Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penolakan Yang Akhirnya Menjelma Kata Kata
Penolakan yang akhirnya menjelma kata kata pedas dari mulut Umi Kalsum mendadak runtuh ketika Hana dengan keteguhan hati yang luar biasa memilih melangkah keluar dari pelataran pondok pesantren tanpa membalikkan badan lagi. Kepergian Hana yang sangat mendadak itu seketika memicu guncangan hebat di kalangan pengurus asrama putri yang menyaksikan jalannya ujian mengaji buatan Sarah tersebut. Langkah kaki Azzam yang berusaha mengejar sang istri tertahan di ambang gerbang kayu besar karena desakan nafas ibundanya yang mendadak memburu tidak teratur. Di atas kursi roda besi, wajah tua Umi Kalsum tampak memucat dengan jemari tangan yang mencengkeram erat lengan baju koko putra tunggalnya.
"Jangan kamu kejar wanita kota yang keras kepala itu, Azzam, biarkan dia pergi membawa segala kesombongan sikapnya," rintih Umi Kalsum dengan suara parau yang tersengal.
Azzam menghentikan langkah secara terpaksa, memandangi sosok jilbab hitam Hana yang perlahan mulai mengabur di balik tikungan jalan desa yang berkabut. Dada sang ustaz muda bergemuruh hebat, merasakan robekan batin yang teramat perih antara kewajiban berbakti kepada orang tua dan janji suci melindungi belahan jiwanya.
"Umi, tindakan kita pagi ini sudah keterlaluan dan menzalimi martabat Hana di hadapan ratusan pasang mata santriwati," ucap Azzam dengan nada suara yang bergetar hebat menahan kecewa.
"Umi hanya ingin menguji kelayakan dirinya sebagai seorang istri pemimpin yayasan, dia sendiri yang memilih menyerah kalah," sahut Sarah yang tiba tiba mendekat dengan raut muka yang dibuat prihatin.
"Diam kamu Sarah, jangan mengais keuntungan di atas kehancuran rumah tangga saya," bentak Azzam dengan tatapan mata yang berkilat tajam.
Sarah tersentak mundur, wajahnya seketika memerah karena tidak menyangka akan menerima reaksi kemarahan yang begitu meluap dari seorang ustaz muda yang biasanya terkenal sangat lembut. Beberapa santriwati senior yang masih berdiri di selasar asrama putri langsung menundukkan kepala sedalam dalamnya, merasa takut melihat badai perpecahan keluarga inti pengasuh pondok. Umi Kalsum terbatuk batuk kecil, memegangi dadanya yang kian sesak akibat luapan emosi keduniawian yang sengaja ia pelihara demi mempertahankan ego kekuasaan surau. Azzam memandangi ibundanya dengan rasa dilema yang menghimpit, sebelum akhirnya memutuskan memanggil tim medis puskesmas untuk segera membawa wanita tua itu masuk ke dalam kediaman utama.
Sementara itu, di dalam kabin angkutan umum yang bergerak menjauhi area pedesaan, Hana duduk bersandar pada kursi jok kulit yang robek dengan pandangan mata yang kosong menatap kaca jendela. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya kini luruh tanpa mampu dibendung lagi, membasahi kain jilbab hitam yang membungkus luka hatinya. Ingatan Hana berputar pada rentetan peristiwa pahit selama tinggal di lingkungan pesantren, di mana setiap jengkal langkahnya selalu dinilai sebagai sebuah kesalahan beradab oleh sang mertua. Pengorbanan dirinya yang mencoba beradaptasi dengan budaya surau yang kolot ternyata berakhir mengenaskan di atas altar ujian mengaji yang penuh kepalsuan.
"Neng, apakah kamu baik baik saja, wajahmu tampak sangat pucat sekali," tegur seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelah Hana sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Hana tersadar dari lamunannya, segera menghapus bekas air mata di pipi dengan ujung jemari tangan yang masih gemetar. "Saya hanya sedikit pusing karena kurang tidur semalam, Ibu, terima kasih banyak atas kebaikan hatinya."
"Minumlah sedikit agar jiwamu merasa lebih tenang menghadapi perjalanan panjang menuju kota besar," sambung wanita paruh baya itu dengan senyuman tulus penuh empati.
Hana menerima botol tersebut, meneguk isinya perlahan felt aliran air dingin itu sedikit meredakan rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Keputusan keluar dari rumah suami dengan cara seperti ini adalah sebuah pilihan paling berani sekaligus paling menyakitkan yang pernah ia ambil sepanjang sejarah hidupnya. Ia tahu bahwa status hukum pernikahannya kini berada di ujung tanduk, namun tinggal lebih lama di tempat yang penuh intimidasi psikologis akan membunuh kreativitas jiwanya secara perlahan. Dengan menggenggam erat tas jinjing berisi dokumen penting keluarganya, Hana memantapkan niat batin untuk membuka lembaran baru yang lebih mandiri di bawah perlindungan ayah kandungnya.
Kembali ke lingkungan pesantren yang masih diliputi awan ketegangan, Azzam tampak berjalan mondar mandir di koridor depan kamar pengantinnya yang kini sudah kosong melongpong. Aroma sisa minyak wangi cendana milik Hana masih tercium samar di udara, seolah mengejek ketidakberdayaan dirinya yang gagal menjadi pelindung sejati bagi sang istri. Kamar yang dahulu dipenuhi harapan indah tentang masa depan rumah tangga sakinah, kini menjelma menjadi sebuah ruang sunyi yang memancarkan aura dingin yang menusuk kalbu. Di atas meja kerja kayu jati, selembar sajadah milik Hana tergelar rapi dengan posisi yang sedikit miring, menandakan ketergesaan pemiliknya saat pergi meninggalkan kamar.
Azzam melangkah mendekati meja tersebut, mengambil sajadah itu lalu memeluknya erat erat ke dada dengan air mata penyesalan yang akhirnya pecah dalam keheningan.
"Maafkan saya, Hana, kelemahan sikap saya telah membuatmu menanggung penderitaan yang begitu kejam di rumah ini," bisik Azzam dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan.
Pintu kamar mendadak diketuk dari luar, menampilkan sosok pengurus senior asrama putra yang masuk dengan wajah penuh kecemasan yang mendalam. "Ustaz Azzam, keadaan Umi Kalsum di dalam kediaman utama kian menurun, beliau terus memanggil nama Anda dan meminta Anda segera datang."
"Katakan kepada Umi bahwa saya akan segera ke sana setelah menyelesaikan beberapa urusan administrasi di ruang kantor yayasan," jawab Azzam tanpa mengubah posisinya yang masih memeluk sajadah.
"Tolong kuatkan hatimu, Ustaz, para santri membutuhkan ketegasan sikap Anda untuk memimpin kajian kitab suci malam nanti," tambah pengurus senior itu sebelum pamit mengundurkan diri.
Azzam menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan mentalnya yang sudah runtuh berantakan akibat konflik domestik yang bertubi tubi melanda. Ia meletakkan kembali sajadah Hana ke dalam lemari pakaian, lalu melangkah keluar kamar menuju ruang kediaman utama dengan langkah yang sangat berat laksana memikul beban berton ton semen. Di dalam ruangan bernuansa hijau itu, Umi Kalsum tampak terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya, didampingi oleh orang tua Sarah yang sengaja datang membawa tabib alternatif. Pertemuan keluarga malam itu memancarkan atmosfer konspirasi yang sangat kental, membuat Azzam semakin merasa laksana orang asing di tengah lingkaran darah dagingnya sendiri.
Malam kian larut membawa hawa dingin yang mencekam, mengiringi kebisingan suara rintik hujan yang mulai membasahi genting genting aula utama pondok pesantren. Azzam duduk di sudut ranjang ibundanya, mendengarkan setiap petuah kolot mengenai silsilah suci keluarga surau yang terus didengungkan oleh kerabat senior yayasan dengan nada memaksa. Pandangan mata sang ustaz muda tertuju pada jendela luar, membayangkan di mana Hana berada saat ini di tengah guyuran hujan lebat kota besar yang asing. Kesunyian malam itu melahirkan sebuah kesadaran baru di dalam benak Azzam, bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi lelaki sejati sebelum berani memutus rantai kepatuhan buta yang merusak keadilan rumah tangga.
Ketika waktu menunjukkan pukul dua dini hari, Azzam bangkit berdiri dari sisi tempat tidur ibundanya, memandang wajah tua yang sedang terlelap itu dengan tatapan penuh kepasrahan moral. Ia melangkah mantap menuju meja kerja kantornya, mengambil selembar kertas putih kosong lalu mulai menuliskan surat pengunduran diri dari seluruh jabatan struktural pengurus yayasan pondok pesantren. Langkah berani ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban mutlak atas kegagalannya membimbing istri, sekaligus sebagai persiapan batin untuk menjemput Hana di pengadilan agama kota besar minggu depan. Azzam tahu bahwa tindakan radikal ini akan menyulut kemarahan besar dari Umi Kalsum, namun ia sudah tidak peduli lagi demi mengejar ketenangan jiwa yang hakiki.
Ia melipat surat tersebut, memasukkannya ke dalam amplop cokelat besar lalu meletakkannya tepat di samping Al Quran besar milik almarhum ayahnya.