NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 30

Kehidupan di lantai 65 Menara Alexander kini terasa seperti berada di dalam sebuah gelembung kaca kedap udara. Sempurna, mewah, mutlak aman, namun tak terbantahkan... mengisolasi.

Memasuki minggu kesepuluh kehamilannya, Yvone perlahan mulai merasakan dampak nyata dari apa yang disebut Tara sebagai 'Protokol Ayah Siaga' milik Dylan. Pria itu tidak hanya protektif; ia telah bermetamorfosis menjadi seorang diktator kesehatan yang mengatur setiap tarikan napas istrinya.

Pagi itu, Yvone berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya, menatap langit Jakarta yang diselimuti polusi. Ia merindukan udara laut Uluwatu. Ia merindukan kebebasan berjalan tanpa diikuti oleh dua pengawal medis berpakaian preman yang selalu siaga sepuluh langkah di belakangnya.

Pintu ruangannya terbuka. Alih-alih Dylan atau Marco, yang muncul adalah Tara Hartono. Adik iparnya itu melangkah masuk dengan kacamata hitam besar dan sebuah paper bag berlogo toko kue terkenal di tangannya.

"Psst! Ratu Alexander," bisik Tara dramatis, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. "Apakah Si Tiran sedang ada rapat?"

Yvone tersenyum lebar, berbalik menghampiri Tara. "Dylan sedang melakukan conference call dengan direksi London di ruangannya. Syukurlah kau datang, Tara. Aku merasa seperti benda pameran museum yang tidak boleh disentuh."

Tara meletakkan paper bag itu di atas meja draf Yvone dan membukanya, memperlihatkan sekotak macaron warna-warni dan cheesecake stroberi.

"Aku menyelundupkan ini melewati pos pemeriksaan Pak Joko di lobi," Tara berbisik seolah sedang melakukan transaksi ilegal. "Aku tahu koki pribadimu hanya memberimu makanan rebusan tanpa MSG, tanpa gula pasir, dan tanpa kebahagiaan. Makanlah cepat sebelum radar kakakku mendeteksinya."

Mata Yvone berbinar-binar. "Tara, kau adalah pahlawanku." Ia segera mencomot sebuah macaron rasa raspberry dan menggigitnya. Manisnya gula langsung meledak di mulutnya, sebuah sensasi yang sangat ia rindukan.

Tara duduk di kursi tamu, menopang dagunya menatap kakak iparnya. "Jadi, bagaimana rasanya dihamili oleh dewa es? Kudengar dari Marco, Dylan memecat salah satu vendor pembersih AC karena menggunakan bahan kimia yang berbau terlalu tajam di lantai ini."

Yvone menghela napas, menelan kuenya. "Itu benar. Dia juga mengganti seluruh karpet di penthouse dengan material hypoallergenic dalam waktu semalam. Tara... aku sangat mencintainya, dan aku tahu dia melakukan ini karena trauma masa lalunya. Tapi rantai pelindungnya ini... kadang terasa mencekik."

"Dylan selalu hidup dalam mode bertahan, Yvone," Tara berkata dengan nada yang tiba-tiba serius. "Kau dan bayi itu adalah dua hal paling berharga yang pernah ia miliki sejak kami kehilangan ayah. Pikirannya selalu mengkalkulasi skenario terburuk. Jika kau merasa terkurung, kau harus bicara padanya. Jangan biarkan dia menenggelamkanmu dalam kecemasannya sendiri."

Yvone menunduk, mengelus perutnya yang masih datar namun mulai terasa padat. "Aku sudah mencoba. Tapi setiap kali aku membahasnya, dia menatapku dengan sorot mata yang begitu putus asa, seolah aku akan pecah jika dia melepaskan pandangannya sedetik saja."

Tiba-tiba, kenop pintu berputar dari luar. Pintu terkunci.

Tok. Tok. Tok.

"Tara. Buka pintunya. Aku tahu kau menyelundupkan makanan tinggi glukosa untuk istriku," suara bariton Dylan terdengar tajam dan presisi dari balik pintu.

Tara membelalakkan matanya, mengumpat tanpa suara. "Sialan. Apakah dia memasang sensor gula di hidungnya?!"

Yvone buru-buru menelan sisa macaron-nya dan mengelap mulutnya dengan tisu, sementara Tara membuka kunci pintu dengan cengiran tak berdosa.

Dylan melangkah masuk. Jasnya disampirkan di lengan, dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Pria itu menatap lurus ke arah kotak cheesecake di atas meja, lalu menatap Yvone yang berpura-pura sibuk membaca blueprint.

"Gula rafinasi memicu lonjakan insulin yang tidak baik untuk perkembangan janin di trimester pertama," ucap Dylan datar, berjalan menghampiri meja dan menutup kotak kue tersebut.

"Hanya satu gigitan kecil, Dylan!" protes Yvone, mengerucutkan bibirnya.

"Satu gigitan yang akan memicu mualmu lagi nanti sore," Dylan membalas, tak tergoyahkan. Ia mengecup dahi Yvone singkat sebelum menatap adiknya. "Dan kau, Tara. Jika kau ingin mengunjungi istriku, bawa buah-buahan organik. Bukan racun manis."

"Kau ini membosankan sekali, Dyl," gerutu Tara, mengambil tasnya. "Baiklah, aku pergi. Yvone, ingat apa yang kukatakan tadi. Beri batasan pada tiran ini."

Setelah Tara keluar, ruangan kembali hening. Dylan menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap istrinya dengan saksama.

"Kau terlihat pucat. Apakah macaron itu membuatmu mual?" tanya Dylan protektif.

"Aku pucat karena aku bosan, Dylan," Yvone menghela napas, memutuskan untuk mengikuti saran Tara. Ia meletakkan pensilnya dan menatap suaminya dengan serius. "Proyek Uluwatu dan Senopati berjalan lancar. Aku sudah memverifikasi semua vendor. Tapi sore ini, ada pertemuan tatap muka dengan konsorsium perbankan baru dari Singapura yang akan mendanai perluasan proyek kita. Aku harus hadir."

Dylan langsung mengerutkan kening. "Marco yang akan menangani mereka. Kau tidak perlu turun ke ruang rapat direksi. Udara di lantai bawah terlalu pengap dan banyak orang."

"Ini bukan soal udara, Dylan. Ini soal kredibilitas," bantah Yvone lembut namun tegas. Ia berdiri, melangkah mendekati suaminya. "Aku adalah Direktur Utama Divisi Desain. Aku yang merancang ekspansi itu. Jika aku absen dalam rapat pendanaan pertama, mereka akan berpikir aku hanya pajangan nepotisme."

"Tidak akan ada yang berani berpikir seperti itu di perusahaanku," geram Dylan.

"Mereka investor asing, Dylan. Mereka tidak peduli dengan reputasimu di sini, mereka peduli pada angka dan presentasi," Yvone meletakkan tangannya di dada Dylan, membelai kemeja pria itu untuk meredakan ketegangannya. "Hanya dua jam. Aku janji akan langsung kembali ke ruangan ini setelah presentasi selesai. Kumohon?"

Mata kelam Dylan menatap wajah memohon istrinya. Pria itu mengertakkan rahangnya. Egonya ingin mengunci Yvone di menara ini selamanya, tapi ia tahu Yvone bukanlah burung dalam sangkar. Jika ia terus memaksanya, sayap wanita ini akan patah.

"Hanya dua jam," putus Dylan akhirnya, suaranya berat oleh keengganan. "Dan aku akan duduk tepat di sebelahmu sepanjang rapat."

Yvone tersenyum lebar, berjinjit untuk mengecup rahang suaminya. "Terima kasih, Tuan Hartono."

Pukul 15.00 WIB. Ruang Rapat Direksi Utama.

Ruang rapat di lantai 50 itu memancarkan kemewahan yang dingin. Meja mahogany raksasa mengkilap di bawah lampu kristal.

Dylan duduk di kursi pimpinan, memancarkan aura dominasi yang absolut. Di sebelah kanannya, duduk Yvone dengan setelan blazer navy yang elegan, iPad di tangannya siap dengan materi presentasi.

Di seberang meja, duduk perwakilan konsorsium dari Singapura, Lion Capital. Dipimpin oleh seorang pria muda yang usianya mungkin baru awal tiga puluhan.

Pria itu adalah Adrian Salim. Pewaris tunggal Lion Capital.

Adrian memiliki paras khas Asia Timur yang tajam rahang tegas, mata sipit yang memancarkan kecerdasan licik, dan senyum yang terlalu menawan untuk ukuran seorang bankir. Ia mengenakan setelan jas abu-abu terang buatan penjahit Milan yang pas di tubuhnya. Sejak ia melangkah masuk, Adrian sama sekali tidak menyembunyikan ketertarikannya. Bukan pada Dylan, melainkan pada wanita di sebelahnya.

"Presentasi yang sangat memukau, Nyonya Hartono," ucap Adrian, suaranya halus namun memancarkan arogansi yang halus pula. Matanya tak lepas dari wajah Yvone. "Konsep eco-luxury transisional Anda untuk resor Uluwatu... sangat berani. Saya belum pernah melihat arsitek lokal yang menggabungkan filosofi alam sedalam itu tanpa mengorbankan aspek kemewahan."

"Terima kasih, Tuan Salim. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim Alexander Group," jawab Yvone profesional, mengangguk sopan.

Adrian menopang dagunya dengan tangan, senyumnya semakin lebar. "Tolong, panggil saya Adrian. Saya selalu percaya bahwa di balik sebuah desain yang jenius, terdapat jiwa yang bebas. Suatu hari nanti, saya sangat ingin melihat langsung bagaimana Anda menemukan inspirasi Anda. Mungkin kita bisa mengatur kunjungan lapangan bersama ke Bali minggu depan?"

Udara di ruang rapat itu seketika turun beberapa derajat hingga terasa sedingin kutub.

Dylan, yang sejak tadi menyimak dengan rahang terkatup rapat, kini memutar tubuhnya perlahan menatap Adrian. Mata kelam sang miliarder memancarkan niat membunuh yang sangat transparan.

Bahkan Marco yang berdiri di sudut ruangan tanpa sadar menahan napas. Adrian baru saja melanggar dua aturan mematikan sekaligus: menggoda Yvone secara terang-terangan, dan mengajak wanita hamil itu bepergian tanpa izin Dylan.

"Istri saya tidak melakukan kunjungan lapangan dengan pihak eksternal, Salim," suara Dylan membelah keheningan, berat, mematikan, dan penuh penekanan pada kata 'istri saya'. "Terutama tidak dengan pihak yang peranannya hanya sekadar sebagai mesin pencetak uang."

Adrian sama sekali tidak terlihat terintimidasi. Pria itu justru tertawa pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Tentu saja, Dylan. Saya hanya menawarkan keahlian saya," Adrian melirik Yvone lagi. "Lagipula, Nyonya Yvone memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam berkolaborasi. Seperti proyek Senopati dengan biro yang... ah, sangat disayangkan nasibnya itu. Sayang sekali potensi sebesar ini harus dibatasi oleh protokol birokrasi perusahaan suaminya sendiri."

Kalimat itu adalah sebuah tamparan terang-terangan. Adrian secara implisit menuduh Dylan mengekang bakat Yvone, sekaligus mengorek luka lama tentang pengkhianatan Rangga Susilo.

Yvone merasakan cengkeraman tangan Dylan di bawah meja yang menggenggam tangannya menguat hingga nyaris menyakitkan. Kemarahan suaminya sudah berada di ambang batas ledakan.

Sebelum Dylan sempat menghancurkan kesepakatan bernilai triliunan itu dan melempar Adrian keluar dari jendela lantai 50, Yvone mengambil kendali.

"Bakat saya tidak pernah dibatasi, Adrian," potong Yvone, suaranya mengalun sangat dingin, meminjam aura intimidasi suaminya. Senyum profesionalnya lenyap. "Bakat saya justru mendapatkan platform terbesarnya di bawah Alexander Group. Suami saya tidak membatasi saya; beliau menyeleksi siapa saja yang pantas untuk duduk di meja yang sama dengan saya. Dan saat ini, Anda berada di meja kami."

Yvone menutup iPad-nya dengan bunyi klik yang tajam.

"Jika Lion Capital meragukan struktur operasional kami, pintu keluar ada tepat di belakang Anda. Namun jika Anda masih tertarik untuk mencetak keuntungan triliunan dari desain saya, saya sarankan kita fokus pada draf pembagian dividen di halaman empat."

Sisa-sisa anggota delegasi dari Singapura tampak menelan ludah gugup. Adrian Salim sendiri terdiam sejenak. Keterkejutannya tergambar jelas di matanya, sebelum akhirnya ia tersenyum kali ini, sebuah senyum kekaguman murni, bukan sekadar godaan murahan.

"Anda benar-benar wanita yang luar biasa, Nyonya Hartono," ucap Adrian, menganggukkan kepalanya dengan hormat. "Mari kita bahas halaman empat."

Rapat berlanjut selama empat puluh menit berikutnya, namun kali ini Adrian tidak berani lagi melewati batas profesional.

Begitu pintu ruang rapat ditutup dan perwakilan Lion Capital turun melalui lift, Dylan tidak menunggu sedetik pun. Ia menarik pinggang Yvone, membalikkan tubuh wanita itu, dan menekannya ke dinding kayu mahogany ruang rapat dengan gerakan yang cukup kasar namun tetap menjaga perut istrinya.

Napas Dylan memburu. Pria itu mengurung Yvone dengan kedua lengannya, matanya gelap oleh kombinasi antara amarah, kecemburuan purba, dan gairah yang tersulut oleh ketegasan istrinya barusan.

"Pria bajingan itu," desis Dylan tepat di bibir Yvone, "jika kau tidak menghentikannya tadi, aku bersumpah aku akan mematahkan lehernya dan melemparkannya ke jalanan Sudirman."

Yvone mengalungkan lengannya di leher suaminya, menatap pria itu dengan senyum menenangkan. "Tapi kau tidak melakukannya. Kau membiarkanku yang menanganinya. Bukankah itu artinya aku sudah pantas menjadi Ratumu?"

"Kau selalu pantas menjadi ratuku," Dylan mencium bibir Yvone dengan kasar, melumatnya posesif sebelum melepaskannya perlahan. "Tapi aku benci cara dia menatapmu. Aku benci fakta bahwa pria lain bisa melihat betapa briliannya dirimu."

Yvone mengusap rahang suaminya yang tegang. "Dia hanya investor, Dylan. Dan percayalah, setelah apa yang terjadi pada Rangga, tidak akan ada pria bodoh yang berani macam-macam denganku."

Dylan menumpukan dahinya di dahi Yvone, memejamkan mata mencoba meredakan adrenalinnya.

"Kita akan pergi dari sini," bisik Dylan tiba-tiba, suaranya serak.

Yvone mengerutkan kening. "Pergi dari ruang rapat? Tentu, kita harus kembali ke—"

"Tidak. Kita pergi dari Jakarta." Dylan membuka matanya, menatap Yvone dengan kepastian absolut. "Adrian benar tentang satu hal. Kau butuh inspirasi, dan kau butuh udara yang tidak dipenuhi polusi konspirasi orang-orang serakah ini. Di sini, aku selalu merasa harus memasang perisai setebal baja untuk kalian berdua."

Pria itu membelai perut Yvone dengan kelembutan yang menyayat hati.

"Dokter Amanda bilang trimester kedua adalah waktu yang paling aman. Begitu kau masuk minggu kedua belas, kita tidak akan tinggal di penthouse ini lagi," putus Dylan.

"Lalu kita akan tinggal di mana?" tanya Yvone dengan napas tertahan.

"Villa Karang Putih," Dylan tersenyum, sebuah senyum yang akhirnya mencapai matanya, bebas dari beban ibu kota. "Kita akan pindah ke Bali secara permanen. Aku bisa menjalankan perusahaanku dari sana. Kau bisa memantau proyekmu dari dekat. Anak kita akan lahir dengan suara debur ombak, bukan suara sirine kemacetan."

Mata Yvone berkaca-kaca. Bali. Tempat di mana mereka pertama kali benar-benar saling menemukan. Tempat di mana sangkar emas ini hancur dan menjelma menjadi surga.

"Bali," bisik Yvone, mengangguk cepat, senyum kebahagiaan merekah di wajahnya. "Ya. Bawa aku kembali ke rumah kita, Dylan."

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!