NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Wadah Yang Salah

"Pergi! Jangan bunuh aku!" pelayan itu menjerit, suaranya parau oleh ketakutan yang murni.

Nara terengah-engah, pandangannya mulai berbayang. Langkah kuda pasukan Do-Kwang terdengar semakin dekat, menggetarkan lantai dapur.

Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan Batu Sang-Hyeol yang kini berpendar merah darah seolah haus akan nyawa.

"Diamlah," bisik Nara, suaranya dingin meski tubuhnya gemetar hebat.

"Raga ini akan kugunakan untuk membalas dendam. Anggap saja ini pengabdian terakhirmu untuk Niskala."

Nara mulai merapal mantra terlarang itu.

WUUUSHHH!

Asap hitam pekat keluar dari celah ubin, berputar seperti badai yang terperangkap dalam ruangan sempit. Udara mendadak menjadi beku.

Namun, tepat saat energi pemindahan jiwa itu mencapai puncaknya, sebuah tarikan gravitasi sihir yang aneh terjadi. Batu Sang-Hyeol di tangan Nara bergetar hebat, menarik lengannya ke arah yang berbeda—bukan ke arah pelayan di depannya, melainkan ke arah gudang gandum di balik sekat kayu yang rapuh.

"Apa yang terjadi?!" batin Nara terperanjat.

Dari balik bayang-bayang tumpukan karung, sesosok gadis lain muncul. Ia adalah seorang gadis buta berpakaian lusuh bernama Seol Ah, yang sedang bersembunyi dengan tubuh meringkuk.

Secara gaib, tubuh Seol Ah terangkat ke udara, seolah-olah ada tangan raksasa yang merenggutnya.

"Tidak! Bukan dia! Berhenti!"

Nara mencoba memutus mantra itu, namun racun dipundaknya membuat kontrol sihirnya kacau.

CRIETTT!

Kilatan cahaya biru elektrik menyambar dari dada Nara ke arah gadis buta itu. Jiwa sang pembasmi ditarik paksa dari raga aslinya yang perkasa.

Rasa sakitnya seperti dikuliti hidup-hidup.

Kesadaran Nara terseret ke dalam kegelapan total sebelum akhirnya terhempas ke dalam wadah yang baru.

****

Tiga puluh menit kemudian, pintu dapur umum itu hancur ditendang. Do-Kwang melangkah masuk dengan pedang terhunus, wajahnya merah padam.

"Cek setiap sudut! Jangan biarkan dia bernapas!" perintahnya.

Di tengah ruangan, mereka menemukan jasad Nara yang sudah pucat pasi. Do-Kwang berlutut, menyingkap kerah baju Nara dengan ujung pedangnya.

Di sana, sebuah tanda lingkaran biru yang berpendar redup perlahan memudar dan menghilang ke dalam kulit.

"Sihir Pemindahan Jiwa..." geram Do-Kwang.

"Jiwanya baru saja pergi. Cari wadahnya sekarang!"

Pasukan itu langsung mengepung pelayan muda yang masih menangis tersedu-sedu di pojok.

Do-Kwang merenggut kasar kerah baju pelayan itu hingga tulang selangkanya terlihat jelas. Ia memeriksa leher, lengan, hingga punggung gadis itu.

"Tidak ada tanda biru..." bisik Do-Kwang kecewa.

"Kulitnya bersih. Sialan! Apakah dia gagal?"

"Mungkin saja, Tuan. Mantra pelumpuh Anda sangat kuat. Jiwanya mungkin hancur di tengah jalan karena raga tujuannya menolak," lapor seorang pengawal.

Do-Kwang menatap jasad Nara dengan tatapan curiga yang amat dalam. "Bawa jasad aslinya. Simpan di dalam Paviliun Cheon-gi Won. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya. Jika jiwanya masih berkeliaran, dia pasti akan mencoba kembali ke raga ini."

Pasukan Do-Kwang telah pergi, meninggalkan dapur yang kini sunyi, dingin, dan berantakan.

Di balik tumpukan karung gandum yang gelap dan berdebu, gadis berpakaian lusuh itu perlahan membuka matanya.

Nara—sang Pembasmi yang ditakuti—mencoba menggerakkan tangannya. Terasa sangat ringan... terlalu ringan hingga membuatnya mual.

Tidak ada beban otot yang terlatih, tidak ada aliran energi pedang yang biasa bergejolak di nadinya.

Saat ia mencoba duduk, kepalanya berdenyut hebat seolah dihantam palu godam.

Ia meraba wajahnya dengan jemari yang kasar dan kotor. Pipinya cekung karena kurang gizi, dan rambutnya kusut tak terawat.

Namun, saat ia menatap ke depan, sesuatu yang mustahil terjadi. Kegelapan total yang seharusnya menyelimuti mata Seol-Ah yang buta kini terkoyak.

Meski pandangannya samar, kabur, dan seolah tertutup kabut tebal, Nara bisa melihat garis-garis energi kebiruan yang melayang di udara—sisa-sisa jejak sihir yang ditinggalkan pasukan Do-Kwang.

"Aku... aku hidup?" gumamnya. Suaranya berubah total; bukan lagi suara Nara yang berat dan tegas, melainkan suara Seol-Ah yang rapuh dan gemetar.

Nara segera meraba lehernya dengan panik. Ia mencari tanda kematian: noda biru berbentuk lingkaran, bukti bahwa jiwanya adalah penyusup di raga ini. Ia meraba tulang selangkanya, memutar tangannya ke belakang leher, meraba setiap inci kulitnya yang dingin.

Nihil.

Kulitnya bersih. Tidak ada noda biru Hwanhon-in yang seharusnya muncul.

"Ini aneh... kenapa tidak ada tanda itu?" batinnya bergejolak.

"Apakah raga ini begitu lemah hingga jiwaku tertelan sempurna, ataukah ada rahasia lain di tubuh pelayan ini?"

Amarah mulai membara di dadanya.

"Tubuh pelayan buta? Dari semua raga di Niskala, kenapa takdir mengolok-olokku dengan menjebakku di wadah sampah ini?!"

Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas seperti jeli. Tubuh Seol-Ah yang malnutrisi tidak sanggup menopang tekad baja Nara. Ia kembali jatuh tersungkur ke lantai dapur yang kotor.

"Han-Gyeol..." desisnya sambil mengepalkan tangan yang mungil dan gemetar.

"Tunggu aku. Meski dengan mata yang hampir buta dan kaki selemah ranting ini, aku akan merangkak sampai aku bisa mencabut nyawamu."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Seorang pria paruh baya berpakaian kumuh bersama beberapa gelandangan lain muncul dari balik pintu belakang.

"Seol-Ah! Seol-Ah, ayo cepat pergi! Pasukan penyihir akan kembali jika kita tidak segera menghilang!" seru pria itu panik.

Nara tertegun sejenak. Ia harus bertahan hidup. Ia tidak boleh ketahuan. Dengan sisa tenaganya, ia bangkit berdiri. Secara refleks, ia meraih kain pengikat matanya yang sedikit longgar, memperbaikinya hingga menutupi matanya yang kini "bisa melihat energi".

Ia mengambil tongkat kayu bambu yang tergeletak di dekat karung, lalu mulai meraba-raba lantai dengan gerakan yang canggung namun meyakinkan.

"Aku di sini," sahut Nara, mencoba meniru nada bicara Seol-Ah yang malang. Ia mulai melangkah mengikuti pria itu, meraba jalan dengan tongkatnya sementara matanya—di balik kain penutup—terus mengamati aliran energi di sekitarnya.

Sang Pembasmi telah menghilang, dan kini hanya tersisa Seol-Ah, pelayan buta yang berjalan tertatih menuju takdir yang baru.

****

Rahasia di Paviliun Cheon-gi Won

Suasana di dalam Paviliun Myeong-seul, jantung kompleks Cheon-gi Won, terasa begitu dingin hingga napas setiap orang yang masuk berubah menjadi uap putih.

Aroma dupa cendana yang tajam menyeruak di antara pilar-pilar kayu hitam yang berdiri kokoh.

Di tengah ruangan, di bawah pendar cahaya lampion biru yang redup, jasad Nara terbaring kaku di atas meja batu yang sedingin es.

Penyihir Do-Kwang berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas dari wajah pucat sang pembasmi.

Di sampingnya, berdiri seorang pria tua berambut putih perak dengan jubah kebesaran yang menjuntai. Ia adalah Master Baek Si-On, sang seojukwon di cheon gi won.

"Benar-benar tragis," gumam Master Baek Si-On seraya mengelus janggutnya yang panjang.

"Seorang pembasmi yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk membenci sihir, justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling ia kutuk. Ini adalah ironi terbesar yang pernah kulihat di tanah Niskala ini."

Di sisi lain meja batu, tiga penyihir muda dari generasi baru mengamati dengan perasaan berbeda.

Do-Hyun, keponakan Do-Kwang, menatap jasad itu dengan senyum sombong. "Dia terlihat jauh lebih cantik saat diam begini," celetuk Do-Hyun, suaranya menggema di aula yang sunyi.

"Paman, haruskah kita memenggal kepalanya sekarang untuk diperlihatkan pada warga kota?"

"Jangan bodoh, Do-Hyun," potong Baek Seo-Jun. Suaranya tenang, namun penuh otoritas.

Wajahnya yang tampan tampak kaku, matanya yang tajam bak elang menangkap sesuatu yang luput dari pandangan orang lain.

Seo-Jun melangkah maju, tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra bergerak mendekati jubah hitam Nara yang mengeras karena darah. Ia menarik sebuah benda kecil yang menyembul dari balik kerah baju gadis itu. Sebuah peluit burung yang terbuat dari kayu giok hitam yang sangat langka.

"Sebuah peluit?"

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!