NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

"Ah... ayo Baby lebih dalam lagi, faster...."pinta Gita di bawah kungkungan Reza.

Suara desahan berat dan napas terengah-engah saling bersahutan di balik pintu kamar hotel bintang lima itu, menembus keheningan malam yang seharusnya damai. Di dalamnya, Sagita terbaring lemah namun bersemangat, tubuhnya berbalut keringat yang mengilap di bawah cahaya lampu kristal yang mewah. Reza, pemuda bertubuh kekar dan atletis, menekan setiap kecewa dan luka hati Sagita dengan gerakan penuh nafsu dan kemarahan yang tersimpan lama.

Setiap sentuhan dan genggaman Reza seperti menghancurkan tembok kesetiaan yang pernah Sagita bangun untuk Haikal, suaminya yang kini dianggapnya pengkhianat. Wajah Sagita berkerut, antara rasa sakit dan kepuasan yang berbaur menjadi satu, matanya terkadang tertutup rapat, terkadang menatap tajam ke arah Reza seolah mencari pelarian dari kenyataan pahit yang membelenggunya.

Reza sendiri, meski tubuhnya penuh tenaga, terlihat ada ketegangan di wajahnya. Ia tahu hubungan ini bukan sekadar nafsu, tapi pertempuran batin yang membakar keduanya. Keringat membasahi dada dan punggungnya, menetes ke lantai karpet mewah yang menyerap setiap bisikan dan jeritan kecil mereka. Di balik pintu itu, dunia Sagita dan Reza runtuh dan terbangun sekaligus, membebaskan luka yang terlalu lama terpendam, walau tahu semua ini hanya bayangan gelap dari pengkhianatan yang menggerogoti jiwa Sagita.

"Giliran kamu dong sayang yang goyang." Bisik Reza membuat Gita yang tadi nya tampak lemas kembali bersemangat, kemudian dengan agresif ia pun menunggangi tubuh Reza seperti seorang penunggang kuda yang tampak sangat lihai dan itu berhasil membuat Reza merem-melek ke enakan. Tangan reza pun tak tinggal diam,sementara tubuh Gita menggeliat dengan lihai di atas tubuhnya kedua tangan Reza pun dengan sangat agresif me remas dengan kuat bongkahan yang menggantung sembari melompat melompat itu dengan gemas dan tidak lupa Reza memainkan dua boba milik Sagita.

"Sial!!! Kamu lihat sekali Baby, aku udah gak kuat." Erang Reza yang mana ia hampir mencapai puncak surgawi.

"Aku juga sayang, ayo kita cum sama-sama."

"Hmmmh...aahh.... Enak banget." Racau Gita.

"Aku...ke...luar.. Ba..by..." Racau Reza menekan bo kong sintal Gita dengan kuat menghujani pusaka nya yang sudah mengeluarkan Larva ke Nikma tan.

"Makasi Baby, aku puas." Bisik Gita dan terkulai lemas di pangkuan Reza dan tak lama kemudian mereka tertidur nyenyak.

Ke esokan harinya...

Bel rumah berbunyi panjang, bertubi-tubi, tanpa jeda.

Bukan cara orang biasa bertamu, ini cara orang yang terbiasa dilayani.

Laura menghentikan pekerjaannya. Ia menatap jam dinding sekilas, lalu tersenyum kecil. Pagi-pagi begini? Menarik.

Ia merapikan rambutnya dengan satu gerakan tenang, memastikan penampilannya rapi namun sederhana. Tidak berlebihan. Ia membuka pintu dengan ekspresi netral dan tenang, terkendali.

Di hadapannya berdiri seorang wanita paruh baya dengan aura dominan. Busana mahal, kacamata hitam besar, tas bermerek yang digenggam seolah perpanjangan identitas. Tatapan wanita itu langsung menyapu Laura dari kepala hingga kaki, dingin dan menghakimi.

“Kamu siapa?” tanya wanita itu tajam.

Laura tersenyum sopan, senyum yang sudah ia latih sejak lama.

“Saya Laura, Bu.” jawab Laura berusaha sopan.

Wanita itu mendengus. “Bukan itu yang kutanya. Kenapa kamu ada di rumah ini?”

Laura menatapnya lurus, tidak menunduk, tidak pula menantang.

“Saya bekerja di sini, Bu. Sebagai pengurus rumah ini.”

Kacamata hitam dilepas perlahan. Mata wanita itu tajam.

“Pembantu?” sarkas nya.

“Iya bu,” jawab Laura ringan, tanpa rasa minder sedikit pun.

“Aku Amara,” kata wanita itu singkat. “Ibunya Gita.”

Laura mengangguk kecil. “Senang bertemu dengan Ibu.”

Amara melangkah setengah langkah lebih dekat. “Kamu masih sangat muda.”

Laura tersenyum tipis. “Ibu juga terlihat sangat terawat.”

Pujian itu halus, tepat sasaran. Amara terdiam sepersekian detik cukup lama untuk menyadari bahwa gadis di depannya bukan tipe yang mudah ditekan.

“Kamu pandai bicara rupanya,” kata Amara curiga.

“Saya hanya bicara seperlunya, Bu,” jawab Laura tenang.

“Di mana Gita?” tanya Amara.

“Nyonya belum pulang sejak semalam bu,” jawab Laura jujur tanpa ekspresi berlebihan.

Amara mengernyit. “Tidak pulang?”

“Iya bu,” ulang Laura, lalu menambahkan dengan nada netral, “Pak Haikal sudah berangkat ke kantor pagi ini.”

Nama itu sengaja ia sebutkan. Efeknya langsung terlihat.

"Apa mereka ada masalah?."

"Saya tidak tau Bu. Lagi pula saya tidak mau ikut campur urusan majikan saya."

"Tau diri juga kamu."

"Sudah seharusnya Bu." Jawab Laura tersenyum tipis.

Amara tidak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah masuk tanpa permisi, bahunya sengaja menyenggol Laura. Namun Laura tidak mundur. Ia hanya berputar mengikuti langkah Amara dengan tenang, seolah senggolan itu tak berarti apa-apa.

"Tak semudah itu menekan ku nenek peot." Batin Laura.

Amara duduk di sofa utama, menyilangkan kaki. “Buatkan saya teh.”

“Dengan senang hati bu,” jawab Laura ringan.

"Panggil saya nyonya besar. Saya bukan ibu kamu." Tekan Amara menekankan dengan jelas posisi Laura dirumah ini.

"Baik nyobes."

"Apa itu?."

"Tadi anda minta saya manggil nyonya besarkan, jadi saya singkat aja jadi nyobes biar lidah kampung saya gak keseleo." Ujar Laura yang berhasil membuat Amara kesal.

"Dasar pembantu gak tau diri kamu. Sudah sana buatkan saya teh!."

Di dapur, Laura menyiapkan teh dengan gerakan terukur. Tidak ada tangan gemetar. Tidak ada emosi bocor. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi.

Perempuan ini datang bukan hanya untuk anaknya, batinnya.

Ia datang untuk memastikan kekuasaannya.

Laura kembali ke ruang tamu, meletakkan cangkir dengan hati-hati.

Amara menatapnya. “Kamu sudah lama bekerja di sini?”

“Belum lama,” jawab Laura. “Tapi cukup untuk mengenal kebiasaan rumah ini.”

“Kebiasaan siapa?” tanya Amara cepat.

Laura tersenyum kecil. “Semua penghuninya, Nyobes.” jawaban itu ambigu. Sengaja.

Amara menyipitkan mata. “Kamu tampaknya terlalu nyaman sebagai seorang pembantu.”

“Saya nyaman karena saya tahu posisi saya,” jawab Laura lembut. “Dan saya tahu batasan saya.”

Kalimat itu membuat Amara terdiam. “Kamu tidak takut?” tanya Amara.

Laura menatapnya lurus. “Takut pada apa, nyobes?”

Amara tidak langsung menjawab. Ia berdiri. “Ingat baik-baik. Orang seperti kamu seharusnya tidak bermimpi terlalu tinggi.”

Laura sedikit menunduk, gerakan sopan, bukan tunduk.

“Saya tidak berani bermimpi, Nyobes” katanya pelan. “Saya merencanakan dengan matang.” lanjutnya tapi hanya dalam hati.

Amara berhenti melangkah.

“Permisi,” lanjut Laura halus, “saya masih harus bekerja.”

Amara menoleh, menatap Laura lama. Ada kejengkelan di sana. Ada pula kewaspadaan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Amara melangkah pergi.

Pintu tertutup.

Laura berdiri sendirian di ruang tamu. Senyum sopannya menghilang, berganti tatapan tenang dan penuh perhitungan.

Ia tahu satu hal dengan sangat jelas:

Gita sudah kehilangan pijakan.

Amara datang terlambat.

Dan Haikal tanpa sadar sudah berada di tengah permainan nya.

Laura tidak terburu-buru. Ia tidak perlu gegabah.

Cinta, baginya, bukan sesuatu yang diminta.

Ia adalah sesuatu yang dibuat dengan perlahan, halus, dan tanpa paksaan.

Dan Laura tahu persis caranya.

"Kita lihat saya nyonya, apakah pembantu ini akan berhasil merebut hati suami anak anda yang jalang itu. Gak tau aja dia kalau saat ini anaknya pasti masih tidur di hotel akibat kelelahan bertempur dengan selingkuhannya." Monolog Laura tersenyum licik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!