NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10: Dua Dunia, Satu Pundak

Dunia Luq kini terbelah menjadi dua kutub yang sangat melelahkan. Selain menjadi pelayan kafe di sore hingga malam hari, ia sekarang mengambil shift subuh sebagai asisten pengangkut barang di gudang logistik dekat pasar induk.

Aku baru menyadari hal ini ketika secara tidak sengaja melewati gudang itu saat berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Di sana, di antara tumpukan kardus dan deru mesin truk, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Luq. Rambutnya berantakan, kaosnya basah oleh keringat meski matahari belum sepenuhnya naik, dan matanya tampak kosong karena kurang tidur.

Aku berhenti, terpaku di balik tembok. Hatiku mencelos. Jadi, inilah alasan kenapa beberapa hari terakhir dia selalu telat membalas pesan, sering terlihat tidak fokus, dan kantung matanya semakin dalam.

Sore harinya, saat aku menemuinya di kafe—tempat kerja keduanya—dia tampak seperti mayat hidup. Dia bergerak seolah-olah tubuhnya hanya digerakkan oleh memori otot, bukan oleh kesadaran.

"Kak Luq," panggilku pelan saat dia selesai mengantar kopi ke meja pelanggan.

Dia menoleh, berusaha tersenyum, tapi gagal. "Eh, Rea. Maaf, script yang kemarin mau kita bahas, gue belum sempet liat. Nanti ya, kalau gue udah ada waktu..."

"Nggak usah dibahas dulu," potongku. Aku menarik kursi di depannya, memaksa dia duduk. "Jelasin ke aku. Kenapa harus kerja di dua tempat?"

Luq terdiam. Dia memandang lantai, lalu menatapku dengan sorot mata yang penuh kelelahan yang luar biasa. "Gue butuh uang, Rea. Buat biaya tambahan Ibu, dan... gue harus nabung buat biaya pendaftaran ujian universitas."

"Tapi Kakak bisa sakit! Tadi pagi aku liat Kakak di gudang. Itu kerjaan berat banget!"

"Gue nggak punya pilihan," jawab Luq dingin, tapi aku tahu itu bukan karena dia marah padaku, tapi marah pada keadaannya. "Kalau gue cuma kerja di kafe, uangnya habis buat makan sama obat. Gue harus punya tabungan kalau mau bermimpi masuk kuliah. Kamu mau kan, gue kuliah?"

Aku terdiam. Kata-katanya menamparku. Dia melakukan ini semua bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk mencapai mimpi kuliah yang baru saja ia putuskan.

"Oke," kataku tegas, berusaha menyembunyikan rasa haru. "Kalau Kakak nggak mau berhenti, aku yang bakal ambil alih beban belajarnya."

"Maksud lo?"

"Mulai hari ini, aku yang bakal rangkum semua materi beasiswa China dan materi ujian universitas yang mungkin bakal mirip. Kakak cuma tinggal baca rangkuman aku. Kalau Kakak capek, Kakak tidur. Aku bakal kasih tau poin-poin pentingnya pas Kakak lagi istirahat kerja."

Luq menatapku tak percaya. "Rea, lo itu masih SMP. Jangan bebanin diri kamu."

"Justru ini cara aku bantuin Kakak. Kalau Kakak bisa belajar lebih efisien, Kakak nggak perlu begadang sampai pagi, kan?"

Luq akhirnya menyerah. Dia menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata sejenak.

"kamu bener-bener keras kepala, ya?"

"Aku belajar itu dari siapa, coba?"

Sejak hari itu, dinamika kami berubah. Aku sering datang ke kafe bukan untuk belajar bersama, tapi untuk membawakan materi yang sudah kuringkas. Kadang, aku hanya duduk di pojok, membaca buku Mandarin, sementara Luq—di sela-sela melayani pelanggan—mencuri waktu untuk membaca catatanku.

Vino, yang tahu tentang ini, sering membawakan makanan dari rumahnya untuk Luq. "Nih, makan! Biar lo nggak tumbang. Gue nggak mau punya temen mentor yang fisiknya kayak lidi," canda Vino, meski matanya berkaca-kaca.

Hazel, yang paling tahu beratnya beban Luq, kini lebih sering menjemputku untuk pergi ke kafe Luq hanya untuk memastikan Luq makan.

Bagi Luq, dua pekerjaan ini adalah neraka. Tapi bagiku, ini adalah pelajaran tentang pengorbanan yang paling nyata. Aku melihat seorang pria muda yang rela mengorbankan masa mudanya, tidurnya, dan tenaganya, hanya untuk sebuah kesempatan—kesempatan untuk kuliah, kesempatan untuk mengubah nasib dan untuk merawat Ibu tercinta.

Malam itu, saat aku pulang, aku menulis satu baris kode lagi di laptopku: # Progress Update: Kak Luq University Prep.

Aku sadar, kalau Luq bisa berjuang sekeras ini dengan dua pekerjaan, tidak ada alasan bagiku untuk mengeluh saat menghafal ribuan karakter Mandarin. Kami berdua sedang berlari di jalur yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama: Keluar dari zona nyaman.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!