NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu atap bersama

Mbak Tari menoleh. Ia mengusap keringat di pelipisnya, lalu mengangkat bahu.

“Saya juga enggak tahu, Bu.”

Perempuan itu mendekat dan menurunkan suaranya.

“Tiba-tiba Ibu Yuni kasih gambar tata letak kamar, terus nyuruh para pekerja menatanya persis seperti itu.”

Nadia menoleh ke arah kamar tamu yang pintunya terbuka lebar.

Seprai baru berwarna krem telah terbentang rapi.

Gorden diganti dengan warna senada.

Di sudut ruangan berdiri meja rias besar dengan cermin bundar.

Lampu tidur dengan kap kain berenda diletakkan di atas nakas.

Semua terlihat terlalu sempurna.

Terlalu personal.

Bukan kamar untuk tamu yang hanya menginap semalam dua malam.

Ini kamar untuk seseorang yang akan tinggal cukup lama.

Atau mungkin… selamanya.

“Kalau cuma tamu,” bisik Mbak Tari, “ngapain sampai beli semua yang baru begini?”

Jantung Nadia berdegup lebih cepat.

Sebuah firasat buruk menjalar pelan, seperti air dingin yang dituangkan ke punggungnya.

Jangan-jangan…

Ratna.

Nadia menggigit bibir bawahnya.

Tangannya refleks meraih ponsel.

Ia ingin menelepon Raka.

Ingin bertanya langsung.

Namun, niat itu ia urungkan.

Raka sudah membohonginya.

Percuma bertanya kepada Raka. Jawabannya tidak akan valid.

Nadia sempat berniat melangkah ke kamar Yuni, ibu mertuanya, untuk bertanya langsung.

Namun, niat itu kembali ia batalkan.

Ibu mertuanya sama saja dengan anaknya.

Sama-sama gemar berbohong.

Apalagi akhir-akhir ini hubungan Nadia dengan Yuni semakin buruk.

Setiap kali membuka mulut, yang ada hanyalah pertengkaran.

Dan Yuni selalu sukses menyakiti hatinya.

Nadia hanya bisa menghela napas.

“Sepertinya memang Ratna yang akan tinggal di sini,” gumamnya, mencoba menerima keadaan.

Namun, tetap saja terasa pahit membayangkan akan tinggal satu atap dengan wanita yang telah merusak rumah tangganya.

Nadia hanya terdiam, menyaksikan satu per satu barang dimasukkan ke dalam kamar.

Dari motif, corak, dan warnanya, Nadia hafal betul bahwa itu adalah warna kesayangan Ratna, yaitu biru langit.

Sebenarnya, itu juga warna kesayangan Nadia.

Namun, Ratna memang selalu terobsesi untuk mendapatkan apa pun yang Nadia miliki, termasuk warna favoritnya.

Nadia melihat jam dinding.

“Sudah saatnya Nanda pulang,” gumamnya.

Nadia melangkah keluar rumah seperti biasa.

Ia akan menyambut kepulangan Nanda.

Memberikan pelukan hangat.

Nadia memang menerapkan aturan yang tegas, tetapi juga membanjiri putrinya dengan kasih sayang.

Terdengar deru mobil.

Nadia menunggu dengan tak sabar.

Namun, mobil yang masuk ke halaman rumah bukan mobil jemputan sekolah.

Melainkan sebuah Toyota Avanza hitam.

Mobil yang sangat dikenalnya.

Mobil Ratna.

Klakson berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Nadia tetap berdiri di tempat.

Terlalu malas membukakan gerbang untuk seseorang yang telah menghancurkan rumah tangganya.

Klakson terus berbunyi.

Akhirnya, Mbak Tari yang berlari membukakan pintu gerbang.

Mobil itu masuk perlahan ke halaman rumah.

Berhenti tepat di garasi.

Jantung Nadia berdegup keras.

Pintu mobil terbuka.

Ratna turun lebih dulu.

Dengan gaun terusan berwarna pastel dan senyum tipis di bibirnya, perempuan itu melangkah santai seolah rumah itu memang miliknya.

Tubuh Nadia menegang.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, pintu belakang mobil terbuka.

Seorang anak kecil turun dengan tas sekolah yang masih menggantung di pundaknya.

Nanda.

Begitu melihat Nadia, wajah gadis kecil itu langsung berseri.

“Bunda!”

Nanda berlari dan memeluk pinggang Nadia erat-erat.

Pelukan kecil itu biasanya mampu meruntuhkan segala luka.

Namun, kali ini, Nadia justru merasa dadanya semakin sesak.

Nanda mendongakkan wajah, menatapnya dengan mata bening penuh antusias.

“Mama Ratna mau tinggal di sini, katanya.”

Kalimat itu sederhana.

Diucapkan polos, tanpa beban.

Namun, bagi Nadia, kata-kata itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di tengah dadanya.

Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya seperti berhenti berputar.

Suara para pekerja memudar.

Angin sore terasa membeku.

Dan Nadia hanya bisa berdiri diam.

Dengan Nanda yang masih memeluk pinggangnya.

Sementara beberapa langkah di depannya, Ratna berdiri dengan senyum tipis penuh kemenangan.

“Mulai hari ini aku akan tinggal di sini.”

Ratna mengucapkannya pelan, nyaris seperti bisikan.

Namun, bagi Nadia, kalimat itu terdengar lebih nyaring daripada petir yang membelah langit.

Andai pinggangnya tidak sedang dipeluk erat oleh Nanda, mungkin telapak tangan Nadia sudah mendarat di pipi perempuan itu.

Ratna melangkah masuk dengan tenang.

Seolah rumah itu memang miliknya.

“Bunda, ayo masuk. Nanda lapar.”

Suara polos Nanda membuat Nadia tersadar.

Ia menunduk, menatap wajah gadis kecil yang begitu dicintainya.

Dan untuk pertama kalinya, sebuah ketakutan yang tak pernah berani ia pikirkan datang menghantam tanpa ampun.

Bagaimana jika Nanda adalah anak kandung Raka?

Bagaimana jika…

Nanda adalah anak Raka dan Ratna?

Tubuh Nadia mendadak lemas.

Sejak bayi merah, ia yang menggendong Nanda saat demam.

Ia yang berjaga semalaman ketika anak itu batuk.

Ia yang menyuapi, memandikan, mendongeng, dan menghapus air mata Nanda.

Haruskah pada akhirnya ia menerima kenyataan bahwa selama ini ia membesarkan anak hasil pengkhianatan suaminya sendiri?

“Bunda?”

Nanda menggoyang tangannya pelan.

“Bunda, ayo masuk.”

Nadia mengerjapkan mata.

Air mata nyaris jatuh.

Dalam hati ia berdoa.

Ya Allah… siapa pun ibu kandung Nanda, jangan Ratna.

Jangan perempuan itu.

“Ayo, Sayang.”

Nadia memeluk Nanda erat, seolah takut gadis kecil itu akan direnggut dari pelukannya.

“Bunda kenapa? Kok melamun terus?”

Nadia tersenyum tipis.

“Enggak apa-apa.”

Di kamar, Nadia membantu Nanda mengganti seragam.

Setelah itu, ia menyuapi putrinya makan siang.

Seperti biasa, Nanda tak pernah kehabisan cerita.

Tentang teman-temannya.

Tentang guru di sekolah.

Tentang siapa yang menang saat bermain.

Tiba-tiba Nanda bertanya, “Bunda mau enggak jadi bundanya Novi?”

Nadia menoleh.

“Lho, memang bundanya Novi ke mana?”

Nanda mengangkat bahu.

“Enggak tahu.”

“Terus kenapa Bunda harus jadi bundanya Novi?”

Nanda mengaduk nasi di piringnya.

“Tadi Novi bilang, enak ya punya dua bunda.”

Nadia terdiam.

Kalimat sederhana itu menghantam hatinya tanpa ampun.

Punya dua bunda.

Nadia menunduk agar Nanda tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Setelah makan siang, Nadia menemani Nanda mengerjakan PR, lalu menidurkannya.

Tak lama kemudian, suara mobil Raka terdengar memasuki halaman rumah.

Dari ruang tengah, Ratna berseru, “Nad, bukakan gerbang.”

Nadia menoleh.

Tatapannya dingin.

Ratna mendengus.

“Ye, segitunya marah. Jangan salahkan aku kalau nanti Mas Raka lebih sering sama aku.”

Nadia mengepalkan tangan.

Namun, ia tetap diam.

Ia tak ingin Nanda mendengar pertengkaran mereka.

Ratna melangkah keluar sendiri, lalu kembali masuk bersama Raka.

Begitu melihat Ratna di rumah itu, Raka langsung menegang.

“Ratna? Kenapa kamu di sini?”

Ratna tersenyum manis.

“Karena aku juga istri kamu, Mas.”

Pandangan Ratna sengaja diarahkan kepada Nadia.

Raka mengusap wajahnya frustrasi.

“Tapi kamu juga harus menghargai perasaan Nadia.”

“Mamah yang mengizinkan.”

Suara Yuni terdengar dari belakang.

Perempuan itu berjalan santai, lalu duduk di sofa seolah semua yang terjadi adalah hal yang sangat wajar.

Raka menoleh cepat.

“Mah, ini tidak seperti yang kita rencanakan.”

Yuni mengangkat dagu.

“Ratna juga istri kamu. Sudah seharusnya dia mendapat perlakuan yang sama.”

Nadia memandang satu per satu wajah di hadapannya.

Suaminya.

Ibu mertuanya.

Dan perempuan yang telah merebut semuanya.

Tak satu pun dari mereka bertanya bagaimana perasaannya.

Tak satu pun.

“Nadia,” kata Yuni tegas, “kamu harus belajar menerima kenyataan bahwa Raka sekarang punya dua istri.”

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!