NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Tidak Boleh Berhasil

Udara sore yang membawa aroma tajam tembakau cengkih langsung menyergap penciuman Sumarni. Sosok tegap Harjono menutupi cahaya kuning dari ambang pintu kayu jati yang terbuka lebar.

Mata elang pria itu terpaku pada pangkuan Sumarni. Tumpukan uang kertas pecahan besar bergambar Jenderal Sudirman berserakan di atas kain kebayanya. Uang-uang kaku itu masih memancarkan bau tinta cetak segar yang khas.

Napas Harjono terdengar berat dan memburu. Sepatu kulit mahalnya berderap keras menghantam lantai tegel abu-abu saat ia melangkah masuk ke dalam kamar.

"Uang apa itu, Marni?" suara Harjono terdengar sangat rendah. Ada getaran kecurigaan gelap yang siap meledak di ujung kalimatnya.

Sumarni menelan ludah, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Jantungnya berpacu memukul tulang rusuk. Namun, keahlian Negosiasi Tingkat Tinggi dari sistem seketika mengambil alih rasa takut di kepalanya.

Ia sama sekali tidak menyembunyikan uang tersebut atau membuang muka. Sumarni justru mengangkat wajahnya dengan tenang dan menatap langsung ke arah suaminya.

"Ini uang muka pesanan batik saya, Mas," jawab Sumarni dengan intonasi suara yang halus namun sangat meyakinkan.

Harjono menghentikan langkahnya tepat di depan lutut Sumarni. Pria itu mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap istrinya seolah sedang melihat orang asing.

"Pesanan? Siapa yang memesan batik dari istri yang tidak pernah keluar rumah?" selidik Harjono tajam.

Tangan besar Harjono terulur kasar menyambar amplop cokelat di pangkuan Sumarni. Jemarinya meraba permukaan kertas tebal itu dengan gerakan cepat.

Hembusan napas Harjono seketika tertahan di tenggorokan. Jari telunjuknya berhenti pada stempel resmi bergambar lambang pemerintahan kota yang dicap tebal di sudut amplop.

"Nyonya Wardoyo? Istri Walikota?" gumam Harjono dengan nada tercekat.

Ia menatap wajah Sumarni dari atas ke bawah. Pria itu mencari kebohongan di wajah istrinya, tetapi ia hanya menemukan ketenangan yang luar biasa elegan.

"Benar, Mas. Beliau memesan dua puluh potong kain batik untuk seragam pengurus inti Dharma Wanita," jelas Sumarni perlahan.

"Saya baru saja pulang dari acara arisan beliau untuk mengantarkan contoh kain Sekar Malam buatan saya."

Harjono terdiam kaku seperti patung batu. Tumpukan amplop di tangannya mendadak terasa sangat berat.

Sebagai pemilik pabrik rokok kretek nomor satu di kota ini, Harjono tahu persis keangkuhan Nyonya Wardoyo. Istri pejabat itu sangat pemilih. Bahkan Sulastri yang sering pamer perhiasan emas selalu gagal masuk ke lingkaran elit tersebut.

Kini, istri keduanya yang selalu ia anggap lemah justru berhasil menaklukkan hati istri Walikota.

Harjono menjatuhkan tubuh besarnya ke tepi ranjang besi. Bunyi derit ranjang memecah keheningan kamar. Pria itu mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kasar.

Logikanya seakan diputarbalikkan secara paksa. Harjono mulai menyadari bahwa ada berlian berharga yang tersembunyi di dalam paviliun kumuh ini.

"Bagaimana kamu bisa menembus penjagaan mereka, Marni?" tanya Harjono perlahan. Amarahnya lenyap tanpa sisa, tergantikan oleh rasa penasaran yang membakar dada.

Sumarni tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya yang masih menyisakan noda biru gelap di sela-sela kuku.

"Saya hanya menawarkan kualitas murni, Mas. Para nyonya besar itu bosan dengan batik cap yang pasaran. Saya memberikan sentuhan karya seni keraton yang mereka dambakan."

Mata Harjono tertuju pada noda gelap di jari istrinya. Tanpa sadar, pria itu meraih tangan mungil Sumarni dan menggenggamnya erat.

Sentuhan kasar kapalan dari tangan Harjono bergesekan langsung dengan kulit lembut Sumarni. Suhu tubuh pria itu terasa panas membakar. Ada getaran aneh yang menjalar naik dari pergelangan tangan hingga ke dada Sumarni.

"Kamu bekerja terlalu keras di gudang pengap itu," gumam Harjono serak. Jempol tangannya mengusap pelan noda pewarna daun tarum di jari Sumarni.

Sikap lembut Harjono yang mendadak ini membuat napas Sumarni tertahan. Tatapan mata pria itu memancarkan rasa hormat dan obsesi yang mulai tumbuh liar.

"Saya butuh satu hal lagi untuk menyelesaikan pesanan besar ini, Mas," ucap Sumarni dengan suara pelan, memanfaatkan momentum emas tersebut.

Harjono mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke dalam bola mata istrinya. "Katakan saja. Apa pun yang kamu butuhkan."

"Saya butuh mesin jahit Singer model terbaru. Pesanan Nyonya Wardoyo bukan hanya lembaran kain biasa, tetapi pakaian kebaya yang sudah jadi."

Tanpa berpikir panjang sama sekali, Harjono mengangguk tegas.

"Besok pagi, mesin jahit terbaik dan paling mahal di kota ini akan tiba di depan pintu paviliunmu. Aku sendiri yang akan memastikan pengirimannya."

Sumarni menundukkan kepalanya takzim. "Terima kasih banyak, Mas Harjono."

Rasa puas mengalir deras di pembuluh darah Sumarni. Ia berhasil membalikkan kecurigaan mematikan itu menjadi dukungan finansial tanpa batas.

Keesokan harinya, janji Harjono benar-benar terwujud di depan mata. Sebuah truk bak terbuka berhenti tepat di halaman samping paviliun belakang rumah.

Empat orang pekerja pabrik yang berbadan kekar menurunkan sebuah kotak kayu jati yang sangat berat. Bunyi derit besi dan kayu yang bergesekan terdengar nyaring membelah udara pagi.

Sumarni menyambut mereka dengan mata berbinar terang. Ia membuka penutup kain kanvas tebal itu dengan tangan gemetar penuh semangat.

Sebuah mesin jahit Singer hitam legam yang mengkilap tertimpa cahaya matahari muncul di hadapannya. Roda pemutar besinya berhiaskan ukiran motif bunga berwarna emas yang sangat mewah.

Bau menyengat dari minyak pelumas baru dan besi tuang seketika menyapa penciumannya. Permukaan besi dingin itu terasa sangat kokoh saat Sumarni mengusapnya. Ini adalah senjata barunya untuk merdeka.

Sementara itu, dari balik jendela kaca rumah utama, sepasang mata menatap pemandangan tersebut dengan penuh kebencian yang mendidih.

Sulastri meremas gorden beludru merah di tangannya hingga kain mahal itu kusut masai. Napas wanita itu memburu cepat. Dadanya naik turun menahan amarah yang meledak di tenggorokan.

"Berani sekali perempuan udik itu meminta barang mewah pada Mas Harjono!" desis Sulastri dengan suara bergetar tajam.

Ningsih, pelayan setianya, berdiri menunduk di sudut ruangan. Keringat dingin membasahi dahi pelayan bertubuh gempal tersebut.

"Nyonya Marni kan mendapat pesanan besar dari Nyonya Walikota, Nyonya Besar. Tuan Harjono terlihat sangat memanjakannya hari ini," lapor Ningsih dengan suara takut-takut.

Prang!

Sulastri menyapu vas bunga porselen di atas meja riasnya dengan kasar. Benda keramik itu hancur berkeping-keping menghantam lantai tegel.

Pecahan beling tajam berserakan ke segala arah. Air rendaman bunga mawar menggenang membasahi ujung sandal Sulastri.

"Tutup mulutmu yang bodoh itu, Ningsih!" jerit Sulastri histeris. "Dia tidak boleh berhasil! Kalau bisnis kainnya sukses, posisiku sebagai nyonya rumah ini akan hancur lebur!"

Sulastri berjalan mondar-mandir di kamarnya seperti orang gila. Tumit kakinya tanpa sengaja menginjak pecahan vas porselen. Rasa perih seketika menyengat telapak kakinya.

Namun, Sulastri mengabaikan rasa sakit itu. Darah segar menetes dari telapak kakinya, bercampur dengan genangan air bunga mawar di lantai tegel. Aroma amis darah dan wangi bunga mawar menguar menyengat.

Ia menoleh ke arah Ningsih dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Matanya merah menyala oleh niat jahat.

"Ningsih, pergi ke pasar Beringharjo sekarang juga. Cari preman anak buahnya Cak Kusno di belakang los daging," perintah Sulastri dingin.

Ningsih menelan ludah dengan susah payah. "Untuk apa, Nyonya Besar?"

Sulastri membuka laci lemari jatinya secara kasar. Ia mengeluarkan segulung uang kertas tebal dan melemparnya tepat ke dada Ningsih.

"Bayar preman kotor itu untuk menyusup ke paviliun belakang malam ini juga. Aku ingin mesin jahit hitam sialan itu hancur berkeping-keping hingga tidak bersisa."

1
Wiecipa Wicipha
suka..../Rose//Heart/
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!