"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perlindungan mutlak
Ting.
Suara notifikasi pendek terdengar dari ponsel Tyas yang tergeletak di atas meja rias. Tyas yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut pendek sebahunya dengan handuk, langsung bergegas meraih ponsel tersebut.
Sebuah balasan singkat muncul di layar dari Mas Angga:
"Okke"
Hanya satu kata, namun berhasil menerbitkan senyum tipis di bibir Tyas. Di balik sifatnya yang tegas dan dingin jika menghadapi masalah, Angga ternyata tipe pria yang tidak pernah menolak permintaannya. Rasa takut yang sempat menghantui Tyas sejak kejadian di basemen mall tadi perlahan mulai terkikis, digantikan oleh perasaan hangat yang aneh di dadanya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Bekas kemerahan di lehernya akibat cengkeraman Satya kini terlihat semakin jelas di bawah lampu kamar yang terang. Tyas meringis sedikit saat menyentuhnya dengan ujung jari. Ia sengaja tidak mengobatinya terlebih dahulu; ia ingin Angga melihat bekas luka itu. Ia ingin memancing amarah pria itu, sekaligus ingin dimanja dan dilindungi lebih dalam lagi malam ini.
Tyas kemudian membuka lemari pakaiannya. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, ia memilih sebuah kaos oversized tipis berwarna putih dan celana pendek rumahan. Pakaian yang santai, namun tetap memberikan kesan seksi yang halus.
Sembari menunggu suara moge Angga memasuki pekarangan rumah, Tyas duduk di tepi kasur. Ia membuka bungkusan baju-baju baru yang dibelinya di mall tadi, mencoba menyibukkan diri agar pikirannya tidak kembali melayang pada telepon dari Mbak Rani sore tadi. Baginya saat ini, yang terpenting adalah kenyamanan dan rasa aman yang sebentar lagi akan dibawa pulang oleh suami kakaknya tersebut.
Siang yang melelahkan itu akhirnya berganti menjadi sore yang temaram. Akibat ketegangan fisik dan mental yang menguras energinya di mall tadi, Tyas tertidur pulas di atas kasurnya. Namun, tidur lelapnya terusik ketika telinganya menangkap suara raungan mesin motor gede (moge) yang sangat ia kenal berhenti tepat di depan pagar rumah.
Mas Angga sudah pulang.
Tyas langsung mengerjapkan mata, terbangun dengan jantung yang sedikit berdesir. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore lewat. Tanpa membuang waktu, dengan kondisi rambut pendek sebahunya yang agak acak-acakan khas orang bangun tidur, Tyas bergegas turun ke lantai bawah.
Ia berjalan cepat menuju halaman, membuka gembok gerbang besi yang tadi ia kunci rapat-rapat. Angga tampak gagah menunggangi mogenya, mengenakan jaket kulit hitam yang semakin menonjolkan postur tubuhnya yang tegap. Di stang motornya, tergantung beberapa kantong kresek yang aromanya langsung tercium gurih—mie ayam dan martabak manis pesanannya.
"Eh, Mas sudah pulang," sapa Tyas lirih sembari membuka gerbang lebih lebar agar mogenya bisa masuk.
Angga mematikan mesin motor, menurunkan standar, lalu melepas helm full-face-nya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada wajah Tyas yang tampak kuyu. Namun, pandangan Angga mendadak terkunci pada satu titik di leher adik iparnya.
Di bawah cahaya sore yang mulai meredup, bekas cengkeraman tangan Satya yang memerah keunguan terlihat sangat kontras di kulit leher Tyas yang putih karena kaos oversized yang agak longgar.
Rahang Angga seketika mengeras. Ia melangkah turun dari motor, mengabaikan kantong makanan yang dibawanya, dan langsung berdiri tepat di depan Tyas dengan tatapan mata yang mendadak sedingin es.
"Lehermu kenapa, Tyas?" tanya Angga, suaranya terdengar berat dan sarat akan amarah yang tertahan.
Sentuhan dingin jemari Angga yang mendarat di bekas luka itu membuat Tyas sedikit meringis, sekaligus memicu kembali rasa trauma dan air mata yang sejak sore ia tahan di dalam dada.