Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Annisa perlahan berdiri dari lantai dengan tubuh gemetar. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Haikal. Namun, rasa sakit itu kalah jauh dibanding hancurnya hati Annisa saat melihat bagaimana suaminya menatapnya penuh kebencian.
“Aku cuma ingin kita sama-sama periksa…” lirihnya pelan.
Haikal malah mendecak kasar. “Sudah cukup bikin aku malu!”
Pria itu kembali duduk di kursinya dengan wajah dingin, seolah wanita yang baru saja dia tampar bukan istrinya sendiri.
Emeli berdiri di samping Annisa sambil pura-pura menenangkan.
“Annisa, jangan terlalu dipikirkan dulu ya…” Nada suaranya terdengar lembut. Lasmi bahkan langsung menarik tangan Emeli agar duduk kembali di meja makan.
“Ayo duduk lagi, Dokter Emeli.” Wanita tua itu tersenyum hangat. “Nanti makanannya dingin.” Lalu tatapannya kembali berubah tajam ke arah Annisa.
“Kamu sana ke dapur!”
Annisa menunduk pelan, tak ada tenaga lagi untuk melawan.
Dirinya berjalan menuju dapur dengan langkah lemah sementara suara tawa kecil dari ruang makan kembali terdengar samar.
Di dapur, Annisa bersandar pelan di meja. Air matanya jatuh tanpa suara. Dari celah pintu, dia masih bisa melihat Haikal dan Emeli mengobrol akrab di meja makan.
Sesekali pria itu tersenyum pada wanita tersebut. Senyum yang dulu hanya diberikan untuk dirinya. Annisa menutup mulutnya menahan isak. Lima tahun lalu, dirinya rela meninggalkan segalanya demi Haikal. Melawan ayahnya meninggalkan kehidupan nyaman. Bahkan, memutus hubungan dengan keluarga yang begitu mencintainya. Tetapi, pria yang dia pilih justru memperlakukannya lebih buruk dari orang asing.
Suara kursi bergeser dari ruang makan membuat Annisa cepat menghapus air matanya. Tak lama kemudian, Emeli masuk ke dapur sambil membawa gelas kosong.
“Annisa…” Wanita itu mendekat pelan.
“Aku minta maaf soal tadi.”
Annisa tidak menjawab, tatapannya dingin menahan luka. Emeli menghela napas kecil.
“Aku tahu kamu pasti salah paham sama aku.”
“Salah paham?” suara Annisa serak.
“Aku sama Haikal cuma teman lama.” Ucapan itu justru membuat hati Annisa semakin sakit.
Karena dirinya bisa melihat dengan jelas cara Haikal memandang wanita itu. Cara mereka berbicara dan kenyamanan yang terlalu berlebihan di antara keduanya.
“Kalau memang cuma teman…” Annisa menatap Emeli perlahan. “Kenapa ibu mertua bilang kamu calon istri baru Mas Haikal?”
Emeli langsung terdiam, sesaat kemudian wanita itu tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan.
"Aku nggak bisa melarang orang lain berkata apa, Annisa."
“Kamu tahu, kan…” suara Annisa serak, namun tatapannya tegas menatap tepat ke mata Emeli. “Kalau mendekati pria yang masih punya istri, itu artinya kamu orang ketiga.”
Annisa menarik napas berat sebelum melanjutkan dengan penuh luka, “Pelakor.”
Sesaat, sorot mata Emeli berubah tajam. Tangannya mengepal semakin erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri. Tak pernah ada yang berani mengatakan itu langsung di hadapannya. Apalagi Annisa, wanita yang sejak dulu selalu lebih unggul darinya. Saat kuliah, Annisa adalah pusat perhatian kampus. Dipuji dosen dan disukai banyak pria. Sementara, Emeli hanya selalu berada di belakang bayang-bayangnya. Setelah akhirnya merasa menang karena berhasil merebut perhatian Haikal, Annisa kembali melukai harga dirinya tetapi Emeli tidak membalas. Karena dia masih punya rencana yang jauh lebih besar. Wanita itu justru tersenyum kecil, lalu mendekat satu langkah.
“Aku nggak pernah merebut siapa pun, Annisa,” ucapnya lembut. “Kalau Haikal memilih datang padaku, itu artinya dia memang sudah nggak bahagia sama kamu.” Ucapan itu menghantam tepat di dada Annisa.
Emeli melihat perubahan di wajah lawannya dan merasa puas.
“Terkadang…” lanjutnya lirih, nyaris seperti bisikan, “kalau seorang pria berpaling, mungkin ada sesuatu yang kurang dari istrinya.”
Air mata Annisa hampir jatuh lagi. Emeli tersenyum tipis, lalu melangkah pergi meninggalkan dapur. Sebelum keluar, wanita itu berhenti sesaat dan berkata tanpa menoleh,
“Jaga Haikal baik-baik … selama kamu masih bisa.”
Setelah itu, Emeli kembali ke ruang makan dengan wajah lembutnya seolah tak pernah mengatakan apa pun.
Di ruang tamu, Haikal dan Lasmi masih berbincang santai sambil menikmati makan malam. Lasmi bahkan terus memuji-muji Emeli tanpa henti.
“Dokter Emeli itu beda,” katanya bangga. “Cantik, pintar, sopan. Cocok jadi pendamping pria sukses.”
Haikal hanya tersenyum kecil mendengarnya. Tak lama kemudian, Emeli keluar dari dapur. Namun, kali ini wajah wanita itu tampak murung. Matanya sedikit memerah seolah baru menahan tangis.
Haikal langsung berdiri khawatir. “Emeli? Ada apa?”
Wanita itu memaksakan senyum tipis. “Aku pulang saja.”
“Kok tiba-tiba?”
Emeli menunduk pelan. “Kedatangan aku ke sini malah bikin keributan.”
Lasmi langsung mengerutkan kening. “Annisa ngomong macam-macam lagi?”
Emeli buru-buru menggeleng seolah tak ingin memperbesar masalah.
“Bukan salah siapa-siapa…” suaranya lirih penuh pura-pura sedih. “Mungkin memang aku nggak seharusnya dekat sama pria yang masih punya istri.”
Haikal langsung menegang. “Jangan dengarkan ucapan Annisa.”
Emeli kembali tersenyum pahit.
“Aku perempuan juga, Haikal.” Tatapannya tampak terluka. “Aku nggak mau dianggap pelakor.”
Ucapan itu membuat Haikal tersulut emosi kembali. Padahal, tadi jelas Emeli yang sebenarnya sedang memainkan keadaan.
“Aku nggak akan datang ke sini lagi…” lanjut Emeli pelan. “Selama kamu masih punya istri.”
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut langsung mengambil tasnya.
Lasmi terlihat panik. “Dokter Emeli, jangan begitu…”
Emeli hanya tersenyum kecil penuh kesedihan palsu sebelum berjalan keluar rumah. Haikal langsung mengejarnya tanpa pikir panjang.
“Emeli, tunggu!”
Pintu rumah terbuka keras.
Annisa yang masih berdiri di dapur bisa melihat semuanya dari kejauhan. Haikal mengejar Emeli sampai ke halaman rumah. Bahkan, pria itu terlihat menahan tangan wanita tersebut dengan wajah penuh khawatir.
Sementara, istrinya sendiri menangis sendirian di dalam rumah tanpa pernah dikejar seperti itu lagi.
"Emeli, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku yakin kamu perempuan baik-baik bulan pelakor. Tunggu, aku mengurus surat cerai dengan Annisa, aku akan melamarmu." Kata-kata Haikal, membuat Emeli tertawa dalam hatinya.
"Aku tahu kamu tidak salah. Cinta tak pernah salah, hanya kita bertemu di waktu yang salah," kata-kata itu sengaja Emeli katakan untuk menarik perhatian Haikal, kalau dirinya bukanlah seorang pelakor, dia akan merebut Haikal secara sah setelah keduanya berpisah.
"Aku pulang dulu," lanjutnya.
"Aku antar," tawar Haikal.
"Aku sudah mesan taksi, aku pulang dulu."
Tak lama sebuah taksi online berhenti di sana, dan Emeli langsung masuk mobil. Setelah mobil itu pergi, Haikal langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah untuk memarahi Annisa lagi.
"Annisa!"
bahwa kehadirannya sungguh berharga