Eliza Mahendra adalah seorang gadis dengan julukan "Gadis Berhati Dingin" atau "Kulkas Berjalan" di sekolah elitnya, SMA Nusa Bangsa. Sebagai Ketua OSIS, ia menjalankan tugasnya dengan kedisiplinan tanpa kompromi, dihormati sekaligus ditakuti karena sifatnya yang misterius, irit bicara, dan tatapan tajamnya. Kehidupannya yang teratur dan dingin berbanding terbalik dengan kembarannya, Elzia, yang dua jam lebih muda. Meskipun memiliki wajah yang serupa, Elzia memancarkan kehangatan dan dikenal sebagai gadis yang lebih "bar-bar" dari gadis seusianya, bahkan diam-diam menyandang gelar "Queen Racing" di dunia balap.
Cerita ini mengandung unsur kekerasan, konflik mafia, dan ****** ******. Harap bijak dalam membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropha M.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Tanpa Kehidupan
Kini keluarga itu sedang duduk di kursi tunggu dan melihat ke arah ruang UGD dengan perasaan cumas dan takut bercampur jadi satu
Tiba-tiba pintu UGD itupun terbuka dan terlihat seorang dokter yang berjalan ke arah mereka
" Apa anda keluarga pasien? " Tanya dokter perempuan itu
" Iya dok ada apa? " Tanya Jordan
"Begini pak luka yang dialami putra bapak sangat parah sehingga kami harus meminta persetujuan dari pihak keluarga untuk operasi pasien" Jelas dokter wanita itu
Sedangkan keluarga Jordan yang ada disana juga tak bisa menahan air matanya
"Lakukan apa saja dok yang penting anak saya selamat" Ucap Jordan dengan air mata yang terus mengalir
"Baiklah pak kami akan menghubungi dokter Eli semoga saja tidak ada kendala " Ucap Dokter wanita itu penuh harap
"Ada apa dok " Ucap seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Elzia
"Kami akan menghubungi dokter Eli untuk melakukan operasi " Jawab dokter itu dan mulai menghubungi dokter Eli
Sedangkan Elzia ia melihat segerombolan orang mungkin itu adalah keluarga pasien
"Apakah ibu dan bapak keluarga pasien " Ucap Elzia kepada Jordan dan Amira sedangkan Amira dan Jordan menganggukkan kepalanya
"Saya ingin mengembalikan dompet milik anak anda nyonya " Ucap Elzia dengan Ramah sedangkan Faris menatap Elzia dengan tatapan yang sulit diartikan
" Apakah kamu yang membawa putra saya ke sini? " Tanya Amira menatap ke arah Elzia sedangkan Elzia hanya mengangguk saja
Sebenarnya Elzia sudah hampir sampai dirumahnya tapi ia lupa untuk mengembalikan dompet itu, sehingga ia harus putar balik menuju Rumah sakit dan bertemu dengan keluarga pemuda itu
"Terima kasih karena membawa putra saya ke rumah sakit dengan cepat " Ucap Amira tulus dan menggenggam kedua tangan Elzia
Faris berjalan mendekat dan mengelus puncak kepala Elzia
"Anak gadis siapa namamu " Ucap Faris pada Elzia
"Elzia tuan" Ucap Elzia dengan sopan
"Panggil saja saya opa atau kakek " Ucap Faris meminta Elzia untuk memanggilnya kakek atau opa
"Baik k_kakek " Ucap Elzia gagap
Kemudian Elzia menatap ke arah dokter yang sedang Berbicara dengan Dokter Eli meskipun dokter perempuan itu sedikit gagap untuk berbicara dengan dokter Eli
"Baiklah kami akan membawa pasien ke ruang operasi " Ucap dokter wanita itu setelah selesai menghubungi dokter Eli
Setelah dipindahkan ke ruang operasi para perawat dan dokter mulai menyiapkan alat-alat yang diperlukan
Jordan dan keluarga nya duduk di luar dekat ruang operasi sedangkan Elzia pamit untuk pulang karena hari sudah sangat malam
Banyak bisik-bisik dari para perawat yang berlalu lalang
"Kudengar dokter Eli akan ke sini"
"Benarkah wah sangat tidak sabar ingin melihat dokter Eli"
"Kira-kira kenapa ya sampai dokter Eli harus datang apakah dokter lainnya tidak bisa mengatasi pasien? "
"Kudengar dokter Eli kemari karena ada pasien yang harus di operasi"
"Dokter Eli terlalu misterius "
"Iya benar "
Banyak lagi gosipan para perawat yang berlalu lalang
"Apakah dokter Eli ini sangat misterius? " Ucap Alaska pada dirinya sendiri
"Permisi Sus" Ucap Jeno menghentikan langkah perawat itu
"Iya ada apa mas" Ucap perawat itu malu-malu
"Jika boleh tau siapa Dokter Eli itu apakah dia orang yang Terkenal? " Tanya Jeno pada perawat itu
" Iya mas hanya namanya yang terkenal tapi tidak dengan wajahnya, dokter Eli merupakan orang yang sangat misterius, para dokter akan menghubungi dokter Eli jika para dokter tidak bisa mengatasi pasien yang keadaan Darurat " Jelas perawat itu
Sedangkan Jeno hanya menganggukkan kepalanya dan kembali duduk disamping para saudara nya, Terlihat keluarga besar itu sedang dilanda kekhawatiran dan gelisah sana kemari
"Apakah dokter Eli ini tidak bisa datang begitu cepat? " Tanya Jordan pada dirinya sendiri
" Sabar mas mungkin Dokter Eli juga sedang dalam perjalanan " Ucap Amira menenangkan suaminya
Sedangkan orang yang ditunggu sedang menuju kearah Ruang operasi ia menggunakan masker dan juga baju bedahnya, Dokter Eli hanya melewati mereka begitu saja dan langsung masuk kedalam tanpa menyapa keluarga pasien tersebut
Didalam Ruang operasi
Terlihat Dokter Eli sedang memeriksa keadaan Keno yang dalam keadaan menggenaskan beruntung nya tidak ada tulang-tulang yang patah
"Bagaimana dok? Pasien sudah banyak kehilangan darah dan kami tidak tau harus mendonorkan darah golongan apa " Ucap Perawat itu dengan cemas
Sedangkan Dokter Eli hanya diam dan menatap datar ke arah perawat tersebut sehingga membuat perawat itu menundukkan kepalanya karena tak berani bersitatap dengan mata dokter Eli
"Pergi ke ruang pribadiku dan ambil lima kantong darah A+ disana sudah tertulis golongan nya masing-masing " Ucap Dokter Eli datar dan sambil memeriksa keadaan pasien
"Baik dok" Ucap perawat itu lalu langsung pergi ke Ruang yang di tunjukkan oleh Dokter Eli
Perawat tersebut langsung saja menuju Ruangan Pribadi Milik Dokter Eli yang berada paling ujung dan cukup tersembunyi.
Ceklek
Pintu Ruangan itu Terbuka terlihat perawat tersebut mengedarkan pandangannya
"Ruangan ini sungguh tak berkehidupan dan sangat menyeramkan" Guman Perawat itu sambil Bergidik ngeri, ia buru-buru mengambil kantong darah tersebut dan langsung keluar dari Ruangan pribadi milik Dokter Eli
Selang berapa menit Perawat tersebut sudah berada di Ruangan operasi dan langsung saja menyerahkan kantong darah tersebut kepada Dokter Eli dan langsung diambil oleh dokter Eli
"Ambilkan Gunting dan Jahitan " Titah Dokter Eli pada perawat itu
"Ini dok " Ucap perawat tersebut sambil menyerahkan gunting dan alat Jahitan
Selang beberapa menit akhirnya proses per guntingan dan Jahitan telah selesai dan kini Keno akan dipindahkan ke Ruang inap VVIP lantai dua
Ceklek
Pintu Operasi tersebut terbuka lebar dan terlihat lah seorang perawat sedang mendorong brankar yang ditempati Keno.
"Bagaiman keadaan Anak saya Sus apakah operasi nya lancar? " Tanya Amira khawatir
"Operasi nya berjalan dengan Lancar nyonya dan sekarang Tuan Muda akan dipindahkan ke Ruang VVIP Lantai dua " Jelas perawat tersebut dan Tersenyum Ramah
Amira yang mendengar bahwa operasi berjalan dengan baik langsung saja menghela napas lega dan bersyukur
"Lalu dimana Dokter Eli Sus? " Tanya Amira yang tak melihat Dokter Eli keluar dari Ruangan operasi tersebut
" Dokter Eli masih ada kesibukan lain nyonya, kalau begitu mohon Beri Jalan nyonya " Ucap perawat itu, dan Amira langsung saja minggir.
✧✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*
Pagi yang begitu cerah dimana seluruh penghuni bumi melakukan aktivitas nya masing-masing, Eliza bangun jam 05,30 ia sudah bersiap-siap dengan seragam sekolah nya, ia sekarang berada di mansion Bimantara. Eliza berjalan menuruni tangga terlihat Ruangan tersebut masih sepi sebab yang lain masih belum bangun
Eliza berjalan menuju dapur untuk mengambil minum,
"Kamu Eliza kan? " Ucap seseorang yang baru saja turun dari tangga siapa lagi jika bukan Arumi
"Hm" Dehem Eliza bukannya tidak sopan tapi memang sudah menjadi sifat dan karakter seorang Eliza karlina.
Sedangkan Arumi hanya tersenyum memaklumi
"Apa kamu ingin sarapan El? " Tanya Arumi dengan lembut
"Hmm " Dehemnya lalu berjalan naik untuk ke kamar Elzia untuk membangunkan kembarannya itu
Ceklek
Eliza menatap datar pada Elzia yang masih tidur dengan nyenyak
Sett... GUBRAAKK
"SETAN!" Kaget Elzia sambil mengusapkan pantatnya yang cukup sakit dan pegal
Bagaimana tidak sakit seseorang menggulingkan dirinya sehingga jatuh dilantai, Elzia melihat ke arah pelaku yang mendorong nya menatap dirinya santai, Elzia mendengus kesal tidak bisakah kakaknya ini membangunkannya dengan cara yang Anggun.
"Ada apa? " Tanya Elzia malas kemudian bangkit dari lantai
"Sekolah"jawab Eliza datar kemudian pergi begitu saja
Elzia yang melihat Eliza keluar dari kamarnya hanya mendengus kesal
"Setelah menjatuhkan ku, dia tidak meminta maaf. Dasar kakak lucnut gini amat punya kakak " Guman Elzia kesal kemudian berjalan menuju kamar mandi
Sedangkan Eliza sudah duduk dimeja makan sambil menunggu kembaran nya tersebut
Tap.. Tap.. Tap..
Langkah kaki seseorang mengalihkan perhatian mereka dimeja sedangkan Eliza hanya santai dan mulai mengambil makanan
"Pagi mom dad " Ucap Elzia tersenyum manis kemudian duduk disebelah Eliza yang kini mulai memakan sarapan nya
Sedangkan Angga yang melihat Eliza makan duluan tanpa menunggu instruksi dari kepala keluarga hanya menatap heran ke arah Eliza
"Tidak perlu menatap saya seperti itu, saya tidak mau mati kelaparan hanya menunggu instruksi bulan depan " Ucap Eliza santai bahkan menyuap makanan nya lagi
Kelakuan Eliza sudah terbiasa bagi bara gadis ini tidak akan membuang waktu hanya untuk makan jadi siapa yang lapar maka makan duluan tanpa menunggu instruksi yang entah kapan mulainya
Sedangkan Angga berdehem canggung karena Eliza menegurnya