NovelToon NovelToon
Lingerie Merah Dikamar Adikku

Lingerie Merah Dikamar Adikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.

Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????

Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.

Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Di balik penyekat ruang, anak kecil itu terpingkal-pingkal sambil memegangi sebuah remot kecil berantena. Hasbi yang berada di teras samping, langsung masuk. Dan rupanya sang keponakan lah yang sengaja mengerjai wanita tadi.

"Didikan aku pas banget," kekehnya. Lalu bergegas menghampiri sang keponakan. "Bim... Kecoanya cuma satu?"

Bocah laki-laki berusia 4 tahun itu mengangguk, tapi telunjuknya menutup mulut sang Paman.

Shuttt!!!

"Diem, Paman! Nanti Mbak tuntinya malah-malah," ucapnya degan gaya khas cadel.

Hasbi mengangguk. Ikut menunduk di belakang keponakannya. "Bilang dong sama Paman. Nanti kalau keluar, Paman belikan sama teman-temannya juga."

Bimo menganguk, menunjukan deretan gigi susunya yang hampir rapuh.

Sementara di ruang tengah tadi, wanita cantik bernama Lisa itu meloncat ke atas sofa, karena kecoa mainan Bima masih berputar di bawah karpet.

"Bik... Siapapun tolongin saya....." Jerit Lisa merasa jijik dengan hewan melata itu. "Rumah sebersih ini, gimana sih masih ada kecoanya...." Lisa terus ngedumal, tanganya mengibas menyuruh kecoa tadi pergi.

Seorang pelayan berjalan tergopoh-gopoh dari belakang. Wajahnya panik mendengar teriakan tadi. Sementara tangannya membawa sapu.

"Non, ada apa? Mana kecoanya?" Kedua mata Pelayan tadi mengedar kemana-mana.

Namun, ketika Lisa menunduk, kecoa tadi sudah tak ada di bawah kakinya. Lisa juga ikut mencari. Kecoa tadi benar-benar menghilang.

Dari luar, Danu masuk dengan tatapan menyipit. Wanita pengagumnya itu masih nangkring diatas sofa. Lalu, tatapanya beralih pada sang pelayan.

"Ada apa ini?"

Lisa segera turun. Langsung menghambur dalam dekapan Danu. "Sayang... Aku takut! Tadi ada kecoa di bawah...."

Pelayan tadi memutar jengah matanya. Lalu segera kembali masuk ke dalam, malu sendiri melihat sikap Lisa saat ini.

"Lisa... Lisa... Nggak ada kecoa di rumahku!" Danu berusaha melepaskan pelukan wanita di depanya itu.

Di saat yang bersamaan, Hasbi keluar dari ruang samping. Langkahnya berhenti di ruang tengah kala gawainya tiba-tiba bergetar.

Drttt!!!

"Mbak Alena? Ada apa ya?" Hasbi melirik kakaknya sekilas. Lalu dengan angkuhnya menerima panggilan Alena di dekat sofa. "Hallo, ada apa, Mbak Alena?"

"Maaf mengganggu waktunya, Mas Hasbi... Ini, saya cuma mau tanya... Jika ada pihak siapa pun selain saya yang menanyakan sertifikat rumah, tolong jangan di kasih. Termasuk Pak Dewantara sekali pun!" Peringat Alena.

Hasbi manggut-manggut. "Baik, saya paham, Mbak Alena. Besuk saya ke rumah saja."

"Oh, jangan Mas Hasbi. Saya sedang di rumah sakit sekarang. Untuk beberapa hari ke depan, saya jaga disini." Alena saat ini agak menyingkir di teras depan ruangan terlebih dulu.

Raut wajah Hasbi tetiba serius. "Loh, bukanya tadi Bu Sarah baik-baik saja, Mbak?"

"Iya, selepas kamu pergi, ada tamu suami saya. Pokoknya ada problem besar yang membuat Ibu terkejut. Ya sudah, itu saja pesan saya. Selamat sore, terimakasih!"

Alena memutus panggilannya. Ia masih memegang kuat-kuat ponselnya. Tatapanya jauh, berputar otak, bagaimana supaya putranya masih dapat melanjutkan masa depan, sementara harta suaminya sudah tergadaikan oleh ke egoisan. Tapi setidaknya, meksipun dua pabriknya di sita pihak Pt. Alena masih punya sertifikat rumah dan beberapa lahan di ujung desa.

Di saat Alena akan berbalik, dari ujung, sosok wanita cantik yang dulu ia jaga. Yang dulu selalu ia usap kepalanya, kini berjalan mendekat dengan tampang acuhnya. Seolah, mata hati Tiyas sudah tertutup kabut dosa.

Alena menghentikan langkahnya. Tiyas juga melakukan hal yang sama. Alena tahu, Adiknya itu pasti tengah mencari di mana suaminya.

"Mbak Alena-" langkah kaki Tiyas menggantung saat dirinya sudah merentangkan kedua tangan ingin memeluk.

Alena lebih mengangkat satu tanganya rendah. Bahkan, menatap wajah adiknya saja ia sudah teramat muak. Alena memalingkan wajah. Menahan napas dalam, lalu menatap Tiyas dengan sorot mata datar.

"Mau apa lagi? Mau cari Suamiku?" tekan Alena.

Tiyas berusaha tegar. Senyumnya di paksakan melekuk tipis. Namun ketika Kakaknya menyebut kata 'Suamiku' perasaan Tiyas serasa tak terima. Sebagai wanita yang sudah di janjikan kehidupan ke dua oleh Dewantara, Tiyas juga ingin di lihat ada. Ingin di akui jika dirinya di cintai Dewantara yang setara juga.

"Kenapa diam? Oh...." Alena tersenyum getir tersirat remeh. "Sekarang berlagak seperti orang bisu? Tapi kamu tebal muka banget ya?! Berani-beraninya kamu datang ke sini," kecam Alena.

Tiyas masih berusaha tenang. Biar bagaimana pun, wanita di depanya itu kakak kandungnya sendiri. Meskipun sejak tadi agak sesak, tapi ia berusaha menahan napas kuat.

"Mbak... Sudah, ya! Sudah cukup mojokin aku kaya gini. Aku sejujurnya nggak ingin Mbak terjebak di anatara pernikahan Mbak lena dan Mas Dewan. Tapi jika takdir sudah menetapkan Aku sebagai wanita keduanya Mas Dewan, aku bisa apa? Aku cuma ingin hidup tenang, dan bisa melanjutkan semuanya tanpa di benci oleh siapa pun. Termasuk... Mbak Lena!"

Tangan Alena sudah gemetar kuat. Merasa tak tahan, ia segera mengayunkan tangannya.

Plak!

Wajah Tiyas terhempas ke samping. Masih wanita itu pegangi. Dan kebetulan, disaat bersamaan itu Dewantara keluar dari ruangan Ibunya. Wajahnya langsung syok, Tiyas berpura-pura menangis.

"Alena... Kamu apa-apaan? Tiyas itu Adikmu!" Sentak Dewan yang berpihak pada Adik Iparnya.

Tiyas mengubah ekspresi wajahnya sesedih mungkin. Ia sedikit mendongak, lalu berlirih, "Mas... Padahal aku dateng buat minta maaf sama Mbak Lena. Tapi dia langsung tampar aku. Rasanya perih banget, Mas...."

Dewan membingkai wajah Tiyas di depan mata Alena.

Hati Alena terasa sakit. Rasa sesaknya tak kunjung pergi. Matanya mengerjab, bibirnya mencoba terulas senyum getir. Di depan matanya, Dewantara membelai lembut wajah Adiknya.

Saking sesaknya, untuk mengambil napas rasanya sangat berat.

"Pergi!" tekan Alena. Suaranya masih rendah. Ia memalingkan wajah, air matanya luruh.

"Bawa gundikmu pergi dari hadapan saya!" lanjutnya.

Dewantara menatap sekilas. Wajahnya seolah tak menyangka. Setelah itu, ia menarik lengan Tiyas untuk di ajaknya melenggang pergi dari hadapan Istrinya.

Alena tersenyum.

Senyum penuh luka.

Senyum kehancuran.

Tubuh rapuh itu luruh di atas bangku tunggu. Tangisanya semakin terasa sesak, semakin mengiris hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Saking sesaknya, kedua bahu Alena sampai terguncang hebat.

Isakannya nyaris memutuskan napasnya. Alena terdiam. Dadanya terasa penuh dengan umpatan dan racauan. Ia mengepalkan kuat-kuat kedua tanganya yang menopang pada sisi bangku.

Ingin sekali teriak sekencang mungkin. Membuang racun yang sudah lama bersemayang dalam dadanya.

Tiada tempat pulang dari segala deritanya. Hanya Adiknya yang ia punya. Tapi Tiyas lah penyebab lukanya kambuh.

"Kalian memang manusia durjana!" ucapnya. Guratan Biru di lehernya sampai menonjol. Alena merasa gereget, ingin sekali membalaskan rasa sakit hatinya.

1
Mundri Astuti
yeeee dewan ga ada otak ...cepet urus surat cerainya alena
Soraya
lanjut thor
Machmudah
Ayo Danu....maju terus jgn kasih kendor...💪💪💪
Dew666
💟💟💟💟
nunik rahyuni
cepat urus perceraian nya lena ..rasa muak aq sama dewan ...g tau diri tebal muka...dulu pas ngeloni gundik ja terbang melayang g ingat anak bini duit milyaran raib di slangkangan gundik...dan skrg g mau nglepas lena..maunya apa sih...rasa mau ta tabok pke kawat beduri beracun...kok kya sok cakep aja😡😡
Ariany Sudjana
Dewantara aja ga tahu diri, sudah menikah siri dengan pelacur murahan kok masih kepo sama Alena? sudah urus saja pelacur murahan kesayangan kamu itu Dewantara 😂😂🤣🤣
nunik rahyuni
thor hilang g ada kabar🤔🤔🤔🤔
nunik rahyuni
emang bener kan apel istri orang...kan
nunik rahyuni
nama nya sering tetukar thor..dewan kan bspaknya
tinie
hihiii Hasbi
emang mulutnya lemes banget
nunik rahyuni
lanjuuuut jut jut juuuut
nunik rahyuni
seru ni klo lena sama daru...ly tikus dan kucing jd rame
Soraya
lanjut
tinie
jika kamu sudah menikahi Tiyas
maka kamu harus melepaskan alena
Marko Taik
lagi seru ni Thor lanjuttt thorrt
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Ig:@septi.sari21: macihhh akak😍😍
total 1 replies
Kusmini Kusmini
Iiih bkin greget crita nya,lnjut trus 👍
Ig:@septi.sari21: stay tune akak😍✋
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭
Ig:@septi.sari21: kak dew macihhh😍😍
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
tinie
semangaatt Lena


aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!