NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM JAHANAM DIDESA

​Malam kian merayap pekat, melarutkan desa dalam kesunyian yang mencekam. Di teras rumah, jenazah Mbak Lastri telah ditutupi selembar kain jarik. Di dalam rumah, atmosfer terasa begitu tegang. Dua adik Kirana, Danu yang berusia lima belas tahun dan Larasati yang baru berumur sepuluh tahun, duduk meringkuk di sudut kamar sambil memeluk lutut mereka. Mereka belum sepenuhnya paham apa yang terjadi, namun tangis ibu mereka dan wajah tegang sang kakak sudah cukup menjadi sinyal bahwa maut sedang mengintai.

​Tepat tengah malam, kesunyian itu pecah.

​Creeeeek!

​Suara gesekan ban mobil dengan jalanan tanah terdengar kasar di depan pagar. Cahaya lampu sorot dari dua mobil minibus menembus celah-celah dinding papan rumah Kirana. Detik berikutnya, suara pintu mobil yang digebrak terbuka disusul oleh derap langkah sepatu yang berat dan gaduh.

​"Kirana! Keluar kamu, jalang!" teriakan kasar itu menggema, memutus keheningan malam.

​BRAAAKK!

​Pintu depan rumah panggung itu ditendang hingga lepas dari engselnya. Lima orang pria berbadan kekar dengan tato yang menjalar di leher mereka merangsek masuk. Di tangan mereka, sebilah celurit dan parang panjang berkilau mengerikan diterpa cahaya lampu.

​Kirana berdiri di tengah ruang tamu, menghalang akses menuju kamar ibu dan adik-adiknya. Tangannya diam-diam meraba belati di balik baju kurungnya. Namun, ia kalah cepat.

​"Ini dia orangnya! Hajar!"

​Sebelum Kirana sempat menarik belatinya, sebuah tendangan keras mendarat di perutnya. DUAAKK! Tubuh Kirana terlempar menghantam lemari kayu hingga kacanya pecah berantakan. Rasa nyeri yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuhnya. Belati di tangannya terlepas, menggelinding jauh ke kolong meja.

​"Kirana!" Jerit histeris Ibu Sumi pecah dari dalam kamar. Wanita paruh baya itu berlari keluar, diikuti Danu dan Larasati yang menangis ketakutan.

​"Jangan sentuh anak saya! Jangan!" Ibu Sumi memeluk tubuh Kirana yang berusaha bangkit di lantai.

​Namun, para preman itu tidak memiliki rasa iba sedikit pun. Rambut Kirana dijambak kasar, memaksanya tegak kembali. PLAAKK! PLAAKK! Dua tamparan keras mendarat di pipi Kirana hingga sudut bibirnya robek dan mengalirkan darah segar. Kirana menjadi bulan-bulanan. Ia dipukul, ditendang, dan dihantam berkali-kali tanpa ampun di depan mata keluarganya sendiri.

​"Kak Kirana! Jangan pukul Kakak!" Danu menjerit, mencoba maju untuk melawan, namun salah satu preman langsung menodongkan moncong pistol hitam tepat ke dahi remaja itu.

​"Diam kamu, bocah! Bergerak sedikit, pecah kepala kamu!" bentak preman itu.

​Melihat moncong senjata api itu, Danu seketika membeku. Air matanya mengalir deras dalam cengkraman rasa takut yang luar biasa. Larasati hanya bisa menjerit histeris sambil memeluk pinggang adiknya.

​Ibu Sumi yang menyaksikan anak gadisnya dihajar habis-habisan hingga babak belur, sementara anak laki-lakinya ditodong pistol, mendadak memegang dadanya. Napasnya memburu, tersenggal-senggal dengan hebat. Jantungnya yang memang sudah lemah tidak sanggup menahan guncangan trauma yang begitu dahsyat malam itu.

​"Gusti... Kirana... Danu..." Suara Ibu Sumi lirih. Wajahnya mendadak biru keunguan.

​"Ibu! Ibu!" Kirana berteriak histeris di sela-sela rasa sakit tubuhnya saat melihat ibunya ambruk ke lantai.

​Ibu Sumi kejang sejenak, matanya menatap ketiga anaknya dengan pandangan yang perlahan meredup, hingga akhirnya sepasang mata itu terpejam untuk selamanya. Detak jantungnya berhenti malam itu juga, di atas lantai semen rumah mereka yang dingin.

​"IBUUUUU!" Jerit Danu dan Larasati pecah seketika. Mereka berlutut, menggoyang-goyang tubuh Ibu Sumi yang sudah tidak bernyawa. Tangis kedua anak yatim-piatu itu melengking memilukan membelah malam.

​Kirana membeku. Dunianya runtuh seketika. Rasa sakit di sekujur tubuhnya mendadak mati rasa, tergantikan oleh kehampaan yang luar biasa melihat ibunya terbujur kaku.

​"Sudah mati orang tuanya. Cepat seret perempuan ini ke mobil! Sebelum warga datang!" perintah kepala preman.

​Di luar rumah, beberapa warga desa sebenarnya sudah terbangun mendengar keributan yang luar biasa itu. Pak RT dan Kang Cecep bahkan sudah berlari membawa pentungan kayu menuju rumah Kirana. Namun, langkah mereka terhenti total di batas pagar.

​Tiga orang preman lain berdiri di halaman, memegang senjata api laras pendek yang diarahkan langsung ke arah jalan desa.

​"Siapa yang berani maju satu langkah, malam ini desa ini bakal panen mayat!" ancam preman itu dingin.

​Pak RT gemetar hebat. Genggaman kayunya melonggar. Warga desa yang lain, yang tadinya berniat menolong, langsung mundur teratur masuk ke dalam rumah masing-masing dan mengunci pintu. Di hadapan moncong peluru, keberanian mereka ciut seketika. Mereka hanya bisa mengintip dari balik tirai jendela dengan perasaan campur aduk antara takut dan bersalah.

​Kirana diseret keluar rumah seperti binatang. Baju kurungnya koyak dan dipenuhi noda darah serta tanah. Kepalanya terkulai, namun matanya yang bengkak masih menatap ke arah pintu rumah, di mana Danu dan Larasati menangis histeris di samping jasad ibu mereka.

​"Danu... Laras... jaga diri kalian..." bisik Kirana lemah, suaranya habis.

​BRAAAK!

​Tubuh babak belur Kirana dilempar kasar ke dalam bagasi belakang mobil minibus yang pengap. Pintu ditutup rapat, mengunci Kirana dalam kegelapan.

​Kedua mobil itu kemudian melesat cepat, meninggalkan debu yang mengepul di jalanan desa, meninggalkan jerit tangis dua anak kecil yang mendadak sebatang kara, dan meninggalkan rasa penyesalan yang mendalam di hati warga desa yang hanya bisa diam membeku.

​Malam itu, Kirana kembali dibawa paksa menuju neraka yang sama: kota Valerion.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!