No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biara yang Hilang diBalik Kabut Merah
Hujan badai mengguyur lereng Gunung Merapi Hitam, tempat di mana Biara Awan Tersembunyi seharusnya berdiri dengan tenang. Namun, alih-alih suara lonceng doa yang menenangkan, udara di sana justru dipenuhi oleh bau amis darah dan aroma dupa terlarang yang menyesakkan dada.
He Xueyi menghentikan kuda bayangannya di sebuah tebing yang menjorok. Di bawah sana, biara kuno itu sudah dikepung oleh kabut berwarna merah darah—sihir tingkat tinggi milik Sekte Matahari Merah.
"Logika pertahanan biara ini sudah runtuh," ucap He Xueyi, matanya menyipit menatap dinding pelindung emas biara yang kini retak-retak. "Mereka tidak hanya menyerang dengan pedang, Bian Zhi. Lihat pola kabut itu... mereka menggunakan Mantra Pemanggil Roh Kelaparan untuk melemahkan batin para biksu di dalam."
Bian Zhi turun dari kudanya, pedang hitamnya sudah berdenting gelisah di dalam sarungnya. "Tuan, kabut merah ini mengandung racun yang bisa meluluhkan esensi ruh. Jika kita masuk begitu saja, pelindung Yin Anda bisa terkikis."
"Jangan khawatir," He Xueyi mengangkat lenteranya. "Cahaya lenteraku adalah hukum tertinggi bagi arwah rendahan. Xiao Bo!"
Arwah kecil itu muncul dengan wajah pucat pasi, namun ia membawa sebuah payung kertas kuno berwarna hitam yang dihiasi jimat-jimat perak. "I-ini payungnya, Tuan Besar! Tapi hantunya banyak sekali... mereka seperti lalat yang haus darah!"
"Buka payungnya, Xiao Bo. Jangan biarkan satu tetes pun hujan merah itu menyentuh tanah yang kita pijak," perintah He Xueyi.
Mereka bertiga mulai menuruni tebing, berjalan menembus kabut merah yang seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Kabut itu berbisik-bisik, mencoba membisikkan janji-janji palsu dan ketakutan masa lalu ke telinga He Xueyi. Namun, dengan logika detektifnya yang dingin, He Xueyi hanya menganggap bisikan itu sebagai "noise" atau gangguan suara yang tidak masuk akal.
Begitu sampai di gerbang biara, pemandangan memilukan menyambut mereka. Belasan biksu tergeletak dengan wajah pucat, jiwa mereka sudah diisap paksa hingga tubuh mereka kering seperti kayu tua. Di tengah lapangan biara, Putri Ling'er—gadis muda yang membawa Segel Langit—terpojok di depan altar suci. Di sekelilingnya, lima pendekar berjubah merah gelap tertawa sinis sambil memutar-mutar rantai besi yang ujungnya terdapat tengkorak manusia yang menyala.
"Serahkan kotaknya, Tuan Putri!" seru salah satu pendekar dengan suara parau. "Atau kau ingin jiwa mudamu menjadi makanan bagi jenderal hantu kami malam ini?"
Putri Ling'er gemetaran, tangannya memeluk kotak sutra kuning itu dengan sangat erat. "Ayahanda... tolong aku..." tangisnya pecah.
"Ayahmu sedang jadi penunggu pintu sekarang, Nak," gumam He Xueyi yang tiba-tiba muncul di tengah lapangan biara. Suaranya membelah hujan dan kabut merah dengan ketajaman yang luar biasa.
Para pendekar Sekte Matahari Merah terkejut. Mereka tidak merasakan kehadiran siapa pun hingga He Xueyi sudah berdiri hanya sepuluh langkah dari mereka.
"Siapa kau?! Beraninya ikut campur urusan Matahari Merah!" bentak pemimpin pendekar itu, sambil mengayunkan rantai tengkoraknya ke arah He Xueyi.
He Xueyi bahkan tidak berkedip. Sebelum rantai itu menyentuh ujung gaunnya, sebuah bayangan hitam melesat lebih cepat dari kilat.
CRAAAKK!
Pedang hitam Bian Zhi menahan rantai tersebut, menciptakan percikan api hitam yang memadamkan api hijau di tengkorak itu seketika. "Beraninya kau mengarahkan senjata berkaratmu pada majikanku," desis Bian Zhi dengan aura membunuh yang sangat pekat.
He Xueyi berjalan tenang melewati mereka, menuju arah Putri Ling'er. "Logika pertempuran kalian sangat buruk. Kalian membuang begitu banyak tenaga untuk meneror seorang gadis, padahal kalian sendiri gemetar saat merasakan hawa kematian yang sebenarnya."
"Serang mereka! Jangan biarkan wanita itu mendekati kotak itu!" perintah pemimpin pendekar.
Empat pendekar lainnya serentak melepaskan jimat pemanggil hantu. Dari balik tanah biara yang suci, muncul puluhan tangan pucat yang berusaha menarik kaki He Xueyi. Roh-roh kelaparan yang mengerikan bangkit dari kegelapan, merayap dengan suara geraman yang memuakkan.
He Xueyi berhenti sejenak, ia mengangkat lenteranya tinggi-tinggi ke langit yang gelap. "Di hadapan Lentera Abadi, semua arwah harus tunduk atau musnah!"
WUUUSSHHH!
Gelombang cahaya ungu meledak dari lentera itu, menyapu seluruh lapangan biara. Roh-roh kelaparan itu seketika berlutut dan kemudian hancur menjadi abu perak saat terkena cahaya tersebut. Mantra kabut merah milik Sekte Matahari Merah pun lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang murni dan menekan.
Para pendekar itu terlempar ke belakang, memuntahkan darah hitam karena serangan balik energi Yin mereka sendiri. Mereka menyadari satu hal yang sangat terlambat: mereka bukan sedang berhadapan dengan pendekar biasa, melainkan dengan "Ratu" dari segala roh yang ada di dunia bawah.
He Xueyi berjongkok di depan Putri Ling'er yang masih membeku ketakutan. "Putri Ling'er... secara logika, jika kau terus memeluk kotak itu, kau akan mati sebelum fajar menyingsing. Berikan padaku, dan aku akan memastikan kau sampai di tempat yang aman."
Ling'er menatap mata He Xueyi yang hampa namun memiliki ketegasan yang aneh. Ia perlahan melepaskan kotak itu. He Xueyi menerimanya, namun saat jemarinya menyentuh kotak tersebut, sebuah getaran energi yang sangat familiar menyengat telapak tangannya.
"Ini..." He Xueyi terdiam sejenak. "Segel Langit ini... bukan sekadar kunci gerbang. Ini adalah bagian dari jiwaku yang hilang."
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang berat dari arah atap biara. Seorang pria dengan jubah emas yang compang-camping dan mahkota hitam berdiri di sana, menatap He Xueyi dengan tatapan penuh nafsu.
"He Xueyi... penjaga paviliun yang malang," ucap pria itu. "Terima kasih sudah membawakan sisa jiwamu kepadaku. Sekarang, ritual penggabungan bisa dimulai!"
Bian Zhi langsung berdiri di depan He Xueyi dengan posisi siaga penuh. "Tuan, itu adalah Ketua Sekte Matahari Merah... Sang Raja Hantu yang seharusnya sudah disegel seribu tahun lalu!"
Misteri semakin dalam. Ternyata pengejaran ini bukan cuma soal harta, tapi soal menyatukan kembali identitas He Xueyi yang selama ini ia lupakan. Pertempuran sesungguhnya antara penjaga hantu dan raja hantu baru saja dimulai!