NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUMPAH DI AMBANG MAUT

Keputusan telah diambil. Pagi itu, Desa Qinghe tidak lagi menyapa dengan kedamaian; desa itu masih diselimuti sisa-sisa kabut pertempuran kemarin yang berbau anyir tembaga. Fang Han berdiri di depan pintu gubuknya yang sudah miring, memanggul tas kain sederhana berisi beberapa botol herbal dan sisa koin perak yang ia miliki. Di dalamnya, Paman Fang Zhou terbaring lemah di atas balai-balai bambu. Napasnya berat, setiap tarikan udara disertai suara rintihan tertahan yang menyayat hati akibat luka dalam yang merusak jalur energinya.

Tabib Lu bersandar pada dinding kayu yang retak, wajahnya pucat pasi, matanya menunjukkan kelelahan yang luar biasa setelah menekan racun di tubuh Fang Zhou.

"Han-er, dengarkan aku baik-baik," kata Tabib Lu dengan suara serak.

"Racun Kalajengking Merah dan sisa energi penghancur dari Kapten Iron telah mencemari jantung pamanmu. Jika dalam sepuluh hari kau tidak mendapatkan Bunga Hati Langit yang tumbuh di Puncak Menangis, jalur energinya akan hancur permanen. Pamanmu tidak akan pernah bangun lagi, ia akan menjadi raga kosong yang membusuk perlahan."

Fang Han tidak menjawab dengan kata-kata muluk. Ia mendekat, menatap wajah pamannya yang pucat untuk terakhir kali, lalu mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.

"Aku akan membawanya kembali, Paman Lu. Aku bersumpah demi nyawaku, bahkan jika aku harus menjungkirbalikkan gunung itu," balas Fang Han.

Tabib Lu menghela napas panjang, lalu menyerahkan sebuah peta tua yang kusam. "Hati-hati, Nak. Dunia di luar desa ini bukan hanya tentang pedang dan zirah yang biasa kau lihat. Ada kekuatan yang lebih tua, lebih gelap, dan lebih aneh dari yang pernah kau bayangkan. Jangan biarkan kemarahan membutakan kewaspadaanmu."

Perjalanan hari kedua membawa Fang Han ke perbatasan wilayah prefektur, sebuah tempat terkutuk yang dikenal sebagai Hutan Kabut Penyesatan. Di sini, hukum alam seolah tidak berlaku. Pepohonan tidak tumbuh tegak ke langit, melainkan melilit satu sama lain seperti ribuan ular raksasa yang membeku dalam penderitaan. Udara terasa manis seperti madu, namun setiap hirupan membuat kesadaran terasa berayun.

Saat Fang Han melangkah lebih dalam, keanehan mulai terjadi. Ia merasa seolah-olah bayangannya sendiri mulai bergerak lebih lambat, tertinggal beberapa inci di belakang tumitnya. Tiba-tiba, seorang pria kecil dengan jubah compang-camping yang dipenuhi lumut muncul dari balik pohon raksasa. Pria itu tidak membawa pedang atau tombak, melainkan sebuah lonceng perunggu kecil yang permukaannya dipenuhi karat hijau.

"Berhenti, pengelana muda," ucap pria itu dengan suara yang terdengar seperti ribuan bisikan tawon di dalam telinga.

"Siapa kau? Dan kenapa kau menghalangi jalan yang sudah sesak ini?" tanya Fang Han, tangannya refleks meraba titik energi di pergelangan tangannya, bersiap mengalirkan Qi.

"Aku adalah Si Penjaga Gema," ucap pria itu sambil tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Untuk lewat, kau harus memberikan ingatanmu yang paling berharga. Satu kenangan manis sebagai tumbal. Jika tidak, kau akan berputar di sini hingga dagingmu mengerut dan menjadi pupuk bagi pohon-pohon haus darah ini."

"Aku tidak punya waktu untuk teka-teki gila," balas Fang Han dingin. Ia mencoba melangkah maju dengan paksa, namun saat pria itu menjentikkan jarinya ke lonceng—Ting!—suaranya tidak hanya terdengar oleh telinga, tapi bergetar hebat di dalam sumsum tulang Fang Han.

Seketika, realitas tertekuk. Hutan menghilang.

Fang Han mendapati dirinya berdiri di tengah jalanan aspal yang hitam dan basah di kehidupan sebelumnya. Lampu-lampu neon kota yang berkedip menyilaukan matanya. Ia melihat dirinya sendiri bersimbah darah di bawah reruntuhan menara salju yang dingin. Rasa sakit dari kematian lamanya menghantam jiwanya seperti godam raksasa.

"Ini serangan mental! Dia tidak menyerang tubuh fisikku, dia menyerang persepsi realitasku!" batin Fang Han sambil memegang kepalanya yang terasa mau pecah.

Si Penjaga Gema tertawa, suaranya bergema dari langit yang kini berwarna ungu pekat.

"Lihatlah dirimu... pelayan kecil yang mati kesepian di dunia yang asing. Kenapa kau berjuang begitu keras untuk paman yang bahkan bukan darah dagingmu? Menyerahlah pada kegelapan ini, Di sini kau tidak perlu merasa sakit lagi."

Fang Han berlutut di atas aspal imajiner itu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Namun, di tengah kekacauan memori itu, aura abu-abu Nirwana Sunya mulai berdenyut di ulu hatinya. Energi kehampaan itu tidak memiliki emosi. Ia tidak mengenal masa lalu maupun masa depan. Ia adalah titik nol.

"Kau salah besar," bisik Fang Han, suaranya parau namun tajam.

Ia mengangkat kepalanya, dan pupil matanya berubah total menjadi abu-abu pucat yang mematikan, menghapus semua warna di sekitarnya.

"Ingatanku bukan untuk diberikan atau ditukar. Ingatanku adalah dasar dari kekuatanku hari ini," lanjut Fang Han.

Fang Han tidak menyerang pria itu dengan tinju. Ia melepaskan gelombang kecil energi kehampaan yang ia sebut "Getaran Sunya". Ia tidak menargetkan fisik lawan, melainkan "menghapus" frekuensi suara lonceng yang masih bergema di udara. Lalu udara di sekitar Fang Han tampak bergetar hebat lalu menjadi hening secara tidak alami.

Seketika, ilusi jalanan kota itu retak seperti kaca yang dihantam batu. Potongan-potongan gedung pencakar langit berjatuhan dan berubah kembali menjadi pepohonan hutan yang bengkok.

Si Penjaga Gema terbelalak, matanya hampir keluar dari kelopaknya. "Kau... kau menghapus frekuensi energiku?! Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa menyentuh dimensi suara dan menghilangkannya?! Siapa kau sebenarnya?!"

"Hanya seseorang yang sedang terburu-buru," sahut Fang Han.

Dengan satu gerakan cepat, Fang Han meluncur ke depan. Ia tidak memukul, melainkan hanya menyentuh lonceng perunggu itu dengan ujung jarinya yang dilapisi cahaya kelabu.

Prak!

Lonceng itu tidak pecah, melainkan mengerut dan berubah menjadi abu halus dalam sekejap, seolah-olah waktu ribuan tahun dipadatkan ke dalam satu detik kontak. Si Penjaga Gema jatuh terduduk, memegangi dadanya yang sesak karena separuh energi jiwanya yang terikat pada lonceng telah "dihapus". Kabut hutan pun perlahan sirna, membuka jalan setapak yang lurus ke depan.

Setelah keluar dari hutan kabut, Fang Han tiba di sebuah kedai kayu tua yang menggantung di tepi jurang sedalam ribuan meter. Tempat itu bernama Kedai Tepi Jurang, persinggahan bagi mereka yang hidup di bawah bayang-bayang hukum; tentara bayaran, pembunuh bayaran, dan pengelana gelap.

Saat Fang Han melangkah masuk, suara tawa keras dan denting gelas mendadak berhenti. Bau arak murah dan keringat menusuk hidungnya.

Di pojok ruangan yang remang-remang, duduk seorang pria raksasa dengan tangan kanan yang tidak terbuat dari daging, melainkan besi hitam legam yang dipenuhi ukiran rune kuno. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan pakaian kulit ular yang ketat sedang memutar-mutar belati yang ujungnya meneteskan cairan hijau neon.

"Lihat siapa yang datang," ucap pria tangan besi itu dengan suara berat yang menggetarkan meja kayu.

"Bukankah ini pemuda yang kepalanya dihargai seribu keping emas oleh keluarga Lin? Hadiah yang cukup untuk membuat kita pensiun dengan mewah, bukan begitu, Ular Merah?" lanjutnya.

Fang Han hanya menghela napas pendek, ia meletakkan tas kainnya di atas meja bar tanpa menoleh. "Keluarga Lin benar-benar tidak tahu cara mengelola uang. Mereka lebih suka membayar orang untuk mati daripada memperbaiki martabat mereka yang sudah hancur."

"Nama saya adalah Tangan Besi Mo," pria itu berdiri, berat badannya membuat lantai kayu berderit seolah akan patah. "Dan rekanku ini adalah Si Ular Merah. Kami bukan seperti pengawal kota bodoh yang kau kalahkan di desa itu. Kami adalah praktisi teknik 'Element-Devourer'. Kami memakan energi praktisi lain untuk sarapan."

Tanpa aba-aba, Si Ular Merah menghilang. Bukan dengan kecepatan gerak, tapi benar-benar menyatu dengan kegelapan. Dalam sekejap, ia muncul tepat di belakang punggung Fang Han. Belatinya yang beracun meluncur menuju arteri karotis di leher Fang Han. Tekniknya adalah "Shadow-Meld"—kemampuan untuk berpindah secara instan melalui bayangan benda di sekitarnya.

Sret!

Fang Han merunduk dengan presisi milimeter. Namun, Ular Merah tidak berhenti; ia menyerang dengan rentetan tikaman yang menghasilkan suara desisan ular. Setiap kali belatinya menebas udara, meninggalkan jejak racun yang bisa melumpuhkan saraf hanya dengan dihirup.

Di saat yang sama, Tangan Besi Mo menghantamkan tinju besinya ke lantai kedai.

"Earth-Transmutation: Pasir Hisap Jiwa!" teriak Mo.

.

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!