Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Cetak Biru yang Bertumbuh
BAB 12: Cetak Biru yang Bertumbuh
[Notifikasi Sistem: Sinkronisasi Hadiah Misi Sampingan Terdeteksi.]
[Efek Samping Peningkatan Stat Kekuatan (Strength) & Tembakan (Shooting): Sistem mulai mengaktifkan modul optimalisasi biologis. Batas pertumbuhan tinggi badan Tuan Rumah diatur ulang menuju potensi genetik maksimal: 184 cm.]
[Progres Saat Ini: 162 cm (+1 cm dari minggu lalu). Proses pertumbuhan akan berjalan alami secara bertahap seiring peningkatan stat fisik Anda agar tidak memicu kecurigaan medis.]
Velix tersenyum tipis membaca notifikasi yang melayang di sudut pandangnya saat berjalan menuju ruang ganti untuk istirahat babak pertama. Pria dewasa di dalam dirinya sangat paham bahwa di era sepak bola modern tahun 2026, tinggi badan adalah aset investasi yang krusial. Dengan target 184cm, dia tidak akan lagi menjadi gelandang kurus yang mudah diempas bek-bek kekar Eropa di masa depan.
Di dalam ruang ganti, atmosfer berubah total menjadi penuh sukacita.
"Velix! Tendangan bebas lu tadi bener-bener gila! Belajar di mana lu, hah?!" Ryan langsung merangkul leher Velix dengan heboh begitu dia duduk di bangku panjang.
Pak Joko masuk dengan wajah yang berseri-seri, menepuk papan strategi dengan penuh semangat. "Luar biasa! Babak pertama yang sangat rapi. Velix, gol dan assist kamu mengubah mentalitas tim. Tapi ingat semuanya, babak kedua SMP 14 pasti akan bermain habis-habisan. Jangan lengah!"
Di sela-sela riuhnya ruang ganti, Velix kembali memfokuskan pikirannya pada menu krusial yang sudah dia tunggu-tunggu sejak malam duel di kompleks.
'Sistem, buka Toko Skill Tier Perunggu sekarang. Aku punya 61 SP,' perintah Velix dalam hati, mode seriusnya kembali mengunci fokus.
Ting!
Layar hologram biru menampilkan deretan keahlian permanen tingkat pemula yang bisa dia tebus:
[TOKO SKILL - TIER PERUNGGU (Dana Anda: 61 SP)]
[Skill Pasif: Ketenangan Eksekusi Penalti Frank Lampard] - Harga: 60 SP
[Skill Aktif: Operan Pendek Presisi Xavi Hernandez (Fase 1)] - Harga: 75 SP (Poin Kurang)
[Skill Pasif: Visi Posisi Tanpa Bola Thomas Müller] - Harga: 80 SP (Poin Kurang)
Velix menganalisis pilihan yang tersedia. Hanya ada satu skill yang mampu dia beli saat ini, yaitu milik sang legenda Chelsea, Frank Lampard.
'Ketenangan eksekusi penalti... Kedengarannya seperti skill spesifik, tapi efek pasif dari mentalitas Lampard pasti jauh lebih besar dari sekadar menendang penalti,' pikir Velix dengan logika dewasanya.
'Sistem, beli Skill Pasif: Ketenangan Eksekusi Penalti Frank Lampard.'
[Pembelian Berhasil! Mengurangi 60 System Points (SP). Sisa SP Anda: 1 SP.]
[Mentransfer Skill permanen ke dalam kesadaran Tuan Rumah...]
[Efek Pasif Terbuka: "Cold-Blooded Mentor". Tingkat ketenangan Anda di dalam kotak penalti lawan meningkat sebesar 40%. Detak jantung Anda akan tetap stabil di bawah 90 BPM saat menghadapi tekanan situasi krusial (Kiper lawan, sorakan penonton, atau menit akhir).]
Wusss.
Sebuah gelombang hangat yang menenangkan menjalar ke dalam dada Velix. Efek pasif ini langsung menyatu sempurna dengan mentalitas pria 26 tahunnya yang memang sudah tenang. Kini, dia memiliki ketahanan mental sedingin es yang setara dengan para eksekutor terbaik di benua Eropa.
Prreeettt! Babak kedua dimulai.
Sesuai dugaan, SMP 14 mengubah strategi mereka menjadi sangat ekstrem. Mereka menerapkan taktik man-to-man marking yang sangat ketat khusus untuk mengunci Velix. Tidak tanggung-tanggung, dua gelandang bertahan mereka ditugaskan untuk mengawal Velix layaknya bayangan, bahkan sejak Velix masih berada di area pertahanannya sendiri.
"Jangan kasih nomor 11 pegang bola! Tempel sampai ke garis gawang!" teriak pelatih lawan dari instruksi pinggir lapangan.
Strategi itu sempat membuat aliran bola Tim Merah Marun macet. Setiap kali Velix bergerak, dua pemain langsung menutup ruang tembak dan ruang operannya. Taktik kasar pun kembali diperagakan; Velix beberapa kali harus menerima dorongan di punggung dan injakan kecil di kakinya.
Namun, alih-alih frustrasi atau terpancing emosi seperti anak berumur 14 tahun, Velix justru memanfaatkan situasi ini dengan cerdik menggunakan efek pasif barunya dan kedewasaan taktisnya.
'Mereka mengirim dua orang untuk menjagaku. Artinya, ada ruang kosong yang sangat luas di sektor lain yang ditinggalkan oleh dua penjagaku ini,' analisis Velix sedingin es.
Velix sengaja melakukan pergerakan tanpa bola (decoy run). Dia berlari melebar ke sisi sayap kiri, menarik dua gelandang penjaganya untuk ikut bergeser keluar dari area tengah.
"Danu! Masuk ke lubang tengah! Sekarang!" teriak Velix memberi komando dengan suara baritonenya yang lantang.
Danu yang melihat ruang kosong menganga di lini tengah akibat pergerakan Velix langsung berlari menusuk tanpa pengawalan. Bek sayap Tim Merah Marun yang memegang bola langsung melempar umpan matang ke arah Danu.
"Sial, kita kena tipu! Jaga nomor 10!" teriak bek SMP 14 panik.
Pertahanan SMP 14 yang tadinya rapat kini goyah dan kocar-kacir hanya karena satu pergerakan cerdas tak bersuara dari Velix. Danu yang berdiri bebas di depan kotak penalti langsung melepaskan tembakan meluncur keras yang gagal dihalau kiper lawan.
Breeettt! Bola menggetarkan jala gawang untuk ketiga kalinya.
Gol! Skor berubah menjadi 3-1 pada menit ke-50!
Danu langsung berlari kencang ke arah Velix, melompat kegirangan dan memeluknya erat. "Vel! Lu genius banget! Lu sengaja narik mereka berdua kan?!"
Velix melepaskan mode monster lapangannya sejenak, tersenyum hangat dan menepuk punggung sang kapten. "Kerja bagus, Dan. Lu eksekusi ruangnya dengan sempurna. Itu tugas kapten."
Di pinggir lapangan, Pak Joko hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman takjub yang tak bisa disembunyikan. Beliau tahu, meski Velix tidak mencetak gol atau memberikan assist secara langsung pada gol ketiga ini, otak di balik hancurnya pertahanan SMP 14 mutlak berasal dari pergerakan taktis sang jenderal bernomor punggung 11.
Cetak biru itu kini tidak hanya membentuk fisik Velix menjadi lebih tinggi dan kuat, tetapi juga mulai membentuk mentalitas tim di sekelilingnya menjadi layaknya skuad profesional. Panggung kecamatan ini terlalu kecil untuk menampung potensi raksasa yang baru saja bangkit.