“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Dia telah menghinamu pantas mati
Gong perunggu raksasa berdentum tujuh kali, menandakan babak final telah tiba.
Di sepanjang turnamen, nama Shan Luo telah menjadi momok yang menakutkan. Ia tidak banyak bicara.
Ia tidak menunjukkan jurus-jurus yang mencolok. Setiap lawannya jatuh hanya dalam satu atau dua serangan, dingin, cepat, dan tanpa ampun.
Penonton yang awalnya mencibir pedang baja tuanya kini terdiam setiap kali pemuda berambut perak-hitam itu melangkah ke atas panggung.
Kini, di hadapannya berdiri Li Yan, si "Tuan Muda Merak" yang beberapa waktu lalu menghina ibunya. Li Yan mengenakan zirah ringan berlapis emas dan memegang pedang Kelas Emas yang berkilauan.
"Kau beruntung bisa sampai ke sini, Sampah," desis Li Yan, matanya berkilat penuh dendam. "Tapi di depanku, pedang rongsokanmu itu akan menjadi peti matimu. Dan wanita di sana itu—"
DEG.
Shan Luo tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat.
"Mulai!"
Li Yan menerjang dengan kecepatan penuh. Pedangnya membara dengan api merah, teknik Tebasan Matahari Terbenam. Udara di sekitar panggung mendadak panas menyengat.
TRANG!
Shan Luo menahan serangan itu hanya dengan satu tangan. Pedang bajanya mulai retak terkena panas, namun ekspresinya tidak berubah. Dingin.
Ia bergeser setengah langkah. Langkah Embun Beku.
Tubuh Shan Luo seolah mencair menjadi kabut. Sebelum Li Yan bisa berbalik, sebuah tendangan keras menghantam lututnya.
KRAK!
"Aaakh!" Li Yan terjerembap.
Shan Luo tidak memberinya napas. Ia tidak menggunakan bilah pedangnya, melainkan gagangnya. Ia menghantam wajah Li Yan berulang kali hingga zirah emas itu retak dan hidungnya hancur.
Li Yan mencoba bangkit, mengayunkan pedang emasnya dengan kalap. Shan Luo menangkap bilah pedang panas itu dengan tangan telanjangnya yang sudah dilapisi Qi es yang tebal.
CRIET—!
Es dan api beradu, menimbulkan uap putih yang menyelimuti panggung. Dengan satu sentakan tenaga murni, Shan Luo mematahkan pedang Kelas Emas itu menjadi dua.
PRANG!
Li Yan membelalak. Senjata kebanggaannya hancur di tangan seorang "sampah". Shan Luo mencengkeram leher Li Yan, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga kaki tuan muda itu menggapai udara.
"Kau bilang ... ibuku apa?" bisik Shan Luo tepat di telinga Li Yan. Suaranya begitu rendah hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
Li Yan gemetar hebat. Ia melihat kegelapan yang tak berdasar di mata Shan Luo, sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kematian.
"Tolong ... ampun ..."
Shan Luo melempar tubuh Li Yan ke lantai panggung seperti seonggok sampah. Ia menginjak tangan Li Yan hingga tulang-tulangnya remuk.
"Pemenang: Shan Luo!"
Wasit berteriak dengan nada gemetar. Penonton sunyi senyap. Mereka tidak melihat sebuah pertandingan; mereka melihat sebuah eksekusi mental.
Shan Luo membalikkan badannya, tidak melirik Li Yan yang merangkak hina di bawah kakinya.
Di dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan: Malam ini, kepala pria ini akan menjadi persembahan bagi tanah yang ia injak. Tidak peduli siapa ayahnya atau seberapa kuat klannya.
Walikota Linyi mendekat dengan nampan beludru. Di sana terdapat seratus tael emas dan Kalung Jantung Rumput Es.
Shan Luo mengambil kalung itu. Ia mengabaikan emasnya sejenak. Fokusnya hanya pada permata hijau yang berdenyut lembut, memancarkan hawa kehidupan yang murni.
Ia melompat turun dari panggung, mengabaikan sorak-sorai penonton. Langkahnya terburu-buru menuju tribun tempat Xue Ling duduk.
Xue Ling berdiri dengan tangan gemetar di mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia melihat putranya berjalan ke arahnya dengan baju yang robek dan tangan yang berdarah, namun membawa senyum yang paling tulus.
"Shan'er ..."
Shan Luo berlutut di hadapan ibunya. Di tengah ribuan pasang mata, ia tidak peduli pada harga dirinya sebagai pemenang. Ia hanya seorang anak.
"Ibu," suaranya serak. "Aku berjanji akan memberikan ini padamu."
Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa adrenalin bertarung, Shan Luo perlahan memasangkan kalung itu ke leher Xue Ling.
Begitu permata hijau itu menyentuh kulit pucat Xue Ling, sebuah gelombang energi hijau yang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya.
Rona merah mulai muncul di pipinya yang biasanya pasi. Napasnya yang tadi tersengal akibat udara dingin stadion mendadak menjadi tenang dan dalam.
Xue Ling merasakan seolah beban ribuan ton di dadanya terangkat. Luka dalam yang selama bertahun-tahun menyiksanya seolah dibalut oleh sutra yang sejuk.
"Ini ... ini terlalu berharga, Nak," isak Xue Ling. Air matanya jatuh mengenai tangan Shan Luo.
Shan Luo menggenggam tangan ibunya, mencium punggung tangan yang kurus itu. "Tidak ada yang lebih berharga dari napas Ibu. Jika aku harus membelah langit untuk membuat Ibu tetap hidup, aku akan melakukannya."
Xue Ling menarik Shan Luo ke dalam pelukannya. Di tengah riuh rendah kota Linyi, di bawah tatapan iri dan kagum banyak orang, seorang ibu menangis bahagia di bahu putranya.
"Terima kasih ... terima kasih, pahlawanku."
Tentu saja Shan Luo tidak lupa untuk mengambil emasnya.
Malam harinya, di dalam penginapan yang tenang. Xue Ling sudah tertidur pulas, wajahnya tampak jauh lebih damai dan sehat berkat artefak bumi tersebut.
Shan Luo berdiri di balkon, menatap ke arah kediaman keluarga Li yang megah di kejauhan.
Tato di lengannya mulai berpendar ungu gelap. Sabit Jiwa Kegelapan bergetar hebat, merasakan niat membunuh tuannya yang sudah mencapai puncaknya.
"Dia berani menghinamu, Ibu," gumam Shan Luo. Matanya berubah menjadi hitam pekat, menyatu dengan kegelapan malam. "Malam ini, aku akan menunjukkan padanya ... apa artinya memanggil iblis."
Ia mengenakan jubah hitamnya, menutup rambut hitam putihnya, dan melompat menghilang ke dalam kegelapan.
Malam itu, Kota Linyi akan belajar satu hal: Jangan pernah menyentuh satu-satunya cahaya milik seorang pemuda yang sudah kehilangan separuh jiwanya.