NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung di Tengah Badai

Kepergian Ny. Sofia dari ruangan itu meninggalkan keheningan yang menyesakkan, seolah oksigen di lantai empat puluh itu baru saja disedot habis. Nabila Adistia masih berdiri terpaku di samping meja jati besar milik Kenzo. Tangannya yang dingin saling bertautan di belakang punggung, berusaha menyembunyikan getaran hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Pengakuan Kenzo di depan ibunya tadi masih bergema di telinganya, terasa seperti mimpi buruk sekaligus pelindung yang tak kasat mata.

"Jangan dipikirkan," suara Kenzo memecah keheningan, terdengar jauh lebih rendah dari biasanya. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak lagi tertuju pada dokumen-dokumen yang berserakan. Matanya terkunci pada sosok Nabila yang tampak rapuh namun berusaha keras terlihat tegar.

"Saya tidak memikirkannya, Pak. Saya hanya sedang menghitung sisa umur saya di perusahaan ini setelah menantang ibu Anda," jawab Nabila dengan senyum kecut yang dipaksakan.

Kenzo mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa namun terlalu dingin. "Selama aku masih duduk di kursi ini, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, Nabila. Bahkan ibuku sendiri. Tapi ingat, perlindungan ini ada harganya. Kamu harus tetap pada peranmu, apa pun yang terjadi."

Nabila mengangguk pelan. Ia ingin memberitahu Kenzo tentang pesan ancaman yang baru saja masuk ke ponselnya, namun lidahnya terasa kelu. Ia tidak tahu siapa yang harus ia percayai sekarang. Kenzo adalah pelindungnya saat ini, tapi Kenzo juga bisa menjadi orang yang paling pertama menghancurkannya jika tahu bahwa identitas "asisten biasa" miliknya hanyalah sebuah topeng untuk menutupi masa lalu keluarganya yang bangkrut dan penuh skandal.

"Sore ini, kamu tidak perlu ikut ke pertemuan cabang. Pulanglah lebih awal dan istirahatlah. Wajahmu pucat seperti mayat," perintah Kenzo tanpa menatapnya lagi.

Nabila merasa lega, namun firasat buruk tetap menggelayuti hatinya. Ia merapikan beberapa berkas, berpamitan, dan melangkah keluar dari ruangan megah itu. Namun, saat ia sampai di area parkir bawah tanah yang remang-remang, firasat itu menjadi nyata.

Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap meluncur pelan di belakangnya. Langkah kaki Nabila semakin cepat, namun mobil itu tetap mengikuti. Jantungnya berdegup kencang, suaranya memenuhi telinganya sendiri. Saat ia hampir sampai di mobil jemputannya, dua orang pria berbadan besar keluar dari mobil hitam tersebut dan menghadang jalannya.

"Nona Nabila Adistia? Seseorang ingin bicara denganmu," ucap salah satu pria itu dengan suara serak yang mengancam.

"Saya tidak mengenal Anda. Tolong minggir," jawab Nabila dengan keberanian yang tersisa.

"Ini bukan permintaan, Nona. Ini perintah. Ikut kami sekarang, atau rahasia tentang ayahmu akan menjadi konsumsi publik malam ini juga."

Tubuh Nabila membeku. Mereka tahu soal ayahnya. Mereka tahu segalanya. Saat salah satu pria itu hendak menarik paksa tangannya, sebuah suara klakson yang memekakkan telinga bergema di seluruh area parkir. Sebuah mobil sport perak meluncur kencang dan berhenti tepat di samping mereka, meninggalkan kepulan asap ban yang terbakar.

Pintu mobil terbuka, dan Kenzo Aditama keluar dengan ekspresi wajah yang lebih mengerikan daripada ibunya tadi pagi.

"Aku tidak suka ada orang yang menyentuh barang milikku tanpa izin," desis Kenzo sambil melangkah maju. Auranya begitu kuat hingga kedua pria besar itu mundur selangkah.

"Pak Kenzo, kami hanya..."

"Pergi sebelum aku memanggil seluruh tim keamanan gedung ini dan memastikan kalian membusuk di penjara karena percobaan penculikan," ancam Kenzo. Suaranya tidak keras, namun penuh dengan otoritas yang mematikan.

Melihat siapa yang berdiri di depan mereka, kedua pria itu segera masuk kembali ke mobil dan tancap gas meninggalkan area parkir. Suasana kembali hening, menyisakan Nabila yang gemetar hebat hingga hampir terjatuh.

Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, tangan kekar Kenzo sudah lebih dulu menangkap pinggangnya. "Sudah kubilang, jangan pergi sendirian tanpa izin dariku," ucap Kenzo, kali ini suaranya penuh dengan nada posesif yang tidak lagi bisa disembunyikan.

"Bagaimana Bapak bisa ada di sini?" tanya Nabila lirih, masih dalam dekapan Kenzo.

Kenzo menatap mata Nabila dalam-dalam, ada kilatan kemarahan sekaligus kekhawatiran yang ia coba tutupi dengan sikap dinginnya. "Aku punya mata di mana-mana, Nabila. Terutama padamu. Mulai malam ini, kamu tidak akan pulang ke rumahmu. Kamu akan tinggal di apartemenku. Itu perintah, bukan tawaran."

Nabila terbelalak. Tinggal bersama Kenzo? Itu berarti ia akan masuk ke dalam gua singa yang sesungguhnya. Namun, melihat ancaman yang baru saja terjadi, ia tahu bahwa tidak ada tempat lain yang lebih aman selain di sisi pria yang saat ini memeluknya erat ini.

"Tapi Pak..."

"Tidak ada tapi-tapian. Masuk ke mobil sekarang," perintah Kenzo telak.

Nabila hanya bisa pasrah. Sandiwara ini sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata dan berbahaya. Ia tahu, dengan masuk ke mobil Kenzo, ia baru saja menyerahkan seluruh hidupnya ke tangan pria yang paling ditakuti di kota ini. Dan di kejauhan, dari balik pilar beton parkiran, seseorang sedang merekam kejadian itu dengan senyum licik—siap untuk mengirimkan "bom" berikutnya yang akan meledakkan hubungan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!