Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
datang
"Ayahku penyebabnya. Ayahku yang minta Rangga pergi. Ayahku yang diam-diam membuat semuanya kacau. Ayahku yang membiarkan aku menangis berbulan-bulan. Ayahku yang..."
Tapi di sisi lain hatinya yang lain berbisik pelan.
"Ayahmu hanya ingin melindungi. Ayahmu takut kamu menderita. Ayahmu tidak tahu kalau Rangga akan pergi tanpa kabar. Ayahmu juga manusia. Ayahmu juga bisa salah."
"PROTEKSI YANG SALAH TETAP SALAH!" batinnya membantah keras sampai dahinya berdenyut.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar diketuk pelan kayak orang yang mau masuk ruangan bos tapi takut kena marah.
"Nak," suara ayah dari balik pintu.
"Rania, Bapak bawain teh panas bapak taruh di depan pintu, ya."
Rania tidak menjawab matanya hanya menatap pintu bayangan kaki ayah terlihat dari celah bawah pintu. Kaki yang biasanya tegap, sekarang sedikit membungkuk.
"Nak... Bapak minta maaf. Bapak mohon Bapak tidak akan ngulang. Bapak janji tapi kamu harus buka pintu kamu harus makan jangan sakit."
Suara ayah pecah di akhir kalimat.
Rania masih diam tapi matanya mulai panas lagi.
"Nak... Bapak... Bapak tidak pantas jadi ayah. Tapi Bapak sayang sama kamu. Bapak cinta sama kamu. Bapak rela apa pun asal kamu bahagia. Dan Bapak... Bapak salah besar karena memilih cara yang salah."
Diam.
"Bapak tinggal dulu nanti Bapak ke sini lagi."
Langkah kaki ayah menjauh. Perlahan. Gontai. Kayak orang tua yang kelelahan hidup. Kayak pohon tua yang akarnya mulai copot dari tanah.
Jam delapan pagi matahari makin tinggi. Panasnya makin menjadi.
Ibu datang kali ini tidak mengetuk pelan. Ibu langsung gedor kayak polisi lagi grebek judi.
"RANIA! BUKA PINTU! IBU SUDAH BIKIN NASI GORENG!"
Masih diam.
"KAMU HARUS MAKAN! KALO GAK MAKAN, KAMU SAKIT! KALO SAKIT, IBU YANG URUS! IBU GAK MAU URUS ORANG SAKIT YANG NGAMBEK!"
Rania masih membatu.
Naufal ikut nimbrung dari balik pintu. Suaranya terdengar sambil ngunyah permen karet dia memang selalu bawa permen karet kalau lagi grogi.
"Mbak, keluarlah. Lo kan lagi galau, tapi jangan bawa-bawa perut. Perut lo gak salah perut lo cuma minta diisi, gak minta drama."
DOR!
Kayu pintu sedikit bergetar. Bukan karena Rania nendang. Tapi karena Naufal nyender ke pintu sambil nyengir ngegas kayak biasa.
"Udah, Mbak. Mas Alfino pasti khawatir lo gak masuk kantor, gak bilang-bilang dia. Gak ngangkat WA. Gak angkat telepon. Gak kabar. Amburadul, Mbak. Namanya juga pacaran—yah walau gak ngaku pacaran—tapi ya jangan gitu."
Rania sadar ponselnya dia matikan sejak subuh. Ada beberapa notifikasi masuk sebelum dimatikan. Tapi dia tidak sempat baca tidak sempat lihat tidak sempat balas.
"Maaf Alfino, aku belum siap, belum siap cerita. Belum siap apa-apa dunia masih kacau."
Ibu masih di luar suaranya mulai parau karena terlalu banyak bicara dan terlalu banyak nahan nangis.
"Rania, kalo kamu belum siap ketemu orang, setidaknya buka pintu. Ibu mau liat mukamu. Ibu mau pastikan kamu masih hidup Ibu mau..."
Suara Ibu putus. Dia menangis. Ibu menangis di balik pintu. Isaknya pelan, tertahan, kayak orang yang tidak ingin anaknya tahu dia lemah.
Rania menggigit bibir. Bibir bawahnya hampir berdarah.
"Bu... nanti sore kasih aku waktu."
Ibu terdiam sebentar. Lalu mendesah. "Ya sudah. Tapi jangan tutup pintu terus hati Ibu sakit lihat kamu begini."
Langkah kaki Ibu menjauh. Rumah kembali sunyi. Sunyi yang menyiksa.
Jam lima sore matahari mulai turun warna langit berubah menjadi jingga keemasan, cantik kayak lukisan, tapi Rania tidak melihatnya.
Pintu kamar berderit terbuka Rania keluar.
Langkahnya pelan, gontai, tubuhnya lemas. Matanya masih sembab. Rambutnya diikat asal-asalan kayak sapu ijuk yang mau dibuang. Baju tidurnya masih sama dari semalam — kusut, bau, dan bolong di ketiak. Kakinya telanjang. Jari-jari kakinya kecil, pucat kayak ulat yang jarang kena sinar matahari.
Ibu yang sedang duduk di ruang tamu sambil ngelap mata dengan ujung kerudung, langsung bangkit. Matanya membelalak. Dadanya naik turun.
"Rania... Nak... kamu keluar..."
Ibu berlari kecil. Memeluk Rania erat kayak tidak mau lepas. Kayak takut Rania akan lenyap jika dilepas.
Rania tidak menolak dia hanya diam tangannya menggantung. Matanya kosong toh dia tidak perlu membalas pelukan untuk merasakan hangatnya.
Bapak dari dapur ikut keluar, berdiri di pintu. Tidak berani mendekat wajahnya pucat matanya merah. Sepertinya beliau juga tidak tidur semalam. Kemeja yang dipakai kusut, rambut acak-acakan, dan kumisnya tidak dicukur — bapak, yang biasanya selalu rapi, sekarang terlihat sekal lenyap.
Naufal yang lagi main HP di sofa, ikut berdiri. Matanya berkaca-kaca pipinya sedikit basah.
"Mbak... lo kurusan baru sehari, tapi muka lo kayak habis ketabrak truk kontainer yang lagi muat batu bara, terus digebukin sama penumpangnya, terus diinjak-injak sama kuda."
Rania tersenyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Iya, terima kasih pujiannya."
Dia duduk di kursi kayu dekat meja makan. Ibu buru-buru ambil sup ayam dari kulkas, dipanaskan. Bapak ikut membantu Naufal duduk di samping Rania.
"Mbak, lo gak usah nahan-nahan, Nangis aja kalo mau nangis. Gue gak akan ledek."
Rania menggeleng. "Air mataku habis, Nauf. Habis. Tinggal yang tersisa cuma rasa capek."
Sup ayam hangat disajikan uapnya mengepul. Wanginya harum, familiar, mengingatkan pada pelukan nenek dulu.
Rania makam pelan-pelan, sendoknya kadang berhenti di mulut, matanya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh.
Krucuk... krucuk... perut protes, tapi sudah mulai terisi.
Krucuk... krucuk... lambung minta tambah.
Rania makan sampai dua mangkuk. Rasanya? Tidak dia rasakan hanya sepi.
Naufal duduk di sampingnya. Diam-diam dia pegang ponsel, lalu bicara.
"Mbak, Mas Alfino tadi nanya-nanya. Katanya lo gak masuk kantor. Dia khawatir. Bukan khawatir biasa. Khawatir tingkat dewa. Sampai dia nanya ke Bang Didi, nanya ke Mila, nanya ke Pak Heru. Pak Heru sampe bilang 'Rania anak baik, pasti ada halangan. Mas Alfino jawab Saya tahu, saya cuma khawatir.'"
Rania diem.
"Mbak, minimal lo WA dia lah. Jangan dibiarin. Nanti dia mikir lo nolak. Nanti dia mikir lo ilfil. Nanti dia sedih. Nanti dia... ah sudahlah. Lo tahu sendiri Mas Alfino itu kayak apa. Orang baik. Langka. Hanya satu sejagat."
Rania masih diem jari-jarinya menggenggam sendok. Sendoknya sedikit bergetar.
Ibu ikut nimbrung dari dapur. "Iya, Nak. Mas Alfino itu baik. Jangan sakiti hati dia. Dia tidak tahu apa-apa soal Rangga. Dia tidak tahu soal Bapak. Dia cinta sama kamu. Itu saja sudah cukup."
Rania menghela napas. Dadanya naik turun. "Aku belum siap, Bu."
"Kapan siap?"
Rania tidak menjawab. Dia hanya memandang piring kosong di depannya.
Naufal nyengir sedikit. "Bu, jangan maksa. Biar Mbak Rania yang atur waktunya. Yang penting dia sudah makan. Itu kemenangan kecil."
Ibu manggut-manggut. "Kamu benar, Nauf. Terima kasih."
Pukul setengah enam. Matahari hampir menghilang di ufuk barat. Awan-awannya merah menyala kayak api. Langit seperti sedang terbakar.
Rania sudah pindah ke teras duduk di kursi bambu hijau yang biasa ditempati Alfino kalau datang. Matanya menerawang kosong, memandang ujung gang yang mulai gelap. Angin sore berembus, membawa debu dan bau knalpot.
Ibu di dalam menyiapkan teh. Bapak di dapur membantu memotong bawang — padahal dia tidak bisa potong bawang, matanya selalu perih dan dia selalu bersin. Tapi hari ini dia potong bawang diam-diam, matanya perih, dia tidak bersin, dia hanya diam.
Naufal di samping Rania, main game, kadang ngeledek.
"Mbak, lo kok duduk di kursinya Mas Alfino? Jangan-jangan lo kangen. Jangan-jangan lo pengen dia di sini. Jangan-jangan lo—"
"Bisa diem gak sih lo? Otak lagi mumet."
"Ya udah, tapi jangan nanti nangis-nangis lagi. Gue kasihan lihatnya."
Rania tidak menggubris. Matanya masih ke ujung gang.
Jam menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit.
Lalu...
Brummm... brummm...
Suara mobil. Bukan suara motor yang biasa lewat depan gang. Bukan suara truk angkutan sayur. Bukan suara bajaj yang lagi ngetem. Suara mobil yang halus, pelan, berat, kayak kucing besar melangkah di atas karpet permadani.
Rania menoleh.
Naufal yang lagi asyik main HP langsung angkat muka. Matanya berbinar kayak lampu disco yang baru dinyalakan setelah gelap berhari-hari.
"ITU PASTI MAS ALFINO! WAH, DIA DATENG! MBAK, LO KAN BELUM SIAP! AKU BILANGIN YA? BELUM SIAP! TAPI DIA DATENG! GILA! GUE BILANGIN—"
"Jangan teriak, Nauf!"
"Maaf, maaf!"
Naufal buru-buru berdiri, bersiap menyambut. Ibu dari dalam dengar suara, langsung keluar sambil nyelipin rambut yang lepas ke belakang telinga. Matanya berbinar. Dia kira itu Alfino. Bapak ikut keluar, berdiri di pintu, tangannya memegang handuk kecil untuk mengelap bawang.
Rania jantungnya berdebar kencang. Kayak mau lewat tenggorokan.
"Belum, aku belum siap. Tapi... tapi dia datang. Aku harus. Aku harus bicara. Aku harus..."
Mobil itu semakin dekat. Lampu depannya menyala redup di sore yang semakin gelap. Kacanya gelap. Bodinya hitam, bersih, mengilap kayak baru keluar dari salon.
Naufal mondar-mandir kayak orang kebelet pipi. "Gue bukain pintu pagar, ya! Gue sambut! Biar dia tidak nunggu!"
Brummm...
Mobil berhenti. Tepat di depan pagar.
Mesin mati. Sejurus kemudian, sunyi. Suara mesin hilang, hanya suara jangkrik yang mulai bergantian nyanyi dari semak.
Pletak.
Pintu mobil terbuka. Perlahan. Kayak pintu surga yang dibuka untuk malaikat.
Seseorang turun.
Naufal yang sudah berdiri di depan pagar dengan senyum terpasang dari kuping ke kuping, tiba-tiba DIAM.
Senyumnya menghilang digantikan oleh keterkejutan mukanya berubah pucat. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Ma... mas... bukan..."
Ibu yang berdiri di pintu juga diam. Membeku. Kayak terkena kutukan.
Bapak yang baru keluar, berhenti melangkah. Tangannya yang memegang handuk jatuh. Handuk itu jatuh ke lantai dengan suara plas pelan.
Cahaya lampu teras mulai menyala otomatis karena hari sudah gelap. Lampu itu menyorot wajah orang tersebut.
Wajah yang sangat familiar.
Wajah yang dulu dia cium wajah yang dulu dia peluk. Wajah yang dulu dia tangisi. Wajah yang dulu dia benci. Wajah yang dulu dia cinta.
Rangga.
Rania rasakan tubuhnya beku. Kayak ada yang menyiramnya dengan air es di tengah musim hujan. Kayak ada yang mematikan tombol "hidup" di dadanya. Kayak ada yang menarik napas dari paru-parunya.
Dia tidak bisa bergerak.
Tidak bisa bicara.
Hanya diam.
"Rania..."
Suara Rangga lebih berat dari dulu lebih matang. Lebih parau. Ada getar.
Rania rasakan panggilan itu menusuk jantungnya. Sakit.
"Rania, aku datang."
Rangga mengambil langkahsatu langkah. Mendekati pagar.
Naufal yang masih di depan pagar, refleks mundur. "Lu... lu jangan masuk! Lo... lo nunggu dulu!"
Tapi Rangga tidak mendengar matanya hanya tertuju ke satu orang.
Rania.
"Aku datang untuk menepati janji, Ran."