NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan Konflik Elang & Citra

Aroma kopi arabika mahal berkombinasi dengan sejuknya embusan penyejuk udara sentral di dalam Ruang Diskusi Teater Gedung Beta Universitas Dirgantara. Sore itu, matahari Jakarta yang mulai condong ke barat memproyeksikan bayangan garis-garis jendela di atas meja kayu ek raksasa, tempat di mana sepuluh mahasiswa tingkat dua berkumpul untuk menyelesaikan proyek akhir mata kuliah Manajemen Risiko Korporasi. Proyek ini bukan sekadar tugas biasa; nilainya berbobot tiga puluh persen dari kelulusan semester, dan hasilnya akan dipresentasikan langsung di depan perwakilan praktisi bisnis.

Di ujung meja, Elang Dirgantara duduk bersandar dengan satu kaki bertumpu di atas lutut lainnya. Jari-jarinya yang mengenakan cincin perak berlogo keluarga Dirgantara tampak mengetuk-ngetuk permukaan meja secara ritmis, menciptakan bunyi detak yang konstan dan mengintimidasi. Tatapan matanya yang tajam dan berkilat angkuh tertuju lurus pada sosok gadis yang duduk tiga kursi di sebelah kirinya.

Elang merasa terganggu. Sangat terganggu. Sejak badai fitnah yang ditabuh Natasha berbalik menjadi senjata makan tuan yang menghancurkan reputasi sosialita itu sendiri, nama Citra Kencana justru meroket. Gadis beasiswa yang semula dianggap angin lalu kini dipandang dengan rasa hormat yang baru oleh para dosen dan mahasiswa. Ketenangannya, kecerdasannya yang dingin, serta cara elegan Citra membalikkan keadaan di ruang dewan akademik telah menciptakan mitos baru di koridor kampus. Bagi Elang, yang menganggap Universitas Dirgantara sebagai halaman bermain pribadinya, popularitas Citra yang mendadak melambung adalah sebuah bentuk anomali yang harus segera diredam.

"Baik, karena gue ketua kelompok yang ditunjuk oleh Profesor Rahardjo, gue yang punya hak prerogatif untuk membagi beban kerja," ujar Elang, suaranya yang berat dan bariton memecah keheningan ruangan. Ia sengaja memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja sembari melempar seberkas dokumen cetak setebal lima puluh halaman ke arah Citra.

Plak.

Dokumen itu mendarat tepat di depan laptop tua milik Citra.

"Citra Kencana," ucap Elang dengan senyum seringai yang sarat akan keangkuhan, mencoba memamerkan kekuasaannya sebagai pewaris tunggal Dirgantara Perkasa. "Gue lihat lo punya banyak waktu luang setelah sukses membersihkan nama lo kemarin. Jadi, bagian lo adalah menyusun analisis kelayakan finansial dan mitigasi risiko makroekonomi untuk skenario investasi greenfield di tiga negara ASEAN yang berbeda. Dan gue butuh seluruh datanya sudah terproyeksi dalam bentuk model ekonometrika lengkap... besok pagi jam delapan."

Beberapa anggota kelompok di sekitar meja seketika menahan napas. Tugas yang diberikan Elang sama sekali tidak masuk akal. Untuk menyusun proyeksi ekonometrika di tiga negara berbeda biasanya dibutuhkan waktu minimal satu minggu oleh sebuah tim analis, bukan semalam suntuk oleh satu orang mahasiswi beasiswa yang bahkan harus menghemat uang makan.

Elang menyandarkan kembali tubuhnya, menatap Citra dengan pandangan meremehkan yang pekat. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana gadis miskin ini akan mulai panik, memohon keringanan, atau setidaknya menunjukkan raut wajah frustrasi yang akan memuaskan egonya yang sempat terluka pada pertemuan pertama mereka di koridor. Ia ingin membuktikan kepada seluruh kelas bahwa di menara kaca ini, kecerdasan akademis tidak akan pernah bisa menang melawan kekuatan absolut dari sebuah status dan kekuasaan.

Di seberang meja, Citra Kencana sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop tua yang sedang menampilkan deretan data inflasi. Jiwa Nyai Kencana yang kini mengendalikan raga itu mendengarkan setiap bait kalimat sombong yang meluncur dari bibir Elang dengan ekspresi wajah yang teramat datar, tenang, dan kosong dari emosi negatif.

Bagi seorang mantan pengawal ring satu yang di masa lalunya terbiasa menghadapi tuntutan upeti dan gertakan para duta kerajaan asing yang membawa ribuan pasukan di batas cakrawala, intimidasi verbal dari seorang pemuda manja seperti Elang tidak lebih dari sekadar riak kecil di atas permukaan telaga yang sunyi.

Citra perlahan menggeser dokumen cetak tersebut menggunakan ujung jari telunjuknya, menatap Elang dengan sepasang mata bulatnya yang tajam dan berkilat dingin laksana bilah pedang sabet yang baru diasah.

"Skenario investasi greenfield pada wilayah yang belum memiliki stabilitas regulasi makro adalah sebuah ketololan sistematis, Tuan Ketua Kelompok," ucap Citra, suaranya jernih, berat, dan bergema dengan wibawa yang langsung membekukan atmosfer ruangan diskusi.

Elang tersentak, alisnya bertaut erat. "Apa lo bilang?"

"Anda meminta saya menyusun model ekonometrika untuk tiga negara ASEAN tanpa menetapkan variabel kontrol pada tingkat volatilitas nilai tukar dan risiko geopolitik lokal," sambung Citra, ia memajukan tubuhnya secara anggun, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Elang dari jarak tiga kursi dengan pandangan yang meremehkan seluruh isi kepala cowok itu. "Jika saya mengikuti parameter cacat yang Anda berikan, margin kesalahan dari model tersebut akan mencapai angka empat puluh persen. Di dalam dunia bisnis nyata, yang nampaknya hanya sering Anda dengar namanya dari balik meja kantor kakek Anda, model seperti ini tidak akan membawa keuntungan, melainkan akan menyeret korporasi Anda langsung menuju jurang kepailitan dalam kuartal pertama."

"Lo gak usah sok tahu soal bisnis nyata ya!" sembur Elang, wajahnya memerah padam karena murka. Egonya yang setinggi langit tercabik-cabik seketika di depan anggota kelompok yang kini mulai saling berpandangan dengan wajah tegang. "Keluarga gue yang bangun kampus ini! Keluarga gue yang punya Dirgantara Perkasa! Lo itu cuma anak beasiswa yang hidup dari uang subsidi yayasan kakek gue, berani-beraninya lo mengajari gue soal manajemen risiko?!"

"Kekuasaan yang dipinjam dari garis keturunan tidak otomatis membuat otak Anda mampu berpikir secara metodologis, Elang Dirgantara," balas Citra, nadanya tetap datar, dingin, namun menohok begitu tajam tepat di ulu hati kesombongan Elang. "Harta kakek Anda mungkin bisa membeli gedung ini, tetapi ia tidak bisa membeli validasi atas sebuah kebodohan akademis yang Anda pamerkan sore ini. Jika Anda menginginkan tugas ini selesai dengan standar yang layak, ubah parameter skenarionya menjadi brownfield M&A atau cari orang lain yang bersedia mengotori tangannya demi ego kekanak-kanakan Anda."

"Citra Kencana!!" Elang berdiri dari kursinya hingga membentur meja, matanya melotot lurus menatap Citra dengan napas yang memburu.

Percikan ketegangan (chemistry) di antara mereka mendadak meledak begitu kuat di udara, sebuah kombinasi antara rasa benci yang membakar, kekesalan yang mendalam, namun di sisi lain, ada gelombang keterpukauan psikologis yang tak bisa diingkari oleh Elang. Belum pernah ada seumur hidupnya, seorang perempuan yang berani menatap matanya sedekat itu, setegas itu, dan dengan binar mata yang seolah menganggap seluruh kekayaan dunianya hanyalah seonggok debu yang tak berharga. Elang mati kutu, kehilangan seluruh argumen logisnya di hadapan pembawaan kesatria kuno yang melekat pada raga Citra.

"Wis, wis, Lang! Ojo koyo ngono toh, malu dilihat anak-anak, Rek!"

Surya, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan sembari asyik mengunyah kacang atom dan menonton perdebatan sengit itu dengan senyum-senyum tertahan, akhirnya memutuskan untuk melangkah maju. Dengan logat hasnya yang super medok dan ramah, ia menepuk pundak Elang, memaksa sahabatnya itu untuk kembali duduk di kursinya.

"Mbak Citra ini kalau bicara memang suka bener, Lang. Kamu yo jangan emosi, parameter skenarionya emang agak kenthir kok tadi itu," seloroh Surya yang langsung memicu tawa tertahan dari beberapa anggota kelompok lain, meredakan ketegangan yang hampir membakar ruangan.

Citra tidak memedulikan sisa keributan itu. Ia merapikan laptop tuanya, memasukkannya ke dalam tas ransel kainnya dengan gerakan yang tegap dan anggun, lalu berdiri. Tanpa memberikan pandangan tambahan pada Elang yang masih mendelik gusar, ia melangkah keluar dari ruang diskusi dengan langkah kaki yang mantap dan kepala yang tegak sempurna.

Sepuluh menit kemudian, Elang berjalan membelah selasar parkir VVIP dengan langkah kaki yang gusar, menghentakkan sepatu kulit mahalnya ke atas aspal dengan penuh dongkol. Wajahnya masih memerah padam, dan tangannya mencengkeram kunci mobil sportnya dengan sangat erat hingga jemarinya memutih.

"Sialan! Cewek edan! Sombong banget jalang miskin itu!" kutuk Elang membabi buta, meluapkan seluruh rasa frustrasi psikologisnya kepada angin malam yang mulai turun.

Surya berjalan di sampingnya, berjalan santai sembari melempar-lempar botol air mineral kosong ke udara. Ia menatap Elang dengan cengiran lebar yang digoda habis-habisan.

"Wes ta lah, Lang, dibilangi dari kemarin-kemarin kok ndak percaya," celetuk Surya dengan nada jenaka yang khas, menyenggol lengan Elang menggunakan sikunya. "Pepatah kuno itu gak pernah bohong, Rek. Ojo terlalu benci sama Mbak Citra. Nanti kalau benci lo itu berubah jadi cinta temenan, kamu sendiri lho sing bakal pusing tujuh keliling. Sing bakal nangis-nangis di depan kamarnya."

"Cinta?! Sampai dunia ini kiamat dan air laut berubah jadi sirup marjan pun, gue gak bakal sudi jatuh cinta sama cewek aneh, keras kepala, dan bermulut pisau kayak dia, Sur!" sembur Elang, mengamuk kesal pada Surya demi menutupi gengsinya yang sudah runtuh berantakan di lantai kelas tadi. "Gue cuma jengkel! Jengkel karena dia gak tahu diri!"

"Yo wis, terserah kamu," sahut Surya santai sembari membuka pintu mobil sport Elang. "Sing penting jangan lupa, nanti malam mampir ke lapak 'Angkringan Tenda' punyaku ya. Tak tunggu di sana, biar emosimu itu luntur kesiram es teh."

Malam harinya, di dalam kabin mobil sport mewahnya yang melaju membelah kemacetan jalur protokol Jakarta, keangkuhan Elang mendadak melenyap, digantikan oleh kesunyian yang mengusik batinnya.

Suara deru mesin mobil berkecepatan tinggi yang biasanya memberikan rasa puas pada egonya, malam ini terdengar hambar. Elang mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu di tepi jendela mobil. Sepanjang jalan, alih-alih memikirkan rencana bisnis atau lingkaran pergaulan sosialitanya yang glamor, pikiran bawah sadarnya justru dipenuhi secara mutlak oleh bayangan adegan di ruang kelas tadi.

Ia teringat bagaimana sorot mata bulat milik Citra Kencana yang begitu jernih namun sedingin es menatap lurus ke dalam pupil matanya tanpa berkedip sedikit pun. Ia teringat bagaimana bentuk bibir ranum Citra saat melontarkan kalimat-kalimat cerdas yang memotong habis seluruh keangkuhannya dengan keanggunan yang mutlak. Ada rasa jengkel yang mendalam karena harga dirinya terluka, namun di saat yang bersamaan, sebuah percikan rasa penasaran yang teramat besar dan membakar mulai merayap di dalam dadanya, merusak seluruh kewarasan egonya. Elang memukul kemudi dengan kesal, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seorang manusia yang berhasil mengunci perhatiannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan sebuah ketangguhan yang tak bisa ia taklukkan.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!