NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

​"Zara! Masuk kamu!"

​Suara bariton Pak Rahmad menggelegar di halaman pesantren yang sunyi. Pria paruh baya itu berdiri di teras rumah Abah Mukhlas dengan napas memburu, menatap putri tunggalnya dengan mata memerah. Di sebelahnya, Reza berdiri tegak dengan setelan kemeja batik, melipat tangan di dada sembari melempar senyum tipis yang sarat akan kemenangan.

​Zara mundur selangkah. Kakinya gemetar hebat hingga hampir kehilangan tumpuan. "Ayah... kenapa ke sini?" bisiknya dengan suara serak.

​"Kenapa? Kamu masih berani nanya kenapa?!" Pak Rahmad melangkah turun dari teras, mendekati Zara dengan gusar. "Kamu kabur ke pelosok begini, mematikan ponsel, bikin Ibu kamu nangis tiap malam! Kamu pikir ini lucu, Zara?!"

​"Astagfirullah, Om... eh, pak. Sabar dulu, jangan pakai urat ngomongnya," sela Fahri tiba-tiba. Ia menggeser tubuh jangkungnya, sengaja berdiri tepat di depan Zara, memblokir pandangan langsung Pak Rahmad.

​Pak Rahmad menghentikan langkahnya, menatap Fahri dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan. "Siapa kamu?! Gak usah ikut campur urusan keluarga saya!"

​"Saya Fahri, pengajar di sini. Dan kebetulan, tempat yang Bapak injak sekarang ini adalah area pesantren, tempat orang mencari ketenangan, bukan tempat buat teriak-teriak kayak di pasar," sahut Fahri, nadanya tetap santai namun sarat akan penekanan.

​"Fahri, minggir..." bisik Zara di belakang punggung Fahri, air matanya mulai luruh. "Gak papa, ini urusan saya."

​"Gak bisa, Teh Jakarta. Di sini saya yang bertugas jaga keamanan," jawab Fahri tanpa menoleh sedikit pun, punggungnya yang tegap terasa seperti dinding benteng yang kokoh bagi Zara.

​Reza akhirnya melangkah maju, mendekati Pak Rahmad sambil memegang pundak pria tua itu. "Om, biar Reza yang bicara sama Zara. Tolong kontrol emosinya, kita ke sini kan buat jemput Zara baik-baik."

​"Jemput?" Zara keluar dari balik punggung Fahri, menatap Reza dengan kilat amarah yang bercampur rasa jijik.

"Hah?! Setelah apa yang kamu lakuin hari itu? Setelah kamu dan keluarga kamu mempermalukan aku di depan ratusan tamu? Setelah kamu mengusir aku dengan video fitnah itu, sekarang kamu bilang mau jemput baik-baik?! Kamu gila, Za?!"

​"Zara, dengerin aku dulu. Tolong jangan emosi," Reza mengangkat kedua tangannya, memasang wajah paling melas yang bisa ia buat.

 "Masalah video itu semuanya cuma kesalahpahaman. Aku udah selidiki. Itu cuma editan dari orang yang syirik sama bisnis keluarga Aku. Aku salah karena malam itu langsung emosi. Aku ke sini mau minta maaf, Zar. Aku mau kita balik ke Jakarta, kita lanjutkan pernikahan kita yang tertunda."

​Zara tertawa sumbang, tawanya berbaur dengan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

"Lanjutkan pernikahan? Serius kamu, Za?! Kamu pikir hati aku ini mainan yang bisa kamu patahin malam ini, terus besoknya kamu lem lagi pakai kata maaf?!"

​"Zara! Cukup!" bentak Pak Rahmad lagi, wajahnya mengeras.

"Reza sudah berbaik hati mau membersihkan nama baik kamu! Kamu tahu tidak, bisnis Ayah hampir hancur gara-gara gosip itu? Saham perusahaan turun drastis! Sekarang Reza dan keluarganya menawarkan perdamaian, mereka mau melanjutkan pernikahan ini demi nama baik dua keluarga. Kamu harus pulang sekarang!"

​"Demi nama baik?!" Zara menatap ayahnya tidak percaya, dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar.

 "Ya ampun, Ayah... jadi Ayah ke sini bukan karena khawatir sama keadaan Zara yang luntang-lantung di jalan? Ayah ke sini cuma demi karir? Demi bisnis Ayah?!"

​"Zara, jaga ucapan kamu!" Pak Rahmad menunjuk wajah Zara dengan jari bergetar. "Kalau bukan karena memikirkan masa depan kamu, Ayah tidak akan sudi menginjakkan kaki di kampung terpencil begini! Mau ditaruh di mana muka Ayah kalau kamu batal nikah dan jadi perawan tua yang dicap kotor?!"

​"Cih, perawan tua dicap kotor katanya?" Fahri mendengus kencang, memotong kalimat Pak Rahmad tanpa rasa takut sedikit pun.

"Pak, maaf-maaf nih ya. Anak Bapak ini di sini dihormati, disayang sama anak-anak madrasah, kerjaannya mulia mengajar ilmu. Kok malah Ayah kandungnya sendiri yang tega ngatain anaknya kotor di depan umum? Situ sehat?"

​"Heh, ustadz kampung! Jaga batasan kamu!" Reza membentak Fahri, matanya menatap tajam.

"Kamu itu cuma orang asing di sini! Jangan sok pahlawan!"

​"Lah? Memang saya pahlawan kok. Minimal pahlawan kesiangan buat Teh Zara," tantang Fahri, maju satu langkah menantang balik tatapan Reza.

"Dan satu lagi, Mas Batik... kalau situ beneran laki-laki sejati, gak bakal situ biarin calon istri terlunta-lunta sampai lebam begini kemarin. Sekarang pas urusan bisnis butuh mukanya, baru datang bawa rombongan. Gak malu sama kumis?"

​"Kamu—!" Reza mengepalkan tangannya, bersiap maju, namun langkahnya terhenti saat pintu rumah utama kembali terbuka lebar.

​Abah Mukhlas melangkah keluar, diikuti oleh Umil yang wajahnya masih diliputi kecemasan. Suasana halaman langsung mendadak hening. Kewibawaan sang Kyai sepuh seketika meredam ketegangan.

​"Aya naon ini berisik-berisik? Astagfirullah..." ucap Abah Mukhlas lembut namun berwibawa. Beliau menatap Pak Rahmad, lalu beralih ke Zara yang sedang terisak.

"Pak, mangga kalebet heula. Kita selesaikan di dalam rumah dengan kepala dingin, tidak enak dilihat santri yang sedang lalu lalang."

​Pak Rahmad menarik napas panjang, berusaha merapikan setelan jasnya yang agak kusut. "Baik, Pak Kyai. Maaf atas ketidaknyamanannya. Tapi anak saya harus ikut masuk."

​"Zara, Ayo masuk ke dalam," ajak Abah Mukhlas hangat.

​Zara menatap Fahri dengan pandangan ketakutan. Fahri hanya mengangguk pelan, memberikan senyuman tipis yang anehnya langsung menyalurkan sedikit keberanian ke dalam hati Zara.

 "Masuk aja, Zar. Ada Abah di dalam. Saya jagain dari pintu teras."

​Di dalam ruang tamu bergaya kuno tersebut, suasana terasa sangat mencekam. Pak Rahmad dan Reza duduk di kursi rotan panjang, sementara Zara duduk di samping Umil yang terus memegangi tangannya yang dingin. Abah Mukhlas duduk di kursi tunggal di ujung meja.

​"Jadi...kedatangan Bapak ke sini adalah untuk menjemput Neng Zara pulang?" tanya Abah Mukhlas membuka percakapan setelah Umil menyajikan teh hangat.

​"Betul, Pak Kyai. Masalah di Jakarta sudah selesai. Reza sudah mengklarifikasi bahwa video itu palsu. Jadi tidak ada alasan lagi bagi Zara untuk bersembunyi di sini," jawab Pak Rahmad dengan nada tegas, melirik Zara yang terus menunduk.

​"Aku gak bersembunyi, Ayah," Zara mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sang ayah. Suaranya tidak lagi bergetar penuh ketakutan, melainkan terdengar dingin dan rapuh.

 "Zara di sini karena Ayah dan Ibu yang mengusir Zara. Ayah lupa? Ayah yang bilang jangan pernah injak rumah itu lagi!"

​"Itu karena Ayah emosi, Zara! Kamu harusnya paham posisi Ayah malam itu!" bela Pak Rahmad defensif.

​"Paham posisi Ayah? Lalu siapa yang paham posisi Zara malam itu?!" Zara setengah berteriak, air matanya kembali meluncur deras.

"Zara dipermalukan, ditampar, diusir malam-malam tanpa sepeser pun uang! Gak ada satu pun orang yang nanya gimana perasaan Zara! Dan sekarang, setelah Zara mulai bisa napas di sini, Ayah datang cuma buat nyuruh Zara jadi tumbal demi memperbaiki nama baik Ayah?!"

​Reza menggeser duduknya, menatap Zara dengan pandangan memohon yang dibuat-buat.

 "Zar, please... aku akui aku salah. Aku khilaf malam itu. Tapi tolong pikirkan masa depan kita. Pernikahan ini bisa memperbaiki segalanya. Aku janji bakal buat kamu bahagia di Jakarta. Kita lupain semuanya, ya?"

​"Lupain semuanya?" Zara menatap Reza dengan pandangan penuh rasa muak.

"Kamu pikir luka di hati aku ini bisa hilang cuma dengan tombol reset, Za? Setiap kali aku lihat muka kamu, yang aku ingat cuma malam jahanam itu! Aku gak mau menikah sama kamu. Pernikahan kita sudah mati malam itu juga!"

​"Zara! Jangan keras kepala!" Pak Rahmad menggebrak meja kayu di depannya hingga cangkir teh bergoyang. "Kamu harus ikut pulang sekarangi! Ayah tidak mau tahu!"

​"Pak Rahmad, punten..." Abah Mukhlas mengangkat sebelah tangannya, memotong ucapan Pak Rahmad dengan kelembutan yang mematikan. "Di pesantren ini, kami diajarkan untuk tidak pernah memaksakan kehendak, apalagi urusan pernikahan. Pernikahan itu ibadah seumur hidup, harus didasari oleh keridhaan kedua belah pihak. Jika Neng Zara merasa belum siap dan sangat terluka, Bapak sebagai Ayah tidak boleh memaksanya."

​"Tapi Pak Kyai, ini urusan keluarga kami—"

​"Iya, urusan keluarga Bapak, tapi Zara sekarang ini tamu saya," sahut sebuah suara dari arah pintu teras.

​Fahri bersandar di kosen pintu, melipat tangan di dada dengan pandangan mata yang sangat tajam mengarah ke arah Reza.

 "Dan jujur ya, saya sebagai laki-laki agak geli melihat Mas Batik ini. Sudah ditolak mentah-mentah, masih aja mengemis. Gak punya harga diri ya di Jakarta?"

​"Heh! Kamu benar-benar gak tahu sopan santun ya?!" Reza bangkit berdiri dari kursinya, menunjuk Fahri dengan amarah yang memuncak.

"Kamu sengaja kan mau menghasut Zara biar gak mau pulang? Kamu ada main ya sama dia selama dia di sini?!"

​"Hah? Ada main?" Fahri malah terkekeh sinis, melangkah masuk ke dalam ruang tamu tanpa memedulikan tatapan geram Ayah Rahmad.

"Gila, fitnahnya lancar banget kayak jalan tol. Dengar ya, Mas... saya di sini cuma membantu meluruskan ingatan situ yang kayaknya agak amnesia. Perempuan kalau sudah bilang 'enggak', ya artinya 'enggak'. Gak usah pakai pemaksaan, apalagi bawa-bawa urusan saham. Norak tahu gak."

​"Fahri, entos," (Fahri, sudah) tegur Abah Mukhlas pelan, namun nadanya mengisyaratkan agar Fahri tetap berada di tempatnya untuk menjaga situasi.

​Zara memandang Fahri, lalu kembali menatap ayahnya dan Reza. Kehadiran Fahri di ruangan itu entah bagaimana memberikan benteng kekuatan baru di dalam jiwanya. Ia menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dari kursinya.

​"Ayah... Reza... silakan kalian pulang ke Jakarta hari ini juga," ucap Zara dengan nada final yang sangat dingin. "Aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu, dan aku tidak akan pernah melanjutkan pernikahan konyol ini. Hubungan kita sudah selesai."

​"Zara! Kamu berani membangkang sama Ayah?!" Pak Rahmad ikut berdiri, wajahnya memerah padam.

​"Zara tidak membangkang, Ayah. Zara cuma mau menyelamatkan sisa harga diri Zara yang belum sempat kalian hancurkan," balas Zara menatap lurus mata ayahnya. "Umil, tolong antar Zara ke kamar. Zara mau istirahat."

​Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya atau Reza, Zara berbalik dan melangkah cepat menuju pintu belakang rumah Abah Mukhlas, diikuti oleh Umil.

​"Zara! Kembali kamu! Zara!!" teriak Pak Rahmad, namun langkah kakinya langsung dihadang oleh tubuh jangkung Fahri yang berdiri kokoh di tengah ruangan.

​"Pak, pintunya sebelah sana. Mangga, silakan pulang sebelum saya panggil anak-anak pencak silat buat mengantar mobil mewah kalian sampai jalan raya," ucap Fahri dengan senyum tipis yang kali ini terasa sangat mengancam.

​Reza mencengkeram kerah kemeja batiknya sendiri dengan geram, menatap Fahri dengan dendam yang membara. Konflik di antara mereka barulah dimulai, dan di bawah atap pesantren kaki gunung ini, badai masa lalu Zara kini resmi berbenturan dengan perlindungan yang siap diberikan oleh sang santri rese tersebut.

1
partini
love aja yah ,my love gitu
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!