NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Bulan purnama menggantung di langit seperti mata dewa yang mengawasi, dan cahayanya yang seharusnya perak terang kini berubah menjadi kemerahan. Merah seperti darah. Merah seperti kutukan yang tak terhapus. Cahayanya jatuh, memantul di dinding bangunan kuno berwarna hitam legam di kejauhan. Struktur bangunan itu tampak tenggelam di tengah kabut malam yang lembab, berdiri seperti kastil hantu yang terkutuk. Tak ada tanda kehidupan. Hanya keheningan, dan rasa mencekam yang menyesakkan udara.

Ini adalah pinggiran kota. Tempat sunyi yang nyaris tak dijamah manusia. Bagi sebagian besar orang, ini adalah tanah terlupakan. Tapi bagi kalangan tertentu. Mereka yang punya kuasa, uang, dan alasan untuk bersembunyi dari dunia. Tempat ini adalah surga kecil. Udara di sini lebih segar, suara lebih sunyi, dan beberapa vila bergaya unik berdiri terpisah sejauh puluhan meter satu sama lain. Salah satunya kini berdiri angkuh, tanpa lampu menyala, namun auranya menelan siapapun yang menatapnya terlalu lama.

Angin berembus, menusuk tulang. Dan dari dalam vila itu, sesosok tubuh melangkah terhuyung-huyung. Seorang gadis. Sekitar tujuh belas tahun. Rambutnya kusut, berantakan, basah oleh keringat dan darah. Pakaian compang-camping menempel di tubuhnya, sobek di beberapa bagian. Darah menodai wajah dan kulit pucatnya. Tidak jelas apakah itu darahnya sendiri atau milik orang lain. Tapi bau anyirnya menusuk hidung, seperti aroma kematian yang telah menempel terlalu lama.

Matanya liar. Panik. Nafasnya terengah-engah. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari jejak kehidupan, atau siapa saja yang bisa menolongnya. Tapi ia sendirian. Benar-benar sendiri. Ia berlari. Tidak memedulikan duri atau ranting yang mencabik-cabik telapak kakinya yang telanjang. Setiap langkahnya menghantam dedaunan kering dan ranting mati, menimbulkan bunyi klik yang pelan, namun memekakkan dalam kesunyian.

Di depannya, gerbang besi tinggi menjulang. Terlihat seperti jalan keluar terakhir dari neraka. Ia mempercepat langkah, berlari sekuat tenaga, hatinya penuh harapan bahwa jika ia bisa melewati gerbang itu. Ia akan bebas. Ia akan selamat. Ia akan hidup.

Namun...

Sesuatu muncul di belakangnya.

Sosok itu tidak berlari. Ia berjalan perlahan. Tenang. Penuh keyakinan. Seperti seseorang yang tahu bahwa buruannya takkan bisa lari terlalu jauh. Langkahnya terdengar lembut, namun menggema di dalam kepala gadis itu seperti bunyi lonceng kematian. Seolah malam ini, malam purnama merah darah, memang ditakdirkan untuk mengakhiri sesuatu.

Sosok itu. Gadis lain, dengan gaun putih pendek berenda tersenyum. Sudut bibirnya melengkung manis. Sangat lembut. Sangat indah. Namun ada sesuatu yang salah di balik keindahan itu. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Senyuman itu bukan milik manusia.

Gadis yang terhuyung itu menoleh dan mendapati sosok tersebut semakin dekat. Ia terisak. Air mata bercampur keringat dan darah. Ia merintih lirih, nyaris tak terdengar, "Tidak... jangan ke sini..."

Namun suara itu tidak berarti apa-apa bagi gadis yang berjalan di belakangnya.

"Freya," suara lembut itu memecah udara. "Kau sangat nakal... Anak nakal harus mendapat hukuman."

Senyumannya makin dalam. Makin aneh. Di bawah cahaya bulan, wajahnya tampak bersih, cantik, tanpa cela. Kulit pucat seperti porselen, mata tenang tanpa amarah. Seseorang mungkin akan salah menyangka bahwa ia malaikat. Namun hanya bagi mereka yang tak tahu apa yang tersembunyi di balik wajah itu.

Dia adalah Alma.

Dan di tangannya, terselip sesuatu. Belati kecil yang ujungnya bersinar memantulkan cahaya rembulan.

"Mengapa kau melarikan diri?" tanya Alma, seolah pertanyaannya tulus.

Freya mencoba menarik gerbang besi, namun sia-sia. Terkunci.

"Padahal aku ingin membawamu ke tempat yang lebih baik daripada dunia fana yang hina ini," lanjut Alma lembut, "tapi sebelum itu… kau harus didandani dengan cantik. Seperti boneka."

Freya membalik tubuhnya dengan lemas. Napasnya tercekat. Ketakutan berubah menjadi amarah. "Alma... Dasar kau iblis… Kau lebih kejam daripada penjahat sekalipun...!"

Alma terkikik. Tertawa pelan seperti nyanyian anak-anak yang tidak pada tempatnya. "Aku tahu... Iblis inilah yang merangkak dari api neraka. Dan aku sudah bilang, kan? Boneka tidak bisa bicara."

Tanpa peringatan, Alma mengayunkan belatinya dan menancapkannya dalam-dalam ke tenggorokan Freya. Gerakan itu cepat, presisi, dan mematikan. Freya tersentak, darah mengucur deras dari luka menganga, menyembur seperti air mancur gelap. Suaranya tercekat. Tak bisa menjerit. Tak bisa bicara. Ia hanya bisa menatap, tubuhnya perlahan melemah. Jiwanya terhisap dari mata yang membulat ngeri.

Alma menyeret tubuhnya kembali ke dalam vila, seolah hanya membawa sebuah karung ringan. Tak ada beban, tak ada rasa bersalah. Di dalam vila, ia melemparkan tubuh itu ke kursi empuk berlapis beludru, tepat di depan meja rias dengan cermin besar yang menyala samar karena pantulan cahaya lilin. Ruangan itu tampak mewah, terlalu indah untuk adegan keji seperti ini.

"Nah, sekarang kita akan mendandani mu terlebih dahulu," ucap Alma riang, seolah berbicara pada adik kecilnya. "Pertama... bedak. Lalu perona pipi. Dan terakhir, lipstik berwarna merah... sangat cocok untukmu."

Dengan tangan terampil, Alma memoles wajah pucat Freya, menyamarkan kematian dengan kosmetik. Ia menatap mahakaryanya dengan penuh kepuasan, seperti pelukis pada lukisan terakhirnya.

Freya duduk membeku, pandangannya kosong. Pisau masih menancap di lehernya, darah membasahi dada, tapi ia tidak bisa bicara. Bahkan untuk menangis pun ia tak sanggup. Semua telah terlambat. Ia menjadi boneka. Bukan karena pilihan, tapi karena kutukan.

Di hadapannya berdiri iblis berbaju malaikat.

Freya ingin bertanya.

Apa yang salah?

Mengapa bisa begini?

Mereka hanya teman sekelas. Ia bahkan tidak pernah benar-benar peduli pada Alma.

Apa ini karena insiden minuman tadi siang? Dia hanya melampiaskan amarah. Haruskah balasannya sekejam ini.

Alma bertepuk tangan senang, matanya bersinar kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.

Ia perlahan membalik kursi yang diduduki Freya. Di belakang, berdiri sebuah lemari kaca transparan berukuran besar. Terlalu besar untuk pakaian. Terlalu mewah untuk hiasan biasa.

"Freya, lihat. Itu akan menjadi rumah barumu mulai sekarang. Kau akan tinggal di sana, menjadi boneka pertamaku. Bukankah itu bagus?" suaranya bergetar karena kegembiraan yang tidak wajar.

"Tenang saja, kulitmu tidak akan membusuk. Aku akan mengawetkannya. Aku juga tidak ingin boneka berhargaku rusak."

"........."

"Apa?? Kau menyukainya?" Mata Alma membesar, bibirnya menyeringai. "Sudah kuduga... AHAHAHAHAHAHA!!!"

Tawa gila itu meledak, mengguncang ruangan, menari-nari di antara lilin-lilin yang berkedip, seolah neraka baru saja menyapa.

Dan malam pun kembali tenang. Tapi keheningan itu tak lagi murni. Ia membawa aroma darah, bisikan dendam, dan tawa iblis berkepala manusia.

🥀🥀🥀

Di ruangan tersembunyi di balik lorong sempit, Alma duduk di kursi goyang tua yang berdecit setiap kali tubuhnya bergerak sedikit. Gaun putih pendek yang ia kenakan sudah ternoda darah. Beberapa masih segar, sebagian mengering membentuk pola abstrak.

Dinding di depannya dipenuhi kertas dan foto-foto. Puluhan wajah terpampang, semuanya diambil dari sudut yang berbeda. Beberapa dari atas, lainnya dari kejauhan, dan beberapa jelas diambil diam-diam. Wajah-wajah itu kini menjadi bagian dari permainan.

Tiga di antaranya telah dicoret tegas dengan spidol merah. Albert, Terresa, dan Freya.

"Hahhh...." desah Alma, bibirnya menyunggingkan senyum penuh kepuasan yang menusuk. "Jasmine… bagaimana ini? Tiga pengikutmu sudah aku singkirkan. Bahkan salah satunya sudah jadi boneka pajangan."

Dia menyender ke kursinya, tangan kirinya bermain-main dengan boneka kecil yang kepalanya tergantung longgar. Matanya beralih menatap foto gadis dengan senyum lembut di tengah-tengah papan. Wajah itu begitu bersinar, begitu sempurna.

Sangat menyebalkan.

"Dan pengagummu," bisiknya pelan, "sudah mulai masuk ke dalam lingkaran perangkapku. Mereka memang bodoh. Begitu mudah ditipu hanya dengan senyuman polos dan kesederhanaan ku. Mereka pikir aku berbeda..."

Tatapan Alma mengeras. Tak ada lagi cahaya hangat di bola matanya. Hanya bayangan masa lalu yang menari-nari di balik iris hitamnya. Kilasan-kilasan rasa sakit, pemfitnahan, tawa sinis di atas tubuhnya yang dingin dan remuk. Semuanya membentuk Alma yang baru. Alma yang kini memegang pena kehidupan.

Dia yang memegang takdir. Dan tak akan membiarkan siapa pun mengubah alurnya lagi.

"Tapi jangan khawatir, Jasmine," gumamnya sambil berdiri perlahan dan melangkah ke dekat papan. Dia menepuk-nepuk sebuah foto lain. "Aku akan menyisakan satu pengikutmu yang paling setia… untuk menyaksikan kehancuranmu dari jarak dekat. Aku ingin dia melihat semuanya. Merekam semuanya."

Kegelapan menari di sekitar ruangan saat lampu tua di langit-langit berkedip sekali. Alma tertawa lirih, namun dalam tawa itu, ada luka yang belum sembuh. Dulu, dia mati penuh duka.

Mereka tertawa bahagia. Di atas mayatnya.

Tangannya menggenggam pinggiran meja begitu erat hingga buku jarinya memutih. Di kehidupan ini, dia tak akan mengulang kesalahan yang sama. Dia tidak akan mati sebagai korban. Tidak akan menjadi figuran yang terlupakan di babak akhir.

"Aku adalah pembuka tirai, sang penulis kisah. Aku yang menentukan siapa yang akan jatuh… dan siapa yang akan diangkat."

Dia melangkah ke jendela besar dan menatap ke luar. Hutan lebat membentang, dan di kejauhan terlihat lampu-lampu vila lain yang menyala samar.

"Jasmine… jangan kecewakan aku saat kau datang nanti. Aku ingin permainanmu cukup menyenangkan. Jangan sampai aku bosan."

Jari-jarinya menyusuri kaca, meninggalkan jejak merah samar dari darah yang belum kering.

"Sebab jika aku bosan…" dia membalikkan tubuh, menatap ruangan penuh foto dan benang merah yang terhubung satu sama lain seperti jaring laba-laba, "aku akan membuat semuanya terbakar. Termasuk kau."

Angin malam menjerit seperti jeritan korban terakhir yang meminta ampun. Tapi Alma tak peduli.

Dia menunggu.

Menunggu protagonis cerita lama itu kembali.

Menunggu bagaimana langit, yang dulu selalu melindungi Jasmine. Akan menanggapi ketika kekuatan takdir kini berada di tangan sang boneka patah… yang akhirnya hidup kembali.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!