daging panggang itu dalam diam, mengisi kembali tenaga fananya. Air dari sungai kecil di dekat gua terasa segar membasuh tenggorokannya yang mengering. Bertahan hidup di perjalanan ini bukan sekadar membunuh monster, tapi memastikan tubuh tidak tumbang karena penyakit atau kelelahan.
Di seberang api unggun, Bao Tuo tidak sedang makan. Si gendut itu sedang sibuk membersihkan taring gergaji dan potongan sayap kulit dari bangkai Kelelawar Wajah Manusia yang ia seret susah payah sebelum mereka pindah.
"Saudara Niu, kau memang bodoh soal kekayaan," cerocos Bao Tuo sambil mengelap sebuah taring kelelawar menggunakan kain basah hingga mengkilap. Matanya berbinar-binar seperti pedagang serakah. "Kau mengambil intinya, tapi membuang hartanya! Tahukah kau seberapa berharga taring Yao Aberasi Tingkat Brutal di pasar pengungsi?"
Zeng Niu menenggak air dari daun talas, lalu menatap Bao Tuo tanpa minat. "Bisa dimakan?"
"Dewa Langit, ampuni ketidaktahuannya!" Bao Tuo menepuk jidatnya. Ia meletakkan taring itu dan menatap Zeng Niu serius. "Dengar, Saudara Niu. Di dunia yang hancur ini, uang kertas dan koin tembaga kerajaan lama tidak lebih berharga dari daun kering. Nilai tukar telah berubah."
Bao Tuo merogoh kantongnya, mengeluarkan sepotong kepingan perak kotor dan sebuah batu kecil bersudut delapan yang memancarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat tipis.
"Untuk rakyat fana, pengungsi, dan pedagang barang rongsokan, emas dan perak masih berlaku untuk membeli makanan basi, pakaian kasar, atau sekadar menyewa tenda bocor," jelas Bao Tuo sambil melempar kepingan perak itu. "Tapi, bagi kita? Bagi kultivator, atau jika kita ingin memasuki gerbang luar Akademi Jiannan?"
Bao Tuo mengangkat batu biru bercahaya itu dengan penuh hormat. "Kristal Roh (Spirit Crystal). Ini adalah mata uang mutlak di Era Keruntuhan Surga. Di dalamnya terkandung sisa-sisa Qi langit dan bumi yang murni, yang belum tercemar Bencana. Kristal Roh digunakan untuk membeli pil, senjata spiritual, teknik, bahan formasi, dan membayar uang pendaftaran masuk akademi. Sayangnya..."
Bahu si gendut merosot, wajahnya memelas tragis. "Tuan Mudamu ini hanya punya tiga keping Kristal Roh kelas rendah yang tersisa dari klanku yang hancur. Kita sangat miskin, Saudara Niu. Jika kita sampai di akademi tanpa Kristal Roh, kita tidak akan bisa membayar biaya ujian Formasi Ilusi."
Bao Tuo menunjuk tumpukan taring dan sayap kulit kelelawar di sampingnya dengan senyum lebar. "Tapi material monster Tingkat Brutal sangat langka! Kulit sayapnya bisa dijadikan jubah pertahanan ringan, dan taringnya bisa ditempa menjadi pedang pedang qi. Di kota perbatasan nanti, kita bisa menukar semua ini di Paviliun Dagang dengan puluhan Kristal Roh kelas rendah! Kita akan kaya!"
Zeng Niu menatap tumpukan tulang itu, lalu menatap perut buncit Bao Tuo.
"Bawa sendiri tulang-tulang itu. Aku tidak akan memanggulnya," ucap Zeng Niu dingin, kembali memakan daging rusanya.
"Tentu saja! Serahkan pada tenaga kuli Tuan Muda ini!" Bao Tuo menyeringai, membungkus material monster itu ke dalam kain buntalannya dengan penuh kasih sayang.
Di tengah hangatnya api unggun dan perut yang mulai terisi, ketegangan di antara dua pemuda dengan sifat yang bertolak belakang itu sedikit mencair. Zeng Niu menutup matanya, membiarkan tubuh Tahap 4-nya beristirahat, sementara Bao Tuo berjaga shift pertama (meskipun si gendut itu sebenarnya hanya memeluk lututnya sambil melirik ke arah mulut gua setiap lima detik karena ketakutan).
Perjalanan menuju Akademi Jiannan masih panjang, melintasi ribuan mil jalan darah dan kelaparan. Namun setidaknya malam ini, di bawah bayang-bayang Bencana, mereka berhasil hidup satu hari lebih lama.