NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 : Keributan Di kantor

Malam itu...

Dara berdiri beberapa saat di depan pintu masuk rumah sakit sambil memandangi mobil hitam yang perlahan menjauh dari area parkir.

Entah kenapa senyumnya belum hilang. "Kenapa sih aku malah senyum?" gumamnya pelan.

Ia menggeleng cepat lalu masuk ke dalam gedung rumah sakit.

Beberapa menit kemudian...

Dara tiba di lantai tiga. Langkahnya otomatis melambat saat melihat sosok wanita paruh baya yang sedang tertidur di atas ranjang pasien.

Ibu Nadia Pramesti, wajah wanita itu terlihat jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu. Tidak sepucat sebelumnya. Dara tersenyum lega, perlahan ia mendekat lalu merapikan selimut ibunya.

Namun ternyata sang ibu belum benar-benar tidur. "Dara?"

Dara langsung tersenyum. "Mama belum tidur?"

Wanita itu membuka mata perlahan. "Kamu baru pulang kerja?"

"Iya."

"Kok malam?"

"Kerjaan lagi banyak."

Ibunya mengangguk pelan. Kemudian memperhatikan wajah putrinya beberapa detik. "Kamu lelah?"

Dara tersenyum kecil. "Sedikit, Ma."

Sang ibu menghela napas. "Maaf ya."

Dara langsung menggeleng. "Kenapa minta maaf?"

"Karena kamu harus kerja keras begini."

Dara langsung menggenggam tangan ibunya. "Jangan bilang begitu, Ma."

"Tapi..."

"Sudah ya, semua ini sudah tanggung jawab Dara sebagai anak." Matanya mulai berkaca-kaca. "Dara senang bisa bekerja lagi dan bayar pengobatan Mama."

Wanita itu tersenyum lembut. Dara duduk di samping ranjang sambil bercerita tentang pekerjaannya. Tentang kantor baru. Tentang kesibukan yang luar biasa.

Tentu saja ia tidak menceritakan semua hal. Terutama soal Bosnya. Namun tiba-tiba Dara bertanya. "Mama."

"Hm?"

"Kalau punya atasan galak itu normal kan?"

Ibunya langsung tertawa kecil. "Mamang galak sekali?"

Dara langsung teringat wajah Alexander. "Iya lumayan."

"Suka marah?"

"Enggak juga sih."

"Berarti bukan galak."

Dara berkedip. "Tapi beliau menyeramkan."

Ibunya kembali tertawa. "Kalau begitu mungkin dia cuma tegas."

Dara berpikir beberapa detik. Mungkin benar, karena selama ini Alexander memang tidak pernah memarahinya tanpa alasan. Bahkan malam ini, pria itu mengantarnya ke rumah sakit. Tanpa diminta, entah kenapa pikiran itu membuat wajah Dara sedikit memanas.

***

Sementara itu...

Di dalam penthouse mewah milik Alexander. Ruangan yang luas itu terasa sunyi. Hanya lampu-lampu kota yang terlihat dari balik dinding kaca tinggi. Alexander baru saja menuangkan segelas air ketika ponselnya bergetar di atas meja.

Drrtt...

Tatapannya turun ke layar. Nama yang muncul membuat ekspresinya langsung datar... Sabrina, istrinya.

Alexander menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. "Ya."

Belum sampai dua detik, suara wanita itu langsung terdengar.

"Alexander Wiratama Dirgantara!"

Alexander memejamkan mata sesaat.

"Aku baru saja menerima surat gugatan cerai!" Nada suara Sabrina terdengar sangat marah.

"Apa maksudmu?!"

Alexander berjalan santai menuju sofa. ia tidak menjawab.

Sabrina semakin emosi. "Kenapa kamu menggugatku tanpa membicarakannya lebih dulu?"

"Kita sudah membicarakannya."

"Kapan?!"

"Tiga bulan lalu."

Sabrina langsung terdiam. Karena memang benar, tiga bulan lalu mereka sudah bertengkar besar. Saat itu Alexander mengetahui hubungan Sabrina dengan fotografer pribadinya. Namun Sabrina masih mencoba menyangkal semuanya.

Alexander duduk di sofa. "Aku sudah memberimu waktu."

"Kamu tetap tidak bisa melakukan ini!"

"Aku sudah melakukannya." Nada suaranya tenang.

Dan itu membuat Sabrina semakin marah. "Jadi begitu saja?"

"Iya."

"Kita sudah menikah hampir dua tahun, Alex!"

Alexander menatap langit malam di luar jendela. "Dan berapa lama kau berselingkuh?"

Keheningan langsung memenuhi sambungan telepon. Sabrina tidak menjawab. Alexander juga tidak membutuhkan jawaban. Karena ia sudah mengetahui semuanya.

Beberapa detik berlalu. Suara Sabrina terdengar lebih pelan. "Alex... kita bisa bicara baik-baik."

Alexander terdiam beberapa detik. Dulu mungkin ia masih mau mendengarkan, memberi kesempatan. Tapi sekarang tidak lagi, tatapannya tetap tertuju pada gemerlap lampu kota di luar jendela.

"Sampai ketemu di pengadilan."

"Alex, tunggu..."

Klik.

Panggilan terputus.

Alexander langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Tidak ada keraguan, ataupun penyesalan. Hanya rasa lelah yamg ia rasakan saat inim Pria itu menyandarkan tubuh ke sofa sambil memejamkan mata beberapa saat.

"Aku sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi."

Dua tahun pernikahan ia mencoba mempertahankan sesuatu yang perlahan runtuh. Kini semuanya sudah selesai, Alexander berdiri lalu berjalan menuju kamar. Kini ia tidak ingin memikirkan Sabrina lagi.

Keesokan harinya...

PT Dirgantara Group kembali sibuk seperti biasa. Pukul delapan pagi. Dara sudah berada di meja kerjanya sejak setengah jam lalu. Tumpukan berkas memenuhi meja.

Hari ini Alexander akan terbang ke Surabaya untuk bertemu investor penting. Jadwalnya padat dan semua dokumen harus siap sebelum keberangkatan.

"Dara, yang ini sudah diperiksa?" tanya Rina. "Yang proposal investasi?"

"Sudah."

"Yang laporan keuangan?"

"Sedang aku susun."

Rina langsung menggeleng kagum. "Astaga, kamu kuat juga ya."

Dara tertawa kecil. "Mau nggak mau."

Mereka berdua kembali fokus bekerja. Printer terus berbunyi. Email terus masuk, telepon sesekali berdering. Suasana lantai direksi sibuk seperti sarang lebah.

Namun sekitar pukul sembilan lewat...

Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar. "Maaf, Nyonya! Anda tidak bisa masuk!"

"Saya ingin bertemu dengan suami saya."

"Tolong tunggu sebentar!"

Dara dan Rina langsung saling menoleh. "Ada apa?" gumam Rina.

Belum sempat mereka keluar untuk melihat.

Brak!

Pintu area sekretaris terbuka keras. Seorang wanita tinggi dengan kacamata hitam besar melangkah masuk dengan wajah marah. Semua staf langsung membeku, Dara juga ikut terdiam. Karena wanita itu sangat familiar.

Wajahnya sering muncul di majalah. Di iklan televisi, di media sosial.... Sabrina Larasati, istri Alexander. Atau lebih tepatnya calon mantan istrinya.

Di belakangnya dua petugas keamanan terlihat kewalahan. "Maaf, Nyonya.... tapi Anda tidak bisa..."

"Saya tidak peduli!" Suara Sabrina terdengar tajam.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Dara dan Rina.

"Kalian."

Dara langsung menegakkan punggungnya. "Iya, Nyonya?"

"Di mana Alexander?"

Dara menelan ludah. "Maaf, Nyonya Tuan Alexander belum datang."

"Saya ingin menemuinya."

"Apakah sudah ada janji?"

Sabrina langsung tertawa sinis. "Janji?"

"Dia suami saya."

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Dara dan Rina saling pandang. Sabrina berjalan semakin dekat.

"Hari ini juga saya ingin bertemu dia." Nada suaranya membuat para staf semakin gugup.

Namun sebelum Sabrina sempat melanjutkan perkataannya, suara lain terdengar dari arah lift.

"Sabrina... pagi-pagi udah bikin keributan."

Semua orang menoleh.

Aldi baru saja keluar dari lift sambil membawa tablet di tangannya. Ekspresinya santai seperti biasa, seolah tidak melihat suasana tegang yang sedang terjadi.

Sabrina langsung menoleh. "Aldi."

"Iya."

Aldi melirik seluruh ruangan yang sudah seperti mau perang. Lalu menghela napas panjang.

"Lo ngapain sih datang ke sini?"

"Gue mau ketemu Alex."

"Iya, gue tahu."

Aldi menunjuk ke arah para staf. "Tapi nggak perlu bikin satu lantai direksi kena serangan jantung juga."

Beberapa staf langsung menunduk menahan tawa. Sabrina semakin kesal. "Gue istrinya!"

"Calon mantan istri."

"Aldi!"

"Oke, oke."

Aldi mengangkat kedua tangannya menyerah. Kemudian ia menunjuk ke arah ruangannya. "Mending lo ikut gue."

Sabrina mengernyit. "Ke mana?"

"Ke ruangan gue."

"Gue nggak mau ketemu lo."

"Iya, tapi gue mau ngomong sama lo."

Sabrina memelototinya.

Sedangkan Aldi tetap santai. "Daripada lo teriak-teriak di sini, terus masuk berita sore nanti... gimana?"

Keheningan beberapa detik.

Akhirnya Sabrina mendecak kesal. "Oke, fine."

Aldi langsung menoleh kepada Dara. "Dara."

"Iya, Pak Aldi?"

"Kalau Bos datang, bilang saya sedang menerima tamu spesial."

Dara langsung mengangguk. "Baik."

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!