NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Versi Asli

CRAAKK…

Retakan di tabung kaca semakin besar.

Cairan biru menetes ke lantai perlahan.

Lampu server berkedip liar.

Alarm meraung semakin keras sampai telinga terasa sakit.

Dan anak kecil di dalam tabung itu…

masih menatap Nayra sambil tersenyum.

Senyum yang sama persis dengannya.

Tapi kosong.

Dingin.

Seperti seseorang yang belajar cara menjadi manusia.

“Nayra…”

Suara Zavian terdengar jauh.

Karena kepala Nayra mulai dipenuhi suara-suara aneh.

Potongan ingatan.

Jeritan.

Tangisan anak kecil.

Lampu operasi.

Dan suara seorang pria—

“Subject 07 berhasil stabil.”

Napas Nayra memburu.

“Aku nggak suka ini…”

Arsen langsung berdiri dari komputer utama.

“Kita harus pergi sekarang.”

“Data belum selesai!” bentak Zavian.

“Kalau tabung itu terbuka penuh, kita bakal punya masalah lebih besar!”

Retakan makin melebar.

Cairan biru menyembur keluar.

Lalu—

DUARR!

Kaca tabung pecah total.

Air bercampur cairan biru membanjiri lantai.

Tubuh anak kecil itu jatuh perlahan ke luar.

Dan seluruh ruangan mendadak hening.

Alarm mati.

Lampu berhenti berkedip.

Bahkan suara server ikut padam.

Sunyi total.

Anak itu berdiri perlahan.

Rambut hitam basah menempel di wajahnya.

Mata gelapnya langsung tertuju pada Nayra.

Dan Nayra merasa seperti sedang melihat cermin.

Versi dirinya yang lebih kecil.

Lebih dingin.

Lebih menyeramkan.

“Impossible…” gumam Arsen pelan.

Anak kecil itu melangkah.

Pelan.

Tanpa suara.

Lalu berhenti tepat di depan Nayra.

Mereka saling menatap.

Dan untuk beberapa detik…

rasanya seperti dunia cuma berisi mereka berdua.

“Kamu…”

Suara Nayra bergetar.

Anak itu memiringkan kepala sedikit.

“Versi gagal.”

Deg.

Darah Nayra langsung dingin.

“Hah?”

Zavian langsung maju selangkah.

“Jangan dengarkan dia.”

Anak itu menoleh ke Zavian.

Tatapannya kosong.

“Player 03.”

Lalu kembali melihat Nayra.

“Mereka membuatmu terlalu lemah.”

Nayra menggigit bibir.

“Aku bukan benda.”

“Kamu salinan.”

Kalimat itu menusuk keras.

Dan yang lebih menyakitkan…

sebagian diri Nayra takut itu benar.

Arsen mengeluarkan pistol perlahan.

“Menjauh dari Nayra.”

Anak itu melirik pistol tersebut.

Lalu tertawa kecil.

Suara tawanya pelan.

Tapi tidak terdengar seperti anak kecil.

“Subject Alpha.”

Tatapannya turun dingin.

“Kamu masih hidup.”

Arsen tersenyum tipis.

“Sayangnya iya.”

“Aku ingat kamu.”

Untuk pertama kalinya ekspresi Arsen berubah sedikit.

“Kamu harusnya tidur terus.”

Anak itu memandang semua orang di ruangan itu satu per satu.

Lalu berkata pelan—

“Kenapa kalian terlihat takut?”

Nayra merinding.

Karena nada suaranya benar-benar tulus.

Seperti ia memang tidak mengerti rasa takut.

Tiba-tiba suara ledakan terdengar dari atas.

DUARRR!

Gedung berguncang keras.

Debu jatuh dari langit-langit.

Timer di layar utama tinggal:

02:31

Zavian langsung sadar duluan.

“Kita keluar. Sekarang.”

Arsen cepat mencabut hard drive dari komputer utama.

“Data aman!”

Nayra masih menatap anak kecil itu.

“Apa dia ikut?”

“HELL NO,” jawab Arsen cepat.

Tapi sebelum siapa pun bergerak—

anak kecil itu mengangkat tangan.

Seluruh pintu baja langsung tertutup sendiri.

BRAKK!

Lampu berubah merah lagi.

Dan suara sistem terdengar.

LOCKDOWN ACTIVATED

Nayra langsung panik.

“Kenapa semua pintu di tempat ini suka nutup sendiri?!”

Anak kecil itu menatap Nayra polos.

“Aku tidak mau sendiri lagi.”

Deg.

Kalimat itu membuat dada Nayra terasa aneh.

Sedih.

Tapi juga takut.

“Kamu siapa sebenarnya?” tanya Nayra pelan.

Anak itu diam sebentar.

Seolah berpikir.

Lalu menjawab—

“Aku Nayra.”

“Bukan.”

“Kamu yang bukan.”

Hening.

Zavian melangkah maju sedikit.

“Dia sengaja mainin pikiranmu.”

Anak kecil itu menatap Zavian.

“Kakakmu juga bilang begitu sebelum mati.”

Suasana langsung berubah dingin.

Nayra langsung menoleh cepat.

Zavian membeku.

Tatapannya berubah sangat gelap.

“Apa katamu?”

Anak itu tersenyum kecil.

“Aku ada di sana waktu dia mati.”

Deg.

Napas Zavian langsung berat.

Arsen langsung sadar situasinya memburuk.

“Jangan terpancing.”

Tapi sudah terlambat.

“Dia minta tolong,” lanjut anak itu pelan. “Lucu sekali.”

DUAK!

Zavian langsung menembak.

Peluru meleset tipis di samping kepala anak itu.

Nayra tersentak.

“Zavian!”

Anak kecil itu tidak bergerak.

Tidak takut.

Bahkan masih tersenyum.

“Kamu marah.”

“Diam.”

“Kamu masih menyalahkan dirimu sendiri.”

“AKU BILANG DIAM!”

DUAK! DUAK!

Dua peluru lagi ditembakkan.

Tapi anehnya—

anak itu menghilang.

Begitu saja.

Dan muncul lagi di belakang Nayra.

Nayra langsung membeku saat merasakan napas dingin di lehernya.

“Kamu takut kehilangan orang lagi,” bisik anak itu.

Zavian langsung menurunkan pistol sedikit.

Karena Nayra terlalu dekat.

Anak kecil itu tersenyum tipis.

Seolah menikmati semuanya.

“Apa yang kamu mau?” tanya Nayra dengan napas gemetar.

Anak itu diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan—

“Keluar.”

“Hah?”

“Aku mau keluar dari tempat ini.”

Arsen mendecih.

“Tentu aja.”

“Kalian bebas.”

Tatapan anak itu kosong.

“Sementara aku dikurung.”

Nayra menelan ludah.

Entah kenapa…

ia bisa merasakan kesepian besar dari sosok itu.

Dan itu membuat semuanya semakin menyeramkan.

“Kamu bunuh banyak orang?” tanya Nayra perlahan.

Anak itu memiringkan kepala.

“Mereka menyakitiku dulu.”

Jawaban sederhana.

Tanpa rasa bersalah.

Dan justru itu yang membuat bulu kuduk Nayra berdiri.

Server tiba-tiba menyala lagi.

Layar besar hidup sendiri.

Dan wajah Game Master muncul.

“Subject 07 Original telah aktif.”

Nada suaranya terdengar… gugup.

Untuk pertama kalinya.

“Containment protocol dimulai.”

Anak kecil itu langsung menoleh ke layar.

Ekspresinya berubah dingin.

“Aku benci suaramu.”

Lalu—

semua layar meledak bersamaan.

DUARR!

Percikan api memenuhi ruangan.

Game Master menghilang.

Arsen langsung memaki.

“Oke, itu jelas bukan anak normal.”

Zavian tidak menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada Nayra.

Karena wajah Nayra mulai pucat.

Sangat pucat.

“Nayra?”

Kepala Nayra sakit lagi.

Parah.

Potongan-potongan memori muncul semakin cepat sekarang.

Ruangan eksperimen.

Suara alarm.

Anak kecil di tabung kaca.

Dirinya sendiri berdiri di luar tabung.

Dan seseorang berkata—

“Versi kedua lebih manusiawi.”

Nayra langsung memegang kepalanya.

“AAAH—”

Anak kecil itu menatapnya tenang.

“Mereka mengambil ingatanku.”

Air mata Nayra jatuh.

“Apa…”

“Mereka memberikannya padamu.”

Deg.

Semua diam.

“Makanya kamu bisa merasa.”

Tatapan anak itu kosong.

“Sementara aku… tidak.”

Hening panjang memenuhi ruangan.

Bahkan Arsen tidak bicara.

Karena untuk pertama kalinya…

mereka mulai mengerti sesuatu yang mengerikan.

Nayra bukan sekadar salinan.

Ia membawa semua sisi manusia dari Subject 07 asli.

Emosi.

Rasa takut.

Kasih sayang.

Empati.

Sementara versi asli…

ditinggalkan kosong.

Dijadikan senjata hidup.

Gedung berguncang lagi.

Lebih keras.

Retakan mulai muncul di dinding.

“Kita harus pergi!” bentak Arsen.

Timer tinggal:

01:09

Zavian langsung meraih tangan Nayra.

“Ayo.”

Tapi Nayra menoleh ke anak kecil itu.

“Kamu ikut.”

Arsen langsung membelalak.

“KAMU SERIUS?!”

“Kita nggak bisa ninggalin dia di sini!”

“Dia bisa bunuh kita semua!”

Anak kecil itu cuma diam.

Tatapannya ke Nayra aneh sekarang.

Seperti bingung.

“Kenapa kamu peduli?”

Pertanyaan itu terdengar sangat tulus.

Dan sangat menyedihkan.

Nayra menatapnya pelan.

“Karena… kalau aku jadi kamu…”

Napasnya bergetar.

“…aku juga nggak mau sendirian.”

Sunyi.

Anak kecil itu membeku sesaat.

Dan untuk pertama kalinya…

ekspresinya berubah.

Bukan dingin.

Bukan kosong.

Tapi bingung.

Seolah ia baru pertama kali mendengar sesuatu seperti itu.

Tiba-tiba suara pintu baja terbuka keras.

BRAKK!

Pasukan bertopeng masuk.

Banyak.

Bersenjata lengkap.

Salah satu dari mereka langsung berteriak—

“ELIMINATE ALL SUBJECTS!”

Tembakan langsung pecah.

DUAK! DUAK! DUAK!

“TIARAP!” bentak Zavian.

Ruangan server berubah kacau.

Peluru menghantam server.

Percikan api menyebar.

Arsen membalas tembakan sambil mundur.

Nayra menarik anak kecil itu refleks.

“Ayo!”

Anak itu menatap tangannya yang digenggam Nayra.

Diam.

Seolah belum pernah disentuh seperti itu.

Zavian membuka jalan ke pintu samping.

“CEPAT!”

Mereka berlari keluar ke lorong bawah tanah.

Ledakan mulai terdengar di mana-mana.

Pipa pecah.

Api muncul dari beberapa sisi.

Gedung ini benar-benar akan runtuh.

Saat mereka berlari, anak kecil itu tiba-tiba bicara pelan.

“Namaku bukan Nayra.”

Nayra menoleh sambil tetap berlari.

“Hah?”

“Mereka memberiku nama Subject 07.”

Tatapannya kosong ke depan.

“Aku lupa nama asliku.”

Deg.

Dada Nayra langsung terasa sesak lagi.

Anak itu bahkan kehilangan namanya sendiri.

“Nanti kita cari,” kata Nayra cepat.

Anak itu menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena semua orang pantas punya nama.”

Hening.

Lalu untuk pertama kalinya…

anak kecil itu tersenyum kecil.

Bukan senyum menyeramkan tadi.

Tapi senyum anak kecil biasa.

Dan itu justru membuat Nayra ingin menangis.

Mereka akhirnya sampai di lift darurat besar.

Arsen menekan tombol cepat.

“Ayo… ayo…”

Di belakang mereka, pasukan bertopeng terus mendekat.

Tembakan terdengar makin dekat.

Lift terbuka.

Semua masuk cepat.

Tapi saat pintu hampir tertutup—

seseorang menahan pintunya dari luar.

Seorang pria bertopeng hitam masuk perlahan.

Lebih tinggi dari yang lain.

Dan saat ia melepas topengnya…

semua langsung membeku.

Karena wajah pria itu…

sama persis dengan Zavian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!